Why Did I Fall in Love with You [part 1]

Tittle               : Why Did I Fall in Love With You [Part 1]

Main cast        : Kim Jaejoong, Jung Jessica

Support cast   : Yoochun, Yunho, Junsu

Jessica menghela nafas panjang untuk menahan amarahnya. Ia tak habis pikir, bagaimana bisa orang tuanya menjodohkan dirinya dengan lelaki di sampingnya. Lelaki bermulut besar tapi berotak kosong. Tidak sekalipun Jessica menanggapi ocehan tunangannya itu. Jessica benar-benar muak dengan bualan dan kesombongan yang dipamerkannya.

Yang lebih membuat Jessica kesal, tunangannya itu tidak langsung mengantarnya pulang setelah makan malam memuakkan bersama keluarga mereka. Tapi malah mengajak Jessica berhenti di pinggir jembatan dengan alasan menikmati bintang. Jalanan terlihat gelap dan sepi. Lampu penerang jalan tak ada satupun yang menyala, entah kenapa. Mungkin tunangan Jessica tengah merencanakan ide mesum. Tapi Jessica tidak sedikitpun takut, di dalam tasnya ada pisau yang cukup tajam untuk mengobrak-abrik isi perut tunangannya jika ia berbuat macam-macam. Cih, dasar bodoh. Begitulah pikir Jessica.

Brak!

Terdengar hentakan keras dari atap mobil. Sekali, Jessica dan tunangannya tidak memperdulikannya. Namun berikutnya terdengar hentakan berulang kali. Membuat mereka berdua saling berpandangan. Jessica tetap dengan ekspresi tenang dan tidak peduli. Sementara tunangannya malah memasang tampang ketakutan khas anak manja dari keluarga kaya raya. Jessica memberi isyarat agar tunangannya keluar untuk melihat apa yang terjadi. Tapi lelaki penakut itu menolaknya. Membuat Jessica semakin kesal.

Brak!

Sesosok laki-laki melompat di atas kap mobil mewah tunangan Jessica. Lelaki dengan jaket hitam memandang ke arah tunangan Jessica dengan tatapan mengejek.

Brak! Brak!

Masih terdengar hentakan dari atap mobil. Sementara lelaki berjaket hitam di atas kap mobil tadi mengeluarkan sebuah kaleng dari sakunya. Menyemprotkan sesuatu berwarna merah terang di kaca depan mobil membentuk sederetan huruf. Dari samping pintu Jessica dan tunangannya muncul dua laki-laki lain yang juga mencoreti pintu mobil mewah itu. Tunangan Jessica terlihat panik dan juga marah. Tapi toh ia seorang pengecut. Ia tidak berani melawan dan hanya pasrah melihat mobil kesayangannya dirusak sekelompok pemuda tersebut. Tapi tidak untuk Jessica, senyum sinis menghias di wajah cantiknya. Sebuah kenikmatan melihat penderitaan lelaki menyebalkan di sampingnya.

Brak!

Sosok laki-laki lain bermata sipit melompat dari atap mobil. Ia menepuk bahu lelaki berjaket hitam yang sedari tadi tidak melepaskan pandangannya dari Jessica. Kemudian melompat turun ke jalan mengikuti dua temannya. Lelaki berjaket hitam tersebut memutar kalengnya sebelum akhirnya memasukkan kembali ke sakunya. Sebelum melompat turun menyusul kawan-kawannya, lelaki itu tersenyum sembari mengedipkan sebelah matanya pada Jessica. Membuat Jessica tertawa pelan.

Butuh beberapa detik bagi Jessica untuk memahami grafiti yang dibuat oleh lelaki itu di kaca mobil depan.

“bastard..” Jessica menggigit bibir bawahnya sembari tersenyum sendiri

==================================================================

Jessica dan Yusin, tunangannya, tengah menikmati makan malam di restauran mahal. Yusin sengaja menyewa restauran itu hanya untuk mereka berdua. Namun sayangnya, Jessica terlihat tidak  berminat, sama seperti makan malam sebelumnya. Bukan karena Jessica tidak suka pada makanan yang disajikan, tapi karena lelaki yang duduk di hadapannya itulah.

