You and I

YOU and I

You, when I fell You held me back up with an unfaltering gaze And you, through those sad times Held my hands till the end of the world

“Lee Ji Woo, apakah anda bersedia mencintainya seumur hidup, baik dalam keadaan senang maupun sedih?”, ujar seorang namja berjas hitam panjang padaku.

“ne, saya bersedia”, jawabku dengan mantap.

“dan kau Kang Min Ki, apakah kau bersedia mencintainya seumur hidup baik dalam keadaan senang maupun sedih?”

“ne saya bersedia”, aku tersenyum mendengar jawaban dari Min Ki.

Ya, hari ini adalah hari pernikahanku dengan namjachinguku. Hari yang sudah lama aku inginkan. Saat upacara pernikahan selesai Min Ki menatap wajahku dengan lekat dan mendekatkan wajahnya kearahku , aku yang menyadari hanya menutup mataku dan bersiap kalau Min Ki ingin menciumku, tepat sedikit lagi wajahnya sampai ke wajahku..

“ya! Ji Woo-ah cepat bangun, ini sudah siang!!!”, seorang namja dengan kasar menarikku dari tempat tidur empukku. Tanpa mempedulikan diriku yang kesakitan, dia terus saja menghajarku dengan bantal.

“oppa! Kau memang menyebalkan!”, teriakku.

“mwo?” “oppa sudah menghancurkan mimpi indahku! Padahal sedikit ….lagi”, ucapku lesu saat menyadari peristiwa yang barusan terjadi hanyalah mimpi belaka.

“ya sudah, mandi lalu turun. Aku sudah menyiapkan sarapan di bawah”

“baik oppaku sayang, aku tidak lama kok”

—(^^)—

Ya namaku Lee Ji Woo. Aku hanya gadis biasa yang mempunyai impian yaitu menikah dengan namjachinguku Kang Min Ki, kami sudah berpacaran tiga tahun dan diantara kami memang saling mencintai. Aku sudah menginjak bangku universitas , aku berkuliah di Inha University jurusan broadcasting. Aku dan Min Ki pun satu kuliah tapi bedanya dia jurusan seni lukis. Satu lagi yang tadi membangunkanku itu adalah oppaku sebut saja namanya Lee Chang Min oppa.

Di rumah ini aku hanya tinggal berdua dengan Changmin oppa, ya karena kedua orang tuaku sudah tidak ada, bahkan yang membiayaiku kuliah adalah Changmin oppa. Dia bekerja di perusahaan appa, ya dia meneruskan bisnis app. Bagiku dia oppa yang baik walau kadang-kadang membuatku jengkel dengan sikapnya.

Satu hal dalam hidupku, setiap aku tertidur pulas dan memikirkan Min Ki. Aku selalu bermimpi menikah dengannya, mungkin ini memang konyol tapi semua ini memang terjadi. Aku selalu berharap semua mimpiku itu menjadi kenyataan. Tapi aku juga menyadari hal itu hanyalah mimpi yang tidak mungkin jadi kenyataan.

Hari ini aku bingung harus berbuat apa. Materi kuliah sudah aku selesaikan , di rumah ga ada yang harus dikerjakan. Changmin oppa sudah membereskan semua pekerjaan rumah. Beginilah kalau jadi orang menganggur. Aku menatap luar rumah, langait biru yang indah dan menawan..hah aku ingin sekali memegang awannya. Aku sangat suka langit biru apalagi ini mengingatkanku pada saat berlibur di pantai bersama Min Ki. Ahh…aku mulai merindukannya. Ingin sekali melihatnya hari ini, tapi baru kemarin malam aku datang menemuinya. Pasti Min Ki sangat lelah harus menemaniku. Ottakae??

“ya kau mulai melamun lagi Ji Woo!”, Changmin oppa memberiku cangkir yang berisi teh hijau yang sangat harum baunya.

