Love like Oxygen [oneshot]

Tittle               : Love Like Oxygen [oneshot]

Main Cast       : Lee Taemin, Kang Jiyoung

Support cast   : Lee Jinki, Im Yoona

“taemin, sudah berapa jam kau berdiri di sini. Lagi-lagi kau bolos sekolah..”

Suaranya terdengar begitu lemah, dan aku tak peduli dengan gerutuannya. Aku tetap memaku pandanganku pada dua papan nisan di hadapanku, menjawab seadanya. Aku tak suka diganggu saat aku ingin menyendiri seperti sekarang. Apalagi orang yang mengganguku adalah orang yang selama ini membuatku menyesali menjadi dongsaeng-nya.

“biarkan aku di sini, hyung.”

Dia menghela nafas dan sekarang menjajariku berdiri, mencoba melihat wajahku untuk menyelami pikiranku.

“taemin-ah.. sudah lima tahun eomma dan appa pergi kita harus mengikhlaskan kepergian mereka. Tidak baik bagimu seperti ini terus.”

“hyung… kau takkan pernah memahami perasaan anak sepertiku. Anak sesempurna dirimu takkan pernah bisa memahami perasaanku. Tinggalkan aku sendiri.”

“jangan memulai pembicaraan ini lagi aku mohon. Sampai kapan kau ingin memusuhiku?”

Aku menyesal tak bisa membuat eomma dan appa bangga padaku semasa hidup mereka, aku menyesal hanya menjadi anak tak berguna untuk mereka. Yang hanya bisa menghambur-hamburkan uang, bolos sekolah, berantem dan kenakalan lainnya…. jauh berbeda dengan hyung-ku. Hal itu terkadang membuatku sangat ingin menjadi dirinya yang begitu sempurna sekaligus membuatku membenci dirinya, aku tak mau hidup bersamanya.. aku hanya ingin menyusul eomma dan appa.

Sekilas aku membalas tatapannya. Sorot pandangan yang sarat akan keletihan, kepedihan meski aku masih bisa melihat kehangatan. Tetap saja kehangatan itu tak sanggup melenyapkan hampa di hatiku sampai sekarang.  Dan tiba-tiba saja aku melihat air mata menetes di pipinya.

“a..apa yang kau lakukan? Sejak kapan kau cengeng seperti ini—“

Di luar dugaanku, dia memeluk erat tubuhku dan meneruskan tangisannya. Terisak lemah di balik bahu letihku, di samping makam kedua orangtua kami.

“taemin-ah, hanya dirimu yang aku punya sekarang. Kau tak pernah tahu.. betapa sakitnya menjalani hidup bila satu-satunya orang yang disayangi membencimu. Hal itu yang lima tahun ini terus aku rasakan—”

Kakakku menghentikan kalimatnya tergantikan dengan isakan yang bertambah kuat, kekerasan hatiku seakan melunak dengan sendirinya. Kali ini.. aku bisa merasakan kehangatan yang luar biasa dalam diri kakakku menghasilkan airmata yang terjatuh perlahan membasahi wajahku.

Mungkinkah ini saatnya aku mulai membuka hatiku kembali? Menerima semuanya…menerima kehadiran kakak dalam hidupku. Karena benar kata hyung, sekarang di dunia ini hanya ada kami berdua.

Maafkan aku, Jinki hyung.. aku menyayangimu. Kalimat itu terus aku ucapkan dalam hati, tak ada keberanian membiarkan dia mengetahuinya. Aku pun membalas pelukannya diam.

===================================================

“taemin!!! Cepat bangun ini sudah jam setengah tujuh, kau mau terlambat lagi?”

“….”

“taemin!! Palliwa!!”

Samar-samar sebuah suara menyadarkanku dari mimpi indah ini. Semenjak kami berbaikan entah mengapa Jinki hyung selalu berteriak membangunkanku. Ini membuat telingaku panas. Tanpa buang waktu aku bergegas berlari ke kamar mandi hanya untuk membersihkan tubuhku sekilas. Setengah jam tersisa sebelum gerbang sekolah ditutup, ditambah lagi di rumah sederhana ini pemanas air sudah tidak digunakan untuk menghemat pengeluaran kami. Di udara sedingin ini aku sama sekali tak berniat membuat tubuhku beku mandi dengan air biasa. Setelah memakai seragam dan jaket tebal aku meninggalkan rumah ditemani headphone dan ipod kesayanganku.

Oh ya…aku lupa memberi tahu jika kami berdua, aku dan Jinki hyung tinggal di sebuah rumah sederhana. Kami membelinya dengan uang yang tersisa dari harta warisan appa. Karena pengeluaran yang banyak, Jinki hyung mulai bekerja di sebuah perusahaan. Walaupun begitu aku merasa menjadi orang yang tak tahu diri.

Seperti biasa aku menyusuri jalan setapak yang merupakan jalan pintas terdekat untuk mencapai pemberhentian bus. Hari ini salju turun tak begitu lebat meringankan langkahku.

Tak sampai satu menit menunggu, bus hijau besar itu sudah menampakkan dirinya. Aku sudah bersiap pada posisiku untuk bersaing dengan orang-orang di sekelilingku memperebutkan bus hijau ini. Tanpa aba-aba aku melompat sekuat tenaga tak sengaja membuat seseorang di dekatku terjatuh akibat lompatanku. Terpaksa aku turun menghampiri gadis yang sedang kesakitan itu, membiarkan bus ini meninggalkanku. Dia pasti akan memarahiku.