“kenapa tidak dimakan, honey?” tanya Yusin karena melihat Jessica yang sedari tadi hanya mengaduk-aduk makanannya.

“honey..cih..” gumam Jessica risih.

“apa?”

Jessica menggeleng.

“kupesankan menu yang lain,” tawar Yusin tanpa menanya pendapat Jessica.

Inilah salah satu hal yang Jessica benci dari lelaki itu. Disamping sifatnya yang suka mengumbar kekayaan, Yusin adalah tipe lelaki yang seenaknya mengatur orang-orang di sekitarnya, termasuk Jessica.

Seorang waiter datang menghampiri meja mereka berdua. Sementara Jessica kembali sibuk mengaduk-aduk makanannya. Ia tampak tak peduli dengan kehadiran waiter tersebut.

“baik, Tuan. Pesanan anda akan segera kami antarkan.”

Setelah waiter itu pergi, Yusin kembali mengajak Jessica bicara.

“honey, apa kau melihat wajah waiter itu tadi? Aku sepertinya pernah bertemu dengannya.”

Jessica tidak menjawab. Ia tidak peduli siapapun yang dibicarakan Yusin. Ia kemudian meletakkan garpu dan pisaunya.

“aku ke toilet,” kata Jessica tanpa menggubris kata-kata Yusin lagi.

Tanpa menunggu jawaban dari Yusin, gadis itu pergi ke toilet. Cukup lama Jessica berdiam disana. Bukan karena apa-apa, sekedar mengulur waktu agar dirinya tidak terlalu lama bersama Yusin. Setelah dirasa cukup, Jessica pun keluar. Namun saat mencapai pintu toilet, Jessica melihat sesosok lelaki yang ia rasa pernah ia temui sebelumnya. Lelaki dengan seragam waiter itu bersandar di dinding yang menghadap toilet. Kedua tangannya berada di saku celananya. Kepalanya tertunduk memandangi lantai.

Jessica menggeleng pelan mungkin perasaanku saja,” pikirnya

Namun saat lelaki itu mendongak dan tersenyum pada Jessica, tubuh gadis itu seketika membeku. Apa yang dipikirkannya tadi benar, mereka pernah bertemu. Lelaki itu, Jessica yakin adalah lelaki berjaket hitam yang beberapa malam lalu merusak mobil Yusin.

“kau..”

Lelaki itu mengangguk. “jadi kau mengingatku..” Ia pun melangkah maju mendekati Jessica.

Jessica menatap lelaki itu tidak percaya. Ia pikir dirinya tidak akan bisa lagi bertemu dengan seseorang yang dianggapnya sebagai sosok istimewa itu.

“tadi kupikir kau tidak mengenaliku,” ucap lelaki itu.

Jessica mengernyit, “tadi?”

“ne. Saat kekasihmu memanggilku untuk memesankanmu menu lain.”

“aaah..” Jessica mengerti maksud lelaki tersebut.

“aku tidak memperhatikan tadi. Dan lagi, dia bukan kekasihku.”

Lelaki itu tersenyum “lalu?”

“tunangan. Maksudku aku tidak menyukainya. Kami hanya..” Jessica menghela napas “kurasa kau tahu apa maksudku.”

Lelaki itu mengangguk. Senyuman masih menghias di wajah tampannya.

“begitu. Ah.. boleh aku tahu namamu?”

Jessica memberikan anggukan. “Jung Jessica…panggil saja aku Jessica.”

“Jessica..nama yang cantik,” pujinya

“terima kasih. Dan kau?”

“Kim Jaejoong. Hmm..baiklah Jessica, kusarankan kau segera kembali ke meja. Sepertinya tunanganmu cemas menunggumu.”

Jessica sedikit kecewa mendengarnya. Ia masih ingin mengobrol dengan lelaki bernama Jaejoong itu.

“Jessica?” panggil Jaejoong lagi saat Jessica sudah berbalik.

“ne?”

“cafe Parriot, jam 5 sore. Aku akan sangat senang kalau kau bisa datang kesana besok.”

