Why Did I Fall in Love with You [Part2]

Tittle : Why Did I Fall in Love With You [Part 2]

Main cast : Kim Jaejoong, Jung Jessica

Support cast : Yoochun, Yunho, Junsu

Jessica tersenyum-senyum sendiri setelah menerima pesan dari Jaejoong. Menjelang siang  Jaejoong berjanji akan menjemputnya di kampus. Tepat setelah dosen keluar, Jessica segera menuju tempat parkir dimana Jaejoong telah menunggu. Dari jarak sekitar 7 meter Jessica bisa melihat Jaejoong telah menunggu dia atas motor sport merahnya. Lelaki itu tersenyum sambil melambai ke arahnya.

“honey….”

Jessica berdecak kesal saat mendengar suara itu. Yusin, entah darimana muncul. Ia mengalungkan tangannya di bahu Jessica.

“apa yang kau lakukan disini?” tanya Jessica dingin.

“aku? Menjemputmu.”

“aku sudah bilang kau tidak perlu menjemputku hari ini. Aku..”

“umma menyuruhku mengajakmu ke rumah untuk makan siang.”

Jessica menghela nafas. Kalau begini rencananya dengan Jaejoong bisa gagal, pikirnya. Jessica melihat ke arah Jaejoong. Lelaki itu terlihat sedang mengutak-atik handphonenya. Tak berapa lama, handphone Jessica berdering tanda pesan masuk yang ternyata dari Jaejoong. Jessica tertawa kecil setelah membacanya.

“kenapa honey?”

“ani, ayo kita pulang.”

Jessica dan Yusin menuju mobil Yusin. Saat Yusin telah masuk ke mobil, Jessica pamit ke toilet sebentar. Saat itulah Jaejoong menyalakan mesin motornya dan menuju ke sisi depan gedung.

Jessica memasuki gedung kampus dan menghilang di belokan lorong, menuju sisi depan gedung. Disana Jaejoong telah menunggu. Sesuai dengan rencananya yang tadi dikirimkan lewat pesan pada Jessica.

Jessica tersenyum jahil. “dasar kau ini.”

Jaejoong balas tersenyum dan memberikan helm yang dibawanya pada Jessica. Seperti biasa, Jaejoong membantu Jessica memakainya. Dan meskipun itu sudah yang kesekian kali, tapi tetap saja Jessica merasa jantungnya berdetak cepat. Tidak ingin Jaejoong melihat wajahnya yang telah merah, Jessica segera naik ke motor Jaejoong.

“heemmm..Jessica-ya..”

“ne?”

“..aku cemburu melihat lelaki itu merangkulmu,” lanjut Jaejoong sembari memacu motornya.

Jessica tidak tahu harus menjawab apa. Sekali lagi, jantungnya berdetak sangat cepat.

===================================================

Jaejoong mengajak Jessica ke apartemennya. Jessica mengitarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan. Rapi. Tapi itu yang membuat Jessica tertawa geli.

“kenapa?” bingung Jaejoong.

“ani..aku hanya merasa seseorang merapikan apartemennya dengan terburu-buru.”

Jaejoong hanya bisa tersenyum bodoh. Ia memang bukan orang yang tergolong rapi. Hanya karena akan mengajak Jessicalah makanya ia merapikan apartemennya tadi pagi.

“hei..jangan meledekku seperti itu.” Jaejoong merajuk.

Jessica menghentikan tawanya. “ahh ya..kapan kau mau menepati janjimu?”

“janji?”

“ehm. Kau janji akan mengajariku bermain gitar. Aiissh..jangan bilang kau lupa.”

“aah..” Jaejoong mengangguk paham.

Jaejoong menarik tangan Jessica dan mengajaknya ke kamarnya. Membuat Jessica salah tingkah.

“mm..kurasa gitar yang ini saja,” kata Jaejoong memilihkan salah satu gitar dari beberapa yang tergantung di tempat gitar.

Keduanya duduk di tepi tempat tidur Jaejoong, saling berhadapan.