“kau tidak apa-apa nona? Ada yang luka?” tanyaku panic.

“tidak..apa-apa. Aku baik-baik saja.”

Yeoja itu sedikit kesulitan berdiri dan aku hanya diam tak ada niat membantunya berdiri meski yeoja di hadapanku ini benar-benar manis dan cantik. Tanpa bantuanku dia sudah berdiri dan diluar perkiraan senyum tipis tersungging di wajahnya sambil membungkukkan badannya. Bukankah dia harusnya marah?

“lain kali hati-hatilah…maaf membuatmu tertinggal bus.”

“hah?”

“wahhh…wajahmu mengingatkanku pada seseorang! Ummm…”

Kali ini dia mengamati wajahku dengan jarak yang sangat dekat membuat sengatan listrik di tubuhku menjadi dua kali lipat, mengapa dia berbuat seperti itu?

“Ah apa yang kau lakukan!”

Aku mendorongnya refleks khawatir dia mendengar detak jantungku ini. Yeoja itu terdorong beberapa langkah dengan ekspresi tak percaya kemudian melangkah maju ke arahku lagi.

“selain manis kau kasar juga ya,” yeoja itu tersenyum manis padaku. Bahkan setelah aku mendorongnya ia tidak marah?? Benar-benar aneh!

“hentikan.. ka..kalau kau sudah baik-baik saja, aku akan pergi. Permisi.”

Dengan cepat aku berbalik mencoba keluar dari situasi yang sangat tak nyaman itu. Aku kembali berkonsentrasi menunggu bus dan tak menghiraukan yeoja yang ternyata mengikuti aku ini. Sekarang dia berdiri tepat di sebelahku masih dengan senyuman itu. Aku tak bisa menahan diriku untuk tidak mencuri pandang padanya.

“hey, bisa kita berteman? Aku belum memiliki banyak teman di sini walaupun sudah 1 tahun pindah ke Seoul. Kau mau berteman denganku?”

Aku memandanginya tak percaya, apa sebenarnya yang dia pikirkan. Tanpa persetujuanku dia meraih tanganku dan menautkannya pada telapak tangan halusnya. Aku hampir pingsan karena ulah gadis ini. Tanpa pikir panjang aku kembali menarik tanganku.

“huhh.. kau menolakku. Baiklah kalau begitu. Maaf mengganggumu, semoga kita bisa bertemu lagi.. aku harus pergi duluan sudah terlambat. Bye!”

Tanpa menunggu jawabanku dia berlari untuk menghentikan sebuah taksi yang melintas dan masuk. Sedikit perasaan menyesal tersisa di hatiku entah untuk apa.

===================================================

Di sekolah…

Sekuat tenaga aku berlari berusaha melompat sejauh mungkin, hanya tinggal seperempat bagian lagi sebelum gerbang sekolah yang tinggi ini akan tertutup secara otomatis, aku tak mau bolos untuk kesekian kalinya. Dengan perasaan lega aku jatuh terduduk setelah melompat jauh, aku masih sempat melewati sebagian ruang yang tersisa sebelum gerbang besar ini benar-benar tertutup. Saat ini sudah jam delapan tepat, suara jam besar yang tergantung di atas gedung ini mengeluarkan suaranya yang begitu khas. Aku kembali berlari menuju ruang kelasku berharap kelas belum dimulai atau aku akan dihukum.. lagi.

Pagi ini benar-benar melelahkan, udara musim dingin ini tak mampu mencegah keringat keluar dari tubuhku yang memanas akibat berlari tanpa henti dari halte ke sekolah ini. Ini gara-gara yeoja tadi, andai dia tidak bertanya macam-macam mungkin aku sudah sampai sekolah dari tadi.

SREET

Aku menggeser pintu kelasku kasar, membuat suasana kelas mendadak hening. Ketika mereka melihat aku yang berdiri di sini, keributan dimulai lagi. Mereka kembali pada aktivitasnya entah itu bergosip, tertawa, bercanda bahkan aku melihat beberapa kelompok gadis memandangiku sambil berbisik-bisik, ah aku tak peduli apa yang mereka lakukan.

Aku hanya berjalan santai tetap menggunakan headphone yang sudah aku kenakan sejak tadi. Berjalan menuju bangku yang terletak di pojok dekat jendela, melempar tas kemudian duduk. Sambil menikmati pemandangan salju di luar.

SREET

Lagi-lagi pintu kelas tergeser disambut keheningan dalam ruangan ini, muncul wajah wali kelas kami. Ah, Pak Kim… tampaknya beliau tidak sendirian.. ada seseorang yang mengikutinya di be..la..kang. Aku tersentak melihat sosok yang berada di samping pak Kim itu. A..apa maksudnya? Di..dia murid baru? Tapi pakaiannya…??

“selamat pagi anak-anak, senang melihat kalian semua tak ada yang datang terlambat.”

Pak Kim tersenyum dan menekankan kata-kata itu sambil melirikku tajam. Aish, guru satu ini mencoba menyindirku. Tapi aku tak menghiraukan perkataannya. Aku terlalu penasaran dengan yeoja yang di sampingnya.

“hari ini bapak ada pengumuman. Pasti kalian penasaran dengan ibu cantik yang berada di samping bapak sekarang?”

Ibu? Dia bilang ibu? Mengapa gadis itu dipanggil ibu….