Jessica tidak bisa menyembunyikan kesenangannya. Ia mengangguk sembari tersenyum.

==============================================================

Jessica memilih tempat duduk yang dirasanya memiliki sudut terbaik di cafe Parriot. Dari tempat duduknya ini, ia bisa melihat kesuluruh ruangan. Seorang waitress mendatangi mejanya dan mengantarkan daftar menu. Di saat Jessica sedang memilih menu, laki-laki dengan kaos hitam yang dibalut kemeja biru menghampiri Jessica.

“kau datang.”

Jessica mendongak. Ia tersenyum saat melihat orang itu, Kim Jaejoong.

“noona kembali saja ke dapur. Biar aku yang mengantar daftar pesanannya nanti,” ujar Jaejoong pada waitress tersebut.

Jaejoong menarik kursi di hadapan Jessica dan mendudukinya. “kupikir kau..”

“tidak datang?” potong Jessica yang disusul tawa mereka berdua.

“sendirian?”

“ehm. Kecuali kau berharap aku datang bersama Yusin.”

Jaejoong menggeleng. “baguslah. Ah ya, apa kau sudah tahu mau memesan apa?”

Jessica kembali membaca daftar menu. Ekspresinya terlihat bingung. Jaejoong tersenyum, gadis itu terlihat cantik setiap kali menunjukkan perasaannya lewat ekspresi wajahnya. Setidaknya itulah yang Jaejoong tahu saat ini.

“kau mau mencoba moccacino cream waffle? Banyak yang menyukai menu itu,” saran Jaejoong

Jessica berpikir sebentar lalu tersenyum tanda setuju.  “boleh juga.”

Jaejoong  mengambil daftar menu itu, kemudian mengembalikannya ke dapur. Lalu kembali lagi ke meja Jessica.

“kau bekerja disini?” tanya Jessica membuka percakapan.

“ya. Sebentar lagi waktu kerjaku dimulai. Mm..apa kau keberatan menunggu?”

Jessica menggeleng. “tidak apa-apa. Aku punya waktu kosong sampai tiga jam lagi.”

“oke. Jessica-ya..aku bersiap dulu ya.” pamit Jaejoong

Tak lama, Jaejoong kembali. Ia naik ke panggung cafe dengan membawa gitar akustiknya. Jessica memandang lelaki itu keheranan. Ia tak menyangka bahwa Jaejoong bukan bekerja sebagai waiter di kafe ini, seperti saat bertemu dengannya di restauran kemarin.

Jaejoong memposisikan dirinya di kursi. Ia membenarkan letak stand mic dan mengeceknya.

“selamat sore semuanya,” sapanya pada pengunjung café.

“hug. Untuk sore yang cerah dan nona disana,” tunjuk Jaejoong pada Jessica, membuat gadis itu tersenyum malu.

“.. yang telah meluangkan waktunya untuk datang kemari,” lanjut Jaejoong.

Dan Jaejoong pun memulai memetik gitarnya.

Haruman nibangui chimdaega dwegoshipo
Do dasuhi pogunhi nae pume gamssa ango jaeugo shipo
Aju jagun dwichogimdo noui joguman sogsagime
Nan ggumsogui gwemurdo i gyonae borir thende

Naega obnun noui haru oddohge hulloganun gonji
Narur ormana saranghanunji nan nomuna gunggumhande
Noui jagun sorab sogui irgijangi dwego shipo
Ar su obnun noui gubimirdo
Nae mamsoge damadullae no mollae

Haruman noui goyangiga dwegoshipo
Niga junun mainun uyowa buduroun nipumaneso
Umjiginun jangnanedo noui gweyoun ibmachume
Nado mollae jirthurur nuggigo issona bwa

Nae maumi iron goya
Nobaggen bor su obnun goji
Nugurur bwado odi issodo
Nan noman barabojanha
Dan haruman aju chinhan noui aeini wego shipo
Noui jasangdo ddaeron thujongdo da durur su issur thende
Nor wihae

In my heart in my soul nayege sarangiran
Ajig osaeghajiman uh uh babe
Isesang modun gor noyege jugoshipo ggumesorado

