I MEET YOU

Tittle :

I MEET YOU

Starring:

Key, 20 Years Old

Park Jiyeon, 16 Years Old

 

All Story Key POV

Hari ini seakan sudah terlalu biasa untuk ku dan anggota SHINee. Melakukan kegiatan sesuai yang di jadwalkan oleh Manager Jung dengan persetujuan pihak SM Entertaiment. Sehabis kami ingin pulang dari Indonesia, tiba-tiba aku dan Jonghyun hyung masuk rumah sakit karena kelelahan dan pergelangan kaki terkilir cukup parah. Yang membuat kami tidak melanjutkan jadwal. Jujur saja aku tidak terlalu menyukai rumah sakit, karena menurutku rumah sakit itu adalah tempat terseram dan sebagainya.

“ Key~” panggil seseorang padaku.

“ Ne, wae hyung?” kata ku sambil melirik kearah Jonghyun hyung.

“ Bolehkah aku disini? Di kamarku hawanya sangat panas” kata Jonghyun hyung sambil menenteng masuk infus.

“ Err .. boleh” kata ku mempersilahkan Jongyun hyung.

“ Kau pernah dengar tidak?” tanya Jonghyun hyung mencoba menakutiku.

“ Dengar apa, hyung?” tanya ku balik.

“ Aku dengar kalau di rumah sakit ini ada yang pernah mencoba bunuh diri” kata Jonghyun hyung.

“ Bunuh diri?” kata ku membulatkan mataku.

“ Ne, dan sampai sekarang penyebabnya belum diketahui. Tapi, yang aku ketahui kalau dia masih di rawat karena koma 2 bulan. Tapi, aku tidak tahu dia sudah sadar atau belum” kata Jonghyun hyung sambil duduk menyenderkan kepalanya di sofa.

“ Kau bercandakan, hyung? Aku ini sudah 20 tahun, hyung dan mana mungkin aku masuk kedalam permainan aneh mu itu” kata ku sambil menarik selimutku keatas dan bersiap untuk tidur.

Keesokan harinya, aku bangun jam 8 pagi. Aku mengedarkan pandanganku keseluruh kamarku dan tidak menemukan Jonghyun hyung. Aku berpikir ‘mungkin dia sudah kembali ke kamarnya’.

“ Err .. badan ku terasa pegal, sepertinya aku harus pergi jalan-jalan di sekitar rumah sakit ini” gumamku sambil bersiap untuk jalan-jalan.

—(^^)—

Saat aku berjalan-jalan ke taman, aku melihat seorang yeoja yang sedang menyanyi sambil menyenderkan kepalanya dan juga memejamkan matanya. Suaranya indah dan sangat merdu. Aku ingin sekali melihat wajahnya.

Aku mencoba mendekat dengan perlahan dan mencoba duduk disampingnya. Seperti yang ku duga dia terlihat kaget melihat ku duduk disampingnya. Namun, dia tersenyum dan terus melanjutkan nyanyiannya yang sangat indah untuk di dengar.

“ Suaramu indah” kata ku yang membuatnya berhenti dari aktivitas nyanyinya dan menatapku heran.

“ Tapi, aku bernyanyi hanya untuk sementara. Karena, aku akan pergi” katanya sambil berdiri dan melentangkan kedua tangannya.

“ Kau akan pergi? Bukankah terlalu cepat? Aku baru menemukanmu” kata ku dengan raut wajah kecewa.

“ Menemukanku? Aku pergi memang sudah ditakdirkan” kata yeoja itu.

‘di takdirkan?’ gumamku dalam hati.

“ Kalau boleh tahu siapa namamu?” tanyaku kepada yeoja itu.

“ Jiyeon .. Park Jiyeon” kata yeoja itu sambil bergerak untuk pergi.

“ Namaku Key, salam kenal Park Jiyeon” kata ku sambil berteriak.

Pertemuan ku cukup singkat, dan tidak ada yang istimewa. Namun, karena pertemuan itu aku tidak bisa melupakannya dan selalu ingin terus datang ketempat dimana pertama kali aku bertemu dengan Jiyeon.

Ternyata, dugaan ku benar dia sedang bernyanyi dengan kepala yang menyender di dekat pohon. Tanpa ragu-ragu aku mencoba untuk menyapanya.