“anak-anak aku akan memperkenalkan seorang calon guru yang akan praktek yang mengajar di kelas 2-C ini,“ ujar pak Kim. Dia terarah padaku untuk memperkenalkan diri.

“emm sepertinya biar calon guru ini saja yang memperkenalkan diri. Tugasku sudah selesai. Kau yang handle anak-anak ini sekarang,“ lanjut pak Kim dan berlalu dari kelas kami.

“annyeonghaseyo..Im Yoona imnida. Saya baru setahun berada di Seoul dan memang sudah bercita-cita menjadi guru di kota kelahiran saya ini. Kedatangan saya disini akan menggantikan pak Kim sebagai wali kelas kalian.”

Aku hanya terdiam dan terpaku berusaha mencerna kalimat barusan. Meski terkejut, perasaan senang dan berbunga-bunga menyelinap dalam hatiku. Perasaan yang sangat manis dan baru kali ini aku rasakan. Wali kelas, ternyata. Tidak terlalu buruk…

“mulai hari ini juga aku akan mengajarkan pelajaran matematika. Mohon kerja samanya,” kata Yoona Noona (entah mengapa aku tak ingin memanggilnya ‘ibu’ atau’songsaenim’ ) menurutku itu terlalu tua untuknya.

Yeoja itu memulai pelajaran dan terlihat sedikit canggung, aku ingin tertawa melihatnya. Sepertinya dia belum menyadari keberadaanku. Aku ingin tahu apa reaksinya saat melihatku nanti.

“ah! Aku lupa! Kita perlu mengenal satu sama lain bukan? Uhmm.. baiklah. Aku akan mengabsen nama satu persatu dan langsung berdiri setelah itu ceritakan diri kalian sesingkat mungkin. okke?”

“okke,” koor anak kelas.

Dia tiba-tiba berhenti mencatat di papan tulis, beralih mencari absensi dan mulai memanggil satu persatu nama murid. Aku merasa sangat gugup hanya karena hal ini. Aku tak berani berdiri.. aku pun tak tahu alasannya. Apa yang sebenarnya terjadi padaku. Dia terus menyebutkan nama-nama murid di kelas ini, ah tinggal satu orang lagi di atasku.. ottokhae.. ottokhae..

“Lee Taemin.”

Aku hanya diam tak bergerak tetap mengenakan headphone ini berpura-pura tak mendengar saat dia memanggil namaku.

“ehm.. Lee Taemin??”

Aku sedikit melirik yeoja yang sedang menebarkan pandangannya ke penjuru kelas mencari sosok Lee Taemin itu. Aku tetap diam berusaha keras terlihat menikmati musik ini meski seisi kelas memandangiku. Aish!

“yah! Taemin kau ini kebiasaan! Lepas headphonemu saat di kelas!”

Ah, anak satu ini selalu mengacaukan hidupku. Seorang yeoja yang tinggal tak jauh dari rumahku, sejak kecil dia sangat suka mengusikku meski aku selalu membentak hingga pernah hampir memukulnya. Dia tak pernah lelah bersikap seakan dialah yang paling mengerti aku. Kali ini dia yang memang duduk di bangku tepat di depanku secepat kilat berdiri kemudian menarik paksa headphone yang aku lingkarkan di kepalaku sekarang.

“YAH! JIYOUNG! KAU—“

“wahh… bukankah ini namja yang di pemberhentian bus tadi?”

Kalimatku terhenti ketika menyadari yeoja tadi sudah berdiri tepat di sisi bangku ini memandangiku terkejut dan tak percaya. Aku menghela nafas mencoba mengatur perasaanku.

“ne, tak menyangka ternyata anda malah menjadi guruku.”

Aku mengangguk pelan sambil tersenyum tipis.

“oh, jadi namamu Lee Taemin. Tak hanya wajah, margamu pun sama.”

“Eh?”

“Ah, lupakan saja. Sekarang berdiri dan ceritakan tentang dirimu.”

Dia berjalan perlahan ke depan mempersilahkan aku menceritakan tentang diriku, hal yang menurutku sangat membuang waktu. Tapi tak ada pilihan, aku mengikuti perintahnya, berdiri dan memulai menceritakan diriku singkat.

“namaku Lee Taemin, tinggal di Seoul. Lahir tanggal 18 Juli 1992. Umurku 17 tahun. Terima kasih.”

“yang benar saja kau ini. Anak SD juga bisa bicara begitu.”

Jiyoung lagi-lagi bertingkah, dia melirik dan meremehkanku. Aku tak menggubris ucapannya, hanya akan membuat dia senang bila aku kesal karena hal sesepele ini. Aku kembali duduk di bangku setelah Yoona Noona mengangguk dan tersenyum.

Entah berapa ratus kali jantung ini berdetak cepat setiap saat mataku bertemu dengan guru manis ini bahkan hanya melihat dirinya dari belakang sudah cukup membuatku berdebar-debar. Hal baik yang aku temukan, kehadirannya mampu membuatku jauh lebih fokus pada pelajaran. Pelajaran matematika yang selama ini aku benci terasa begitu menarik karena yeoja ini.

“pssst..  pssst … Taemin!”

“….”

“Taemin!”

“….”

“ya! Aku memanggilmu pabo!”

Saat aku sedang benar-benar menikmati pelajaran, si pengacau memulai ulahnya lagi, bukan aku tak mendengar suaranya tapi aku malas meladeni anak satu ini. Aku terus diam sampai sebuah kotak pensil besi bergambar panda mendarat mulus di kepalaku, sakit? tentu saja! Kali ini aku tak bisa tinggal diam.

