Please, Don’t Cry [Part 2]

Tittle : PLEASE, DON’T CRY [Part 2]

Author : Falcondhe hacker
Main Cast : Choi Minho, Choi Sooyoung, Cho Kyuhyun, Jung Krystal
Genre : Romance

Di apartemen kecil kami…

Aku sendirian saja di apartemen ini, sedangkan noona sedang sibuk bekerja. Merasa jenuh dengan kegiatanku hari ini, kucoba untuk melakukan sesuatu yang bisa mengurangi rasa bosanku.

Aku mulai merapikan dan membersihkan gudang yang sudah cukup lama terisolasi di sudut ruangan apartemen kami.

Aku membersihkan dan merapikannya dengan penuh semangat. Sungguh lumayan bisa meringankan pekerjaan rumah yang setiap hari noona ku kerjakan.

Tiba-tiba…

Kurasakan dadaku nyeri…

Sakit yang teramat sangat…

Aku berusaha berjalan keluar gudang dengan sisa tenaga yang masih kumiliki sambil memegangi dadaku. Kucari obat penghilang rasa sakit yang selama ini ku konsumsi bila penyakit jantungku kambuh.

Terlambat…

Rasa nyeri ini terasa sangat menusuk, aku sungguh tak sanggup melanjutkan langkahku lagi…

Aku tergeletak di lantai apartemen dekat pintu kamarku.

Masih memegangi dadaku yang nyeri…

Samar kudengar pintu utama terbuka…

“Minhoooo-ah….!!!”, seru noona ku panik.

Kudengar langkah kakinya yang berlari menuju kamarku.
Samar terdengar suara gaduh, sepertinya noona sibuk mencari sesuatu.

Akhirnya Sooyoung noona kembali mendekat padaku lalu mengangkat tubuhku separuh dan menyandarkannya di dalam pelukannya.

“Minho, cepat telan ini!!” serunya.

Noona memasukkan sebuah pil kedalam mulutku lalu memberiku minum.
Tapi terlambat…

“Saa..kiit…” ucapku terbata-bata sambil menahan rasa nyeri di dadaku.
Pandanganku mulai samar…dan…gelap.

=========================================

Perlahan mataku mulai terbuka. Cahaya yang masuk melalui celah menyilaukan mataku.

“Selamat pagi,” sapa seorang gadis yang berpakaian putih-putih.

“Dimana aku? Siapa kau?” tanyaku dengan suara yang masih lemah.

Kulihat gadis itu tersenyum.

“Kau ada di rumah sakit sekarang dan aku adalah seorang perawat. Namaku Jung Krystal, tapi kau bisa memanggilku Krystal. Nona Sooyoung pasti senang bila tahu kau sudah sadar sekarang,” ujarnya ramah.

Aku melihat sekeliling, ruangan yang sangat asing bagiku.

“Rumah sakit? Lalu mana noona ku sekarang?” tanyaku.

“Iya, kau sedang berada di rumah sakit sekarang. Bahkan kau sedang terbaring di ranjang rumah sakit ini. Nona Sooyoung sedang sarapan bersama dokter Cho. Tampaknya dokter Cho khawatir karena sejak kemarin sore Nona Sooyoung belum juga makan apapun. Takut Nona Sooyoung jatuh sakit, jadi Dokter Cho memaksanya untuk sarapan. Sekarang ini aku yang menjagamu sampai mereka kembali dari sarapan pagi. Tak kusangka kau sudah sadar sebelum mereka kembali. Baguslah, Nona Sooyoung tidak perlu menangis lagi karena melihatmu belum sadar,” jelas gadis yang bernama Krystal ini panjang lebar.

“Sudah?? Penjelasanmu tadi masih bersambung atau sudah tamat?? Cerewet sekali…” sindirku.

Lagi-lagi gadis yang bernama Krystal ini tersenyum. Manis sekali, pikirku.

“Kalau boleh aku tahu, kau sebenarnya sakit apa?” tanya perawat Krystal.

“Kau ini perawat atau bukan?! Masa penyakitku saja kau tidak tahu?” ujarku sinis.

“Mengapa begitu galak, aku kan hanya bertanya. Memangnya salah kalau aku bertanya? Aku perawat baru di rumah sakit ini. Baru saja masuk kemarin pagi, tapi aku sudah mendapatkan pasien galak sepertimu. Tuan, kau itu sebenarnya sangat tampan…Jauh lebih baik bila kau tersenyum padaku daripada marah-marah begitu. Maafkan aku yah bila sudah membuatmu kesal,” jelasnya tanpa berhenti.

Sekali lagi dia tersenyum, dan senyumannya sangat manis.