“aku akan mengajarimu tiga kunci dasar dulu. C, Am, dan G.”

Jessica mengangguk meski ia tidak terlalu mengerti.

=================================================

Jessica mengetuk pintu apartemen Jaejoong dengan tidak sabar. Ia sudah cukup menunggu lama di depan pintu namun Jaejoong tidak juga nampak. Jessica juga sudah berkali-kali menghubunginya, namun Jaejoong tidak juga menerima telepon dari gadis itu.

“aiissh..kemana dia? Awas saja kalau dia belum bangun.”

Sekali lagi, Jessica kembali mengetuk atau lebih tepatnya menggedor pintu apartemen. Hingga menimbulkan suara berisik, membuat tetangga Jaejoong keluar dari apartemennya. Seorang nenek berdiri dengan memelototi Jessica.

“m..maaf..saya..”

Krek. Pintu apartemen terbuka. Seorang laki-laki bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana selutut, muncul dari balik pintu. Lelaki itu menguap lebar sambil menggaruk kepalanya seolah masih tenggelam dengan mimpinya.

“ummaa..!” teriak Jessica histeris. Gadis itu pun memejamkan matanya dengan erat.

“ya! Anak muda jaman sekarang! Bagaimana bisa kau tidak memakai baju seperti itu di depan seorang gadis hah?!”

Mendengar suara nyaring dari tetangganya membuat Jaejoong tersadar. Ia segera menarik Jessica ke dalam. Ia tidak mau harinya menjadi buruk karena ocehan nenek itu.

“nenek gila.” Jaejoong menutup pintu dengan keras.

BLAMM

“Kim Jaejoong cepat pakai bajumu!” teriak Jessica masih dengan mata terpejam.

Jaejoong menoleh, ia tidak dapat menahan tawa karena reaksi polos Jessica. Bukannya segera mengenakan baju, ia malah menggoda Jessica.

“hei.. Jessica.. Buka matamu..aku sudah memakai kaos.”

“jinjja?” tanya Jessica tidak percaya.

“uum. Mana mungkin aku berbohong.”

Jessica menurut, ia membuka mata. Namun sedetik kemudian kembali memejamkan matanya. Dan kembali terdengar suara lengkingan khas Jessica.

“Jaejoongggg!!”

Gadis itu berusaha memukul Jaejoong dengan asal. Sementara Jaejoong terus menghindar, hingga membuat keduanya malah saling berkejaran di ruangan yang tidak terlalu luas itu. Masih dengan mata terpejam, Jessica menggapai-gapai kepala Jaejoong untuk memukulnya. Sayangnya, gadis itu tidak menyadari bahwa di depannya terdapat meja. Jaejoong dengan sigap menarik Jessica ke arahnya untuk menghindari meja tersebut. Namun pada akhirnya keduanya justru terjatuh di sofa yang terdapat di belakang Jaejoong. Dengan posisi yang bisa dibilang bisa menimbulkan kesalahpahaman bagi orang yang melihatnya.

Dengan otomatis Jessica membuka mata. Ia sangat terkejut karena jarak wajah  di antara keduanya kini sangat dekat. Jaejoong, meski jantungnya berdegup sangat cepat, ia masih bisa mengontrol kegugupannya.

“Jessica-ya..kau sedikit berat,” canda Jaejoong sambil tersenyum memamerkan sederetan giginya yang rapi.

Sontak hal itu membuat Jessica bangkit dari atas Jaejoong. Ia berdehem kecil untuk mengurangi kegugupannya.

“a..aku..mm..ke toilet.”

Secepat kilat gadis itu berbalik badan dan menuju toilet. Tentu sambil merutuki kejadian bodoh barusan. Sementara Jaejoong hanya mampu tertawa geli.

==================================================

Jaejoong tengah memperhatikan Jessica yang sibuk mempelajari kunci gitar. Jessica belum terlalu  mengusainya, meskipun ia sudah cukup lama mempelajarinya bersama Jaejoong.

