DAY BY DAY

Leave

Finally

I realize that I am nothing without you

I was so wrong, forgive me

Malam..seharusnya sudah jadi kenangan romantis untuk pasangan kekasih..apalagi dihiasi indahnya lampu-lampu jalanan yang berwarna-warni. Mobil lalu lalang menandakan semua orang sedang pergi berlibur atau jalan-jalan bersama keluarga atau sang kekasih, tapi tidak untuk yang satu ini..

Seorang pemuda sedang memeluk seorang gadis dengan erat. Kemudian gadis itu menamparnya dan melepaskan pelukan sang pemuda.

“Ini sudah berakhir, Dong Woon!”, serunya. Kemudian gadis itu berlari dari hadapan sang pemuda dengan cepat.

“Ji Yoon!”, sang pemuda berusaha mengejar gadis itu, tetapi terlambat, sang gadis sudah lebih dulu naik taksi dan sang pemuda tak dapat mengejar kendaraan itu dengan kakinya.

Dalam taksi yang sedang berjalan, gadis tersebut menangis. “Maaf, Dong Woon..” katanya terisak.

—(^^)—

My heart broken like a wave

My shaken heart like a wind

My heart vanished like smoke

It can’t be removed like a tattoo

I sigh deeply as if a ground to cave in

Only dusts are piled up in my mind

Dong Woon menelpon Ji Yoon dengan HPnya. Tut..tut..tut..terdengar nada tunggu. Kemudian telepon diangkat. “Halo, Ji Yoon?”

“…”, Ji Yoon yang diseberang sana hanya diam.

“Kau tidak mengatakan alasannya! Kenapa?”, suara Dong Woon terdengar tinggi menandakan ia sedang marah. Pip! “Halo? Halo?” Telepon diputuskan oleh Ji Yoon.

“Sial!”, keluh Dong Woon. Tiba-tiba seorang pemuda berambut cepak datang dan menghajar Dong Woon dengan meninjunya. Dong Woon terjatuh ke bawah dan melihat wajah orang yang meninjunya. Tatapannya berubah marah, untuk apa dia memukulku??

“Tinggalkan dia!”, kata pemuda berambut cepak itu. Kemudian dia pergi sambil meninggalkan Dong Woon yang kebingungan dan sedih.

—(^^)—

I thought I wouldn’t be

Able to live even one day without you

But somehow I managed to live on longer than I thought

You don’t answer anything as I cry out “I miss you”

I hope for a vain expectation but now it’s useless

Dong Woon yang bersedih karena Ji Yoon telah mencampakkannya, selalu terlihat murung. Dia mengira tak kan bisa hidup tanpa Ji Yoon disampingnya. Wajahnya tak pernah terlihat riang lagi, wajahnya sekarang terlihat seperti “Aku Ingin Mati”. Bahkan, sepanjang waktu Dong Woon hanya melamun, menonton videonya bersama Ji Yoon saat mereka berlibur bersama. Dan saat itu pasti air mata tak kuasa ditahan Dong Woon. Dia selalu penasaran, mengapa Ji Yoon mencampakkan dia seperti ini? kesalahan apa yang ia perbuat, hingga tak hanya Ji Yoon yang menjauh tetapi teman-teman terbaiknya juga berperilaku sama.

Hari demi hari dijalaninya dengan kesedihan, seolah tak ada yang dapat menggantikan tempat khusus di hati Dong Woon. Hanya Ji Yoon yang selalu Dong Woon pikirkan dan tak ada yang lain.

“Aku..merindukanmu, Ji Yoon..” desah Dong Woon. Kemudian dia mengambil bantal dan menutupi wajahnya lalu tidur. Berharap ia akan bertemu Ji Yoon di alam mimpi.

—(^^)—

What is it about that person next to you

Did he make you cry?

Dear can you even see me. Did you forget completely?

I am worried, I feel anxiety because I can’t get close nor try to talk to you

I spend long nights by myself, erasing my thoughts a thousand times

Di saat Dong Woon sudah tertidur lelap, terlihat Ji Yoon bersama seorang pemuda berambut cepak sedang duduk berdua di cafe.

“Apakah kau yakin tidak akan memberitahu dia soal itu?”, tanyanya.

Ji Yoon menunduk sedih sambil meremas rok biru mudanya. “A-aku tidak tahu..”, wajah Ji Yoon terlihat sendu dan hampir menangis. ” Aku tak mau penyakit kanker hatiku ini menjadi beban untuknya..bila Dong Woon mengetahui kebenarannya, itu hanya akan menyakiti dia..”