“ Hello” sapaku kepadanya, dia menatap kerarahku dan tersenyum.

“ Kau kesini lagi?” tanyaku padanya.

“ Ya, karena ini tempat persembunyianku” kata Jiyeon.

“ Apa kau sedang sakit? Wajahmu tampak pucat” kata ku yang menyadari perubahan raut mukanya.

“ Tidak, mungkin aku sedikit kelelahan” kata Jiyeon yang sepertinya menyembunyikan sesuatu dariku.

“ Syukurlah, aku kira tadi kau sakit” kata ku sambil menghela nafas.

“ Kau sendiri?” tanya Jiyeon.

“ Sama, aku juga kelelahan dan terkilir. Karena, berjuang untuk menghadiri suatu acara di Indonesia” kata ku yang membuat matanya terbelalak.

“ Sebenarnya kau itu siapa?” tanya Jiyeon yang menaruh curiga kepadaku.

“ Aku seorang anggota Boyband” kata ku dengan percaya diri.

“ Boyband?” tanya Jesang kembali.

“ Ya, boyband yang beranggotakan aku, onew hyung, jonghyun hyung, minho dan taemin si magnae” kata ku.

“ Oh, aku kira kau seorang turis yang nyasar” kata Jesang sambil tertawa.

Hari ini adalah hari pertama aku melihat dia tertawa, dan aku harap dengan keberadaan ku dia tetap terus tertawa.

“ Kalau boleh tahu umurmu berapa?” tanya Jiyeon.

“ 20 tahun” jawabku singkat.

“ Berarti kau lebih tua daripada aku” kata Jiyeon sambil meneruskan nyanyiannya.

“ Berarti mulai sekarang kau harus memanggilku oppa” kata ku sambil tersenyum.

“ Itu kemauanmu” kata Jiyeon sambil tertawa cekikikan.

“ Aku ingin sekali mempunyai seseorang yang memanggilku oppa. Tapi, bukan fans ku” kata ku.

“ Kalau aku memanggilmu oppa sama saja aku nanti dikira fans mu” kata Jiyeon sambil menjulurkan lidahnya.

“ Kan aku bilang kecuali fans ku” kata ku yang membuatnya menatap ku.

“ Ya, sudah lain kali aku akan memanggilmu dengan sebutan ‘oppa’ dan seterusnya aku akan memanggilmu seperti itu” kata Jiyeon yang membuatku tersenyum.

“ Kau memang anak yang pintar” kata ku mengelus kepalanya lembut.

Semenjak kejadian itu aku terus dipanggil olehnya dengan sebutan ‘oppa’. Aku selalu ingin mengetahui banyak tentang dia. Dan, selalu ingin berada dekat dengannya.

“ Kalau aku boleh tahu .. kau sakit apa?” tanyaku yang membuat dia menatap tajam kearahku.

“Aku mempunyai urusan di tempat ini dan maaf jika aku tidak bisa menceritakan semuanya kepada mu oppa” kata Jiyeon sambil menunduk, terlihat jelas raut muka nya yang menahan tangis.

“ Walau aku tidak tahu pasti, aku ingin kau memperjuangkannya” kata ku sambil tersenyum.

“ Gamsahamnida” kata Jiyeon.

—(^^)—

Semenjak hari itu, aku tidak pernah melihatnya di taman itu. Tidak ada alunan suara yang membuatku selalu ingin di dekatnya. Dan, sekarang aku sangat merindukannya. Merindukan suaranya yang selalu memanggilku dengan sebutan ‘oppa’.

Tidak terasa sudah seminggu aku dan Jonghyun hyung di rawat dan sudah 4 hari ini aku tidak melihat Jiyeon di taman itu. Berat rasanya aku beranjak keluar dari rumah sakit itu tanpa berpamitan dengan Jesang. Akhirnya, aku pergi ke taman itu dan menemukannya dengan wajah yang sangat pucat dan tangannya yang membeku. Ketika aku menanyakan keadaannya dia hanya tersenyum.

“ Oppa, aku sudah berusaha. Tapi, Tuhan sudah berkehendak lain. Aku menunggumu di ruang 2709” kata Jiyeon sambil tiba-tiba menghilang dari pandanganku.