“hah..” Jessica menghentakan kakinya bergantian karena kesal.

“kenapa begitu sulit?”

“kau hampir bisa. Tinggal lebih sering berlatih saja.” Bohong Jaejoong untuk menghibur Jessica.

“liar.”

“heh?”

“Jaejoong-ah..kau tukang bohong. Kau bilang gitar sangat mudah untuk dimainkan..tapi buktinya..”

Jaejoong terkekeh. Semakin lama ia mengenal Jessica, ia semakin tahu sifat gadis itu. Yang terkadang begitu dewasa, tapi juga terkadang bertingkah seperti anak kecil.

“ada hal yang bisa kau sebut mudah, setelah kau menganggapnya sulit.”

Jessica memandang Jaejoong bingung. Lelaki itu tertawa sekali lagi.

“kau pasti bisa memainkannya. Percaya padaku.”

“ckck. Tidak mau.” Jessica menyerahkan gitar yang dibawanya pada Jaejoong.

“kau saja yang memainkannya. Hari ini aku tidak mau berlatih lagi,” lanjutnya.

“oke.. kau ingin aku menyanyikan lagu untukmu?” tawar Jaejoong yang disusul anggukan semangat dari Jessica.

Jaejoong terdiam sejenak. Ada sesuatu yang bersarang di otaknya sedari beberapa hari lalu. Jaejoong rasa ia harus mengatakannya sesegera mungkin.

“let’s see.. heeemm..bagaimana kalau lagu ini..”

Terdengar suara petikan gitar yang membentuk melodi indah.

===================================================

“Jessica..”

Panggil Jaejoong lembut. Masih dengan memainkan gitarnya, setelah menyelesaikan lagu ciptaannya.

“sering aku berpikir Tuhan mempertemukan umatnya hanya untuk membuat kehidupan mereka menjadi rumit.”

“lelaki dan perempuan bertemu untuk saling menyakiti dan meninggalkan. Itu yang kutahu.”

“aku tak mengerti untuk apa Tuhan melakukannya. Tapi saat aku mengalaminya sendiri, aku menyadari sesuatu.”

Jaejoong mengambil jeda sebentar untuk menenangkan hatinya.

“bukan tanpa sebab Tuhan melakukan hal itu juga padaku. Kau tahu kenapa?”

Jessica menggeleng.

“karena Tuhan juga menginginkanku menjagamu, malaikat terindahnya.”

Jessica terdiam. Tidak tahu harus memberi respon apa pada Jaejoong.

“aku tidak punya apapun untuk kusombongkan. Tidak latar belakang keluarga, tidak juga kekayaan. Bahkan aku tidak cukup punya kata-kata rayuan untukmu. Tapi satu yang bisa kujanjikan, aku akan selalu berusaha agar tidak membuatmu terluka. Karena..karena aku mencintaimu.”

“aku..Jaejoong kau sudah tahu aku..” Jessica menarik nafas dalam. “Kau tahu aku sudah memiliki tunangan.”

Jaejoong tersenyum. “arra. Tapi kupastikan hal itu hanya untuk sementara.”

“ehm?”

“kau tidak berpikir kalau aku akan menyerah begitu saja bukan? Jessica-ya..biarkan aku berusaha merebut hatimu.”

Jessica tidak dapat lagi menyembunyikan rasa malunya. Semua perkataan Jaejoong semakin membuat jantungnya berdegup kencang. Ia hanya tersenyum malu pada Jaejoong.

===================================================

Entah sudah keberapa kali Jessica melarikan diri dari Yusin dan pergi bersama Jaejoong. Begitu juga kali ini. Jessica meninggalkan Yusin yang menjemputnya di kampus. Ia sepertinya sudah terlatih untuk melakukannya bersama Jaejoong. Seperti biasa mereka menuju apartemen Jaejoong. Menurut Jessica, tempat dengan ukuran tak lebih dari kamar tidurnya di rumah itu lebih hangat dan nyaman.