Nae maumi iron goya jigyo bor suman issodo
Nomu gamsahae manhi haengboghae na jogumun bujoghaedo
Onjeggaji noui gyothe yoniuro igo shipo
Norur nae pume gadug anun chae gudoboryossomyon shipo
Yongwonhi
Keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Ada perasaan aneh yang mereka rasakan selama 5 menit itu. Namun Jessica dan Jaejoong tersadar karena tepuk tangan pengunjung cafe bertepuk tangan saat lagu itu mencapai akhir. Jessica kemudian ikut bertepuk tangan dan tersenyum pada Jaejoong.

==============================================================

Jaejoong menghampiri Jessica setelah menyelesaikan nyanyiannya. Jessica menyambut dengan tepuk tangan.

“Kim Jaejoong, kau benar-benar hebat,” puji Jessica.

Jaejoong tertawa kecil. Benar apa yang dipikirkannya satu jam lalu, gadis itu bertambah cantik setiap kali mengekspresikan perasaannya.

“a…aniyo, itu hal yang biasa.”

“bagaimana bisa itu biasa! Itu luar biasa, kau tahu. Uh..dari dulu aku ingin sekali bermain gitar.”

“aku bisa mengajarimu kalau kau mau.”

“jinjja??”

“heem. Kurasa aku bisa menjadi guru yang cukup baik,” ucap Jaejoong yang disusul tawa.

“dan kurasa aku bisa menjadi murid yang merepotkan.”

“tidak masalah. Aku senang bisa kau repotkan.”

Sekali lagi, mereka tertawa. Keduanya larut dalam obrolan mereka, hingga tidak sadar hari sudah hampir petang. Jaejoong menawarkan diri untuk mengantar Jessica, tentu Jessica menerimanya dengan senang hati.

“terima kasih,” ujar Jessica saat mereka berdua telah mencapai pintu gerbang rumah Jessica.

“untuk?”

“ehm? Karena kau sudah mengantarku.”

Jaejoong tersenyum. “terima kasih juga. Karena kau mengizinkanku mengantarmu.”

“hei..” Jessica pun ikut tersenyum. “hati-hati di jalan. Mm..aku masuk.”

“ne. Selamat malam.”

“selamat malam.”

Jessica bermaksud untuk menunggu Jaejoong berbalik pulang. Sementara Jaejoong bermaksud menunggu Jessica hingga masuk ke rumahnya.

“masuklah.”

“ani, aku akan..”

“hei..masuklah. Aku akan tenang setelah melihatmu masuk.”

Jessica tersenyum malu. “ne. Hati-hati.”

Setelah memastikan Jessica sampai ke dalam rumah, Jaejoong berbalik pulang. Tanpa Jaejoong tahu, Jessica kembali membuka pintu rumahnya dan memperhatikan punggung Jaejoong sampai menjauh. Gadis itu tersenyum sendiri, hatinya terasa berbunga.

“ottokhae..” ia menutupi wajahnya karena malu

===================================================

Sama seperti hari-hari sebelumnya, siang itu Yusin kembali menjemput Jessica di kampus. Mereka memang tidak berada pada universitas yang sama. Jessica yang sebenarnya malas dijemput oleh Yusin, sempat berniat untuk kabur. Tapi sayangnya, Yusin lebih dahulu melihat Jessica dan memanggil namanya dengan keras hingga tidak ada alasan bagi Jessica untuk menghindar.

“bagaimana kalau kita ke department store umma? Kata umma ada banyak koleksi baru yang cocok untukmu,” kata Yusin saat mereka sudah berada di mobil.

Jessica hanya mengangguk malas. Sedikitpun ia tidak berminat pada baju-baju mahal itu. Tapi jika ia menolak ajakan ibu Yusin, sama artinya ia mencari gara-gara dengan ibunya sendiri. Jadi daripada mendapat omelan dari ibunya, Jessica lebih memilih mati kebosanan mencoba baju-baju yang ditawarkan sepasang ibu dan anak itu.