“siapa yang melamun, aku sedang berpikir”

“oh ya? Dongsaengku ini ternyata bisa berpikir ya..aku kira hanya bisa makan doang”

“oppa! Daripada menggangguku sebaiknya oppa pergi ke kantor saja sana” “sebentar lagi, aku mau menemani adikku yang manis dan imut ini”

Changmin oppa benar-benar pintar merayu dengan kata-kata manis. Tidak salah kalau oppaku ini ga bisa bertahan dengan satu cewek, kebiasaannya saja sudah bikin cewek mengecap dia seorang playboy. Tapi walaupun begitu, aku sangat menyayanginya.

“daripada bengong, mending kau jalan-jalan saja. Atau mau ke tempat Min Ki lagi?”

“ani oppa, Min Ki pasti sedang istirahat sekarang, aku tak mau mengganggunya” “hhmm..baiklah aku mau pergi ke kantor. Kalau mau pergi jangan lupa kunci rumah”, namja itu mulai membereskan diri dan mulai bersiap pergi kerja.

Sebelum meninggalkanku, oppa memberiku beberapa lembar ribu won. Aku menatapnya bingung.

“pergilah keluar, cari barang-barang yang kau sukai. Oppa jarang melihatmu belanja lagi. Tidak baik buatmu untuk terus bersama dengan Min Ki. Sekali-kali kau berhak memuaskan diri sendiri. Arraseo?”, aku mengangguk dan tersenyum padanya membuatnya berpikir bahwa aku akan baik-baik saja.

—(^^)—

Seperti saran Changmin oppa, akhirnya aku memutuskan untuk menghabiskan waktuku untuk berjalan-jalan di daerah Seoul. Banyak hal yang bisa dilihat disini. Tak lupa juga aku pergi ke sungai Han yang terkenal dengan jembatannya. Ini adalah salah satu tempat favoritku bersama Min Ki tentunya, andai saja sekarang Min Ki juga disini. Pasti sangat menyenangkan. Jam makan siang aku berkunjung ke sebuah café unik dan cantik. Aku suka dekorasinya yang berwarna-warni. Ternyata selain tata ruang yang menarik, kue yang disediakan juga sangat menarik hati. Entah mengapa aku sangat ingin Min Ki bisa merasakannya.

“ah..aku akan membuat roti ini juga buat Min Ki”, ujarku senang.

Menikmati senja sendirian tak masalah bagiku, karena selama ini aku belum pernah sendirian. Pasti Min Ki akan selalu menemani kemanapun aku pergi, dia benar-benar namjachingu yang perfect. Tak lama setelah aku meninggalkan daerah sungai Han aku melihat pawai, dengan duduk di atas vespa pink kesayanganku aku menikmati pesta kembang api itu. Pemandangan yang sangat indah. Andai Min Ki juga melihatnya…

Aku berjalan dengan langkah yang amat senang. Barusan Min Ki menelpon katanya ingin bertemu, dia memang tahu kalau aku juga merindukannya. Aku membuka pintu putih itu dan aku melihat Min Ki sedang menulis di sebuah buku catatan bersampul merah tua. Sampai saat ini Min Ki tidak pernah memberi tahu apa yang ia tulis. Aku sangat penasaran sekali.

“Min Ki-ah…”, aku berjalan mendekatinya yang sedang duduk di ranjangnya.

“kenapa melihatku seperti itu?”

“aku bosan dengan bajumu Min Ki, apa tidak ada baju lagi di rumah sakit ini. Putih biru bukan warna yang cocok untukmu”, ujarku menyibir, tapi Min Ki malah menanggapinya dengan tertawa.

“emmm..kau bawa apa? Sepertinya tas yang kau bawa sangat berat”, kata Min Ki melihat ke arah tasku.

“oo ini aku membawa ps untuk kita bermain bersama. Mau bermain bersama?”

“tentu saja aku mau”, ujar Min Ki dengan semangat. Langsung saja aku dan Min Ki memaikan ps bersama.