Jessica dan Jaejoong telah sampai di gedung apartemen. Mereka terus bercanda hingga sampai di depan pintu aparteman Jaejoong. Tapi candaan mereka berhenti begitu melihat seorang wanita dan pria keluar dari apartemen Jaejoong. Wanita berusia sekitar 35 tahun bersama pria tua. Mereka terlihat begitu mesra, atau yang bisa dibilang menjijikan di mata Jessica.

Jaejoong menatap tajam pada keduanya. Tulang rahangnya mengeras dan tangannya mengepal kuat. Seolah tengah menahan amarahnya. Tak mengerti apa-apa, Jessica hanya memandang mereka dengan bingung.

“Jaejoong, mereka si..”

“apa yang kau lakukan disini?” tanya Jaejoong dengan nada dingin.

“sayang, umma hanya meminjam apartemenmu sebentar.”

Jessica menutup mulutnya dengan jemarinya. Ia terkejut mendengar perkataan wanita tersebut.

“pergi.”

“sayang..santai saja. Umma hanya mampir sebentar. Umma..”

“kau!” Jaejoong menghela nafas panjang untuk menahan emosinya.

“kau..pergi dari sini..sekarang juga,” lanjutnya.

Lelaki tua di samping ibu Jaejoong menepuk bahu Jaejoong. “sayang, anakmu sepertinya terlalu tegang. Anak muda sekarang seharusnya..”

Jaejoong menangkis tangan lelaki itu. “diam. Atau aku akan mematahkan tangan kotormu ini.”

“kau!”

Ibu Jaejoong menahan bahu pria tersebut agar tidak memukul Jaejoong.

“kau boleh melakukan apapun yang kau mau. Tapi jangan pernah lakukan itu di rumahku. Pergi..sekarang juga.”

Ibu Jaejoong tersenyum sinis. Ia pergi menuju lift tanpa berkata apa-apa lagi. Sedang pria yang bersamanya, memandang Jessica dengan tatapan mengerikan saat melewati gadis itu. Jessica mengalihkan pandangannya, ia merasa risih.

Setelah kepergian mereka Jaejoong sempat terdiam beberapa menit di tempatnya. Masih dengan kepalan tangan kuat hingga menunjukkan otot-otot di sekitar pergelangan tangannya. Jessica memandang Jaejoong khawatir, tidak tahu harus berbuat apa.

Bam!

Jaejoong memukul dinding di depannya dengan sangat keras. Membuat Jessica menjerit  terkejut. Gadis itu mendekati Jaejoong. Saat Jessica bermaksud melihat keadaan tangan Jaejoong, Jaejoong menepis tangan Jessica dengan kasar. Hingga tanpa sengaja membuat Jessica tersungkur.

Jaejoong menyesali perbuatannya seketika itu juga. Ia berlutut di depan Jessica untuk melihat keadaan gadis itu.

“maaf..” Jaejoong menatap Jessica dengan cemas.

Jessica meraih tangan kanan Jaejoong. Ia bisa melihat bekas luka berwarna biru ruas jari-jari Jaejoong.

“sakitkah?” tanya Jessica tidak kalah khawatir.

Jessica mengompres tangan Jaejoong dengan handuk berisi es batu. Setidaknya lebam di tangan Jaejoong sedikit berkurang dari sebelumnya. Satu jam terlewati dengan diam. Jessica tidak berani memulai pembicaraan. Sementara Jaejoong masih sibuk dengan pikirannya sendiri.

“aku..pulang..”

Jessica berpikir bahwa Jaejoong membutuhkan waktu untuk sendiri. Karena itulah Jessica berpamitan pulang. Namun Jaejoong menahan tangan Jessica saat gadis itu bangkit dari sofa.

“jangan pergi.”

Jessica terdiam sejenak. Ia menurut, dan kembali duduk di samping Jaejoong. Suasana hening lagi. Jaejoong menggenggam tangan Jessica dan meletakkan di pangkuannya.

“maaf.”

“untuk apa?” tanya Jessica tidak mengerti.

“maaf..karena aku melukaimu.”

