LAST WORD

Tittle:

            Last Word

Starring:

            Kim So Eun

            Lee Hyuk Jee a.ka Eun Hyuk

            Kim Yoojin a.ka UEE

 

People can choose their own way
People can choose their way to live

And people can choose their own way to loving someone

So Eun PoV

Aku duduk terdiam sambil menatap surat yang kutulis untuk diriku sendiri. Aneh memang menjadikan surat sebagai teman curhat, tetapi inilah diriku yang penyendiri

Hey.. apa kau tahu apa saja yang terjadi belakangan ini?
Aku sering bertemu dengannya belakangan ini.. memang mustahil untuk menyukai seseorang yang penyendiri sepertiku, tapi apakah salah jika aku mencintai temanku sendiri? Teman yang mengetahui kebiasaan burukku? Teman yang mengetahui segalanya tentang diriku?
Tadi ia mengirimkanku e-mail, isinya? Isinya… ia mengajakku makan siang bersama besok! Kau tahu betapa senangnya aku? Ia selalu menyempatkan dirinya untuk menghiburku walau ia sedang sibuk.
Aku harap ia akan terus bersamaku, aku ingin menghabiskan waktu dengannya lebih lama lagi.
Sekarang sudah pukul 23.49 KST. Saatnya aku untuk tidur, semoga Tuhan memberikanku umur yang panjang agar aku masih bisa membuka mataku besok pagi dan menjalani hari-hari dengan baik ^^

Aku melipat suratku dan memasukkannya kedalam amplop biru yang senada dengan warna kertas suratku. Aku membawanya ketempat tidur, dan memeluknya. Aku pun tertidur.

“So Eun. Bangun,” ucap seseorang menggoyang-goyangkan badanku. Aku membuka mataku perlahan dan melihat unnieku, Hyera berdiri dengan celemeknya.
“bangunlah. Tadi appa telfon, hari ini jam 9 kita akan ke makam umma,”ucapnya lalu bergegas pegi. Aku turun dari kasurku dan menaruh surat yang aku pegang tadi kedalam kotak yang penuh dengan surat-suratku yang lain.
Aku mengambil handuk dan bajuku dan segera mandi. 15 menit setelahnya aku keluar dan mengeringkan rambutku.
“So Eun.. sarapan dulu,” sahut Hyera, aku berjalan ke dapur dan makan sarapan bersama unnieku itu dalam diam.
“bagaimana perasaanmu sekarang? Semenjak umma meninggal 5 tahun yang lalu kau menjadi pendiam dan sifatmu menjadi aneh, kau lebih suka menulis surat itu dan membawanya kemana-mana dibanding bercerita kepadaku. Ada masalah apa sebenarnya?”ucap Hyera. Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku.

Selesai sarapan aku menuju ke kamar dan bersiap untuk ke makam umma, dan tetap menulis surat dulu untuk umma.

Umma.. apa kabar?
Bagaimana keadaanmu? Apakah kau tenang disana? Sudah bertemu dengan nenek dan kakek kah? Kami semua baik disini. Kami sangat merindukanmu. Semenjak kau pergi aku tidak ada teman curhat lagi, tetapi itu bukan masalah bersar lagi umma, aku sudah dewasa sekarang, jadi aku bisa memilih yang terbik untukku.
Semoga kau tenang disana.. aku mencintaimu.

Aku kembali memasukkan surat itu ke amplop biru. Setelah itu aku mengganti pakaianku dengan dress hitam dan sendal flat lalu membawa surat itu ke makam umma.
aku berdiri menatap batu nisan ummaku dan berdoa untuknya.

‘ Tuhan, semoga ummaku tenang disana. Berikanlah ia kebahagiaan yang lebih dibanding ketika ia hidup di dunia dulu‘  Aku membuka mataku dan menaruh suratku disana. Appa dan Hyera kemudian mengajakku pulang ke rumah.

Sesampainya di rumah aku duduk di kamar dan membuka laptopku. Membuka laptopku dan membuka e-mailku.

Kim So Eun, ingat kau ada janji denganku jam 3 sore, jangan terlambat! Ok? – Eun Hyuk.