“SAKIT BODOH!”

Aku berteriak kencang sambil melempar balik kotak pensil panda ini membentur keras bahu yeoja itu. Dia terdiam sebentar, terlihat syok.

“mi..miane.. aku hanya.. hanya—“

“kalian berdua! Jangan membuat keributan di kelas! Bila masih ada urusan selesaikan di luar!”

“kau ….. sudah membuatku marah!” ucapku sinis. Aku mengacuhkan Jiyoung untuk kesekian kalinya.

“jeongmal mianhae Taemin-ah,” ujarnya lirih.

====================================================

“aargh! Apa masalahmu padaku hah! Selalu saja mengganggu!“

Aku menyusuri koridor lengang ini sambil berteriak kesal pada Jiyoung yang terus tertunduk diam. Kami berdua diusir dari kelas padahal baru saja aku merasa ingin serius belajar, aish! Tiba-tiba dia membuka suara setengah merengek.

“seleramu payah! Taemin kau payah! Kau payah! Payah!”

Dia mengulang-ulang kalimat itu sambil terus memukul lenganku seakan lenganku ini hanyalah sebuah bantal. Kami sekarang sudah berada di taman sekolah yang dikelilingi pepohonan, diselimuti salju.

“hentikan! Kau pikir aku sak tinju! Jelas-jelas kau yang payah!”

“dari sekian banyak gadis manis di dunia ini, kau suka wanita tua seperti itu ternyata.. Haaahhh.. dasar tak punya selera!”

Dia menghentikan pukulannya kemudian menatap ke atas, rambut pirangannya tertiup angin memperlihatkan setiap sudut wajah mungil yang jujur saja baru kali ini aku perhatikan. Satu perasaan yang berbeda terbesit di hatiku, berbeda dengan perasaan sebelumnya.

“apa yang kau bicarakan hah? bodoh!”

Aku meninggalkannya begitu saja berniat kembali menyusuri koridor menuju perpustakaan untuk tidur. Jiyoung masih diam berdiri kemudian mengucapkan sesuatu yang tak kudengar tertutup oleh suara musik di telingaku ini.

Jiyoung PoV

“Taemin-ah, saranghaeyo…..”

Sama seperti biasanya, dia akan bergerak menjauhi aku sekeras apapun usahaku untuk tetap dekat dengan dirinya. Aku hanya mampu mengucapkan kalimat ini saat dia menggunakan headphone itu. Apa kau tak menyadarinya Taemin? Tahukah kau, sudah ribuan kali aku mengucapkan kalimat ini? Aku hanya bisa berharap… suatu saat nanti perasaanku bisa meraih hatimu.

Aku menggelengkan kepalaku dan bergerak ke arah yang berlawanan dari namja itu. Aku tak ingin terus-menerus menjadi pengganggu bagi dirinya. Sudah jelas perasaanku tak akan pernah terbalas, ditambah lagi karena kehadiran.. yeoja itu. Binar mata seorang yang jatuh cinta tak akan pernah bisa ditutupi. Aku tahu perasaan Taemin sekarang ini karena perasaan yang sama terjadi juga padaku. Aku tersenyum kecil dan menghapus airmata yang tak kusadari menetes dengan sendirinya.

====================================================

Sudah satu tahun aku tak lagi berbicara dengan Taemin, dia terlihat begitu bahagia dengan kehidupannya sekarang. Aku melakukan ini dengan penuh perjuangan tapi sepertinya dia memang tak pernah menganggap aku ada. Dia tak berusaha menyapa atau menanyakan sesuatu padaku. Ini tahun terakhir aku bisa menjalani hari-hariku di kelas yang sama dengan dirinya. Aku ingin… setidaknya memiliki kenangan manis dengan cinta pertamaku itu.

Persiapan kelulusan sudah dimulai dari tiga bulan yang lalu. Wali kelas kami tetap sama seperti tahun lalu hanya ada beberapa temanku yang pindah ke kelas lain karena nilai mereka turun. Taemin yang sebenarnya kandidat utama akan tergeser, membuat kejutan. Dia berusaha keras untuk tetap berada di kelas ini tentu saja karena…Yoona songsaenim. Aku sangat terkejut melihat perubahan besar pada Taemin. Aku menyadari bahwa sekarang sudah tak ada lagi Taemin yang pemalas, tak punya semangat hidup, tak suka bergaul dengan siapapun. Dia berubah drastis semenjak guru itu datang. Aku rasa hubungan mereka bahkan lebih dari sekedar murid dan guru. Membuat aku semakin yakin dengan keputusanku saat itu

Taemin PoV

Hari ini seperti biasa aku hanya duduk, mendengarkan musik hingga guru datang dan mulai mengajar. Sebenarnya aku sangat penasaran dengan sosok di depanku sekarang. Sangat penasaran dengan  perubahan drastisnya dan aku merasa…. kehilangan. Entah sejak kapan aku mulai merindukan gadis ini, terus berharap dia kembali seperti dulu tapi dia tak kunjung bergeming dari keadaan itu. Dan aku tak ingin memulainya terlebih dahulu.

Semalam sepulang dari rumah Yoona Noona, yah.. aku rutin belajar di apartemennya. Aku memohon padanya untuk mau memberi pelajaran tambahan padaku khusus karena aku menyadari bagaimana kelemahanku. Tak ada hal lebih, aku hanya belajar dan pulang setelah jam sembilan tapi hal itu sudah lebih dari cukup membuat kami semakin dekat layaknya sahabat. Meski di dalam hatiku menginginkan sesuatu yang lebih. Aku rasa.. aku menyukainya tapi.. entahlah.