Jessica menggeleng. “tidak, Jaejoong. Aku baik-baik saja. Aku tahu kau tidak sengaja melakukannya.”

Jaejoong menatap mata Jessica dalam. “aku janji tidak akan melakukannya lagi.”

“ssst.. aku tahu.”

“Jessica-ya..”

“ehm?”

“apa kau tidak menyesal mengenal anak pelacur sepertiku?”

“Jaejoong..” Jessica melepas genggaman Jaejoong dan menyentuh kedua pipi Jaejoong.

“jangan berkata begitu. Aku selalu nyaman berada di dekatmu. Tidak peduli siapa keluargamu atau apapun itu. Araseo?”

Jaejoong meraih tangan Jessica dan mengenggamnya lagi.

“Ara.”

==================================================

Jessica terpaku melihat lembaran foto di hadapannya. Ibunya telah mengetahui kelakuan Jessica yang sering kabur dari Yusin selama ini. Beliau curiga dan akhirnya menyuruh pengawalnya untuk menyelidiki Jessica.  Di foto tersebut Jessica tengah bersama Jaejoong. Mulai dari mereka berada di kampus Jessica, di jalan, dan bahkan saat mereka masuk ke gedung apartemen Jaejoong.

“siapa lelaki itu?” bentak Ibu Jessica.

“dia..”

“kekasihmu?”

“bukan umma. Dia hanya temanku.”

“teman? Apa kau pikir ibumu ini buta?!” Ibu Jessica melempar foto-foto di atas meja ke arah Jessica.

“tidak peduli siapapun dia, kau harus meninggalkannya.”

“umma!”

“kau berani membentakku? Jadi ini yang diajarkan lelaki itu padamu? Untuk melawanku, hah?”

Jessica berdecak, “aniyo, umma. Aku..”

“tinggalkan dia. Dan umma akan menganggap ini selesai. Appa tidak akan pernah tahu.”

“tidak. Aku tidak akan melakukannya. Umma dia hanya temanku.”

“Jessica! Umma susah payah membesarkanmu dan merawatmu. Tidak bisakah kau sekali saja membalasnya?!”

Jessica terdiam. Bukan marah, tapi lebih kepada rasa sedih. Ia selalu kecewa setiap kali ibunya mengatakan hal itu. Seolah dirinya hanyalah beban bagi orang tuanya selama ini.

===================================================

Meski ibunya secara terang-terangan telah melarang Jessica dekat dengan Jaejoong, tapi tetap saja gadis itu tidak peduli. Atau lebih tepatnya tidak bisa. Jessica tidak bisa menjauhi Jaejoong dan menganggapnya sebagai angin lalu. Jessica sadar ada perasaan lain yang dirasakannya pada lelaki itu. Baginya, Jaejoong seperti candu yang tidak akan pernah bisa ia hindari.

Sore itu Jaejoong dan Jessica menghabiskan waktu di pantai yang pertama kali mereka kunjungi bersama. Jessica memejamkan matanya dan menghirup angin laut. Persis seperti yang ia ingat.

“Jessica-ya..” panggil Jaejoong membuat Jessica membuka matanya.

“apa sampai saat ini aku belum berhasil meluluhkan hatimu?”

Jessica tersentak. Ia tidak menyangka Jaejoong akan menanyakan hal itu.

“ah ya..sepertinya aku harus menunggu lebih lama,” lanjut Jaejoong seolah menjawab pertanyaan dari dirinya sendiri.

“aku..”

“tidak apa-apa. Aku masih bisa menunggu lebih lama,” potong Jaejoong sambil tersenyum.

Jessica terdiam. Memandang mata kecokelatan milik Jaejoong dengan rasa bersalah.

“kau tahu apa yang kurasakan, Jaejoong. Kau juga tahu bagaimana posisiku. Aku..”

“tidak,” potong Jaejoong.

“hah?”

“aku tidak tahu apa yang kau rasakan. Bisakah kau memberitahuku?”

