Why Did I Fall in Love with You [Part3]

Tittle               : Why Did I Fall in Love With You [Part 3]

Main cast        : Kim Jaejoong, Jung Jessica

Support cast   : Yoochun, Yunho, Junsu

 

Dari jauh Jaejoong menatap sosok ibunya dengan amarah. Wanita yang Jaejoong benci tapi juga ingin ia tangisi karena pekerjaan kotor yang dilakukannya selama ini. Ibunya yang saat ini memasuki hotel kelas atas bersama lelaki tua yang Jaejoong duga umurnya tidak akan lama lagi.

“kenapa masih ada lelaki yang mau dengan wanita tua itu?” kata Jaejoong seolah merendahkan ibunya.

Yunho tahu apa yang sebenarnya dimaksud Jaejoong. Bahwa ia ingin ibunya berhenti melakukan pekerjaan hina itu.

“sampai kapan ia merendahkan dirinya sendiri..” lirih Jaejoong dengan tatapan sedih.

Yunho, Junsu, dan Yoochun terdiam. Ada saat dimana mereka perlu menghibur Jaejoong, tapi ada pula saat dimana mereka hanya perlu mendengar.

“aku punya cukup uang untuk membelikan baju-baju mahal untuknya.”

Jaejoong meremas botol kaca yang dibawanya. Tanpa aba-aba ia melempar botol berisi bensin ke arah mobil yang tadi digunakan pria hidung belang yang bersama ibunya. Membuat botol itu pecah setelah mendarat di kap mobil. Jaejoong merebut botol lainnya dari tangan Yoochun dan melemparnya ke mobil yang sama. Bensin dari kedua botol itu kini telah mengaliri mobil mewah tersebut. Masih dengan kemarahan, Jaejoong melempar korek api untuk membakar mobil itu. Kemudian Jaejoong berbalik meninggalkan tempat itu, mendahului ketiga temannya.

Junsu dan Yunho, yang masih membawa botol lain berisi bensin, kemudian melemparnya ke mobil lain di samping mobil yang telah terbakar. Tak perlu waktu lama, api menyambar tumpahan bensin. Hingga sebagian kecil tempat parkir tersebut dilalap oleh api. Ketiganya lalu berlari menyusul Jaejoong yang semakin menjauh.

===================================================

Tanpa minat, Jessica memandang ke luar jendela sepanjang perjalanan ke kampusnya. Ibunya benar-benar keterlaluan menurutnya. Pagi ini Jessica mendapat kabar buruk, bahwa Yusin akan pindah ke kampus yang sama dengan Jessica. Dan itu atas ‘saran’ dari ibunya. Tentu karena beliau tidak ingin lagi Jessica bertemu dengan Jaejoong. Semua yang dilakukan ibu Jessica untuk memisahkan Jessica dan Jaejoong selama ini telah terlaksana seperti keinginannya. Hampir seminggu, Jessica tidak lagi bertemu Jaejoong. Beberapa kali ia mencoba menghubungi lelaki itu, sayangnya Jaejoong tidak pernah mau mengangkat telepon darinya.

“hari ini pasti akan sangat menyenangkan,” kata Yusin pada dirinya sendiri.

Jessica tersenyum sinis pada lelaki itu dan kemudian kembali menatap ke luar jendela. Saat mobil mereka berhenti di lampu merah, motor sport merah menyusul dari belakang dan berhenti tepat di sisi jendela Jessica. Jessica terdiam saat menyadari siapa pengendara motor itu, Kim Jaejoong.

Di sisi lain, Jaejoong mengitarkan pandangan ke sekitar sambil menunggu. Dan, ia menyadari kehadiran Jessica dari kaca jendela mobil. Jaejoong terpaku beberapa saat. Teringat ucapan ibu Jessica yang membuatnya sakit hati sekaligus sadar, bahwa ia bukan lelaki yang cukup baik bagi Jessica. Meski Jaejoong ingin membawa gadis itu bersamanya, tapi sekuat hati ia menolak keinginannya sendiri. Jaejoong memalingkan pandangannya kembali ke depan. Tepat saat lampu lalu lintas berwarna hijau, ia menancap gasnya dengan kecepatan penuh. Berharap dapat segera menghilang dari pandangan Jessica.