Aku tersenyum dan mulai bersiap-siap. Jam sudah menunjukkan pukul 2.45. Aku keluar rumah dan berjalan ke cafe yang kebetulan tidak terlalu jauh dari rumahku.
“So Eun-ah, sudah jam berapa ini?” keluhnya.
“mianhae Eun Hyuk-sshi. Tadi aku baru sampai di rumah pukul 1.45 kan aku butuh istirahat”ucapku. Ia terkekeh.
“sudah makan? Aku sudah pesankan makanan untukmu, jjangmyun dan Strawberry milkshake,” ucapnya sambil menatapku teduh. Aku hanya terseyum.
‘Itulah mengapa aku bisa menyukaimu Eun Hyuk. Kau selalu tahu apa yang aku inginkan sekarang‘ ucapku dalam hati.
“jadi bagaimana tadi? Pasti kau kasih surat ke ummamu ya?” ucapnya sambil memainkan PSP nya.
“ne.. tadi aku bertemu dengannya. Ia sangat cantik dan tenang sekarang. Bahkan ia titip salam untukmu,” ucapku.
“salam balik,” ucapnya sambil mengangguk-angguk.
Tak lama kemudian pesanan kami datang.
“akhirnya datang juga. Aku sudah lapar,” ucapnya.
“kau pasti sangat lelah ya belakangan ini?” ucapku. Ia hanya mengangguk.
“ah iya. Untung kau bertanya, besok ada yang ingin aku bicarakan, besok tidak ada acara,kan? Aku tunggu di taman jam 9 bagaimana?” ucapnya. Aku tersenyum dan mengangguk-angguk.
Setelah selesai makan ia mengajakku berkeliling kota Seoul selama 30 menit.
“sudah sore, aku antar kau ke rumah ya?” ucapnya.

“anio, aku bisa sendiri, kau juga pasti lelah,” ucapku lembut.
“kau kira aku pria seperti apa membiarkan wanita sepertimu berjalan sendirian ke rumah. Aku antar pulang,” ucapnya.
Kami berjalan pulang bersama sambil tertawa-tawa. Eun Hyuk banyak bercerita hal-hal yang konyol membuatku tertawa lama. Sampai akhirnya aku sampai di rumah.
“gomawo Eun Hyuk-sshi,” ucapku tersenyum lebar,
“cheonmaneyo. Cepat masuk, udara sore sangat dingin. Sampai besok ya,” ucapnya. Aku masuk dan melambaikan tanganku kepadanya. Rasanya berat untuk meninggalkannya.
“ngg.. So Eun?” ucap seseorang dari belakang.
“he? Waeyo unnie?” ucapku.
“ada surat. Kau ingat kau ada check-up minggu lalu?” ucapnya dan aku megangguk.
Aku membawa surat itu ke kamar dan membacanya dengan seksama.

 ‘Kim So Eun… kanker… otak.. stadiun.. akhir‘

Aku terdiam, rasanya aku tidak dapat menopang berat badanku lagi. Hanya 2 hal yang ada di kepalaku sekarang. 1 adalah..kematian yang kedua adalah.. aku akan segera  meninggalkan Eun Hyuk sebelum ia tahu perasaanku. Aku panik dan terduduk disamping ranjangku.
‘kenapa harus aku? Kenapa harus kanker? Kenapa akuu???‘ teriakku dalam hati sambil menangis sekencang-kencangnya.
“So Eun? Aku sudah membacanya?” tiba-tiba seseorang berbicara dibalik pintu.
“unnie..,” ucapku lemah masih sambil menangis. Hyera berjalan medekatiku dan memelukku.
“kenapa harus aku unnie? Apa salahku? Kenapa harus aku?”ucapku menangis dipelukannya.
“jangan seperti itu So Eun, semuanya belum tentu benar. Itu hanya prediksi tentang sisa waktumu untuk hidup.. semuanya ada di tangan Tuhan,” ucapnya. Aku masih menangis.
“apa yang harus aku lakukan unnie? Aku tak ingin mati dengan cara seperti ini,” ucapku.
“ jangan seperti itu. Teruslah berdoa dan jangan berbuat macam-macam, jaga stamina dan jangan sampai terlalu lelah. Hari ini hari terakhir kau boleh keluar sendirian. Mulai besok kau akan pergi bersamaku. Arraseo?” ucapnya tegas.
‘tidak ada hari esok unnie, aku tidak akan sanggup membuka mataku untuk hari esok..’ gumamku dalam hati.
“unnie pergi kerja dulu. Kau akan pergi bersama Eun Hyuk bukan? Jangan pulang terlalu malam. Araci?” ucapnya. Aku hanya mengangguk. Unnie mengeluarkan ponselnya dan menelpon seseorang.
“yobhseyo? Eun Hyuk? Ne ini Hyera. Ne.. kau akan akan pergi dengan So Eun bukan? Mwo.? anio.. jaga dia baik-baik.. pulanglah sebelum jam 5 sore.. ne.. jemput? Ne..ne.. arraseo. Ne.. annyeong” ucapnya.
“aku pergi dulu. Hati-hati,” ucapnya lalu pergi keluar.
Aku berjalan ke mejaku dan mengeluarkan selembar kertas dan mulai menulis sesuatu.

