Our Love Story [Part 1]

Tittle : Our Love Story

 

Starring: Yang Yoseob – B2ST

 

Kim So Eun – aktris

 

Eun Hyuk – Super Junior

 

Lee Jinki – SHINEe

 

Im Yoona – SNSD

 

Kim Yoojin/UEE – After School

 

 

 

Yoseob dan So Eun berbaring di atas trampolin, benda usang itu bergoncang-goncang mengikuti gerakan mereka. Mereka berdua sedang menatap bintang yang mulai terlihat jelas setelah matahari tenggelam. Deru mobil dari kejauhan sesekali terdengar, lalu hening, digantikan oleh bunyi serangga malam.

 

Itu adalah kebiasaan mereka, duduk menunggu matahari terbenam sambil mengobrol tentang segalanya. Mereka akan melakukannya setiap malam hingga kegiatan itu menjadi rutinitas harian yang tidak pernah terlewatkan.

 

Tiba-tiba So Eun mendesah penuh harapan, lalu bertanya, lebih kepada dirinya sendiri.

 

jatuh cinta itu…, gimana rasanya, ya?”

 

Yoseob sedikit kelimpungan menanggapi pertanyaan So Eun yang tidak biasa itu.

 

memangnya kenapa?” dia bertanya dengan hati-hati.

 

So Eun tersenyum lebar dan memutar tubuh untuk menghadap Yoseob.

 

kayaknya, menyenangkan banget, bisa pergi berdua kemana-mana, tukeran hadiah, ngerayain hari-hari penting sama-sama, seperti Dojoon oppa dan Jihyun onnie.” So Eun menyebutkan nama kakak laki-laki Yoseob, yang akhir-akhir ini sedang dilamun cinta dengan pacarnya.

 

huh.” Yoseob mendengus dan menekan kepalanya dibawah lengannya.

 

itu kan, kelihatan dari luarnya saja. Kalau lagi berantem, hyung kerjaannya marah-marah terus. Cemberut sepanjang hari, atau mohon-mohon sama Jihyun noona supaya dimaafin. Hyung bilang, selalu pihak cowok yang harus mengalah, belum lagi harus inget tanggal-tanggal penting. Misalnya, tanggal jadian, terus mesti pusing mikirin harus beli kado apa. Bikin kesalahan sedikit, ceweknya bisa ngambek berhari-hari. Jatuh cinta itu ngerepotin tau.”

 

So Eun tertawa, sudah terbiasa dengan gerutu khas Yoseob yang sangat sinis. “itu kan, karena kamu belum pernah jatuh cinta.”

 

Yoseon meleletkan lidah tidak peduli. “kamu sendiri juga belum, kan?”

 

udah.” So Eun mengerling jenaka. “sama Dojoon hyung!”

 

yeee…” dengan gemas, Yoseob menepuk kening sahabatnya, ringan.

 

itu sih cuma cinta monyet!”

 

So Eun cengengesan, lalu kembali serius. “makanya, aku kepingin tahu, cinta yang sesungguhnya itu gimana rasanya…”

 

Mereka berdua terdiam, larut dengan pikiran masing-masing.

 

diantara kita berdua, siapa ya kira-kira yang bakal jatuh cinta duluan? Kamu atau aku?”

 

Yoseob secara otomatis menjawab pertanyaan itu. “kamu.”

 

So Eun tergelak. “mungkin. Tapi, kamu atau aku, kita harus saling cerita ya? Janji?”

 

Yoseob hanya tersenyum dan mengangkat bahu, tidak ingin berjanji apa-apa. So Eun yang tidak puas dengan jawaban tersebut mengulurkan tangan untuk menggelitik pinggang Yoseob. Dua remaja itu bergulat di atas trampolin, tetawa keras-keras sambil berusaha saling mendahului, hingga akhirnya Yoseob setuju untuk mengaitkan kelingkingnya dengan jari So Eun. Janji dua orang sahabat untuk selamanya bersama.