“hoaahmmm…”

Untuk kesekian kalinya aku menguap lebar di tengah pelajaran sastra ini. Semalam aku tidur sangat larut membuat mataku tak bisa diajak berkompromi lagi. Tanpa menpedulikan guru yang sedang sibuk menjelaskan di depan sana aku merebahkan kepalaku di atas meja tetap dengan earphone kali ini tanpa musik, aku ingin tidur seperti biasa. Tak sampai satu menit aku sudah tertidur lelap menyelami alam bawah sadarku, merilekskan pikiranku.

====================================================

Tiba-tiba setengah sadar, aku mendengar sesuatu membuat aku terbangun.. namun, aku tetap pada posisiku.

“Taemin, bogoshipo. Saengil chukkae..”

Hatiku tersentak mendengar suara itu terlebih mendengar ucapan selamat darinya, aku bahkan tak mengingat hari ini adalah ulang tahunku. Senyum tipis terukir di wajahku dan bersiap berbalik untuk memastikan itu dia.. aku tak sabar untuk membalikkan kepalaku tiba-tiba dia membuka suara sekali lagi menghentikan nafasku.

“mianhae Taemin-ah, aku.. aku.. ah sudahlah.. jaga dirimu.. Jeongmal saranghaeyo.”

Sesuatu mendarat di kepalaku, sebuah sentuhan lembut…yang mampu membangkitkan emosi yang entah darimana datangnya. Entah mengapa hatiku sakit, aku menahan air mataku sekuat tenaga. Apa yang baru saja aku dengar?

“aku terus berdoa agar setiap suaraku selama ini bisa meraih hatimu.. berharap ada keajaiban, musik yang kau dengar itu berhenti dengan sendirinya saat aku berbicara. Ini terakhir kalinya aku melakukan ini Taemin-ah. Maaf selama setahun ini aku menjauh, ah aku tak berhak meminta maaf…… Teruslah tertidur.. aku akan menjagamu seperti biasa dari kejauhan..Sekali lagi saengil chukkae.”

10 Menit…

15 Menit…

30 Menit…

45 Menit…

1 Jam…

Aku masih terdiam tak mampu bergerak  sampai suara ponsel memaksaku untuk bergerak, aku segera bangkit meraih ponsel di dalam tasku. Nama yang tertera di layar sedikit membuatku bingung, tak biasanya dia meneleponku.

“yeoboseyo hyung?”

“Taemin.. kau dimana? Cepat pulang aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.”

“hah? Aku masih di sekolah.. Ma..mau kemana?”

“aish sudah sesore ini kau masih di sekolah, sudahlah cepat pulang ada hal penting yang harus aku bicarakan dan harus kau temui.”

“uhmm.. baiklah, aku segera pulang hyung.”

“ne.. Cepat.”

“ne.”

Tanpa pikir panjang aku mengambil tas dan berlari keluar gedung sekolah ini menembus kelembutan hembusan angin musim dingin ditemani salju-salju halus yang berjatuhan sepanjang jalan. Sempat terlintas gadis itu benar-benar menungguiku di kelas tapi tak ada tanda-tanda dirinya disana.

Semoga saja Jiyoung sudah  pulang dengan selamat, batinku.

====================================================

Author PoV

Dia merasa lega akhirnya namja yang sedari tadi membuatnya khawatir karena tak juga bergerak akhirnya terbangun karena suara ponsel itu. Dia tak tahu apa yang harus dia lakukan bila namja itu terus terlelap hingga larut malam. Setelah memastikan Taemin benar-benar sudah pergi, dia keluar dari persembunyiannya dan berjalan dengan langkah gontai. Masih terlalu sulit untuk menghapus perasaan itu begitu saja tapi dia tetap berusaha mencoba.

Yeoja itu tak langsung pulang, pikirannya masih dipenuhi dengan sosok itu. Sedikit ragu akhirnya dia mengikuti arah perginya Taemin, tentu saja namja itu sekarang sedang menuju rumahnya.

Sesampainya di depan rumah itu, dia hanya mampu berdiri di luar.. di tengah hujan salju. Kedua kakinya membawa yeoja manis itu berjalan ke sebuah mini market seberang jalan. Dia berdiam diri di sana menghangatkan tubuh sambil membaca majalah yang terbuka segelnya namun sepasang matanya masih mengamati tajam sebuah rumah. Dia menanti sesuatu yang sebenarnya dia tahu bahwa tak ada yang perlu dinanti.

Rumah keluarga Lee

Baru saja Taemin memasuki rumah, dirinya sudah dikejutkan oleh sebuah bungkusan yang tergeletak begitu saja di koridor depan bertuliskan “Happy Birthday”. Meski sedikit terkejut dan tak percaya Taemin tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Dengan semangat dia mengambil bungkusan biru itu dan berlari ke ruang tengah mencari seseorang.

“hyung! Sejak kapan kau—“

Kalimatnya terhenti ketika melihat kakaknya mengenakan jas putih berdandan sangat rapi sambil tersenyum manis, begitu tampan. Hal yang hampir tak pernah dia lihat. Kakaknya hanyalah seorang namja biasa yang sehari-hari memakai pakaian biasa, bekerja di sebuah perusahaan dengan penghasilan standar.

