Please, Don’t Cry [Part 3]

Tittle               : PLEASE, DON’T CRY [Part 3]

Author            : Falcondhe hacker        
Main Cast       : Choi Minho, Choi Sooyoung, Cho Kyuhyun, Jung Krystal
Genre             : Romance

Pagi hari di apartemen kami.

Setelah melakukan beberapa tes dan pengobatan, akhirnya dokter Cho dan Sooyoung noona membolehkanku pulang ke apartemen. Kalian tahu sendiri bau rumah sakit seperti apa, bau obat-obatan dan alcohol. Itulah alasan mengapa aku tak suka berlama-lama di rumah sakit. Dan satu alasan yang membuatku tak ingin berada di sana adalah….aku takut mati.

Dan sekarang aku berada di apatemen kecil kami. Suasana yang selalu kusukai jika berada disini.

“Minho…Sarapan sudah siap…” seru noona.

Aku segera berlari keluar kamar menuju meja makan.

“Wah..Sarapan jenis baru? Apa yang kau masak noona? Sepertinya kau belum pernah memasak ini sebelumnya,” tanyaku penasaran sambil menyuapkannya ke mulutku.

“Eum, mashitda,” pujiku.

Sooyoung noona langsung tersenyum senang.

“Jinjjayo?” tanyanya meyakinkanku dan aku pun mengangguk cepat.

“Ini namanya nasi goreng Beijing. Aku mendapatkan resepnya dari dokter Cho, saat kau dirawat di rumah sakit kemarin,” jelasnya santai.

“Dokter Cho?” tanyaku penuh selidik dengan pandangan tajam kearahnya.

“Iya..Dokter Cho..Memangnya kenapa?” tanya noona curiga.

Aku tersenyum nakal.

“Aaahh…Sudah sejauh apa hubunganmu dengannya? Bagus sekali noona, kau menjalin hubungan diam-diam dibelakangku. Padahal kalau noona bilang, aku pasti merestui,” godaku nakal.

PLETAAAKKK…Sebuah sendok mendarat dikepalaku.

“Aauww…noona…Sakiiitt…Kenapa kebiasaan burukmu yang selalu memukulku tak pernah hilang hah?! Lama-lama aku bisa amnesia!” protesku sambil mengusap-usap kepalaku yang masih sakit.

“Makanya kalau bicara jangan asal. Hubungan apa?! Merestui apa?! Kami hanya bertukar resep makanan. Jangan suka berpikir yang bukan-bukan,” protes noonaku.

“Iya..iya..Terserah noona saja. Padahal tadi aku berniat membantumu mendapatkan Dokter Cho, karena kau selalu menyangkal perasaanmu sendiri. Maka jangan menyesal nanti bila aku tidak mau membantu noona lagi,” ancamku menakutinya.

“HAHAHA…dasar anak nakal.” omel noonaku.

TING TONG…

Bel apartemen kami berbunyi.

“Siapa yang datang pagi-pagi begini? Aahh..Mungkin…” tebak noona yang kusela tiba-tiba.

“Biar aku yang buka.” ujarku lalu berdiri dan berjalan kearah pintu utama.

Saat kubuka pintu…

“Hai…tuan Minho, selamat pagi,” sapa seorang gadis yang berdiri dihadapanku ini ramah.

“Perawat Krystal…kau…” aku terbelalak melihatnya ada dihadapanku.

“Boleh aku masuk?” tanyanya padaku.

“Mau apa kau kemari?! Bagaimana kau bisa tahu alamatku?” tanyaku ketus.

“Sebaiknya kau biarkan aku masuk dulu. Masa seorang tamu kau biarkan berdiri diluar seperti ini? Itu tidak sopan namanya,”  ujarnya.

“Kau?! Sudah, pulang sana. Aku sedang malas menerima tamu,” usirku.

“Pulang? Tidak bisa! Sudahlah, aku mau masuk,” paksanya.

“Hei…! Aku bilang sedang tidak ingin menerima tamu. Mengapa memaksa?! Tidak mengerti lagi dengan bahasaku?!”  seruku kesal.

“Minho-ah, siapa yang datang? Apa perawat Krystal?”  tanya Sooyoung noona sambil berjalan mendekat kearahku.

“Hai Nona Sooyoung. Aku memang Krystal,” serunya.

“ohhh, perawat Krystal masuklah,” pinta noona.

“Permisi tuan Minho…Aku mau masuk,” ujarnya sambil bercanda.

“Shireo,”  ujarku berbisik sambil menahannya di pintu.

“Nona Sooyoung..!! Tuan Minho tidak mengijinkan aku untuk masuk kedalam…!!” serunya dari luar pintu apartemenku.

“Kau….” sahutku pelan dengan nada kesal.

“Minho…biarkan perawat Krystal masuk,” seru noonaku yang sedari tadi sudah kembali kemeja makan.

“Kau dengar kan tuan Minho, noona mu menyuruhku untuk masuk. Permisi,”  ujarnya penuh kemenangan lalu mencibirku.

Lalu perawat itu masuk melenggang dengan santai tanpa mempedulikanku yang sedang menahan emosi. Aku benar-benar ingin menjitak kepalanya.

Tak berapa lama aku dan Krystal sudah berada di meja makan kembali.

Dia menatapku sekilas lalu tersenyum.

“Apa yang kau lihat?! Tidak pernah melihat pria tampan?!”  sindirku sinis membanggakan diri.

Lagi-lagi dia hanya tersenyum.

“Dasar gila!!”

“Minho…bersikaplah sopan. Jangan bicara seperti itu pada seorang gadis,” pinta noona. Dan itu adalah permintaan yang berat untukku.