 

—(^^)—

 

 

 

Yoseob memang tidak ingat kapan tepatnya So Eun berubah, tapi dia ingat jelas kapan pertama kalinya dia menyadarinya. Hari pertama saat mereka masuk ke high school. Pagi itu, So Eun muncul sambil merengut. Ia tampil dengan penampilan yang luar biasa. Rok yang mulai memendek, tungkai kaki yang mulai memanjang, diikuti lekuk pinggang yang sempurna. Kulitnya terasa lembut saat Yoseob menyentuh bahu. Padahal dari dulu So Eun kan pendek, kecil pakai kawat gigi. Pokoknya boyish abis. Rambutnya juga biasa dibiarkan pendek dan menjuntai hingga leher, lebih banyak terkena matahari sehingga ujung-ujungnya pecah.

 

Tapi sekarang, matanya bulat, bibirnya kemerahan, lehernya jenjang. So Eun…cantik. Adjektif terakhir itu terdengar aneh dimulut Yoseob. Karena dia tidak pernah menganggap sahabatnya ini sebagai perempuan sungguhan.

 

ya! Kau melamun lagi?” So Eun menepuk bahu sahabat terbaiknya ini. Beberapa kali ini ia melihat Yoseob tengah melamun sendiri. Membuat So Eun penasaran dengan apa yang dilamunkan sahabatnya.

 

oh..eh…tadi sampai mana?” sekarang gantian Yoseob yang bingung sendiri. Ia memandang buku-buku yang terbuka dengan gelisah.

 

kau sedang ada masalah?” tanya So Eun merebut buku yang dipegang Yoseob.

 

aniyo..hanya saja..aku sedang banyak pikiran,” jawab Yoseob sekenanya. Mana mungkin ia bilang ia melamunkan penampilan So Eun yang mulai berubah ini.

 

So Eun memandang Yoseob simpati. “marhaebwa…kalau itu bisa membuatmu tidak melamun lagi. Aku akan jadi pendengar terbaik sekaligus tim konsultasi yang tepat. Kalau kau ada masalah katakan saja padaku.”

 

ckck, kau kira setelah mengatakannya padamu, aku akan baik-baik saja?”

 

tentu! Aku bisa jamin!”

 

Yoseob hanya tersenyum, memang hanya So Eun yang bisa membuat suasana hatinya berubah.

 

–suatu hari….

 

siapa tuh?” Yoseob menggampit lengan So Eun, menariknya ke kantin untuk membeli sebotol minuman dingin.

 

model yang terkenal saat ini, aku bangga deh bisa satu kampus dengannya!” jawab So Eun sambil meneguk air putih dinginnya cepat-cepat. “tadi dia sempet digangguin sama cewek-cewek jadi aku bantuin dia kabur githu.”

 

terus, ngapain dia ada disana?”

 

katanya sih, mau ngajak kenalan.”

 

Hah? Yoseob hampir memuncratkan minuman di mulutnya. “terus gimana?”

 

gimana apanya?” So Eun bertanya balik dengan cuek. “namanya Choi Minho. Dia minta nomor ponselku.”

 

terus dikasih?”

 

enggak.”

 

bagus deh.”

 

Mendengar respon pasif itu So Eun memonyongkan bibir.

 

gimana sih? Masa begitu bagus?ini kan pertama kalinya ada cowok ngajak aku kenalan.”

 

kamu bangga karena ini pertama kalinya, begitu?” Yoseob menghabiskan isi botolnya dalam sekali teguk lalu melanjutkan. “gak semua cowok di dunia ini baik So Eun. Kamu harus hati-hati apalagi sama model cowok yang sembarangan ngajak cewek kenalan kayak tadi.”

 

negative banget sih pikirannya,” So Eun merengut. “kamu sih ga percaya sama cinta pada pandangan pertama.”

 

Sudah ratusan kali So Eun mengangkat topic itu, yang bagi Yoseob lebih terdengar seperti dongeng yang tidak akan pernah terjadi. Dongeng yang membodohi orang!