==================================================

Jessica memandang malas ke pantulannya sendiri di cermin. Entah itu baju keberapa yang sudah ia coba. Baiklah, ia akui semua baju itu bagus tapi bukan berarti ia menyukainya. Jessica merasa menjadi orang lain saat memakai baju-baju itu.

“calon menantuku memang cantik. Ah ya, masih ada beberapa koleksi yang lebih manis jika kau gunakan,” ucap ibu Yusin.

Jessica memaksakan senyumnya. Kalau bukan karena amukan ibunya, ia tidak akan mau melakukan ini.

“Jessica-ya..handphonemu berdering,” kata Yusin yang duduk tidak jauh darinya.

Jessica menghampiri Yusin dan mengambil handphonenya. Ia sempat ingin mereject telepon tersebut karena tidak mengenali nomor sang penelepon. Tapi perasaan Jessica melarangnya.

“yobseyo? ne.. Jessica disini.”

“heh??” mata Jessica terbelalak kaget. “darimana kau tahu nomorku??”

Yusin menoleh ke arahnya. “siapa, honey?”

Jessica tersadar. Ia berdehem untuk mengembalikan ekspresi tenangnya.

“teman kampusku.”

Jessica pun memilih untuk berjalan sedikit menjauh dari Yusin agar tunangannya tersebut tidak bisa mendengar pembicaraanya.

“dari mana kau tahu nomorku?” tanya Jessica sekali lagi.

“ahm..bukan begitu. Aku hanya kaget kau bisa tahu nomorku.”

Jessica tertawa kecil saat mendengar candaan dari sang penelepon.

“yah..begitulah. Aku sedang bersama Yusin dan ibunya. Jinjja??”

Yusin menoleh ke arah Jessica. Ia merasa agak curiga pada tunangannya itu. Membuat Jessica memelankan suaranya.

“akan kuberitahu alamatnya lewat pesan nanti. Ibu Yusin sudah kembali,” bisik Jessica.

Segera ia mematikan sambungan telepon saat ibu Yusin sudah mencapai tempatnya.

“siapa, sayang?” tanya ibu Yusin sama curiganya dengan Yusin.

“hanya teman kampus.” Jessica meraih baju yang dibawa pelayan dibelakang ibu Yusin.

“omo..gaun ini indah sekali,” kata Jessica pura-pura kagum.

==================================================

Jessica menyelinap kabur saat ia dan Yusin berada di parkiran. Ia bersembunyi di balik salah satu mobil yang terparkir. Yusin, sampai saat ini belum menyadari kalau tunangannya tidak lagi bersamanya. Ia masih sibuk dengan handphonenya selagi berjalan menuju mobilnya.

“bermain petak umpet?” bisik seseorang mengagetkan Jessica.

Jessica memukul lengan lelaki yang hampir seminggu ini tidak bertemu dengannya.

“kau mau aku jantungan?”

Lelaki yang tak lain adalah Jaejoong itu tertawa pelan. Ia lalu melepas jaket hitam dan topinya.

“pakai ini.”

Jessica mengangguk mengerti. Dengan jaket dan topi itu tentu Yusin setidaknya tidak akan terlalu mengenalnya.

Jaejoong membantu merapikan rambut Jessica, membuat jarak wajah mereka sangat dekat sekarang. Bahkan keduanya bisa merasakan hembusan nafas masing-masing. Jantung Jessica dan Jaejoong berdetak hebat karenanya.

“motorku ada disana,” ucap Jaejoong menghentikan kecanggungan mereka berdua.

Mereka berdua berhasil menuju motor Jaejoong tanpa ketahuan oleh Yusin.

“ah ya..darimana kau bisa mendapatkan nomor handphoneku?” sembari menerima helm dari Jaejoong.

“aku harus beterima kasih pada noona,” batin Jaejoong.

“hei..” Jessica menegur Jaejoong yang malah melamun.

“apa yang tidak bisa dilakukan seorang Kim Jaejoong,” canda Jaejoong disusul kedipan mata.