Jessica memperhatikan kepergian Jaejoong, mobil mereka semakin jauh dari motor sport lelaki itu. Jessica cukup terkejut karena sikap Jaejoong. Ia merasa Jaejoong seperti tak menganggapnya ada. Dan ya..itu membuatnya sakit hati.

===================================================

Jessica mengikuti Yusin dengan tidak bersemangat. Lagi-lagi lelaki itu mengajak Jessica berbelanja di departmen store milik keluarganya. Hanya saja yang ini adalah pusat perbelanjaan milik keluarga Yusin yang baru dibuka. Tapi tetap saja, tidak ada bedanya bagi Jessica.

“kau mau mencoba sepatu disini?” tawar Yusin.

Belum sampai Jessica menjawab, Yusin sudah masuk dan meninggalkan Jessica di belakang. Hingga gadis itu hanya mampu mendengus kesal.

“sebenarnya aku tidak mau membelikan sepatu untukmu. Kata orang jika kita membelikan sepatu maka yang kita belikan itu akan pergi meninggalkan kita,” terang Yusin sambil mengamati sepatu-sepatu untuk Jessica.

“kalau begitu belikan aku sepatu yang banyak agar bisa cepat-cepat meninggalkanmu,” jawab Jessica asal.

“hei..jangan begitu. Kau tidak mau ibumu sampai mendengarnya bukan?” kata Yusin setengah mengancam.

Jessica memutar bola mata. “kau tahu Yusin, saat ini aku ingin sekali melemparmu ke tebing.”

“Jung Jessica..berhentilah berkata kasar jika kau masih ingin hidup sebagai nona kaya.”

“apa maksudmu?”

Yusin memberikan salah satu sepatu pada Jessica. “kau tidak lupa kalau aku bisa membuat keluarga jatuh miskin bukan?”

Jessica menolak sepatu yang diberikan Yusin. “apa kau pikir perusahaan ayahku akan bangkrut? Tidak akan,” balas Jessica dengan angkuh.

“kau tidak tahu apa-apa, sayang. Begitu ayahku memutuskan hubungan kerja dengan perusahaan ayahmu, maka saat itu juga kalian akan kehilangan semuanya.”

Yusin menarik tangan Jessica dengan kasar dan memberikan sepatu pilihannya tadi pada Jessica. Ia kemudian berjalan mendahului Jessica.

“shit.”

Jessica memperhatikan punggung Yusin dengan benci. Baru kali ini Yusin memperlakukannya seperti itu. Karena yang Jessica tahu Yusin selalu bisa ia bodohi dan ia marahi sesuka hatinya.

Brak!
Jessica melempar sepatu pilhan Yusin tadi ke lantai. “kau benar-benar membuatku kesal Kim Yusin.”

===================================================

Hari ini adalah hari istimewa untukku. Tidak bisakah kau melupakan semuanya dan membuatku bahagia untuk sehari ini saja?

Jaejoong terdiam memandangi layar handphone-nya. Pesan dari Jessica yang masuk beberapa menit lalu. Hari istimewa..ya..jelas Jaejoong tahu itu. Hari ini tepat usia Jessica bertambah satu tahun. Jaejoong bahkan tidak bisa tidur dari semalam, karena memikirkan hal itu. Banyak hal yang ingin ia lakukan untuk membuat Jessica bahagia di hari ulang tahunnya. Tapi bayangan kejadian di pantai dengan ibu Jessica, memukulnya mundur dari keinginan itu. Di satu sisi ia membenci ibu Jessica atas hinaannya. Tapi di sisi lain, ia juga sadar bahwa semua yang dikatakan wanita itu benar.