 

aku kasih tau ya…,” Yoseob memulai nasihatnya. “di dunia ini nggak ada yang namanya cinta pada pandangan pertama. Yang ada juga nafsu atau suka pada pandangan pertama, yang lalu disalahartikan sebagai cinta.”

 

kamu ngomong begitu karena belum pernah ngalamin,” tuduh So Eun.

 

memang kamu pernah?” tantang balik Yoseob.

 

belum. Tapi, nggak ada salahnya percaya kan?”

 

Yoseob menghela nafas. “terserah aja deh. Yang jelas aku tidak percaya ada cinta yang seperti itu.”

 

ga romantis ah,” cibir So Eun yang langsung meninggalkan Yoseob seorang diri di kantin. Setelah cukup lama ditinggalkan, Yoseob baru sadar bahwa dia tidak bermaksud untuk bicara ketus seperti tadi ke So Eun. Padahal dia mau bertanya apa So Eun bisa menemaninya pergi membeli kamera baru untuknya.

 

Ahh…Yoseob selalu saja lupa, kalau So Eun sangat perasa. Pasti akan berdampak buruk.

 

—(^^)—

 

 

 

Yoseob berhenti di depan trampolin, lalu menjatuhkan diri ke permukaannya, membuat So Eun yang sedang duduk bersila di atasnya ikut terguncang-guncang. So Eun yang sore ini mengenakan celana pendek warna pink dan jaket hoodie putih dengan topinya menutupi kepala, sedikit merengut melihat Yoseob ada disana. Dia masih sedikit kesal akibat obrolan tadi siang di kantin.

 

Yoseob membetulkan posisi duduknya diatas trampolin, memainkan nada pada gitarnya dan bersenandung ringan. Trampolin yang dipasang di kebun belakang rumahnya adalah tempat favoritnya dan So Eun. Waktu kecil, dia merengek supaya dibelikan sebuah trampolin besar. Setiap hari mereka berdua melompat-lompat diatasnya sampai capek, kemudian berbaring terlentang di atas sambil menengadah memandang langit yang membentang luas. Kini mereka berdua sudah terlalu besar untuk berbagi ruang di trampolin itu, tapi tetap saja mereka suka melakukannya.

 

berisik.” So Eun menggunakan kedua tangan untuk menutupi telinganya, aksi memboikot yang membuat Yoseob tersenyum.

 

udah dong ngambeknya.” Disenggolnya So Eun sedikit, tapi yang disikut bergeming. “So Eun-ah, aku serius nih. Aku punya sesuatu buatmu.”

 

apa?” dengan cepat So Eun mengulurkan tangannya, bersiap menerima sesuatu.

 

Yoseob tersenyum lagi. Ulah gadis ini selalu membuatnya kewalahan, tapi So Eun tidak pernah berhenti membuatnya tertawa. “ini bukan hadiah semacam itu.”

 

bisa dimakan?”

 

ga bisa!’ dengan gemas, Yoseob menjitak kepala So Eun ringan. “Cuma lagu kok.”

 

lagu?”

 

ne.”

 

So Eun memeluk lutut, memandang Yoseob yang sudah siap dengan gitarnya. “bukannya kamu paling males ya kalau disuruh nyanyi apalagi di tempat umum.”

 

Yoseob menggeleng. “ini kan bukan tempat yang umum banget. Cuma ada kau dan aku. Sekarang ini aku pengen nyanyiin lagu buat sahabatku So Eun.”

 

naega?!” So Eun mengerjap mata, berubah semangat.