“saengil chukkae Taemin-ah. Bukahlah hadiahnya.”

“eh? Apa yang terjadi padamu hyung?”

“ck… Apa yang salah denganku? Bukankah aku sangat tampan?”

Dia menatap Taemin aneh sambil memandangi tubuhnya sendiri dari atas ke bawah.

“haha.. tapi bila aku berdiri di sampingmu ketampanan itu tak akan terlihat karena tertutupi auraku yang jauh lebih kuat darimu!”

“aish.. kau cari masalah!”

Jinki mengacak rambut Taemin kemudian berubah menjadi usapan halus di kepala adiknya itu.. berakhir dengan memeluknya.

“happy birthday.. my dear brother..”

“hyung!? Apa yang kau lakukan? berkumur-kumur?”

“heemm.. kau ini benar-benar menguji kesabaranku Taemin… sudahlah cepat buka bungkusan itu.”

Jinki terlihat kesal sambil memajukan bibirnya. Taemin hanya tertawa geli melihat tingkah hyung-nya itu dan membuka bungkusan yang sudah dipegangnya sejak tadi.

“waahh! Hyung, kau ingin aku mengenakannya?”

Taemin membulatkan matanya melihat satu stel jas berwarna hitam terlihat sangat mahal, ber-merk dan elegan. Juga sepasang sepatu pantovel hitam mengkilat.

“Yup! Pakailah.. aku tunggu di mobil sekarang! Kita akan merayakan ulang tahunmu dan aku ingin mengenalkanmu dengan…ehmm.. calon istriku..”

“mwoya?! Calon istri? Hyung…sejak kapan—”

Taemin melotot tak percaya sambil mengguncang tubuh Jinki.

“ya Tuhan.. aku ini sudah dewasa, reaksimu berlebihan Taemin. Hemm.. apa kau juga punya pacar? Ajak dia.. kita rayakan ulang tahunmu dan rencana pernikahanku bersama.”

“Ta..tapi.. aku.. aku—“

“kau tak punya pacar? Haha!”

Jinki tak bisa menahan tawanya, tertawa mengejek. Taemin merasa harga dirinya terinjak ditertawakan seperti itu hingga kalimat itu keluar begitu saja dari mulutnya.

“tentu saja aku punya! Baiklah akan aku ajak pacarku!”

BLAAM

Taemin menjawab sebelum membanting keras pintu kamar mandi. Tak sampai lima menit dia sudah berada di kamarnya.. memakai pakaian baru tadi. Pikirannya masih dipenuhi dengan perkataan seseorang saat dia tertidur tadi.

“saranghaeyo? yang benar saja.”

Taemin bergumam sendiri, tak sengaja matanya menangkap sesuatu.. sesuatu yang sudah sejak lama berada di meja belajarnya, tak pernah sekali pun ia menyentuhnya. Dia pun melangkah mendekati meja itu meraih sebuah kotak pensil. Setahun lalu.. dia mengambil dan menyimpan benda itu saat menemukannya tergeletak begitu saja di lantai.. di hari terakhir dia berbicara dengan pemiliknya.. Jiyoung.

“ah.. aku masih menyimpan barang ini.”

Seketika bayangan Jiyoung yang selalu mengusili dirinya terlintas. Setengah hatinya merasa hampa tapi dia mencoba tak menghiraukan perasaan itu. Ia meletakkan benda itu kembali ke tempat semula sambil menggelengkan kepalanya.

Sekarang dia sudah mengenakan jas juga memakai sepatu hitam mengkilat tadi. Sedikit kekaguman dia rasakan saat melihat pantulan dirinya dari cermin itu. Tiba-tiba dia teringat sesuatu, tanpa buang waktu dia mengambil ponsel menekan speed dial 1.

“ha..halo..”

“yah, ada apa Taemin-ah? Hari ini kau tidak ada jadwal belajar kan?”

“uhmm.. aku tahu, tapi noona.. apa kau ada waktu malam ini? Aku ingin—“

“mianhae Taemin.. aku sedang terburu-buru. Nanti kita sambung lagi ya.”

TUT TUT

Putus asa Taemin menggerakkan ponselnya menjauh dari wajahnya kemudian melangkah lemah keluar. Sudah lebih dari 15 menit Jinki menunggunya, dia tak ingin merusak mood malam ini. Taemin berusaha tetap terlihat ceria meski gagal mengajak seseorang yang begitu penting baginya,,,,mungkin.

====================================================

Taemin PoV

Jang Restaurant…

Aku dan hyung sudah duduk manis di sebuah meja, baru kali ini sejak lima tahun.. ehm setelah kepergian orangtua kami. Aku bisa berada di restoran favorit keluargaku ini lagi. Sepertinya Jinki hyung berusaha keras menabung untuk menyiapkan semua ini. Aku terharu melihat perjuangannya bahkan harus melepaskan mimpinya menamatkan studi di Jerman demi aku. Binar matanya begitu cerah malam ini, aku akan melakukan apapun untuk terus melihat kebahagian itu. Apapun itu!

“Taemin, pacarmu jadi datang?”

“ehh? A..aku tanyakan dulu sebentar hyung.. permisi..”

Aku meninggalkan Jinki hyung ke toilet mencoba mencari alasan yang tepat. Aku tak mau dipermalukan lagi karena masalah sepele ini. Entah ide dari mana aku malah menghubungi Yoona noona lagi berharap kali ini dia bersedia mendengarkan permintaanku. Tak lama nada sambung itu terhenti dan muncul suara yang begitu aku rindukan.