***

“hm. Jadi unniemu mau bekerja dan terlalu khawatir karena kau demam? Kenap tidak bilang? Kita bisa main di rumah saja,” ucap Eun Hyuk santai. Aku tersenyum.
Kami berjalan ke taman dan aku melihat seseorang duduk disana. Eun Hyuk menghampirinya.
“annyeong Eun Hyuk,” ucapnya.
“ah annyeong. So Eun, kenalkan ini Yoojin , dia…”ucapannya terhenti ketika handphoneku bordering.

“ah chamkaman, aku mengangkatnya sebentar,” aku berjalan meninggalkan mereka dan menerima telpon dari appa.

“nanti malam kau akan check-up ke dokter, jadi jangan terlalu lelah agar hasilnya baik, ara?” ucap appa.

“ne appa arraseo,”ucapku. Aku memutuskan telponnya dan menatap surat yang kupegang dari tadi.

semoga ini keputusan yang tepat’ ucapku dalam hati.
Aku berjalan ke tempat dimana aku meninggalkan Eun Hyuk dan wanita itu tadi. Ketika aku melihat mereka dari kejauhan, aku melihat mereka sedang… berciuman?
Aku terdiam. Suratku terjatuh dan airmataku pun mengalir seraya membekap mulutku. Aku berlari sekencang-kencangnya dengan hatiku sangat sakit melihatnya. Aku terus berlari tanpa menoleh kemanapun. Tiba-tiba…
TIIN TIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIINNNNNNNNN ~

***

Eun Hyuk PoV

“Temanmu kenapa?” tanya Yoojin.
“ada telpon. Dia temanku dari kecil. Dialah wanita yang sering kuceritakan padamu,” ucapku terus menatap punggung So Eun yang semakin menjauh.
“hmm. Kok dia sepertinya pendiam dan wajahnya pucat?” ucap Yoojin.
“dia memang pendiam. Dia lebih suka menyimpan perasaannya diatas kertas. Aku yakin di kamarnya banyak sekali surat yang sudah tertumpuk. Kebiasaan yang aneh memang. Cuma itulah yang unik darinya. Tetapi belakangan ia demam karena kelelahan,” ucapku panjang lebar.
“kau menyukainya?”ucap Yoojin. Aku tersentak.
“mworago??” ucapku menoleh kepadanya, tetapi aku merasakan sesuatu menyantuh bibirku. Aku terdiam dan akhirnya sadar lalu mendorong tubuh Yoojin.
“ya! apa yang kau lakukan!” bentakku.
Aku pergi meninggalkan Yoojin dan berjalan mencari So Eun, tetapi aku tidak menemukannya di tempat ia menerima telpon tadi. Aku panik dan langusung mencarinya. Tiba-tiba aku menginjak sesuatu. Aku mengamatinya
‘surat?‘ gumamku. Aku mengambilnya dan membuka amplopnya lalu membaca suratnya.