 

iya, karena selama ini kau sudah menemani, mendukung dan segala hal yang banyak kamu lakukan untukku. Mau dengerin ga?” Yoseob berdehem sedikit. Lalu mulai memetik gitarnya, memainkan versi akustik dari salah satu lagu favorit So Eun

 

Can u smile-infinite

 

aju orae jeon neoreul boatdeon geu neukkimeul gieokhe nan

 

neoreul alatdeon nareul alatdeon geu shijeoli saenggakna

 

neoreul dalmgo shipdeon eouligo shipdeon ganjeolhaesdeon shiganeul

 

nan dashi saenggakhae da jinagan hannat chueok bboningeo

 

*And, Can you smile? niga weonhajana niga barajanha

 

nae mam maneuroneun neol jabeul suga obtneungabwa

 

And, Can you smile? nega galajanha nan gwenchanhdajeonha

 

majimak neoege nan igeot bakken mot junabwa

 

Yoseob terus memainkan sambil bersenandung, dengan So Eun yang mendengarkan tanpa berkedip. Seulas senyum hadir di wajah keduanya, tenang yang sangat nyaman.

 

=====================================================================================

 

The other story will begin….

 

Yoona berdiri mematung di balik semak-semak. Tubuhnya ia sandarkan pada pohon tua di belakangnya. Mata indahnya sibuk mengawasi keadaan jalan. Dua lelaki muda yang ia kenal betul tengah beraksi di jalanan malam. Menunjukkan kekuasaan mereka seperti yang orang-orang tahu selama ini. Tapi toh hanya itu yang orang-orang tahu. Sementara gadis ini, tahu segalanya tentang kedua pembuat onar tersebut. Hanya ia lah yang memegang kartu as mereka selama ini. Dan tak sekalipun ia berniat membuka kartu itu.

 

Bodoh. Begitu pikir Yoona setiap kali melihat tingkah mereka seperti saat ini. Terlebih pada lelaki dengan tudung yang menutupi sebagian wajahnya. Yoona menatap miris pada lelaki yang sedarah dengannya tersebut.

 

Seorang lelaki seperti menyadari kehadiran Yoona. Lelaki itu melirik pada teman-temannya yang masih sibuk mencorat-coret dengan pilox biru sapphire kebanggaan mereka. Dan bukan sekali ini lelaki bermata sipit itu memergoki kehadiran Yoona di setiap aksi yang mereka lakukan. Tapi bukan berarti ia keberatan. Lelaki itu justru menyukainya. Ia melempar senyum ke arah Yoona. Menunjukkan senyuman anak kecil khasnya, berharap kali ini Yoona akan berbalik tersenyum padanya. Sayangnya Yoona tidak tertarik pada lelaki itu. Yoona menggerakkan tangannya ke leher seolah memberi isyarat bahwa ia akan memenggal leher lelaki itu. Lelaki itu tertawa pelan. Ia kemudian menyemprokan isi kalengnya ke depannya. Seolah menggambarkan sebuah nama di udara. Sesuatu yang diyakini lelaki itu sebagai kata keramat untuk membuat Yoona kembali ke rumah. Sesuatu yang sangat Yoona benci.

 

E.L.F”

 

Yoona berdecak kesal setelah mengejanya. Ia pun perlahan mundur meninggalkan keempat lelaki itu.

 

Yoona meneguk jusnya sambil memperhatikan kedua laki-laki yang duduk di sofa ruang televisi. Dari dapur ia bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Apalagi jika bukan tentang ‘aksi’ yang akan mereka lakukan malam berikutnya.

 

rencana bodoh apalagi sekarang.” gerutu Yoona pelan.

 

Saat Yoona berniat untuk kembali ke kamar, salah seorang lelaki itu masuk ke dapur dan menghalangi jalan Yoona.

 

Yoona-ya..” panggil lelaki bermata sipit itu dengan nada ceria.

 

Yoona sedikit mendongak, karena lelaki itu memang lebih tinggi darinya.

 

minggir.” Ketus Yoona.

 

hei..jangan kasar begitu pada oppa,” katanya lagi dengan lembut.

 

oppa?” Yoona memutar bola matanya “micheosseo, Lee Jinki?”

 

Lelaki yang dipanggil Jinki itu tertawa kecil “kau tahu Yoona, nada dinginmu itu yang membuatku rindu.”

 

hah? Aku tidak peduli. Minggir sekarang juga atau..”

 

atau apa Yoona sayang?” potong Jinki.