“Noona, mengapa dia datang kemari? Dia datang kesini bukan menawarkan diri untuk bekerja sebagai pembantu kan? Karena aku tidak sanggup bila harus punya pembantu seperti dia!” sindirku sambil menatap sinis padanya.

“Pembantu?!” seru noona untuk kesekian kalinya.

PLETAAKKK…

“Enak saja kau bilang perawat Krystal pembantu. Dia yang akan merawatmu selama aku pergi bekerja,” ujar noona tanpa bersalah.

“APAA?!! Bagaimana bisa?! Perawat untukku?! Noona…aku ini bukan anak kecil! Aku tidak butuh perawat, apalagi perawat cerewet seperti dia!!” seruku marah.

“Minho-ah, setelah kejadian kemarin dan juga kejadian-kejadian sebelumnya dimana jantungmu seringkali kambuh, aku tidak sanggup lagi bila harus meninggalkanmu sendirian di rumah tanpa pengawasan. Jadi alangkah lebih baik jika ada seorang perawat yang menjagamu,”jelas noona.

“Tapi noona, aku bisa menjaga diriku sendiri. Aku tidak butuh perawat,” ujarku kesal.

“Minho-ah, kali ini aku ingin kau menurut. Tolonglah, jangan selalu membuatku susah. Aku mohon. Ini hanya sampai masa libur kerjamu selesai. Setelah kau bekerja kembali, Krystal tidak akan menjadi perawatmu lagi,” pinta noona.

“Aaahhh….” kekesalanku memuncak.

Aku menghentakan kaki dengan keras dan pergi meninggalkan meja makan lalu mengunci diri di kamar.

Samar kudengar noona memanggil namaku dan mengetuk pintu kamarku. Tapi tak kuhiraukan.

Hatiku sungguh kesal dengan keputusan sepihaknya ini.

Menyuruh perawat menjagaku? Sungguh konyol.

Bagaimana bisa noona menyewa perawat cerewet itu untuk menjagaku. Aku bisa benar-benar mati kesal nanti.

Cukup lama aku berdiam diri di kamar.

Tiba-tiba pintu kamarku terbuka, Sooyoung noona masuk dengan menggunakan kunci cadangan yang disimpannya. Dia berjalan menghampiriku kemudian duduk di ranjang, disampingku. Sooyoung noona membelai punggungku pelan, seperti yang selalu ia lakukan untuk meredakan emosiku. Dan kalau sudah seperti ini aku tidak bisa membantah lagi.

“Minho-ah… aku tahu kau marah dengan keputusanku ini. Tapi saat ini hanya ini cara terbaik untuk menjaga kondisimu agar tetap stabil selama aku pergi bekerja. Aku sudah tidak sanggup selalu was-was karena meninggalkanmu sendirian di apartemen tanpa seorangpun yang menemani,” jelas noona.

“Tapi aku sudah bukan anak-anak lagi. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Aku hanya ingin kau percaya padaku noona,”  sahutku memelankan suaraku.

“Arra.. aku tahu kalau kau sudah bukan Minho kecil kesayangan appa dan eomma lagi. Kau sekarang sudah dewasa, bahkan sangat dewasa melebihi kedewasaanku. Aku hanya tak ingin kau terluka, karena itu akan menyakitiku, Minho. Aku mohon kau mau mengerti. Aku tahu kan bahwa aku sangat menyayangimu melebihi apapun di dunia ini,” ujar noona dengan nada suara yang mulai bergetar.

Kulihat air matanya menetes. Aku membuat noonaku menangis lagi.

Aku benci pada diriku ini.

“noona…”  ucapku pelan lalu mengusap airmatanya.

“Aku mohon Minho, kali ini saja..turuti aku. Kau sangat berharga Minho, aku tidak sanggup bila harus kehilangan keluargaku lagi. Cukup appa dan eomma yang meninggalkan kita, jangan kau tambah dengan kepergianmu. Aku sungguh tidak siap …” pinta noona dan kini tangisnya semakin menjadi.

Melihatnya seperti itu hatiku terasa sakit.

Aku menyakiti noonaku lagi.

“Mian…” hanya kata itu yang dapat kuucapkan saat ini.

Hanya kata ‘maaf’ yang dapat mewakili semua yang telah dia alami demi aku.

Hanya kata ‘maaf’ yang dapat mewakili semua pengorbanan yang dia lakukan demi aku.

Dan hanya kata ‘maaf’ yang dapat mewakili semua beban yang telah ditanggungnya demi aku.

Seharusnya hidupmu tidak seperti ini noona.

Kau tak seharusnya memikul semua beban ini sendirian…

Seharusnya kau membagi beban itu bersamaku.

“Akan kulakukan noona. Aku akan menurutimu. Sekarang jngan menangis lagi, jebal….” ujarku tanpa bisa kutahan airmata yang kini mengalir jatuh.

Aku tersenyum pada noonaku dan semoga ia bisa tersenyum kembali.

Kulihat Krystal sedang berdiri di pintu kamarku yang terbuka. Menatap sendu kearah kami.

Kurasa tak ada salahnya mencoba untuk mengenal sosok perawat yang bernama Krystal. Seorang perawat yang akan menemaniku dan menjagaku mulai hari ini.

Aku meninggalkan Sooyoung noona dan beranjak dari ranjangku. Aku menghampiri Krystal  yang berdiri tak jauh. Aku menatapnya, dari ujung  bawah sampai ujung atas.

“Kau akan menjadi perawatku. Kau puas?”  ujarku ketus.

Bukan kemarahan yang aku terima tapi senyuman yang yeoja ini berikan. Senyuman yang manis seperti biasanya dan  ini membuatku……sedikit gila. Bagaimana bisa yeoja ini tersenyum seperti itu??

=================to be continue==============

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s