“ah, malam noona”

“ya.. ada apa?”

“begini… hari ini aku ulang tahun.. apa noona bisa datang ke—“

“miane Taemin.. aku sedang di luar sekarang, hemm.. mungkin aku bisa bertemu denganmu tapi agak larut malam..”

“wooaa gomawo! Aku akan menunggumu, noona! Nanti aku sms alamatnya.. Sampai jumpa.”

“haha aku bahkan belum menyelesaikan kalimatku. Okay.”

Senyum lebar menghiasi wajahku, aku begitu gembira bila mengingat gadis yang sangat aku kagumi bersedia datang.. tentu saja Jinki hyung akan iri melihat aku bisa ‘memiliki’ gadis secantik Yoona noona. Aku tak bisa berhenti tersenyum. Setelah merapikan diriku sebentar di depan cermin aku melangkah senang keluar dari toilet ini, menuju meja dimana Jinki hyung sudah menungguku.

Langkahku benar-benar ringan, aku bahkan setengah berlari menghampiri meja kami. Ehh?? sedikit tidak yakin dengan penglihatanku, aku terus maju beberapa langkah, namun di lima langkah terakhir sebelum mencapai meja itu.. kaki-ku terhenti dengan sendirinya. Begitu juga dengan nafas dan jantungku. Aku tak bisa mencerna penglihatanku ini.

Jinki hyung tidak sendiri. Dia merangkul mesra seseorang di sisinya. Seseorang yang aku kenal baik. Dunia terasa runtuh menghantam keras tubuhku, menghancurkan jiwaku membayangkan arti  dari pemandangan ini. Mustahil dia berada di sini karena aku, aku masih terpaku pada posisiku. Gadis itu hanya tersenyum melihatku seakan tak ada yang aneh.

“aah.. sudah kuduga sejak awal.. kau adik Jinki kan.. dari wajah, beberapa sifatmu juga margamu sudah lebih dari cukup membuat aku mengira begitu. Aku dan Jinki sudah dekat semenjak di Jerman namun tiba-tiba dia pergi aku pun akhirnya memberanikan diri untuk menyusulnya ke sini dan semua tak sia-sia.”

“ka..kalian sudah saling mengenal? Aish.. jagiya, mengapa kau tak pernah menceritakannya? Darimana kalian kenal?”

“haha.. aku berbohong padamu tentang pekerjaan desainer itu. Sebenarnya aku guru di sekolah adikmu.. mianhae.”

Tak butuh penjelasan lebih untuk mengetahui apa yang terjadi. Semua sudah bisa aku simpulkan. Rasa sakit yang menghempas hatiku seakan mampu membuat aku tak sadarkan diri. Tapi melihat Jinki hyung yang sangat bahagia, sepertinya mampu membuat aku bertahan dalam kondisi ini. Aku bisa bertahan karena kakakku meski gadis yang aku cintai adalah tunangan kakakku sendiri.

“chukkae Jinki hyung, Yoona noona.. haengbokkahae.”

Aku berusaha tersenyum di tengah rasa sakit yang menderaku. Aku butuh waktu untuk menerima kenyataan yang begitu perih seperti ini. Aku butuh seseorang untuk mengeluarkanku dari situasi ini.

“Taemin, maaf membuatmu menunggu. Annyeong Jinki oppa, Yoona eonni.. aku Jiyoung.. pacar Taemin.”

Aku sangat terkejut ketika melihat dia sudah berdiri merapatkan lengannya padaku sambil tersenyum manis. Apa yang dia lakukan?

====================================================

Jiyoung PoV

Begitu melihat mobil yang sangat kukenal berjalan meninggalkan rumah, aku segera berlari keluar dari mini market berusaha menyusul sambil menggenggam benda manis yang tak sengaja aku temukan di toko tadi. Percuma, tenaga manusia apalagi seorang gadis lemah sepertiku tak mungkin bisa menyaingi kendaraan. Aku memutuskan mengambil motor di rumahku tak jauh dari sini. Aku sendiri tak tahu apa yang membuatku melakukan semua ini. Tampaknya rasa cintaku padanya begitu besar.

Aku merasa seperti orang bodoh mengendarai motor ini mengelilingi jalan yang sama berulang kali. Aku sama sekali tak punya petunjuk kemana mereka berdua pergi dengan dandanan serapi itu. Tunggu! Sepertinya aku ingat sesuatu.

Entah mendapat keyakinan darimana aku menuju tempat itu, satu-satunya tempat yang dia selalu rindukan. Aku pernah tak sengaja mendengarnya mengiggau waktu itu, ketika dia masih benar-benar terpukul setelah kepergian orangtuanya. Aku yakin mereka di sana.

Sekitar lima belas menit aku sudah sampai di tempat ini, perasaan ragu menyelimutiku sejenak namun aku buru-buru menghapusnya. Aku mulai mendekati bangunan mewah dan berkelas di hadapanku ini. Setelah mengumpulkan keberanian aku melangkah masuk mengedarkan pandanganku ke penjuru ruangan.

Sedikit tak percaya pada mataku namun dia benar-benar berada di sana.. berdiri terpaku.. aku bahkan melihat Yoona songsaenim. Taemin terlihat sangat syok tapi tetap memaksakan tersenyum kemudian dia mengatakan sesuatu dan sepertinya berniat meninggalkan tempat ini. Aku tak mengerti apa yang terjadi tapi refleks aku mendekat dan melakukan sesuatu di luar nalarku sendiri.