 

atau..” Yoona maju selangkah ke arah Jinki. Ia memegang kaos putih Jinki dan tersenyum manis pada lelaki itu. Membuat jantung Jinki berdetak cepat karena ia dapat melihat wajah cantik gadis yang disukai sedari dulu dengan jarak sedekat ini.

 

atau..” kata Yoona menggantung sekali lagi.

 

Bugh!

 

Terdengar bunyi hantaman keras dan disusul oleh teriakan melengking. Lelaki yang sedang tertidur di ruang televisi langsung terbangun dan menoleh ke arah dapur. Ia pun tertawa saat mengetahui apa yang terjadi.

 

aishh..!” keluh Jinki sembari memegangi perutnya yang perih akibat pukulan dari Yoona.

 

Yoona tersenyum puas “auh..mianhae, O-PPA.”

 

Gadis itu pun berjalan meninggalkan Jinki, hendak kembali ke kamarnya. Saat ia melewati ruang televisi, lelaki yang memakai hoodie merah itu memanggil namanya.

 

Yoona-ya kapan mereka datang?”

 

Yoona yang mengerti siapa yang dimaksud lelaki itu, hanya mengendikkan bahunya.

 

mungkin dua hari lagi. Untuk apa oppa menanyakannya?”

 

Lelaki itu tersenyum kecil “aniyo. Aku hanya ingin memberi ‘kejutan’ pada mereka.”

 

cih. Apa oppa tidak capek membuat masalah terus dengan mereka? Ani, apa oppa tidak capek selalu dimarahi appa?”

 

appa?” Lelaki itu membentuk ekspresi seolah tidak mengenal sosok yang disebut appa oleh Yoona.

 

aah..maksudmu Presdir yang terhormat?”

 

Yoona hanya mampu menghela nafas. Ia sudah tahu kalau akan seperti inilah tanggapan dari kakak kandungnya itu.

 

terserah sajalah.”

 

Lelaki itu bangkit dari sofa dan menepuk pelan kepala Yoona dengan lembut “kau tahu Yoona, seorang Lee Hyun Jee menyesali semua takdirnya, kecuali memiliki adik sepertimu. ”

 

Yoona menarik tangan kakaknya itu dari atas kepalanya “kau tahu Eunhyuk oppa, seorang Lee Yoona menyesali semua takdirnya, terutama memiliki kakak sepertimu.”

 

Lelaki bernama Eunhyuk itupun tertawa. Ia terbiasa dengan kata-kata ketus dari Yoona. Tapi ia tahu kalau adiknya itu menyayangi dirinya, sama sepertinya.

 

tidurlah. Besok jangan sampai terlambat sekolah.”

 

hmm..” jawab Yoona dengan malas sembari masuk ke kamarnya.

 

=====================================================================================

 

Seperti biasanya Eunhyuk menolak untuk menggunakan mobil dan lebih memilih bus umum untuk menuju kampusnya. Karena jarak kampus cukup jauh dari rumahnya, Eunhyuk memanfaatkan waktu perjalanan untuk tidur sebentar.

 

Setelah menarik hoodie untuk menutupi kepalanya, Eunhyuk pun memejamkan mata. Tapi baru beberapa menit, ia terbangun karena suara gaduh yang membuatnya terbangun. Beberapa langkah dari tempat duduknya, seorang gadis dengan raut kebingungan tengah merapikan susunan benda yang Eunhyuk duga adalah maket. Eunhyuk berniat membantu gadis itu tapi saat melihat wajah gadis itu dari samping, ia pun mengurungkan niatnya. Eunhyuk tersenyum sendiri, lalu kembali memejamkan matanya.

 

—(^^)—

 

Dengan langkah terburu-buru Yoojin menuju halte bus. Beberapa kali ia memeriksa arlojinya. Sepuluh menit lagi ia akan terlambat, begitu pikirnya. Di tangannya terdapat maket yang ia sangga. Maket yang merupakan tugas dari salah satu mata kuliahnya. Yang karena benda itulah sekarang dirinya terlambat karena semalam ia mengerjakannya hingga larut malam.