Eun Hyuk-sshi.. saat kau membaca surat ini mungkin kau sudah tidak melihatku lagi.
Pertama mungkin aku akan mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya, karena kau selalu mengisi hari-hariku dengan canda dan senyummu. Terimakasih.
Dan aku juga ingin meminta maaf, karena aku tidak bisa membalas kebaikanmu. Tidak bisa memberikan kepadamu yang terbaik.. aku sangat minta maaf.
Aku.. aku tadi membaca surat dari dokter mengenai hasil check-up ku minggu lalu dan aku tahu mengapa aku selalu lemas dan sakit kepala. Aku… mengidap penyakit ‘kanker otak stadium akhir’. Dan mereka bilang bahwa kemungkinanku untuk hidup itu sangat kecil karena aku sudah mencapai titik terparah, dan sel kankernya mnyebar dengan cepat. Aku sangat takut Eun Hyuk-sshi, aku takut kau tidak mau bertemu denganku lagi karena penyakitku. Aku sangat takut… Unnie menyuruhku untuk tenang dan selalu berdoa, tetapi aku hanya memikirkan 2 hal.
1. Kematian.. aku sangat takut menghadapi kematian. Aku ingat bagaimana Umma kesakitan saat-saat akhir hidupnya. Aku takut Eun Hyuk-sshi. Aku tak tahu harus bagaimana???
2. Dirimu.. entah kenapa aku memikirkan enggan untuk meninggalkanmu, aku tahu kita sahabat dari kecil. Kau tahu apapun tentangku, kau tahu kelemahanku dan semua tentangku. Tetapi kau tidak tahu satu hal Eun Hyuk-ssi. Kau tidak tahu siapa orang yang ku sukai bukan?

Jawabannya adalah.. seseorang bernama Lee Hyuk Jee atau orang yang selalu ingin dipanggil dengan panggilan Eun Hyuk. Seseorang yang merupakan teman kecilku dan seseorang yang merupakan cinta pertamaku. Aku tahu mungkin mustahil kau merasakan hal yang sama. Tetapi aku sangat ingin mengungkapkan ini kepadamu. Aku harap jika kita masih bisa bertemu.. kau mengucapkan kata-kata bahwa kau mencintaiku sebelum aku merasakan sakitnya pergi dari dunia ini. Aku.. sangat mencintaimu Eun Hyuk…

Tanpa sadar aku menjatuhkan air mataku. Aku menatap langit dan membayangkan So Eun yang pendiam juga bisa berkata seperti ini.. ponselku berdering, aku tersentak dan segera mengangkatnya.
“Eun Hyuk.. kau dimana?” ucap seseorang diseberang sana.
“di taman noona, kenapa?” tanyaku balik.
“katakan kau sedang bersama So Eun! Katakan bahwa So Eun kecelakaan itu tidak benar!” teriak Hyera noona panic.
Aku tersentak dan langsung berlari sekencang-kencangnya. Beberapa kali dicaci orang pun aku tak perduli. Tiba-tiba aku terhenti karena melihat orang berkerumun dan berteriak minta panggil ambulance. Aku mencoba mendekati kerumunan itu dan menerobos kerumunan itu. Aku melihat seorang wanita berambut coklat panjang terurai, mengenakan dress hitam selutut dan sepatu gladiator coklat tua. Wajahnya penuh dengan darah, ia menggenggam amplop berwarna hitam. Wajahnya yang putih bersih penuh dengan darah. Aku mendekatinya dan memeluknya.
“So Eun… So Eun kau kenapa So Eun..” ucapku.
“SO EUN BANGUUUUUUUUN” teriakku sekencang-kecangnya.
Matanya perlahan-lahan terbuka. Wajahnya pucat menatapku dan tersenyum.
“Eun Hyuk-sshi…” ucapnya.
“sshhhttt..” ucapku menahannya untuk bicara.
“aku rasa aku yang harus biaca sekarang. Kau dengarkan aku. Araseo?” ucapku, ia hanya mengangguk lemah.
“So Eun.. aku.. aku tahu kau melihat aku dan Yoojin.. agh lupakan.. aku membaca suratmu dan.. So Eun.. aku sangat mencintaimu, aku mencintaimu lebih dari apapun, dan satu hal. Aku tidak akan membencimu sedikitpun karena penyakitmu, aku bahkan akan menjagamu, aku akan selalu menemanimu check-up, sampai kau sembuh. Aku akan ada disisimu So Eun. Aku mohon kau bertahanlah. Aku sangat mencintaimu….” ucapku menatapnya, air mataku mengalir semakin deras. Ia tersenyum dengan tenang.
“sudah cukup.. semua permintaanku sudah terkabulkan di dunia ini.. mempunyai keluarga yang kuimpikan, teman yang banyak dan seseorang yang kucintai juga memiliki perasaan yang sama.. aku sangat senang sekarang.. Eun Hyuk-sshi,” ucapnya semakin lemah.
“aku mohon.. jangan menangis jika kau… mengunjungiku… di.. pemakaman…” ucapnya.
“aku.. sangat.. sangat… mencintaimu..” ucapnya tersenyum dan menutup matanya.
“SO EUNAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA” teriakku sambil terus menangis, 5 menit kemudian.. ambulance datang.