Apa perkataan ibuku begitu penting? Bahkan membuatmu lebih peduli padanya dibanding aku?

Satu pesan lagi yang dikirimkan Jessica. Mungkin gadis itu tahu apa yang dipikirkan oleh Jaejoong. Atau mungkin juga karena ia sudah cukup lelah menahan emosi pada Jaejoong yang selama ini selalu menghindarinya.

“jangan bertingkah seperti romeo dan juliet, Jaejoong-ah.”

Entah sejak kapan Yunho datang ke apartemen Jaejoong dan menyambar begitu saja.

“ah ide bagus. Bagaimana kalau aku membawakan racun tikus untuk kalian?”

Jaejoong melempar bantal sofanya tepat di kepala lelaki yang sudah ia anggap saudara sendiri.

“dari semua racun..kenapa harus racun tikus? Kenapa bukan..”

“ya! Itu tidak penting.” Yunho mendorong Jaejoong agar menyingkir dari sofa, kemudian membaringkan dirinya sendiri ke sofa tersebut.

“tumben kau kemari. Pagi-pagi seperti ini pula,” ujar Jaejoong heran.

“Yoochun sedang di rumahku. Aku tidak mau mengganggunya. Sepertinya dia butuh tempat yang tenang.”

“ooh.”

“jadi?”

“jadi? Jadi apa?”

“jadi bagaimana dengan gadis itu? Mm..Jessica.”

Terdengar helaan nafas panjang dari Jaejoong. “entahlah.”

“sudah kubilang jangan bersikap seperti kalian ini romeo dan juliet. Cepat datangi gadis itu dan bilang padanya kalau kau tidak akan menyerah untuk memiliknya. Jangan pedulikan ibunya atau siapapun yang menghalangimu.”

“tidak. Aku akan menjadi egois jika melakukan itu. Aku tidak pantas untuk gadis sepertinya.”

“Jaejoong-ah.. Kau akan menjadi egois jika kau menghindarinya seperti ini. Kau datang mendekatinya, membuatnya jatuh cinta padamu, dan sekarang dengan seenaknya kau meninggalkannya.”

“aku melakukannya karena..”

“apapun alasannya,” potong Yunho. “bersikaplah seperti seorang lelaki. Jangan sakiti gadis yang kau sayangi karena alasan klasik kalau kau meninggalkannya demi kebahagiaannya.”

Jaejoong terdiam, mencerna perkataan Yunho yang masuk akal tapi juga terdengar nekat dan sembarangan. Seulas senyum kemudian mengembang dari bibir Jaejoong. Benar yang dikatakan Yunho, tdak seharusnya ia meninggalkan Jessica begitu saja. Lagipula bukankah ia adalah tipe orang yang masa bodoh dengan perkataan orang lain? Ia buru-buru menyambar handuk, karena setelah mandi ada yang harus segera ia lakukan untuk ulang tahun Jessica.

Sementara Yunho melirik sekilas kemudian memejamkan matanya.

=====================================================

Jessica memandang hampa ke sekitarnya. Malam ini orang tuanya mengadakan pesta ulang tahun untuknya. Dan dengan alasan yang tidak bisa diterima Jessica, yaitu untuk menunjukkan status kekayaan mereka. Tak jauh dari tempatnya berdiri, kedua orang tuanya dan orang tua Yusin tengah membicarakan hubungan mereka. Sedang ia bersama Yusin dan teman-teman Yusin. Tenggelam dalam pembicaraan dan bualan dari mereka, yang menurut Jessica hanya sampah. Sesekali Jessica mengecek handphonenya, berharap mendapat pesan dari Jaejoong. Tapi nyatanya sampai sekarang tak satupun pesan dari lelaki itu yang ia dapat.

“aku ke toilet,” pamit Jessica.

Ia berjalan sambil menunduk. Moodnya benar-benar buruk saat ini.

“wine, nona?” tawar seorang pelayan.

Jessica yang tidak berminat, tanpa melihat pelayan itu ia mendorong tangan sang pelayan.