Kemudian Ji Yoon mengingat yang dikatakan dokter padanya minggu lalu. Sebuah kenyataan yang tak bisa ia ubah dan ia harus menerimanya. Ia dinyatakan mengidap kanker hati dan sudah terlambat untuk melakukan pencakokan hati. Sekarang Ji Yoon hanya bisa menunggu penyakitnya kambuh.

FLASHBACK

“Kanker hatimu sudah dalam masa kritis..aku menyarankanmu untuk menjalani operasi”, kata sang dokter.

“Bila aku tidak mengikutinya..apa yang akan terjadi?” tanya Ji Yoon.

“Kau mungkin akan meninggal beberapa bulan lagi jadi..”

“Ya. Aku mengerti, dokter..”

FLASHBACK END

—(^^)—

Esoknya, Dong Woon tak sengaja menemui Ji Yoon yang sedang berbelanja. Segera saja ia berlari ke tempat mantan pacarnya. Ji Yoon yang melihat Dong Woon berlari ke arahnya, dengan cepat membayar belanjannya lalu lari dari situ secepat mungkin.

Ji Yoon berlari melewati taman kota. Dong Woon yang langkah kakinya lebih lebar menghentikan Ji Yoon tepat didepannya sambil merentangkan kedua tangannya.

“Kita perlu bicara!”, seru Dong Woon sambil mengatur nafasnya yang memburu.

Ji Yoon hanya menatap Dong Woon dengan tatapan sendu.

“Kau menyembunyikan sesuatu dariku! Katakan sekarang juga!”, nafas Dong Woon sudah mulai tenang. “Kita sudah bersama selama 6 tahun..kau tak dapat meninggalkanku begitu saja tanpa penjelasan!”

Ji Yoon terkejut dengan pernyataan Dong Woon barusan. Ia tak boleh menceritakan tentang kankernya itu pada Dong Woon. “Wow, ternyata kau bodoh juga ya”. Ji Yoon memasang tampang sok cuek dengan terpaksa.

“Aku hanya menyukai laki-laki kaya, tahu?”, hatinya terasa pedih untuk mengatakan hal tersebut. “Kau tidak lebih dari sekedar mainan untukku!”

Dong Woon terkejut dengan perkataan Ji Yoon. ‘Apa? Mainan?’ dirinya berpikir keras. ‘Tidak mungkin!’

“Kenapa kau tidak cari gadis lain saja, hah? Hyun Nah misalnya?”, Ji Yoon berkacak pinggang. “Sepertinya gadis itu sangat cocok buatmu”

Mata Dong Woon membelalak. Hatinya mengatakan Ji Yoon bohong, tetapi telinganya berkata lain, dia mendengar semua kata-kata kejam itu dari bibir Ji Yoon.

“Sudah ya”, Ji Yoon pergi dari hadapan Dong Woon yang mematung.

“Apa yang barusan kau katakan bohong Ji Yoon!”, teriak Dong Woon menatap punggung Ji Yoon yang menjauh. Namun, tak ada balasan dari pernyataan Dong Woon, gadis itu tetap saja melangkah meninggalkan Dong Woon.

—(^^)—

Don’t look back and leave

Don’t find me again and live

Because I have no regret from loving you

Take only the good memories

Hari ini Dong Woon berjalan melintasi taman pohon ek yang selalu dia lewati. Hatinya hancur berkeping-keping seperti gelas yang jatuh ke lantai. Dong Woon menoleh ke atas, pandangan sendunya melihat awan putih yang menghiasi langit cerah hari ini.

I can bear it in some way

I can stand in some way

You should be happy if you are like this

I become dull day bya day

Lagi-lagi di kepalanya terbesit bayangan Ji Yoon yang sedang bersama-sama dengan dirinya. Dong Woon sesekali tersenyum mengingat kenangan itu, tetapi kemudian dia berwajah sedih lagi setelah mengetahui Ji Yoon tak ada di sampingnya.

“Ji Yoon..”, gumamnya.

Kemudian terdengar suara gadis yang sangat familiar ditelinganya, tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang. Dong Woon berbalik, matanya terbuka lebar dengan apa yang dilihatnya.

Gadis berambut hitam kebiruan itu..dengan seorang pemuda berambut cepak yang sedang tertawa bersamanya..JI Yoon dan Seo Joon? ‘Bohong! Mereka pacaran?’ pikir Dong Woon.