Aku dan dia memainkan balap mobil, sambil tertawa-tawa kami memainkan ps itu. Aku lihat Min Ki sangat senang, aku hanya menatapnya. Aku senang bisa melihatnya tertawa seperti ini. Lagi – lagi aku gagal dan kalah dari Min Ki, dari tadi permainan dia selalu mengalahkanku membuatku sedikit kesal. Tapi aku tahu ini hanya sebuah permainan, dengan senang hati aku bertarung kembali dengannya sambil mebelokan tanganku untuk mengalahkan kyuhyun .. dan tepat sekali aku gagal lagi.

“haha kau ini selalu kalah ya”, ledeknya.

“ya kau curang sih mainnya“

“mwo?? Curang bagaimana bilang saja kalau kau memang tidak bisa bermainnya hehe”, ledeknya lagi.

“ya!! Kau ini selalu suka meledekku”, aku memukul-mukul tangan Min Ki dan dia hanya tertawa-tawa melihat tingkahku.

-Kang Min Ki POV

“chagi, aku mau keluar“, aku melihat Ji Woo membulatkan matanya saat melihatku.

“ne , kajja kita ketaman“, ujarnya riang. Aku langsung berdiri dan menarik tangannya , tapi dia menahan tanganku.

“Min Ki pakai ini , aku tidak mau melihatmu kelelahan berjalan“, ujarnya yang menunjuk ke kursi roda, memang aku tidak boleh kelelahan sedikitpun.

“tapi aku tidak apa-apa“, aku benar-benar tidak mau menggunakan kursi roda itu.

“jangan membantah , cepat duduk“, ujarnya yang mendorongku duduk di kursi roda itu, aku hanya bisa pasrah saat Ji Woo melakukan hal ini.

“nahh kalau begini kan enak ,kau tinggal duduk manis saja”, ujarnya yang mulai mendorong kursi roda itu.

“tapi aku takut kau lelah mendorong kursi roda ini“

“ya !! memangnya aku baru sekali mendorongmu dengan kursi rodamu ini”, ujarnya.

Memang Ji Woo sudah terlalu sering menemaniku berjalan-jalan di sekitar sini dengan kursi rodaku ini. Tapi… Ji Woo terus mendorong kursi rodaku melewati ruang-ruang rumah sakit ini, seperti biasa kami berhenti tepat di taman yang dekat air mancur yang sangat indah. Ji Woo selalu membawaku kesini mungkin tempat ini sudah menjadi tempat favorit kami. Aku dan Ji Woo hanya memandangi air mancur yang ada di hadapan kami.

“Ji Woo-ah“, panggilku.

“ne?”, tanyanya.

“apa kau tidak bosan menemaniku setiap hari seperti ini”, tanyaku.

“omo Min Ki-ah aku sudah sering bilang berapa kali padamu , sampai kapanpun aku tidak akan pernah bosan . Justru aku bosan dengan pertanyaanmu itu yang sudah ku dengar setiap kali berada di taman ini“, ujarnya terkekeh.

Ya pertanyaan ini sudah sering ku tanyakan padanya berkali-kali setiap kami di taman ini aku selalu menanyakan hal ini padanya.

“aku hanya takut kau bosan chagi“

“aniyo Min Ki kau jangan berpikiran seperti itu“, ujarnya , aku hanya tersenyum padanya.

Kami berdua hanya diam sejenak sambil memandangi air mancur yang ada di depan. Kami berdua hanya bergulat dengan pikiran kami masing-masing. Tiba-tiba Ji Woo memelukku dari belakang dia biarkan kedua tanganya melingkari leherku, aku melihat wajahnya yang sudah ada di sampingku sangat dekat dan jari telunjuknya yang masih terpasang cincin yang aku belikan untuknya. Kulihat Ji Woo tersenyum manis begitu juga denganku yang membalas senyumannya.

“Min Ki saranghae“, ujarnya yang menatap lurus ke air mancur itu dan tetap tersenyum.

“na do saranghae Ji Woo“, jawabku pasti.

