Please, Don’t Cry [Part 4]

Tittle                 : PLEASE, DON’T CRY [Part 4]

Main Cast         : Choi Minho, Choi Sooyoung, Cho Kyuhyun, Jung Krystal
Genre               : Romance

Saat perjalanan menuju minimarket dekat apartemen..

“Bisa cepat tidak?! Lambat sekali!” protesku.

“Iya..sabar.. Kakiku kan hanya dua, jadi butuh waktu untuk mengimbangi langkahmu,” sahut Krystal kesal.

“Banyak alasan, bilang saja kau ini malas! Mengimbangi langkahku?? Memangnya aku lari?!” seruku.

Kulihat memang dia sedang berusaha mengejar langkahku.

Kurasa memang aku terlalu cepat melangkahkan kakiku.

Aku tersenyum kecil melihatnya terengah-engah dihadapanku kini, tapi ekspresiku berganti masam saat dia mulai menatapku lagi. Tentu saja aku tidak ingin dia tahu kalau tadi aku terlihat senang dengan tingkah lakunya.

“Apa yang kau lihat hah?! Sudah kubilang jangan pernah menatapku begitu!! Menyebalkan,” seruku kesal.

Aku kembali berjalan dengan langkah yang sama cepatnya. Masa bodoh sama Krystal.

“Kau yang menyebalkan! Hei, tunggu aku !!” serunya.

Rasakan!! Siapa suruh berminat menjadi perawatku. Kau akan rasakan bagaimana menderitanya menjalani hari-hari bersamaku, batinku. Hahaha….

Tak berapa lama kami telah berada di dalam minimarket.

“Ambil keranjang itu,” perintahku padanya sambil menunjuk sebuah keranjang kecil berwarna merah di ujung ruangan.

“Mwo? Neoga?” tanyanya sambil menunjuk diri sendiri.

“Jangan bodoh. Memangnya ada siapa lagi selain kau yang bersamaku?! Cepat!” perintahku lagi lalu melenggang pergi meninggalkannya.

Aku mulai mengambil barang-barang yang akan kubeli, satu persatu kumasukkan ke dalam keranjang yang sudah berada di tangan Krystal.

Tanpa terasa barang yang kuambil sudah sangat banyak hingga membuat keranjang yang berada ditangan Krystal penuh sesak. Bahkan sempat bebrapa kali aku melihat Krystal menurunkan keranjang itu untuk mengambil nafas.

“Tuan Minho, keranjang ini berat sekali. Bisa tidak gantian kau yang mengangkatnya? Aku lelah.. tanganku sakit,” rengeknya.

“Bisa diam tidak?! Aku sedang konsentrasi mengingat barang yang akan dibeli. Noona bisa memarahiku nanti bila ada satu barang yang tertinggal,” sahutku berdusta.

Aku kembali tersenyum puas saat berhasil mengerjainya.

Rasakan!

Memaksakan diri untuk menjadi perawatku sama saja cari mati, batinku.

===================================================

Saat perjalanan pulang ke apartemen…

“Cepat sedikit?! Lama-lama aku tidak tahan dengan gaya berjalanmu yang jauh lebih lambat dari siput!! Menyebalkan,” protesku.

Kulihat Krystal tertinggal jauh dibelakangku.

“Bisa sabar tidak. Aku ini lelah Tuan Minho. Benar-benar tidak punya perasaan. Kau yang menyebalkan, bukan aku! Mengaku sebagai pria, tapi memperlakukan seorang wanita seenaknya,” serunya tak terima.

Aku langsung menengok dan menatap tajam padanya. Apa kata dia barusan???

Memperlakukan seorang wanita seenaknya??? Ne, aku memang menyebalkan! Tapi ini karena kau yang membuatku terlihat menyebalkan.

Aku terus menatapnya tajam, dan lama-lama wajahnya tertunduk.

Kalah!

Krystal masih berusaha berjalan sambil terseok-seok mengangkut dua kantong plastik di kedua tangannya. Kurasa dua kantong itu memang terlihat berat.

Aku berjalan menghampirinya. Tanpa bicara aku langsung mengambil alih dua kantong plastik itu ke tanganku. Kemudian berjalan meninggalkannya yang terdiam dengan wajah linglung karena sikapku barusan.

“Ayo cepat! Bebanmu sudah tak ada jadi kau tak punya alasan untuk berjalan lambat lagi,” kataku tanpa menoleh padanya.

Kudengar derap langkah kaki yang semakin mendekat padaku, kurasa Krystal berlari untuk mengejar ketertinggalannya.

Dan benar, tak lama kemudian Krystal sudah menjajari langkahku. Aku melirik kearahnya, lalu tersenyum simpul. Yeoja ini tersenyum lagi. Senyum manis.