“atau nona ingin minuman yang lain?” tanya pelayan itu lagi sambil mengikuti Jessica dari belakang.

Jessica tidak menjawab. Saat pelayan itu kembali bertanya untuk ketiga kalinya, Jessica menjadi emosi. Ia langsung memaki pelayan itu saat memutar tubuhnya. Tapi tak sampai Jessica menyelesaikan makiannya, ia menyadari siapa yang tengah berada di hadapannya. Seorang lelaki dengan senyum khas seorang playboy, yang tentu ia kenali.

“hai..” sapa lelaki itu sedikit kikuk.

Satu detik..dua detik..dan Jessica langsung memeluk lelaki berseragam pelayan tersebut.

“Jaejoong-ah, aku akan benar-benar membunuhmu setelah ini,” ujar Jessica asal, sekedar untuk melampiaskan kemarahannya dan rasa rindunya.

Jaejoong membalas pelukan Jessica. Ia berbisik di telinga gadis itu agar mereka segera pergi dari tempat tersebut.

“kenapa kau pergi tiba-tiba dan datang tiba-tiba juga seperti ini?”

Terdengar protes dari mulut Jessica begitu mereka telah berada di atas motor Jaejoong.

“itu tidak penting. Yang jelas aku tidak akan pernah melakukan itu lagi.”

Jessica tersenyum begitu mendengar jawaban Jaejoong. Benar, ia tidak peduli alasan apapun yang membuat Jaejoong sempat pergi dari hidupnya, yang terpenting adalah bahwa lelaki itu tidak akan lagi meninggalkannya.

Jaejoong melirik Jessica dari kaca spionnya. Ia ikut tersenyum. Lalu menarik tangan Jessica agar lebih ‘memeluknya’ erat. Yang kemudian mendapat hadiah cubitan dari Jessica.

==================================================

Jessica menatap keadaan sekitarnya dengan tidak percaya. Belum cukup rasa terkejutnya karena kehadiran Jaejoong, kini ia mendapat kejutan lainnya dari lelaki itu. Ia tidak menyangka Jaejoong masih mengingat ucapannya tentang keinginannya merasakan salju pertama di bukit bintang. Ya, Jessica pernah mengatakan hal itu pada Jaejoong. Bahwa ia ingin melewati hari ulang tahunnya saat salju turun pertama di bukit di belakang sekolahnya, dengan lelaki yang ia sayangi. Juga bahwa ia ingin berjumpa dengan beruang madu yang adalah tokoh kartun kegemaran Jessica. Meski jelas itu tidak mungkin terjadi, karena ulang tahunnya bertepatan dengan musim semi.

Jessica menyalami orang dengan kostum beruang madu itu dengan senyum riang. Bahkan Jessica menepuk ‘pipinya’ karena terlalu gemas. Jaejoong juga ikut tersenyum melihatnya.

“saengil chukkae, Jessica,” bisik Jaejoong tepat di telinga Jessica.

Jessica tersenyum. Belum sampai ia menjawabnya, terdengar suara kembang api yang melambung ke langit. Membentuk serangkaian huruf ucapan selamat ulang tahun untuk Jessica. Jessica menoleh lagi ke arah Jaejoong. Ia lantas memeluk Jaejoong karena girangnya. Pemandangan yang tentu tidak diharapkan bagi orang-orang yang kini bersembunyi di balik semak-semak.

=====================================================

Jaejoong mengajak Jessica ke toko perhiasan di dekat tempat kerjanya. Hari ini ia mendapatkan gaji, dan Jaejoong ingin membelikan sesuatu untuk Jessica.

“Jessica-ya..lihat gelang ini.”

Jessica tersenyum.“cantik. Kau mau membelikannya untuk ibumu?”

Jessica menyadari kesalahannya saat raut wajah Jaejoong berubah tidak senang. Ia benar-benar lupa kalau hubungan Jaejoong dan ibunya sangat buruk.

“mian Jaejoong, aku..”

