Rembulan Tenggelam di Wajahmu

Penulis : Tere Liye
Terbit : Februari 2009
Harga : Rp. 60.000 (Harga bisa berubah)
Bahasa : Indonesia
Sinopsis :
Membaca Novel ini kita diajak berkelana untuk menyelami kehidupan seseorang yang bernama Rehan yang menjadi tokoh utama di cerita ini.
Sang tokoh di besarkan di sebuah Panti Asuhan selama 16 tahun. Disini dia merasa mendapat perlakuan yang tidak layak dari pengelola panti yang dia anggap sok suci. Setelah masa 16 tahun di Panti Asuhan yang dia anggap sia-sia, Rehan memutuskan untuk pergi. Selepas dari panti Rehan menjalani kehidupan yang tidak menentu, mulai dari emperan terminal hingga ke lapak2 di pinggir rel. Hingga suatu kejadian yang akhirnya memaksa Rehan untuk berjuang bertahan hidup di Ibu kota.Memulai kehidupannya di Ibu kota, Rehan sempat bernaung di sebuah rumah singgah yang mempertemukannya dengan beberapa teman yang akhirnya disebut sebagai keluarga olehnya. Disini dia berkesempatan memperoleh pendidikan yang nantinya akan menghantarkannya menjadi salah seorang pemilik kerajaan bisnis yang disegani suatu hari kelak.

Dikisahkan pula bagaimana Rehan menemukan cinta sejati nya di sebuah gerbong kereta api sewaktu di perjalanan kembali ke kota asalnya. Dia memutuskan kembali kesana untuk melupakan kenangan pahit bersama Plee yang hidup nya harus berakhir di tiang gantungan. Di kota asal nya inilah Rehan mulai menata hidupnya dengan bekerja sebagai buruh bangunan. Rehan adalah seorang pembelajar yang baik, maka tidak heran dalam waktu singkat dia mampu mendapatkan posisi sebagai kepala mandor di dalam proyek2 yang diikuti nya. Di kota ini juga Rehan memulai dan mengakhiri kehidupan berumah tangga nya dengan seorang perempuan bernama fitri.

Satu kebiasaan Rehan yang tidak pernah berubah adalah melihat rembulan. Mulai dari teras panti asuhan, di atap rumah singgah, di tower air hingga di lantai tertinggi gedung miliknya.

Potongan-potongan kehidupan Rehan yang dikilas balik di novel ini adalah untuk menjawab lima pertanyaan yang terus membayangi nya. Apa saja kelima pertanyaan itu dan bagaimana jawaban-jawaban atas kelima pertanyaan itu.

Semua jawaban Dirangkum Tere Liye dengan sederhana. Kita diajarkan untuk melihat sesuatu diluar sudut pandang kita. Memperkaya pola pikir kita untuk selalu berpikir positif pada Tuhan. Semua hal dalam hidup kita telah Tuhan persiapkan dengan baik. Meski buku ini ditulis dengan alur mundur, tak membuat kita berpikir dua kali untuk membacanya. Hanya harus sedikit jeli. Tere Liye mengemasnya dengan baik, hingga kita dibuat penasaran sampai lembar terakhir buku ini. Bersiaplah kaget dengan kalimat-kalimat bijak yang mengantarkan kita untuk lebih memahami hidup.

Silahkan membaca novel yang sarat makna akan arti cinta, pengorbanan dan ambisi di dalam mengarungi lautan kehidupan di dunia ini.

Secara garis besar, buku ini menceritakan seseorang dengan hati yang telah membatu karena masa kecilnya yang luar bisa kelam dan penuh penderitaan.
Menjelang ajalnya, tokoh ini diajak oleh sesorang yang menjadi “utusanNYa” untuk mengarungi masa lalunya guna menjawab 5 pertanyaan besar dalam hidupnya.Sekali lagi, pertanyan-pertanyaan besar yang mungkin akan terus terbawa sampai mati. Karena memang sampai saat itu kita tidak dibukakan petunjuknya secuil pun.

Atau kita sudah dibukakan rahasianya, tapi tidak terlihat. Karena kita sibuk dengan ke-aku-an kita.

Di sinilah kepiawaian Tere-liye.

Dengan cerita memikat, gaya bahasa yang tidak terasa bahwa itu karya sastra, mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan besar manusia. Dan berhasil!

Meski saya sempat khwatir karena jumlah halaman yang tersisa sedikit tidak akan mampu menjawab 2 pertanyaan lagi, dan akan berakhir pada jawaban ala kadarnya. Ternyata salah. Jawaban-jawaban itu tetap sama berkualitasnya dengan ketiga jawaban sebelumnya. Dan ceritanya pun berakhir dengan ending yang sesuai.

Semua jawaban itu diungkapkan melalui cerita masa lalu sang tokoh yang dia sampai tua tidak mengetahui kejadian yang jadi jawaban itu.

Ngg…mudahnya sih, “hikmah” dari segala peristiwa.

Misal (contoh ini bukan dari buku itu) :
Kita sangat kesal karena ditengah jalan desa yang sepi, hujan lebat, ban mobil bocor. Kekesalan kita bertambah saat mengganti ban ditengah derasnya hujan, istri kita ngomel-ngomel karena kita tidak pake Aki GS Astra…eh,

Begitu mobil sudah jalan. Ternyata jembatan desa sedang patah.

Apakah patahnya jembatan ini barusan?
Bagaimana kalau patah jembatan ini saat mobil kita sedang diatasnya?
Bagaimana kalau ban mobil kita tadi tidak bocor duluan?
Bukankah kita justru sedang diselamatkan-Nya?

Hukum Alloh (insya Alloh) adalah pasti,
besi dicemplungkan air, ya tenggelam,
jembatan yang telah usang, ya tinggal nunggu waktu untuk patah.

Tapi takdir dan kasih sayang Alloh (insya Alloh) juga pasti.
Saat kita belum ditakdirkan untuk celaka atau isduth, ya dicarikan-Nya jalan untuk menyelamatkan kita, meski kita sangat tidak menyukainya.

Seperti inilah pelajaran secara keseluruhan yang bisa diambil dari buku ini.
Tapi sungguh, saya tidak merasa digurui saat membaca karya fiksi ini.

Cerita dan detilnya yang mungkin membuat seperti itu.
Bahkan ada aksi pencurian permata yang seru ^_^

Euh…jadi seperti itulah (cepat-cepat mengalihkan perhatian). Setelah membaca buku ini saya diingatkan untuk :

  • Melihat dari sudut pandang orang lain
  • Berbagi
  • Ikhlas

*menghela napas*…

Membatukan diri pada pekerjaan…berharap kelak tidak ada bunga anggrek yang mekar di tempat dan waktu yang salah…karena Hidup sekali – Mati sekali – Jatuh cinta pun cukup sekali

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s