WISH TO SEE U AGAIN [prolog]

Wish: The Prologue of Chapter : 00 “ Chilhood”

 Sebagian orang mungkin lupa akan masa kecilnya, masa dimana banyak kelucuan dan kenakalan yang dilakukan. Bermain bersama teman-teman di taman bermain, selalu menangis jika dijahili bahkan saling bertengkar dengan teman lain setiap harinya. Kasih sayang orang tua masih penuh diberikan. Mereka selalu melindungi, menyayangi, menasehati dan mengabulkan setiap apa yang kita inginkan. Banyak orang yang tak menyadari bahwa banyak sekali peristiwa-peristiwa masa kecil yang tak akan terulang lagi di masa kecil selanjutnya.

Namun…

Masa kecilku kulewati tanpa kasih sayang orang tua dan perhatian sanak keluarga. Masih kuingat dengan jelas, saat aku ditinggal sendiri di sebuah taman. Aku duduk sendirian di bangku taman bercat putih bersih, sebelumnya aku pergi bersama Appa, tapi kemudian Appa pergi untuk membeli es krim. Dan Appa berpesan agar aku tetap duduk dan menunggunya. Berjam-jam aku sangat lapar. Aku pun memutuskan untuk mencari makan dan sampai akhirnya aku bertemu dengan seorang perempuan tua yang aku panggil “Eomma”. Dan sejak aku ikut dengannya, segalanya berubah dan membuatku menjadi diriku yang sekarang.

Peristiwa itu telah lama berlalu, tapi pengalamanku selama ini menunjukkan bahwa kita tak akan pernah bisa mengubur masa lalu. Karena bagaimana pun, masa lalu akan menyeruak mencari jalan keluar.

Dua bulan berlalu tanpa kusadari. Kini aku tinggal di sebuah Panti Asuhan bersama anak-anak kecil seusiaku sebagian dari mereka adalah anak yatim piatu. Walau aku sudah hidup bersama anak-anak seusiaku, aku masih merasa sedih kalau mengingat tentang Appa. Ditambah lagi di Panti ini aku kurang mendapat teman apalagi teman dekat. Rasanya tak mungkin.

Pagi itu matahari bersinar cerah dan burung-burung berkicau riang. Hari itu, aku libur sekolah dan memutuskan untuk duduk di bangku halaman Panti yang asri.

“Hai!”, aku menoleh dan kulihat anak laki-laki telah duduk di sampingku. Namanya Jung Yong Hwa.

“Kenapa sendirian? Bukannya hari ini kamu berenang?”

“Malas!”, jawabku kasar.

“Namamu Seo Hyun? Aku Yong Hwa”

“Ara”

“Ohh…”, Yong Hwa berhenti bertanya.

Itulah kesan pertama saat aku berkenalan dengan Yong Hwa. Aku sudah tahu dia sejak seminggu kedatanganku di Panti. Aku tahu namanya dari Eomma, katanya Yong Hwa sudah setahun di Panti dan orang tuanyalah yang memasukkannya disini. Entah alasan apa sehingga orang tua Yong Hwa membuang anak kandung mereka? Dari perkenalan itu aku mulai menjalin persahabatan dengan Yong Hwa, tidak butuh waktu lama, kami langsung dekat mungkin itu semua karena latar belakang kami yang sama. Sejak saat itu pula, aku berteman baik dengan Yong Hwa. Sampai-sampai kami jarang bermain bersama teman lainnya.

Di suatu malam yang hening, ketika itu aku merasa sangat rindu Appa dan umma ,yah walaupun aku tahu umma sudah lama meninggal. Tapi, malam itu aku benar-benar tak bisa tidur sampai-sampai aku berjalan sendirian ke kamar Eomma.

“Mengapa belum tidur?”, sebuah suara yang membuatku langsung berbalik badan.

“Siapa kamu?”, tanyaku.

“Aku Ji Yong, kamu mau ke kamar Eomma ya”

“Sok tahu”

“Eomma sedang pergi ke rumah adiknya”. Entah dorongan darimana hingga malam itu aku menangis.