“ Jiyeon~” aku berteriak sekencang-kencangnya.

—(^^)—

“ Key, bangun ..” terdengar suara Jonghyun hyung.

“ Err .. hyung?” kata ku sambil berusaha untuk duduk.

“ Semalam kau bermimpi apa? Kenapa berteriak-teriak? Apa kau masih ingat dengan ceritaku itu?” tanya Jonghyun hyung.

“ Aku ..”

“ Dan, kenapa kau memanggil orang yang bernama Jiyeon?” tambah Jonghyun hyung.

“ Bukankah kita sudah ingin pulang, hyung?” tanya ku balik.

“ Kau itu .. kita baru semalam di rumah sakit ini, apa jangan-jangan kau bermimpi kita sudah seminggu disini!” kata Jonghyun hyung terlihat sangat kesal.

“ Mwo? Baru semalam? Yang benar saja.. lalu Jiyeon?” tanya ku pada Jonghyun hyung.

“ Jiyeon? Siapa itu Jiyeon?” tanya Jonghyun hyung balik.

“ Arggghhh.. Jiyeon kemana kau? Tidak tunggu dulu .. kamar 27 .. 2709” kata ku sambil berusaha untuk berdiri.

“ Heh, kau mau kemana key?” tanya Jonghyun hyung.

Aku berlari sekencang-kencangnya dan mencoba mencari kamar 2709. Ketika aku sudah ada persis di depan kamar itu. Perasaanku campur aduk, siapa sebenarnya Jiyeon itu? Dan kenapa dia ada di dalam mimpiku? Bahkan, aku sempat mencintainya walaupun waktu di dalam mimpi itu sangatlah singkat.

Ketika aku membuka kenop pintu, terlihat sebuah bunga mawar berada di atas tubuh Jiyeon dan terlihat banyak orang yang menangis. Ketika aku bertanya, ternyata Jiyeon adalah orang yang pernah mencoba untuk bunuh diri. Alasannya, karena dia sudah terlalu lelah dengan penyakit kanker otak yang membuat dia berhenti untuk menunjukkan bakat menyanyinya.

“ Nak, apakah kau yang bernama Key?” tanya seseorang.

“ Ne, aku Key” kata ku.

“ Kami orang tuanya Jiyeon dan ingin memberikan surat ini” kata orang tua Jiyeon sambil memberikan surat tersebut kepadaku.

Ketika aku membukanya, aku benar-benar terkejut. Di surat itu ada beberapa fotoku saat sedang bersamanya.

Dear, Key Oppa

Mianhae, aku tidak dapat jujur padamu..

Aku diberi Tuhan waktu untuk bertemu olehmu melalui mimpi.

Karena, sebenarnya aku sudah koma sejak berbulan-bulan lamanya.

Aku menyuruh seorang suster untuk membuatkan surat ini untukmu.

Karena, aku tidak sanggup untuk menulisnya sendiri.

Terimakasih oppa sudah memberiku nafas dengan ucapanmu yang harus memperjuangkannya.

Aku sudah berusaha semampuku. Namun, tuhan sudah mengatakan lain.

Mianhae, mungkin aku sudah membuatmu takut.

Tapi, aku melakukannya karena aku merasa kesepian.

Dan, satu lagi …. lagu yang selalu ku nyanyikan itu..

hanya untukmu ..

Saranghaeyo Key Oppa.

Aku menutup surat itu dan mencoba tersenyum. Seharusnya aku yang berterimakasih padamu, karena aku telah di izinkan bertemu denganmu.

“ Tapi, aku bernyanyi hanya untuk sementara. Karena, aku akan pergi” aku masih ingat dengan ucapannya di mimpi ku.

Perlahan air mata ku jatuh ke pipiku. Ternyata, ini jawabannya. Jawaban ini mencakup semua pertanyaanku yang belum terjawab olehnya. Mengapa kau terlihat pucat? Kau sakit apa?

“ Walau aku tidak tahu pasti, aku ingin kau memperjuangkannya” itu adalah perkataan yang pernah terucap oleh ku.

Tapi, sekarang kata-kata itu sudah berubah menjadi “ Kau sudah memperjuangkannya Jiyeon dan semoga kau tetap mengingatku walau kita tidak penah bertemu di dunia nyata”.

THE END

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s