 

Dari kejauhan Yoojin melihat kedatangan bus yang melewati kampusnya. Ia mempercepat langkahnya agar tidak tertinggal bus tersebut. Sampai di bus, Yoojin mencari tempat duduk yang kosong, yaitu di sebelah lelaki yang memakai hoodie biru muda. Ketika akan duduk tiba-tiba saja bus mengerem secara mendadak. Karena Yoojin tidak berpegangan pada apapun, ia pun terjatuh. Maket yang ia kerjakan susah-susah juga ikut terjatuh. Gadis itu merutuki dirinya sendiri yang ceroboh. Dengan sembarangan, ia pun menyusun kembali maket itu. Ia berniat akan membenarkan letaknya setelah duduk.

 

Beberapa kali Yoojin menggerutu saat membenahi maketnya. Tanpa ia sadari, lelaki dengan hoodie biru muda yaitu Eunhyuk, memperhatikannya diam-diam sedari tadi.

 

aiishh..jinjja..” gerutu Yoojin sendiri.

 

Eunhyuk tersenyum kecil. Baru ia sadari kalau cewek yang ia tolong sangatlah cantik. Mendadak Yoojin menoleh ke arah jendela di samping Eunhyuk, Eunhyuk pun langsung menunduk lagi dan memejamkan mata.

 

omo! Bukankah ini daerah setelah kampus? Aah..otokhae?!”

 

Yoojin langsung berdiri dan berhenti di halte depan. Eunhyuk memperhatikan kebingungan Yoojin sambil tertawa sendiri.

 

dasar…gadis ceroboh…”

 

You better run run run run run
Deoneun mot bwa geodeocha jullae

 

Eunhyuk menengok ke asal suara itu yang berada di dekat sneakersnya. Sebuah handphone dengan case orange berdering nyaring. Di layarnya tertulis adanya pesan masuk. Eunhyuk mengernyit heran. Ia menduga kalau gadis di sampingnya tadi tidak sengaja menjatuhkan handphonenya. Ia pun meraih handphone tersebut dan membuka pesan itu.

 

From: So Eun

 

Yoojin..dosennya sudah datang. Kau dimana??

 

Eunhyuk tertawa kecil. Kemudian memasukkan handphone tersebut ke dalam sakunya.

 

Yoojin..”

 

Dan Eunhyuk kembali memejamkan matanya.

 

—(^^)—

 

Setibanya di lapangan parkir, tiba-tiba Yoseob mendengar teriakan.

 

JANGAN BELAGU!!!”

 

Yoseob menghentikan langkahnya, mencari-cari sumber suara. Ternyata, suara itu berasal dari belakang gedung yang letaknya tidak jauh dari tempat dia berdiri sekarang. Dia melihat segerombolan orang yang sepertinya hendak mengeroyok seseorang. Karena Yoseob adalah orang yang ringan tangan dia berniat membantu orang yang lemah itu.

 

sebenarnya, apa masalah kalian?” tanya Eunhyuk tanpa rasa takut sedikit pun tersirat di wajahnya.

 

jangan kau pikir karena tampangmu lumayan, kau bisa seenaknya sendiri tebar pesona kesana kemari!” bentak salah satu dari empat orang yang ada didepannya itu.

 

terima kasih atas pujiannya,” jawab Eunhyuk kalem.

 

Mulut Yoseob menganga mendengar kata-kata namja itu. Dia itu terlalu bodoh atau terlalu berani??!

 

Wajah keempat orang itu langsung merah padam. Tangan mereka mengepal erat dan rahang mereka terkatup. “KAU…!!!!” salah seorang diantara mereka mulai mengeluarkan tinjunya.

 

Eunhyuk dengan mudahnya menghindari pukulan pertama, tetapi ternyata pukulan kedua sudah menunggunya tidak lama kemudian. Tepat saat itu, Yoseob keluar dari tempat persembunyiannya dan berhasil menagkisnya.