Menangis … dan terus menangis. Tiba-tiba Ji Yong menarik tanganku agar mengikuti langkahnya. Menaiki tangga di lantai paling atas dan melewati setiap lorong yang menurutku cukup mengerikan. Karena waktu itu malam hari, aku tak begitu paham akan dibawa kemana aku.

“Jangan menarik tangan dong, sakit!!”

“Coba lihat ke atas”, kata Ji Yong.

Dari mulai malam itulah aku percaya kalau kita tak pernah ditinggal sendirian. Masih ada bintang-bintang, rembulan yang menemani malam sepi kita yang akan tetap ada saat kita merasa sedih. Ji Yong lah yang menyadarkan ku.

“Mungkin kamu merasa sedih, harus hidup tanpa orang tua. Tanpa belaian kasih sayang, tapi kamu lebih beruntung daripada aku”

Entah seberuntung apa diriku sampai kami berdua tertidur di loteng, aku masih belum menanyakannya.

“Terima kasih, Ji Yong”

“Senang bisa punya teman sepertimu”

Sebuah senyuman manis berkembang dari bibir Ji Yong. Senyuman yang membuatku nyaman dan lebih tenang. Namun, tanpa kusadari itulah pertemuan pertama dan terakhirku dengan Ji Yong. Karena lusanya Ji Yong mengirimkan surat dan peta tempat loteng rahasia berada. Karena Ji Yong sudah kembali kepada orang tuanya.

Dan itu belum akhir kesedihanku, tiba-tiba siang itu Yong Hwa mengajakku ke danau yang jauh dari Panti. Aku masih sangat ingat, waktu itu tatapan Yong Hwa penuh gelisah dan risau. Aku sempat bingung, untuk apa Yong Hwa membawaku ke danau.

“Tumben main ke danau.Adaapa?”, tanyaku.

“…”, Yong Hwa tidak menjawab, sikapnya terlihat gelisah.

“Aku diadopsi, aku dapat keluarga baru”

Suara Yong Hwa begitu datar namun masih teringat dengan jelas matanya yang gelisah dan terlihat terluka.

“Bukannya ini kabar bagus, kau akan hidup dengan keluarga. Kau punya Appa dan Umma, pasti senang. Jangan bersedih”, hiburku.

“Kamu tidak marah, Seo Hyun?”

“Buat apa? Itu kan hakmu, sebagai teman aku tidak ingin egois. Aku turut senang kau dapat keluarga. Mungkin… tak lama lagi aku juga akan diadopsi kok”

“Seo Hyun aku janji, bakal datang ke Panti untuk menengokmu”

Aku mencoba untuk tidak menangis saat mengantarkan Yong Hwa pergi. Aku melihat orang tua Yong Hwa yang baru, sepasang suami istri yang terlihat baik dan ramah. Aku berharap Yong Hwa akan hidup bahagia dengan keluarga barunya.

“Eomma, Yong Hwa titip Seo Hyun”

“Iya, Yong Hwa. Seo Hyun akan Eomma jaga dan berbaktilah pada orang tuamu. Eomma tahu Yong Hwa anak yang baik”

“Aku pergi, Seo Hyun!”

Sebuah kecupan mendarat dengan hangat di dahiku. Itulah kenangan terakhir yang diberikan Yong Hwa sebelum pergi. Hanya sesaat namun memberi kesan yang mendalam. Aku terus mencoba untuk tidak menangis dan merengek agar Yong Hwa tetap disini. Yah… usahaku berhasil saat mobil Avanza perak telah pergi dari halaman Panti. Aku berlari kencang tanpa mempedulikan panggilan Eomma. Aku duduk di tepian danau, menangis dengan keras menumpahkan semua kekesalan hatiku.

Mengapa Yong Hwa dan Ji Yong harus pergi secepat itu?

Mengapa?

Semua orang yang aku sayangi pergi meninggalkanku sendiri. Sendiri dalam kehidupanku…. Apa aku anak nakal? Tidak taat pada orang tua? Mengapa Allah mengambil semua kebahagian Auryn? Semua yang Auryn suka hanya sesaat bisa dirasakan dan dengan secepatnya menghilang. Apa salahku?

—(to be continue)—

One thought on “WISH TO SEE U AGAIN [prolog]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s