“Siapa yang marah?! Kau saja yang terlalu cerewet. Aku punya penyakit jantung!! Jadi sebaiknya kau jangan membuatku kesal,” sahutku.

“Aku cerewet? Terserahlah…Yang penting kau sudah sadar sekarang. Penyakit jantung memang sangat berbahaya bila kambuh, jadi jangan suka marah-marah tuan…Siapa namamu?” candanya lalu tertawa lagi.

“Sudah kukatakan aku tidak marah! Dan jangan panggil aku tuan!”

“Hah..Tuan, kalau kau tidak marah mengapa dari tadi membentakku terus? Tenagamu cukup banyak juga ternyata. Baru saja sadar tapi sudah bisa berteriak-teriak,” ujarnya kembali.

“Hei…! Sudah kukatakan jangan panggil aku tuan! Memangnya kau tidak mengerti dengan bahasa yang kuucapkan barusan?!”seruku lagi.

“Tuan, kau yang tidak mengerti dengan bahasaku. Aku kan sudah bertanya siapa namamu, tapi kau tak menjawabnya. Jadi kupanggil tuan saja..Daripada haraboeji atau ajusshi, itu malah terdengar tua,” candanya lagi sambil terus tersenyum lebar.

Aku terdiam sesaat.

Kutatap gadis ini. Manis juga, sayang dia terlalu cerewet, bahkan jauh lebih cerewet dari Sooyoung noona.

“Minho,” ujarku singkat.

“Hah??” ekspresinya terlihat bingung.

“Itu namaku!”

Lagi-lagi gadis yang bernama Krystal ini tersenyum lebar.

“Tuan Minho, aku tahu itu namamu. Kau hanya kurang lengkap mengatakannya. Seharusnya kau mengatakan ‘kenalkan, namaku Minho sambil mengulurkan tangan. Itu baru sopan,” ujarnya sambil mempraktekkan gerakan perkenalan itu.

“Apa?! Kau…” seruku yang terputus karena seseorang yang masuk ke kamarku.

“Minho-ah…”, seru noona ku.

Dia menghampiri dan memelukku. Dapat kurasakan parasaan bahagia yang menyelimutinya saat ini.

“Kau baik-baik saja kan? Kau benar-benar membuatku sangat cemas semalaman. Apa jantungmu masih terasa sakit? Seharusnya kau selalu mengantongi obatmu. Lalu mengapa kau harus membersihkan gudang? Sudah kukatakan berkali-kali jangan bekerja terlalu berat, penyakitmu bisa kambuh,” ujar Sooyoung noona cemas.

“Noona! Mengapa kau begitu cerewet? Sudahlah, aku tidak apa-apa. Kau jangan terlalu cemas,” sahutku.

“Noona mu hanya khawatir padamu, Minho. Kau tahu betapa paniknya dia saat membawamu ke rumah sakit ini? Saat melihatmu tak sadarkan diri, wajahnya telihat sangat pucat dan cemas. Dia bahkan mengabaikan dirinya sendiri demi menjagamu semalaman. Jadi kumohon jangan bicara seperti itu padanya,” ujar Dokter Cho yang sedari tadi berdiri disamping noona ku.

Kutatap wajah Sooyoung noona yang mulai tertunduk lagi.

Aku tahu, dia akan mulai menangis seperti sebelumnya.
Menangisi diriku.
Kuraih tangannya, kugenggam erat memberinya kenyamanan.

“Maaf….Aku tak bermaksud begitu noona. Aku hanya tak ingin kau terus menangis dan khawatir padaku,” ucapku dengan perasaan bersalah.
Noona terdiam sesaat.

“Kau dongsaeng ku Minho, aku tidak memiliki siapa-siapa lagi sekarang selain kau. Jadi tolong jangan terus menyiksaku dengan kelakuanmu yang egois. Aku sangat menyayangimu…”, ujar Sooyoung noona sambil berusaha menahan airmatanya yang hampir jatuh.

Aku tak berkata apapun. Kurasa anggukan kepalaku telah lebih dari cukup untuk memberitahunya bahwa aku mengerti.

“Krystal, terima kasih karena kau telah bersedia menjaga Minho tadi,” ucap noona ku pada perawat yang bernama Krystal itu.

“Sama-sama nona Sooyoung, aku senang dapat membantu. Kalau nona membutuhkan apa-apa, jangan sungkan untuk memberitahuku,” ujarnya sambil tersenyum ramah.

Jung Krystal. Nama yang cantik dan lucu. Secantik dan selucu senyum yang selalu terbentuk di bibirnya.

=================to be continue===============

2 thoughts on “Please, Don’t Cry [Part 2]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s