“Taemin, maaf membuatmu menunggu. Annyeong Jinki oppa, Yoona eonni.. aku Jiyoung.. pacar Taemin.”

Taemin terlihat sangat terkejut dengan kehadiranku. Aku sendiri terkejut dengan yang kulakukan ini. Aku hanya merasa.. aku harus melakukan hal ini.

“Jiyoung-ah, sudah lama tak bertemu.. jadi, kalian berpacaran?”

“a..ah..”

Aku tersadar dari lamunanku dan membungkukkan tubuhku.. saat itu juga Taemin tiba-tiba pergi tanpa sepatah kata pun. Aku sangat bingung dengan semua ini hingga akhirnya aku memutuskan mengikuti Taemin yang berjalan perlahan keluar.

“emmm.. permisi sebentar oppa, eonni..”

Aku berlari mengejar sesosok namja yang berjalan gontai dengan kepala tertunduk.

Kami sudah berada di luar dan sekarang dia terduduk di pinggir jalan. Aku berjalan mendekatinya, mendekati sosok yang selalu kurindukan.

“Taemin.. aku—“

“hentikan Jiyoung! Kau tak pernah bosan menggangguku! Urusi urusanmu saja!”

“tapi.. aku hanya ingin—“

“PERGI!”

Tanpa kusadari airmataku menetes perlahan diikuti dengan hujan salju yang ‘mengguyur’ sebagian kota ini. Kami menangis di bawah dengan rasa sakit yang jauh berbeda. Aku selalu menjadi pihak yang tersakiti karena perasaan ini. Aku rasa aku sudah terbiasa dengan rasa sakit saat dia memaksaku menjauh dari dirinya.

“baiklah tapi aku hanya ingin memberikan ini.. selamat ulang tahun.”

“….”

Aku mengeluarkan sesuatu dari tas-ku, sebuah boneka mungil panda. Begitu melihat boneka ini perasaanku padanya seakan menguap. Aku pikir benda ini bisa menjadi kado yang indah untuknya. Setidaknya bisa mewujudkan keinginanku untuk memiliki kenangan indah bersamanya. Aku hanya meletakkan boneka panda di sisinya yang tak menggubris keberadaanku. Kemudian berjalan meninggalkan dirinya. Aku tak bisa berpikir,tak bisa melihat dengan jelas. Aku juga melupakan motorku.. memutuskan berjalan menyusuri jalan dan dingin ini tanpa arah.

“JIYOUNG!“

BRAAKK

Aku melihat cahaya terang menyorot tubuhku berbarengan dengan teriakan dan dorongan seseorang, membuatku sekarang terhempas dan terjatuh berguling-guling bersama seseorang.

“pabo! Kau tak punya mata hah! Kau hampir mati!”

Aku tak bisa menyembunyikan rasa bahagiaku melihat reaksi namja ini. Meskipun baru saja maut hampir menjemputku.. dia.. Taemin.. namja yang selama ini mengisi hatiku.. masih mempedulikan aku. Kali ini aku menangis bahagia.

“Taemin-ah…” aku masih menangis sesenggukan.

“uljima,” Taemin menghapus air mata di pipiku yang basah. “kau tak boleh menangis, seharusnya aku yang menangis.”

Aku menggeleng kuat. “love is painful. Cinta itu menyakitkan Taemin. Malam ini kau dan aku merasakan sakitnya cinta.”

Tanpa menggubris kata-kataku, Taemin memelukku dan pelukannya semakin erat.

“kau salah hari ini aku menyadari bahwa ‘love like oxygen’. Cinta seperti oksigen yang dibutuhkan manusia. Setiap manusia berhak mendapatkan dan merasakan cinta. Dan malam ini aku telah menerima banyak oksigen darimu Jiyoung-ah. Kau berhasil membuatku tenang dan kuat. Cintamu adalah oksigen bagiku, Jiyoung.”

“jeo..jeongmal?”

Aku masih tak percaya dengan yang kudengar barusan. Taemin ….kata-katanya tadi sungguh membuatku bahagia sekaligus lega. Aku kembali memeluknya dan sekarang…tanpa menangis.

“aku hanya tak ingin menyesal untuk kedua kalinya seperti kejadian lima tahun lalu. Aku tak ingin membohongi perasaanku lagi. Sejujurnya aku sangat merindukanmu.. ah, sudahlah.. ayo kita kembali ke restoran.”

Taemin meraih bahuku membantuku berdiri kemudian menggenggam tanganku. Terasa begitu hangat. Aku hanya bisa tersenyum bahagia melihatnya menggandengku seperti ini. Aku merasa seperti dalam mimpi. Hal ini bahkan jauh dari harapanku yang hanya menginginkan kenangan manis bersamanya. Aku yakin ini akan menjadi kenangan terindah sepanjang hidupku.

FIN

7 thoughts on “Love like Oxygen [oneshot]

  1. Huehehehehe ;'(
    hiks….kasian jjing unnie,taemppa jahat banget sama jjing unnie T_T
    kekeke sudah kuduga pasti yoong unnie itu pacarnya onppa
    terharu ma endingnya,bener2 nguras air mata aku pikir bakalan sad ending ternyata enggak._.
    Nice ff^^b
    ayoo thor,bikin ff jimin lagi yg banyak kekeke~#digetokauthor

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s