If we pass by each other in the street

Act you like didn’t see me

And go the way you were walking to

Sret..mereka berdua lewat begitu saja disamping Dong Woon seolah Dong WOon memang tak berada disana. Mereka berdua terus tertawa tanpa melihat Dong Woon yang memandang keakraban mereka berdua dengan tatapan sedih.

Setelah agak jauh dan Dong Woon tak terlihat lagi, Ji Yoon meneteskan air mata. Bulir-bulir air mata itu jatuh tak tertahan, dadanya terasa sakit. “Maafkan aku, Dong Woon..”

—(^^)—

Always be happy with him

Even smallest regret won’t be left out ever

Please live well as if I should feel jealous                                                        

You should always smile like that as if nothing happened

Semenjak itu, diam-diam Dong Woon membuntuti Ji Yoon dan Seo Joon saat mereka sedang jalan berdua. Setiap kali ia melihatnya, tak ada pikiran lain selain mereka pacaran. Keakraban mereka, kemesraan mereka, dirinya menolak untuk melihatnya.

Ji Yoon selalu tersenyum bersama Seo Joon, sama seperti Ji Yoon bersama dirinya. “Apa yang kurang dariku, Ji Yoon? Apakah aku tidak cukup membahagiakanmu?”

Sudah sebulan Dong Woon melakukan seperti itu, tetap saja tak ada yang terbesit pikiran lain selain itu. Hatinya pedih, sepedih mawar yang dihancurkan dengan kepalan tangan.

Dong Woon sudah muak melihat hal itu. Sekarang dirinya benar-benar yakin bahwa Ji Yoon memang telah melupakannya dan beralih ke Seo Joon. Dirinya memang hanya mainan untuk Ji Yoon. Sudah tak berarti, kenangan-kenangan itu harus dimusnahkan sebelum sakit hati menyerangnya kembali.

—(^^)—

Kondisi kanker Ji Yoon benar-benar tak dapat dikendalikan sekarang. Ji Yoon dilarikan ke rumah sakit oleh Seo Joon karena tiba-tiba saja dia pingsan saat Ji Yoon sampai di depan rumahnya. Dalam ambulance, Ji Yoon membuka sedikit matanya dan melihat Seo Joon. Kemudian menyerahkan sesuatu ke tangan Seo Joon dengan sekuat tenaganya.

“Ini?”

Ji Yoon tersenyum lemah. “Berikan ini pada Dong Woon.”

Sampai di rumah sakit, para perawat segera membawanya ke UGD. Sedangkan Seo Joon menunggu di depan UGD dengan perasaan khawatir. Tanpa pikir panjang, Seo Joon menelpon Dong Woon.

“Halo?”, suara di seberang sana terdengar tak akrab.

“Dong Woon! Kau harus datang ke rumah sakit sekarang juga!”

“Kenapa aku? Bukankah harusnya kamu saja yang kesana?”, Dong Woon mendengus kesal.

“Aku serius, Dong Woon! Ji Yoon sekarang ini sedang di operasi kanker!”

It wouldn’ve hurt less if we didn’t meet at all

Lagi-lagi Dong Woon terbelalak. “Kan..ker? Kenapa dia tak memberitahukanku?”

“Itu karena Ji Yoon mencintaimu dan dia tidak ingin kau sakit hati soal kankernya itu! Makanya dia menyembunyikan kenyataan yang sebenarnya padamu!”

HP Dong Woon hampir saja terjatuh dari tangannya, membiarkan Seo Joon berteriak sekeras-kerasnya di telepon.

‘Selama ini aku salah..dengan mudahnya aku mengira Ji Yoon mencampakkanku padahal hatinya lebih terluka lagi menahan beban berat itu..dasar bodoh!’ batin Dong Woon. “DASAR BODOOOOHHH!”. Dong Woon berteriak dan kemudian berlari ke rumah sakit yang dimaksud sambil bergumam. “Jangan tinggalkan aku, Ji Yoon!”

—(^^)—

2 jam berlalu..keadaan sunyi senyap..hanya bau obat yang dapat dicium Seo Joon sementara dirinya resah dengan operasi itu dan Dong Woon yang tak datang-datang juga. ‘Si bodoh itu! Apakah dia benar-benar tak datang?’

Dong Woon terus berlari tanpa peduli tubuhnya lelah atau tidak, yang ada di pikirannya sekarang hanya Ji Yoon, Ji Yoon, dan Ji Yoon. Sampai di depan rumah sakit, Dong Woon berlari ke arah tangga dan menaikinya menuju lantai 20. Dengan nafas yang hampir tinggal setengah, sewaktu menuju lantai terakhir Dong Woon berhenti sebentar, mengatur nafasnya lalu melanjutkan perjuangannya menuju UGD.