=========================================

“Tuan Minho. Ayo kesana sebentar,” pinta Krystal sambil menunjuk kesebuah taman kecil di seberang jalan.

“Aahh…. sudahlah. Aku tak mau!” tolakku lalu kembali berjalan menuju arah jalan pulang.

Krystal menarik tanganku yang sedang menenteng beban berat.

“Ayolah.. aku ingin duduk di taman itu sambil makan es krim,” rengeknya.

“Kau ini!! Selain cerewet juga manja!! Pergi saja sendiri ! Aku mau pulang!” bentakku.

“Tidak bisa. Kalau kau pulang tanpa aku, maka nona Sooyoung akan bertanya kemana aku pergi. Kurasa dia akan membelaku dan menyuruhmu mencariku,” ancamnya sambil tersenyum nakal.

“Kau?! Aisshh….baiklah!! Tapi hanya sebentar,” seruku menurutinya.

Kami berdua berjalan menuju kearah taman. Lebih tepatnya menuju ke arah penjual es krim.

Gadis ini benar-benar mengerjaiku sekarang. Sepertinya dia ingin balas dendam. Awas saja kau Jung Krystal, batinku.

“Tuan Minho, ini es krimmu,” ujarnya sambil menyodorkan sebatang es krim padaku.

“Kau ini waras tidak hah?! Memangnya aku mempunyai tiga tangan untuk mengambil es krim itu?!” protesku.

Dia melihat kedua tanganku yang penuh dengan tentengan kantong plastic, dia baru sadar kalau tanganku digunakan semuanya. Lalu dia kembali tersenyum.

“Maaf  tuan Minho. Aku lupa kalau kau yang menenteng belanjaan tadi. Sini kubawa satu plastik belanjaan itu,” tawarnya padaku lalu mengambil satu kantong belanjaan dan memberikanku es krim yang sedari tadi dipegangnya.

Kami duduk di sebuah ayunan sambil menikmati es krim yang dibeli Krystal tadi.

“Hah, enaknya, sudah lama sekali aku tidak menikmati suasana begini. Benar-benar sangat menyenangkan”, ujarnya sambil menjilati es krim yang sudah mulai mencair.

“Enak apanya?! Suasana yang paling nyaman sekalipun bila dinikmati bersamamu jadi terasa menyebalkan?!”, gerutuku.

“Tuan Minho, sepertinya kau tidak suka padaku yah? Sayang sekali, padahal aku sangat suka padamu. Hah, sepertinya cintaku bertepuk sebelah tangan,” sahutnya menerawang.

“Apa?! Apa yang tadi kau katakan hah?!” seruku terperangah.

Krystal langsung tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajahku yang aneh karena pernyataannya tadi.

“Kau menganggap ucapanku tadi serius Tuan Minho?? Aku kan hanya bercanda.”

“Kau ini?! Jangan pernah main-main dengan pernyataan seperti itu! Cinta bukanlah hal yang bisa kau pakai untuk bahan bercanda!!” seruku kesal.

“Iya, maaf. Tak akan kuulangi lagi. Tuan Minho, apa kau pernah mengalami cinta seperti itu?” tanyanya dengan wajah serius.

“Apa maksudmu?! Aku tidak mengerti,” elakku pura-pura bingung.

“Sudahlah, aku tahu kau mengerti dengan maksud pertanyaanku barusan Tuan Minho,” sahutnya tak percaya.

“Tidak. Tentu saja tidak. Aku tidak pernah merasakan cinta seperti itu,” jawabku.

Aku menoleh kea rah Krystal, seperti memberikan aba-aba untuk menjawab pertanyaan yang ia ajukan.

“Aku pernah. Dulu.. Lama sekali, aku pernah mengalami cinta tak berbalas seperti itu. Mencintai seseorang yang tak pernah tahu bahwa aku mencintainya. Dia teman sekolahku. Teman yang tak pernah menyapaku ataupun mengenaliku sebagai temannya. Tapi aku tak pernah menyesal pernah mencintainya, karena hingga sekarang dia masih berada dihatiku,” curhatnya.

Aku terdiam saat dia menceritakan kisahnya. Kisah cinta yang sangat menyedihkan. Tak kusangka seorang Krystal yang periang dan sangat cerewet ternyata sungguh pemalu dan menutup diri dari pria yang dia cintai.

“Aisshhh, kenapa masih mencintainya bila dia tak pernah mencintaimu?!” tanyaku dengan gaya acuh.

“Kan tadi sudah kukatakan kalau dia tak pernah tahu aku mencintainya,” sahut Krystal.

“Ya sudah, hampiri dia dan katakan kau mencintainya. Beres kan?”