===================================================

Jessica sedikit ngeri menaiki motor sport merah Jaejoong. Ia tidak berani berpegangan pada Jaejoong, takut dianggap murahan atau apalah itu. Jaejoong memerhatikan Jessica beberapa kali dari spion. Meski menggunakan helm, wajah takut Jessica bisa ia lihat dengan jelas. Ia tahu apa yang ada di pikiran Jessica. Jaejoong menarik tangan kiri Jessica ke pinggangnya, kemudian tangan kanan Jessica, membuat gadis itu menunduk malu.

Jaejoong melepas helm Jessica saat mereka sampai di pantai, tempat yang dijanjikan Jaejoong. Sekali lagi, Jessica tersipu malu. Mereka berdua berjalan mendekat ke pantai. Tidak ada orang lain selain mereka berdua disana. Pemandangan indah menyambut hangat mereka. Keduanya bermain di sepanjang garis pantai. Kekesalan yang tadi dirasakan Jessica kini menghilang begitu saja. Entah karena keindahan pantai itu ataukah karena adanya Jaejoong bersamanya.

Dua jam lebih mereka berkejar-kejaran dan bermain-main. Mereka mulai kelelahan dan memilih untuk beristirahat. Keduanya berbaring di pasir putih sambil menikmati langit sore.

“kau senang?” tanya Jaejoong disusul anggukan dari Jessica.

“apa maksudmu tadi? Apa..mm..orang tuamu sudah meninggal?”

“akan lebih baik jika begitu.”

Jessica terkejut. “Jaejoong kau..”

“pelacur.”

“apa?”

Jaejoong mengehela nafas. Rasanya berat  harus membuka hal yang ia anggap aib pada Jessica, gadis istimewa baginya. Ia menatap hampa ke pantai lepas dengan latar langit jingga.

“ibuku..hanya seorang pelacur.”

Jessica bisa mendengar kebencian dan kesedihan dari nada bicara Jaejoong.

“wanita kotor..murahan..atau apalah yang biasa orang sebut..dialah wanita yang ditakdirkan sebagai ibuku. Dan ayahku..ibuku sendiri bahkan tak tahu siapa ayahku. Entah berapa lelaki yang telah ia tiduri.”

Jessica tidak tahu harus menanggapi apa. Ia bahkan terlalu terkejut. Jessica tidak menyangka, lelaki berpenampilan berandalan di dekatnya itu memiliki kisah tragis.

Hening. Hanya terdengar deburan ombak.

“apa setelah ini kau akan menjauhiku?” tanya Jaejoong memecah sunyi.

“ehm? Untuk apa?”

“Jessica..aku bukan siapa-siapa. Hanya seorang lelaki dengan latar keluarga tidak jelas.”

“sshh.. kau pikir siapa aku? Aku juga bukan siapa-siapa, Jaejoong.”

“jangan bercanda.”

“aku tidak memiliki apapun, bahkan diriku sendiri. Semua selalu diatur oleh orang tuaku. Apa menurutmu itu baik-baik saja?”

“hei..” Jaejoong mengusap kepala Jessica dengan lembut.

“sudahlah..kita pulang saja,” lanjut Jaejoong.

Mereka berdua bangkit dan kembali ke Seoul untuk melanjutkan rutinitas mereka lagi.

===================to be continue============================

8 thoughts on “Why Did I Fall in Love with You [part 1]

  1. Kya! ff JaeSica >.<
    hou.. hou.. hou.. deg-degan sendiri baca ff jaesica. abis udah lama bgt ga baca ff jaesica indonesia. udah 2 th lebih kali. ga nemu yg indonesia. adanya yg inggris doang. sekalinya ada, ga seru *curcol* tapi ini seru!!

    jaejoong bad boy ya? tadi pribadinya keren deh. asli!
    jangankan sicajumma, aku pun bisa aja jatuh cinta ma jaejussi . keke *dijewer sicajumma

    argh!! JaeSica jjang lah! keke

  2. HADUH …
    Ntu ff cast.ny bias.ku deh
    akhu belum baca sih
    cmn akhu copi di laptop
    biar enak bacanya

    Dibayangin ajah keliattan keren
    gimana klo nyata ?

    thor , akhu pengn bgt masukkin ff.ku
    gimana caranya ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s