 

siapa kau?!!!” tanya mereka. “jangan ikut campur!!”

 

pengecut!” ejek Yoseob kesal. “atau, emang sudah budaya kalian selalu main keroyokan?”

 

SIALLL!!!” salah satu dari gerembolan itu maju siap menerjang Yoseob dan cowok ini pun sudah bersiap hendak menghadapinya.

 

TUNGGU!!!” teriak salah seorang dari gerombolan itu. Dan membisiki teman-temanya tentang hal yang paling penting. Mereka tak mungkin menghadapi dua laki-laki yang memang terkenal bonyokin orang-orang.

 

hei, denger ya. Kami nggak punya masalah denganmu. Jadi jangan ikut campur.”

 

Yoseob mengangkat bahu.”dia teman se-fakultas. Bisa dibilang, kami punya hubungan. Kalau kalian emang mau mengeroyoknya, lakukan di tempat yang nggak bisa aku lihat atau aku dengar.”

 

Namja itu tersenyum sinis, lalu mengalihkan tatapannya pada Eunhyuk yang sedang bersiul riang. “kali ini kau beruntung, tapi liat saja ntar kau tidak akan seberuntung sekarang.”

 

wah, aku nggak sabar menunggunya,” jawab Eunhyuk tenang.

 

kurang ajar! Lihat saja nanti!”

 

Lalu, gerombolan tadi pergi dengan sedikit gerutuan.

 

Yoseob menoleh menatap Eunhyuk dengan tatapan kau-bodoh-atau-apa. “kau itu bodoh atau idiot. Cari mati, ya! Kata-katamu tadi malah bikin mereka tambah marah.”

 

bukan urusanmu,” ujar Eunhyuk sambil menyampirkan tudung hoodienya di kepalanya. “itu kulakukan dengan sengaja.”

 

Yoseob langsung melongo. “hah? Buat apa?”

 

Eunhyuk mengabaikan pertanyaan Yoseob, lalu berjalan pergi.

 

sopan sekali,” sindir Yoseob sambil berjalanmengikutinya.

 

kau ingin aku berterima kasih? Aku nggak memintamu membantuku.”

 

oh ya? Tapi, tadi kau kelihatan seperti itu.” Yoseob tersenyum mengejek.

 

kalau begitu, kau perlu kacamata.”

 

Yoseob langsung membatu. Dia mengutuki dirinya sendiri karena telah menolong orang sialan seperti yang satu ini.

 

sekarang, kau menyesal sudah menolongku?” tanya Eunhyuk seolah-olah bisa membaca pikiran Yoseob.

 

hah?” Yoseob berpura-pura tak mengerti apa yang dikatakan cowok itu.

 

terima kasih,” kata Eunhyuk kemudian.

 

hah?” Yoseob melongo. “aku ga salah denger kan?”

 

puas?” tanya Eunhyuk.

 

Yoseob memutar bola matanya, “iya, iya.”

 

oh ya.” Eunhyuk menatap tajam. “setelah ini, jangan harap lantas hubungan kita jadi lebih dekat. Dan jangan katakana lagi kata ‘teman’”

 

hah?” kali ini, Yoseob benar-benar tidak mengerti maksud ucapan namja tadi. Dia bahkan tidak menyebutkan namanya. Sombong!

 

Eunhyuk berbalik dan berjalan meninggalkan Yoseob yang hanya bisa terbengong-bengong melihatnya.

 

MAKSUDNYA APAAAAAAAAA!!!” teriak Yoseob begitu Namja yang ia tolong hilang dari pandangannya.

 

—(^^)—

 

So Eun ingin menutup telinga juga rasanya, bagaimana tidak. Saat ini sahabatnya ini Yang Yoseob sedang bercerita dengan semangat sambil bergerutu membuat beberapa orang melihat mereka dengan tatapan aneh. So Eun merasa menyesal mengatakan bahwa ia adalah pendengar yang baik. Ia tak menyangka ucapan nya itu berdampak seperti ini, Yoseob masih saja bercerita panjang. Hah…sungguh berat rasanya! Kedua telinganya seperti kepanasan!