“Tidak segampang itu. Masalah perasaan itu masalah yang sangat rumit,” sahutnya.

“Aisshhh… tidak ada sesuatu yang rumit bila kau membuatnya menjadi mudah. Kau hanya tidak berusaha untuk mempermudah perjalanan cintamu,” ujarku.

Kulihat Krystal menerawang. Seperti sedang memikirkan sesuatu.

“Sudahlah, aku mau pulang. Ayo, Sooyoung noona pasti sudah menunggu dengan cemas karena dongsaengnya yang tampan belum juga pulang hingga sekarang,” ajakku sambil memuji diri sendiri.

Aku beranjak dari ayunan. Berjalan pergi meninggalkan Krystal  yang masih terduduk di ayunan.

“Krystal! Ayo cepat!! Bawa dua kantong belanjaan itu pulang ke apartemen!” perintahku.

“YAAA!! mengapa aku yang membawanya lagi !!!” protesnya sambil berusaha mengejarku lagi dengan dua kantong belanjaan di kedua tangannya.

“Itu salahmu! Mengapa tadi menyuruhku menemanimu ke taman?! Aku sudah tidak berminat membantumu membawanya tapi kau malah bersikap manja. Itu hukuman!” seruku mengerjainya.

“Mana bisa begitu?! Tuan Minho! Ayolah, bantu aku. Belanjaan ini berat sekali.”

Aku tak peduli dan terus berjalan.

“Kau sungguh tidak berperasaan!!!” serunya kesal.

Aku tak membalas seruannya lagi. Hanya lambaian tangan dan senyum puas karena berhasil mengerjainya yang aku berikan.

Krystal….

Kurasa dia tak seburuk yang aku pikirkan.

==============================================

Pagi ini di apartemen…

“Minho-ah, aku pergi kerja dulu. Jangan nakal! Krystal, jaga anak nakal itu, kalau dia berulah, segera laporkan padaku. Okeh?” ujar noona ku dengan senyum nakal dibibirnya.

“Apa?! Enak saja!! Aku bukan anak-anak!!” seruku.

“Baiklah nona Sooyoung. Tenang saja, Tuan Minho pasti aman di tangan perawat sepertiku,” ujarnya meyakinkan noona-ku dengan kepercayaan dirinya.

“Kau jangan ikut-ikutan! Dasar cerewet,” seruku pada Krystal.

“Siapa yang ikut-ikutan, nona Sooyoung kan menitipkan kau padaku, jadi aku harus menyanggupi permintaan nona Sooyoung,” sahut Krystal tak mau kalah.

“Kau…?!!”

“Sudah,sudah, kalian ini, sudah besar… tapi bertingkah seperti anak kecil. Lama-lama kalian berdua terlihat mirip kalau begitu terus,” goda noona ku.

“Noona!!” gerutuku.

Sooyoung noona ku tertawa keras.

“Aku pergi kerja dulu. Jaga rumah baik-baik ya Krystal Minho. Daaahhh…” pamit noona ku lalu berjalan pergi dan menghilang dibalik pintu.

Aku menatap Krystal yang sedang berada tak jauh dariku.

“Mengapa melihatku begitu? Kau menakutiku Tuan Minho,” ujar Krystal.

“Dasar bodoh! Berpikir yang bukan-bukan. Aku tidak suka padamu, jadi tenang saja,” sahutku santai.

“Lalu mengapa menatapku?” tanyanya penasaran.

“Kemari,” pintaku padanya.

“Apa?! Shireo!” sahutnya dengan wajah yang berubah pucat.

“Kau ini, kusuruh kemari ya kemari!!” bentakku.

“Tapi aku tidak mau. Kau kan tadi bilang tidak suka padaku, mengapa sekarang menyuruhku mendekat padamu?!” tolaknya.

Aku tertawa terbahak-bahak mendengar ucapannya. Sungguh konyol!!

“Kurasa tak salah kalau aku memanggilmu bodoh. Kau memang sangat bodoh!!” sahutku masih tetap tak dapat berhenti tertawa.

“Enak saja. Aku tidak bodoh! Kau yang bodoh tuan Minho! Menyebalkan!!” serunya tak mau kalah.

“Kau! Sudah berani melawanku rupanya!!” seruku.

Aku beranjak menghampirinya.

Tanpa bertanya, kutarik tangannya.

“Tuan Minho, kita mau kemana?” tanyanya bingung bercampur kaget sambil melangkahkan kakinya yang terseok-seok karena terseret oleh tarikanku.

“Ke minimarket!!” jawabku seadanya sambil terus berjalan dan menariknya.

“Untuk apa??” tanyanya lagi.

Kuhentikan langkahku dan menoleh kepadanya.

“Tadi kusuruh mendekat, kau tak mau. Sekarang meminta penjelasan. Menyebalkan!!” sahutku.