Aku sangat senang dengan keadaan ini andai saja hal yang kurasakan ini akan bertahan lama. Hanya satu harapanku selalu bersama-sama Ji Woo…

I might be a shabby person who has never done anything for you

But today, I am singing this song just for you

Tonight, within those two eyes and a smile

I can see the pains from protecting me

No one in the world can replace you

You are the only one in i’ll be there for you

—(^^)—

Aku sedang membuat kue khusus buat Min Ki, aku ingin melihatnya selalu tersenyum dengan apa yang aku berikan padanya. Dengan cermat aku memasukan bahan-bahan, kue ini kubuat dengan rasa cinta yang tulus dari hatiku. Seperti janjiku dulu, bahwa aku akan membuat Min Ki merasakan kue yang sama dengan yang aku rasakan waktu di café itu.

Di tempat lain, Min Ki sedang berjalan-jalan keluar rumah sakit sendirian. Dan sampai di sebuah tangga belakang rumah sakit yang sering dipakai untuk tangga darurat. Entah darimana datangnya pikiran buruk itu, Min Ki memundurkan kursi rodanya dan dengan kecepatan tangannya dia berusaha untuk turun dari tangga itu menggunakan kursi roda. Saat semuanya sudah siap Min Ki mendorong kursi rodanya sendiri dan sebentar lagi turun, tiba-tiba bayangan wajah Ji Woo hadir dengan jelasnya. Tersenyum dengan sangat manis, Min Ki langsung membanting dirinya ke lantai, dan ia pun menangis. Menyesali apa yang barusan ia lakukan. Sudah setahun ini ia sebenarnya stress harus melihat Ji Woo bolak-balik menengoknya, melakukan serangkaian pengobatan dan terapi. Padahal ia tahu, hidupnya tak akan lama seperti apa yang dokter katakana sebelumnya. Min Ki menangisi sisa hidupnya ini…

-Kang Min Ki POV

Saat aku kembali ke kamarku, kulihat Ji Woo sedang terlelap tidur. Sepertinya dia sangat kelelahan, sampai-sampai tidur di tempat tidurku. Aku menarik selimut ke badannya dan kulihat di atas meja samping ada sebuah bungkusan. Ternyata Ji Woo membuatkan kue untuknya, dia sangat tahu kalau aku penyuka makanan yang manis-manis. Tanpa ragu lagi aku memakannya, rasanya benar-benar pas. Terima kasih Ji Woo untuk semuanya.

—alam mimpi—

“selamat anak anda seorang yeoja“, ujar seorang dokter yang di temani suster lainnya.

Sekarang aku berada di sebuah ruangan bersama bayi perempuan begitu juga dengan Min Ki yang berada disampingku. Aku memandang lekat-lekat bayi itu, sangat lucu sama seperti Min Ki yang sangat lucu.

“chagi anak kita sangat lucu sama sepertimu “, ujar Min Ki yang memelukku dari samping sambil menatap bayi itu.

“ne, bagaimana kalau kita beri nama Kang Ji Yoon“

“emm ide yang bagus“, ujar Min Ki yang tersenyum manis. Aku dan Min Ki terus memandangi bayi itu sambil tersenyum.

—end alam mimpi—

Aku duduk di samping tempat tidur sambil memandangi Ji Woo yang tengah tertidur pulas. Kulihat dari raut wajahnya yang sangat senang terbesit dari bibirnya senyuman yang sangat manis. Aku pikir dia sedang bermimpi indah tanpa ragu-ragu aku mengambil buku catatanku yang berwana merah tua di laci tempat tidurku. Dengan sepenuh hati aku menggoreskan pena di buku itu, ya aku sedang melukis Ji Woo yang tengah tertidur. Wajahnya terlihat seperti malaikat, aku terus melukis wajah Ji Woo yang sangat manis. Garis-garis wajahnya sudah sangat kuhafal, tapi jujur baru kali ini aku memberanikan diri untuk melukisnya.

Tak lama lukisanku pun jadi dan tanpa kusadari kalau Ji Woo membuka matanya, terlihat dia sangat kaget yang menyadari dari tadi sudah ada aku di depannya dengan sigap dia bangun dan baru dia sadari kalau dia tidur di ranjangku.

“ahh.. maaf aku ketiduran”, ucapnya setengah malu. Aku hanya tersenyum mendengarnya. Dia melihat kearah buku yang memang sedang ku pegang.