“gelang ini akan terlihat cantik di tanganmu,” potong Jaejoong, ia tidak mau mendengar tentang ibunya lagi.

Jessica memaksakan senyumnya, ia merasa tidak enak pada Jaejoong.

“atau kau mau yang lain? Cincin mungkin?”

“eh? Aku?”

“aku ingin membelikan sesuatu untukmu.”

“untuk apa? Tidak usah Jaejoongnie. Aku..”

Jaejoong meraih tangan kiri Jessica dan menyentuh cincin berlian yang ia tahu sebagai cincin pertunangan Jessica dengan Yusin.

“aku akan membelikan cincin yang jauh lebih mahal dari ini nanti. Tapi untuk sementara, maaf kalau aku hanya bisa membelikan cincin perak biasa.”

“Jaejoong, kau tidak perlu membelikan apa-apa untukku.”

“melihatmu memakai cincin dari lelaki lain..kau pikir aku tidak cemburu?”

“..aku..”

“atau kau tidak mau memakai cincin pemberian kekasihmu?” tanya Jaejoong sambil kembali memperhatikan sederatan perhiasan di meja kaca.

Jessica memasang tampang tidak mengerti. “kekasih?”

Tapi kemudian ia tersenyum sendiri. Ia menggamit lengan Jaejoong sambil ikut memperhatikan perhiasan di meja kaca. Jaejoong menoleh, lantas ikut tersenyum.

==================================================

Jessica tersenyum-senyum sendiri memandangi cincin di jari manisnya. Jaejoong, yang duduk di sebelah Jessica, lama-lama menjadi heran.

“Jessica-ya..apa kau begitu terkesima karena tidak pernah melihat cincin perak sebelumnya? Kau terbiasa dengan berlian?” canda Jaejoong.

Otomatis Jessica memukul lengan Jaejoong. Tidak keras tentu, hanya Jaejoong sedikit mendramatisir hingga ia menjerit kesakitan.

“apa aku memukulmu terlalu keras?” panik Jessica.

“tidak,” jawab Jaejoong tanpa dosa.

“ck..dasar.” Jessica kembali memandangi cincinnya.

“Jessica-ya..cepat makan makanannmu. Aku tidak mau kau melewatkan makan malammu lagi.”

Jessica tidak menyahut, ia justru semakin sibuk dengan cincin barunya. Hingga Jaejoong semakin gemas dan akhirnya menyuapkan  makanan ke mulut Jessica.

“itu hukuman kalau kau tidak menurut pada kekasihmu.” Jaejoong menunjukkan senyum kemenangan.

Jessica berpura-pura kesal selagi ia mengunyah makanannya. Padahal yang ia rasakan sekarang adalah perasaan senang. Ia menyukai cara Jaejoong menunjukkan perhatiannya. Dan yang lebih membuat Jessica senang, karena sekali lagi Jaejoong menyatakan bahwa mereka adalah sepasang kekasih.

====================================================

Jessica dan Jaejoong memilih restauran makanan Jepang untuk makan siang mereka. Setelah mereka selesai memesan, keduanya mengobrol dan bercanda seperti biasa.

“Jaejoong-ah, aku ke toilet dulu,” pamit Jessica.

“Perlu kuantar?” balas Jaejoong bercanda.

Jessica sempat mencubit tangan Jaejoong sebelum akhirnya pergi ke toilet. Beberapa menit kemudian, makanan pesanan Jaejoong dan Jessica telah diantarkan. Sampai lima belas menit kemudian, Jessica belum juga kembali dari toilet. Tentu Jaejoong menjadi khawatir. Ia mencoba menghubungi Jessica lewat telepon. Sayangnya, Jessica meninggalkan hanphonenya di dalam tas, dan tas itu ditinggalkan Jessica di meja mereka. Jaejoong memutuskan untuk menyusul Jessica. Ia membawa tas Jessica dan juga kunci motornya, untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu.

“Jessica-ya?” panggil Jaejoong saat telah berada di depan toilet wanita.