Ruang UGD dibuka. Seo Joon langsung berdiri dari tempat duduknya dan mendatanginya. Tetapi sebelum sampai ke Ji Yoon, seseorang sudah lebih dulu mendahuluinya, yaitu Dong Woon.

“Ji Yoon! Dokter, bagaimana Ji Yoon?”, Dong Woon melihat Ji Yoon yang terkapar tak berdaya di kasur itu.

Si dokter hanya menggeleng dengan wajah sedih.

Seorang Dong Woon, meneteskan air mata setelah mendengar hal itu. Dia memeluk   Ji Yoon sambil mengeluarkan semua kepedihannya. Menangis dan menangis, tapi tak bisa mengembalikan Ji Yoon yang sudah meninggal.

Seo Joon menepuk pundak Dong Woon dari belakang. Dong Woon menengok dengan mata yang masih basah karena air mata. Kemudian Seo Joon menyerahkan sebuah amplop dan sebuah cincin.

Dong Woon ingat dengan cincin itu. Cincin yang pernah dia berikan padanya…

Hope you will bury our promise of being

Together forever baby

—(^^)—

FLASHBACK

“Oh, Ji Yoon! Maaf lama!”

Gadis mungil itu menengok. Kemudian memajukan bibirnya beberapa senti. “Uuh..kau lama sekali sih? Aku sudah menunggu selama 30 menit di taman ini!”

“Haha, maaf”, Dong Woon mengacak-acak rambut Ji Yoon.

“Ah..sudahlah..sebenarnya apa yang mau kamu berikan? Cepatlah, aku masih ada urusan..”, Ji Yoon melirik ke jam tangannya.

“Kenapa kau terburu-buru sih?”, tanya Dong Woon menggoda Ji Yoon.

“Sudah kubilang, setelah ini aku ada janji dengan dokter”, katanya.

“Kau sakit?”, tanya Dong Woon khawatir.

“Hanya sakit flu ringan saja”, Ji Yoon tersenyum.

“Oh, baguslah”, Dong Woon merogoh kantung bajunya dan mengeluarkan kotak kecil berwarna merah. Kemudian membuka kotak itu di depan matanya.

“Cin..cin..?”, kata Ji Yoon tak percaya.

“Ya”

“Tapi..”

Dong Woon memasangkan cincin itu ke jari manis Ji Yoon dan menggeleng. “Tidak perlu dijawab sekarang. Aku akan menunggu jawabanmu”, Dong Woon tersenyum.

Wajah Ji Yoon bersemu merah.

Saranghaeyo, Ji Yoon”, bisik Dong Woon di telinga Ji Yoon. Kemudian Dong Woon memeluk Ji Yoon erat dan Ji Yoon pun balas memeluk.

FLASHBACK END

—(^^)—

Oh girl..

I cry cry

You’re my all

Say goodbye bye

Oh my love

Don’t lie lie

You’re my heart

Say goodbye

Dong Woon melihat cincin penuh kenangan itu beserta dengan sebuah surat di tangannya. Dong Woon membuka surat itu. Beberapa lamanya setelah dia membacanya, dia terkejut, kemudian meneteskan air mata satu persatu sampai akhirnya tak bisa dihitung lagi.

Dong Woon berdiri di depan pemakaman Ji Yoon. Surat dan cincin yang diberikan Seo Joon untuknya dari Ji Yoon, benar-benar membuatnya hampir kehilangan semangat hidup.

Dear Dong Woon,

Jika kau sudah membaca surat ini, berarti aku sudah hilang dari dunia ini. Ke tempat dimana aku tak bisa meraihmu..aku minta maaf atas semua kata-kata kejam yang pernah kukatakan padamu. Aku..aku lebih memilih kau membenciku daripada menanggung sakit hati ketika bersamaku..Dan..tentang cincin yang kau berikan padaku..Aku tak bisa menerimanya, maaf! Tapi ketahuilah bahwa aku benar-benar mencintaimu. 6 tahun bersamamu adalah waktu yang paling berharga untukku. Terima kasih. Walaupun kita terpisah, aku percaya kita akan bertemu lagi..suatu hari nanti. Dan sampai hari itu datang..aku akan menunggu..hari demi hari..

From: Ji Yoon

Dong Woon hanya bisa menangis di depan makam Ji Yoon sambil terus mengatakan, “Kenapa? Kenapa kau mengambil resiko itu, Ji Yoon?”

THE END

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s