“Min Ki itu buku apa?“, tanyanya yang langsung merebut dari tanganku.

“ahhh aniyo bukan buku apa-apa chagi“, dengan sigap aku langsung mengambil kembali buku itu.

“benarkah?? itu bukan buku apa-apa“, tanyanya dengan tampang menyelidiki.

“benar..sudah sana tidur saja atau mau aku teleponkan taksi untuk mengantarmu pulang?”, tanyaku. Dia hanya menggeleng dan segera turun dari ranjangku. Ji Woo sepertinya kaget saat melihat bungkusan yang berisi kue itu sudah tidak ada di tempatnya.

“gomawo Ji Woo-ah, kuemu sangat enak dan manis. Kau mau membuatkannya lagi kan untukku?”, kataku dan Ji Woo dengan senang mengiyakan permintaanku itu. Dan hari itu, kami menghabiskan waktu saling bercerita.

—(^^)—

“hyung, kenapa bisa ada disini? Dimana Ji Woo?”, tanya Min Ki kaget menemukan Changmin hyung ada di kamarnya.

“oh, kau sudah selesai pemeriksaan Min Ki. Aku kesini atas perintah Ji Woo, aku disuruhnya membawamu ke lantai atas rumah sakit”, katanya menjelaskan. Changmin memandang langit malam yang indah dari jendela kamar Min Ki.

“memangnya Ji Woo mau berbuat apa?”

“dia membuatkan kejutan buatmu. Hari ini bukannya hari ulang tahunmu Kang Min Ki, jangan bilang kau lupa. Kajja, sepertinya Ji Woo sudah menunggu kita. Oh ya! Jangan lupa bawa jaketmu, sepertinya udara di luar sangat dingin”

“ne hyung”, Min Kin dibawa Changmin ke lantai paling atas rumah sakit.

Dia sangat penasaran apa yang telah yeojachingu nya persiapkan untuknya. Apalagi sampai menyiapkannya di atap rumah sakit. Ji Woo memang orang yang tidak mudah ditebak.

“hyung…tolong jaga Ji Woo dengan baik ya setelah aku tidak ada di dunia ini. Aku sangat mencintainya bahkan untuk mengucapkan selamat tinggal aku tidak mampu. Aku berharap Ji Woo tidak akan menangisi kepergianku”, kata Min Ki tiba-tiba, membuat Changmin mengetahui bahwa sisa hidup Min Ki tak akan lama lagi. Dan sebagai oppa buat Ji Woo, dia tidak ingin adiknya sakit.

“tentu Min Ki, aku akan menjaganya dengan sangat baik. Aku kan oppa nya, kau pikir aku tidak sayang padanya. Dan.. tenang saja Min Ki, Ji Woo akan kuat. Dia perempuan yang sangat kuat, dia tidak akan menangis saat kau …meninggal nanti. Kau jangan berlebihan seperti itu, aku sangat mengenal Ji Woo”

Saat tiba di atap rumah sakit, Ji Woo langsung menyalakan mesin sehingga menghidupkan in focus dan memancakan cahaya ke layar LCD di depannya. Min Ki dan Changmin yang nyatanya tak tahu apa-apa, bingung yang dilakukan oleh Ji Woo.

Sebenarnya mau ngapain anak perempuan itu?? Dengan mengerahkan kekuatannya Ji Woo mengambil sebuah kuas cat yang panjang dan mulai mengecat layar itu. Dan Min Ki merasa takjub dengan apa yang ia lihat. Layar yang polos itu sedikit demi sedikit berubah membentuk sebuah gambar kembang api yang berwarna-warni, terlihat sangat nyata.

“Ji Woo-ah…kau sangat…”, tanpa bisa mengatakan apapun Min Ki menangis melihat pemandangan kembang api yang terlihat sangat nyata itu.

“Kang Min Ki! Saengil chukkae!”, teriak Ji Woo dengan senyumnya yang sangat manis. Dia berlari kearah Min Ki dan menatapnya sambil menghapus air mata yang keluar dari mata Min Ki.