“Mana kutahu kau mau mengatakan ingin mengajakku ke minimarket. Kupikir kau ingin melakukan hal yang aneh.”

“Dasar bodoh! Sudah kukatakan kalau aku tidak suka padamu. Melakukan hal aneh apa?! Kau yang aneh!”

“Mengapa terus mengataiku bodoh?! Kau yang bodoh!!” serunya tak mau kalah.

“Aiiisshh… anak ini?!! Kuberitahu yah.. besok noona ku ulang tahun. Jadi aku ingin memberinya kejutan tepat tengah malam nanti. Sekarang kau harus membantuku memasak dan membeli kue ulang tahun. Kajja!” ajakku lalu menariknya lagi.

“Jamkkanmanyo. Bagaimana kau bisa memberinya kejutan? Bukankah nona Sooyoung tidak bekerja hingga tengah malam?” tanyanya bingung.

Aku tersenyum saja.

“Tenang saja. Masalah itu sudah kuatasi dokter Cho bersedia membantuku,” sahutku penuh keyakinan.

“Dokter Cho??” tanyanya semakin bingung.

“Aahh… sudahlah, mengapa bertanya terus kau?! Kita tidak punya banyak waktu. Cepatlah! Berhenti bertanya sebelum aku benar-benar marah padamu…!!”

Aku terus menariknya tanpa peduli pada wajahnya yang masam dan meminta penjelasan lebih. Ahhh… yeoja ini memang bodoh. Apa benar ia lulus menjadi perawat karena kemampuannya. Otaknya sangat lama merespon.

=========================================

Sekembalinya dari berbelanja..

“Memangnya kita akan memasak apa?” tanya Krystal.

“Molla,” jawabku singkat sambil merebahkan diri di kursi makan.

“Molla? Bagaimana bisa?!” tanyanya semakin bingung.

“Kau bisa masak tidak?” tanyaku santai.

“Aku?? Jadi maksudmu kau menyuruhku yang memasak?!” tanyanya lagi seperti tak rela.

“Iya. Memangnya kenapa? Kau tak rela?!” sindirku.

“Bukan. Bukan itu maksudku. Baiklah, aku yang masak tapi kau harus membantuku,” ujarnya menyanggupi.

“Oke. Ayo mulai,” ajakku lalu beranjak dari kursi makan.

Aku dan Krystal mulai mengacak-acak dapur. Memasak untuk memberi kejutan ulang tahun pada noona-ku.

Sesekali kutatap kue tart yang ada di atas meja makan. Kue tart untuk Sooyoung noona-ku tersayang.

“Aauuww….” pekik Krystaltiba-tiba.

“Ada apa?” tanyaku.

“Tanganku… sakit…” ucap Krystal meringis karena jarinya terluka tersayat pisau.

Refleks kuraih tangannya dan kuhisap jarinya yang terluka.

Krystal menatapku tanpa berkata-kata..Bingung dengan apa yang baru saja kulakukan.

Saat mata kami saling bertatapan, kurasakan perasaan aneh menyelimuti hatiku.

Jantungku berdetak kencang.

Tapi bukan karena penyakitku yang kambuh.

Detak ini berbeda…

Detak yang belum pernah kurasakan sebelumnya…

Semakin lama wajahku tanpa disadari semakin mendekat ke wajahnya.

Semakin dekat.

Semakin dekat.

Dan..

Kukecup lembut bibirnya yang mungil.

Krystal mulai menutup matanya.

Tak ada perlawanan sedikitpun.

Perlahan aku pun mulai menutup mataku.

Merasakan ciuman itu.

Ciuman hangat yang baru kali ini kurasakan.

Ciuman pertamaku pada seorang wanita.

=========================================

Sooyoung noona dan Dokter Cho tiba di apartemen.

Sesuai rencana. Aku, Krystal dan Dokter Cho berhasil memberikan kejutan manis pada noona kesayanganku ini

Malam itu noona dan Dokter Han tampak akrab.

Apakah hubungan mereka akan berlanjut nantinya? Hubungan yang tak hanya sekedar hubungan pertemanan biasa, tetapi hubungan dengan arah yang lebih serius. Aku berharap begitu.

Hubungan yang membawa mereka pada ikatan janji bersama selamanya.

Selamat ulang tahun noona.

Doaku yang terbaik untukmu selalu.

Aku dan Krystal tampak canggung setelah kejadian tadi siang. Tapi kurasa bisa kuperbaiki perlahan.

Apa aku menyukainya?

Entahlah… mungkin iya.

Aku tersenyum membayangkan kejadian tadi.

Membayangkan ciuman itu.

Membayangkan senyum Krystal juga.

=========to be continue======================

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s