***

So Eun, apa kabar?
Disini sangat sepi tanpa dirimu, Hyera noona juga sering menangis, tapi sekarang ia sudah bisa membuka usaha sendiri.. appamu juga sekarang sudah tenang tinggal di rumah barunya bersama Hyera-noona.
Semenjak kejadian 5 tahun lalu, aku tidak bisa melupakanmu, aku masih mengingat dengan jelas isi suratmu, dan saat Hyera noona dan appamu ingin pindah rumah, aku membaca semua surat yang kau simpan di kotak coklat besar yang aku hadiahkan untukmu. Aku senang kau sering membicarakanku disana. Aku senang karena kau menjaga semua hadiah yang aku berikan, walau aku tahu kau terkadang kesal karena kelakuanku yang selalu bersama wanita-wanita itu. Mian…
Bagaimana kehidupan disana? Apakah kau tenang? Apakah kau senang bertemu dengan ummamu? Apakah kau rindu padaku, appamu dan Hyera noona?
Setiap hari aku mencoba untuk tidak melupakanmu So Eun, setiap hari aku menyempatkan diri untuk mencari obat untuk pederita kanker dan orang-orang yang kecelakaan. Asalkan kau bisa bertahan sebentar saja waktu itu, aku pasti akan menyembuhkanmu sekarang, dan kita bisa hidup bersama. Tetapi apa gunanya menyesali itu semua, semua sudah jalan Tuhan bukan?
Aku sekarang sudah menjadi dokter yang terkenal, sudah menikah dan mempunyai anak yang bernama Kim So Eun, sama sepertimu, ia cantik, manis, dan lugu. Aku harap ia adalah orang sebaik dirimu dan sehebat dirimu…
Semenjak kau pergi, Hyera noona juga berjuang untuk mengusir rasa sedih dan kehilangannya, kami semua berusaha agar memenuhi permintaan terakhirmu. Hyera noona juga sudah memiliki 2 anak yang manis dan tampan sepertiku. Haha…

Semoga kau tenang disana So Eun, semoga jiwamu akan selalu tenang..
I love you more than anything, So Eun…

Aku melipat suratku dan memasukkannya ke amplop biru milik So Eun, hari ini tepat 5 tahun kepergiannya, dan kami akan berziarah bersama.
“sudah siap chagie??” ucap istriku.
“ne, Yoojin.. khaja!” ucapku dan bersiap untuk pergi ke makam So Eun.
30 menit kemudian kami sudah berdiri dihadapan maka So Eun.
‘Tuhan, jagalah So Eun dan ummanya, berikanlah mereka ketenangan dan kebahagiaan disana..’ doaku dalam hati dan meletakkan bunga diatas makam So Eun dan ummanya yang berdampingan. Aku menaruh suratku diatas makan So Eun, dan segera pergi.
“Eun Hyuk??” ucap seseorang, aku menoleh.
“ah… Hyera noona,” ucapku.
“lama tak jumpa.. bagaimana kabarmu?” tanyanya.
“aku baik.. kau?” ucapku basa-basi.
“seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja. Ternyata kau masih ingat dengan dongsaengku, aku kira orang akan melupakannya begitu saja. Gomawoyo Eun Hyuk. Aku sangat berterimakasih kepadamu, So Eun sangat mencintaimu. Ia selalu memikirkanmu dan bercerita tentangmu dulu. Sekarang aku rindu akan celotehannya…” ucap Hyera noona.
“ya, aku juga rindu pada semua yang ada di dirinya…” ucapku dan menatap langit.

Why didn’t I realize how precious you are back then?
Why was I numb when love was coming to me
but missing it now after it’s gone?
I didn’t know when you are right beside me
Because I was a foolish man
Because I was a stupid man
I realized after you left.

-the end-

One thought on “LAST WORD

  1. Huaaaa….. Tragissss bangettttt nasibbb cinta hyukSso….😦

    Saling mencintai_tapi Ъќ ϐïśª bersatu…
    Huhuhuh

    Tapi paling gak_Sso udah tau kalo hyukppa juga mencintainya….

    Meskipun sad ending_tapi Kerennnn. Os ηγά̲̣̥….🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s