Jessica melempar tatapan curiga pada Jaejoong. Membuat lelaki itu tersenyum bodoh.

“ne, aku tahu. Aku hanya ingin mendengarnya sendiri dari mulutmu.”

Jessica menggeleng. “shiro. Kau sudah tahu, jadi aku tidak perlu mengatakannya.”

“Jessica-ya..ayo katakan padaku. Aku ingin kau mengatakannya. Sekali saja.” Mohon Jaejoong.

Jessica menolak sekali lagi. “tidak mau. Aku malu, Jaejoong..”

“kenapa? Aku tidak akan menertawakanmu? Ayolah.”

“shirroe.”

“aiish.. baiklah, biar aku dulu yang mengatakannya. I love you. I do really love you, Jung Jessica.”

Jessica merasakan pipinya memanas. Ia mengalihkan pandangannya ke laut untuk menutupi rasa malunya.

“heeei..” Jaejoong memegang wajah Jessica agar kembali menghadapnya. “katakan.”

Jessica sepertinya tidak bisa lagi menghindar “aku..”

Bugh!

Jaejoong tersungkur setelah seseorang dengan pakaian serba hitam memukulnya secara tiba-tiba. Jessica menjerit kaget. Ia hendak menolong Jaejoong, namun dua orang dengan baju serba hitam lainnya entah kapan sudah menahan lengan Jessica. Mereka menahan Jessica dengan sedikit kasar. Melihat itu, Jaejoong bangkit berdiri dan memukul orang yang tadi pertama kali memukulnya. Tapi dua orang lainnya yang juga berpakaian sama dengan ketiga orang itu, datang dan mengepung Jaejoong. Mungkin Jaejoong bisa mengatasi pada awalnya, tapi satu lawan tiga bukanlah hal yang mudah. Terlebih saat salah satu dari mereka berhasil menguasai Jaejoong. Dengan ditahan dua orang, Jaejoong dipukul berkali-kali oleh satu orang dari mereka. Sementara Jessica hanya bisa menangisi keadaan Jaejoong yang telah terluka parah.

“pelacur.”

Jessica terkejut saat mendengar suara itu. Jaejoong, dengan muntahan darah yang telah mengotori bajunya, menoleh ke arah wanita yang mengatakan hal itu.

“umma?” kata Jessica tidak percaya

“kau pikir siapa dirimu? Hanya anak seorang pelacur dan kau beraninya mendekati putriku?”

Jaejoong terdiam. Meski benar apa yang dikatakan ibu Jessica, tapi hatinya tetap tidak bisa menerimanya.

“miskin. Hina. Apa yang bisa kau berikan pada putriku?”

“umma..!!!” Jessica berusaha menghentikan ibunya.

“apa kau juga ingin menjadikan putriku seperti ibumu? Menjadikannya sebagai pelacur?”

Jaejoong tersentak. Ia menatap Jessica dan kemudian beralih ke arah lain.

“sekali ini aku akan mengampunimu. Tapi jangan harap aku akan melakukannya lain kali.”

Ibu Jessica memberi kode agar dua orang pengawalnya melepaskan Jaejoong. Kemudian beralih pada Jessica. Beliau menatap Jessica dengan penuh amarah. Namun gadis itu terlihat tidak peduli. Ia lebih mencemaskan keadaan Jaejoong.

“bawa dia ke mobil,” perintah Ibu Jessica pada pengawal yang menahan Jessica.

Jessica berusaha melawan, membuat ibunya semakin marah.

“atau kau mau aku membuat lelaki itu mati sekarang juga?”

“lepaskan aku!!!” perintah Jessica pada pengawal yang menahannya dan tetap menatap tajam pada ibunya.

“aku bilang lepaskan aku!” teriak Jessica sekali lagi.

Ibu Jessica memberi isyarat agar pengawalnya menuruti permintaan Jessica. Tanpa berkata apa-apa lagi Jessica berjalan ke mobil mendahului ibunya.

====================to be cotinue===============================

One thought on “Why Did I Fall in Love with You [Part2]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s