“saranghae Kang Min Ki”, ucap Ji Woo dan langsung dibalas pelukan oleh Min Ki.

You and I together.

It’s just feels so right

Even though I bid you goodbye, to me this world is just you

You and I together, don’t ever let go of my hands

Even though I bid you goodbye, to me this world is just you

Our love has changed a bit by bit just like others

But don’t be sad Hopefully

I will be someone who you can trust like an old friend

And someone you can lean onto

—(^^)—

Aku tengah duduk di bawah pohon yang memang ada di sebuah padang rumput hijau sambil memejamkan mata, aku menghirup udara segar yang ada di padang rumput ini. Hari ini tepat 5 bulan kematian Min Ki. Yang bisa kulakukan hanya dapat mengenangnya di bawah pohon ini dan setiap mengenangnya aku selalu membaca sebuah buku yang setiap bulan aku baca, ya buku berwarna merah tua ini buku harian Min Ki.

Ku buka lagi buku itu ..

02 Desember 2004

Aku tidak menyangka kalau Ji Woo akan menerimaku apa adanya .. walau sekarang dia sudah mengetahui aku mempunyai penyakit yang memang sudah lama ku derita .. tapi aku benar beruntung memilikinya … karena dia sama sekali tidak ada niat untuk meninggalkanku begitu saja .. gomawo Tuhan kau sudah menghadirkan Ji Woo dalam hidupku

23 April 2005

Sudah lebih dari tiga bulan Ji Woo menjagaku seperti ini .. entah apa yang harus aku katakana padanya .. mungkin ucapan terima kasih saja tidak akan cukup untuk membalasnya.. kadang aku berpikir aku mungkin orang lusuh yang tidak pernah melakukan apapun untukmu .. tapi hari ini aku menyanyikan sebuah lagu untukmu .. mungkin hanya itu yang bisa aku lakukan untukmu ..

12Juli 2005

Penyakit ini semakin hari semakin menggerogotiku membuat aku benar-benar tibak bisa untuk bertahan lagi .. rasa sakit ini semakin dalam kepalaku semakin sakit .. kalau aku bisa dari dulupun aku tidak akan kuat menahan sakit ini .. tapi satu hal hanya Ji Woo lah alasanku untuk tetap bertahan hidup ..

30 Agustus 2005

Sepertinya aku sudah tidak kuat lagi menahan sakit kepala ini .. satu harapanku ijinkan ku hidup sebentar lagi untuk merayakan ulang tahunku bersama Ji Woo .. meski pada akhirnya aku tidak akan bersama-sama Ji Woo tapi aku hanya ingin memberikan hal yang membuatnya sangat berharga .. mianhae Ji Woo bukan maksud aku menyakiti hatimu tapi ini semua sudah takdir Tuhan..dan aku akan selalu menyayangimu sampai kapanpun ..

Lembar demi lebar ku buka buku itu sampai akhir buku itu, aku tersenyum saat melihat bagian akhir ini. Kenapa? karena di akhir buku ini terdapat lukisanku saat tertidur sangat indah membuat aku hanya senyum-senyum sendiri. Baru kali ini aku melihat lukisanku yang dibuat oleh Min Ki, memang sebelumnya Min Ki tidak pernah berani untuk melukisku tapi kali ini. Kulihat dibawah lukisan itu terdapat tulisan yang membuatku sangat senang .. tulisan itu “ MY LAST LOVE “

Aku yakin di atas sana Min Ki tidak akan pernah melupakanku, begitu juga denganku yang tidak akan melupakannya. Aku tidak pernah menyesal selama menjaga Min Ki selama ini, walau akhirnya dia tiada tapi aku tidak menyesal karena sebelumnya masih bisa menjaga dan menemaninya .. dan selalu membuatnya tersenyum.

I promise you that

I’m be right here

I close my eyes lightly whenever

I feel lonely again

I no longer fear when your breath holds me

No one in the world can replace you

You are the only one

I’ll be there for you

THE END

2 thoughts on “You and I

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s