 

YA! KIM SO EUN KAU MENDENGARKANKU?”

 

ne, aku mendengarkanmu. Jangan teriak-teriak malu dengan orang-orang.”

 

mian, aku hanya sedang kesal saja dengan seseorang. Kau tahu kan aku hanya ingin membantu orang itu.” Yoseob memang tengah bercerita tentang pertemuannya dengan namja sialan yang ia sengaja tolong tak lama ini.

 

makanya jadi orang jangan terlalu baik deh, urusi saja urusanmu sendiri.”

 

Yoseob langsung menatap So Eun tak suka. “mian mian…terserah kau sajalah.” So Eun mengalah juga.

 

jadi…kita kesini mau beli apa?” tanya So Eun kalem. Yoseob langsung menepuk kepalanya.

 

kita harus naik lift lagi, tokonya ada di lantai 3.”

 

mwo? Naik lagi. Shirheo! Kau saja yang naik sendiri. Aku akan menunggu disini.”

 

Yoseob tahu ini salahnya yang menyia-nyiakan So Eun padahal ia janji bakal mentraktir So Eun. Yoseob menghela nafas. “ok. Kau tunggu di café langganan kita. Aku nggak lama kok.”

 

So Eun mengangguk dan tersenyum lagi. Segera saja So Eun melangkah meninggalkan Yoseob dan langsung ke café tempat mereka sering makan. Karena terlalu senang So Eun tidak memperhatikan jalan di depannya. Akhirnya…

 

BUKK…

 

So Eun kaget dan menggigit bibir bawahnya. Ia menatap dua gelas kertas yang sekarang jatuh, menumpahkan soda yang didalamnya. So Eun tambah merasa bersalah setelah melihat akibat kecerobohannya itu, baju orang yang ia tabrak ikutan kena noda soda itu.

 

jweisonghamnida,” So Eun segera meminta maaf. Tapi tak ada sahutan apapun dari namja yang didepannya.

 

oppa! Gwencana?” seorang yeoja berpakaian merah muda itu menghampiri namja yang sekarang tengah sibuk membersihkan hoodienya.

 

gwencana Yoona-ya. Mana Jinki?”

 

ya!kau tidak punya mata apa?? Bisa-bisanya menabrak oppa-ku. Dasar gadis bodoh!” runtuk Yoona yang tak menjawab pertanyaan Eunhyuk. Sedangkan So Eun yang tak terima dikatai bodoh langsung balas menatap Yoona.

 

aku sudah minta maaf, aku benar-benar tidak sengaja.” Jelas So Eun. Namun Yoona tak peduli apa yang dikatakan yeoja itu.

 

Eunhyuk sang namja itu merasa ada hawa panas yang bakal terjadi kalau dia dan Yoona tetap saja disitu. Yoona bisa saja melakukan tindakan lebih ekstrim lalu Eunhyuk menarik tangan Yoona tapi malah dibanting kasar. Yoona seakan tak mau kalah ia menumpahkan soda miliknya ke baju yeoja di depannya. So Eun membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang dilakukan gadis muda didepannya ini. Benar-benar gila, memang ia pikir siapa yang bodoh. So Eun berusaha meredakan amarahnya, ingin sekali ia berteriak tapi ia tak mau menjadi tontonan umum. Segera saja So Eun mengakhiri nya, ia menunduk dan meminta maaf lagi pada Eunhyuk yang ia tabrak dan langsung pergi meninggalkan Eunhyuk dan Yoona.

 

apa aku melewatkan sesuatu yang penting?” tanya Jinki yang tiba-tiba muncul.

 

babo!” ujar Yoona.

 

Jinki menatap Eunhyuk meminta penjelasan, tapi Eunhyuk hanya mengangkat bahu tak peduli.

 

—to be continue—

 

8 thoughts on “Our Love Story [Part 1]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s