“Jessica..kau di dalam?” tanya Jaejoong sekali lagi.

Jaejoong berjalan mondar mandir di depan pintu toilet. Ia semakin khawatir karena Jessica sama sekali tidak menjawab. Ia juga tidak bisa memastikan langsung, karena tidak mungkin baginya masuk ke dalam toilet wanita.

“Jaejooongg!”

Jaejoong tersentak kaget mendengar suara yang ia kenali sebagai suara Jessica. Ia menoleh ke arah pintu keluar di dekat toilet. Sebuah mobil terparkir beberapa meter dari pintu itu. Jaejoong semakin terkejut saat ia melihat Jessica telah berada dalam mobil itu, dengan ditahan dua pria berbaju serba hitam.

“Jaejoon..mmph”

Salah satu dari pria di samping Jessica, membekap mulut Jessica. Sementara pria lainnya menahan tangan Jessica. Melihat hal itu, Jaejoong berlari menyusul mobil tersebut. Tapi saat ia keluar dari pintu, seorang pria meninjunya hingga tersungkur. Belum sampai Jaejoong bangun, dua pria lain datang dan ikut memukulinya. Tiga orang itu lantas mengkroyoknya tanpa ampun. Mereka lalu masuk ke dalam mobil. Sementara Jaejoong masih dapat bangun, ia juga menghampiri mobil itu. Dengan berbatas kaca mobil, ia dan Jessica sempat berkomunikasi sebelum mobil itu melaju. Jaejoong berusaha mengejarnya, tapi tentu sia-sia, ia bahkan terjatuh dan membuatnya memuntahkan darah lagi. Sedikit oleng, Jaejoong berlari ke parkiran untuk mengambil motornya. Ia lantas mengejar mobil itu dengan motor sport merahnya.

===================================================

Di rumah sakit….

“tuan Kim Jaejoong mengalami retak di tulang keringnya. Tangan kanannya juga mengalami patah tulang. Rusuk dadanya mengalami cedera yang paling parah. Meski saat ini Tuan Kim sudah sadar, ia perlu istirahat beberapa hari untuk memulihkan keadaannya.”

Yunho mengangguk. Terlihat ia sedikit lega, meskipun Jaejoong mengalami luka yang tidak bisa dibilang ringan, tapi setidaknya Jaejoong baik-baik saja. Sepeninggalan dokter dan suster, Yunho beserta Yoochun dan Junsu masuk ke dalam ruang rawat Jaejoong.

“Jaejoong-ah..kau baik-baik saja?”

Jaejoong mengangguk seadanya. Ia masih mengingat-ingat kejadian yang menimpanya sore tadi.

Flashback

 

Jaejoong berusaha keras untuk mengejar mobil yang membawa Jessica. Meski beberapa kali ia hampir terjatuh dari motornya karena kepalanya yang pening serta seluruh tubuhnya yang terasa sakit. Pengejaran Jaejoong tidak berakhir sia-sia. Ketika sampai di daerah sekitar apartemennya, ia berhasil menyalip, berhenti tepat di depan mobil untuk menghentikan mereka. Jaejoong lalu mengetuk kaca pintu mobil sebagai isyarat untuk meminta orang-orang yang menculik Jessica untuk turun. Tiga pria bertampang sangar turun dari mobil, sementara dua lainnya tetap di dalam untuk menjaga Jessica.

Bugh!

Salah satu dari ketiga pria itu meninju Jaejoong di bagian perut. Kemudian mencengkram kerah bajunya dan meninju perut Jaejoong sekali lagi. Jaejoong berusaha melawan dengan menendang kaki kiri pria itu. Tapi kedua pria lainnya ikut mengkeroyok Jaejoong. Mereka memukuli Jaejoong berkali-kali tanpa ampun.  Sementara itu, Jessica terus saja menangis, ia tidak tega melihat Jaejoong terluka seperti itu. Jessica ingin menolongnya tapi dua pria yang menjaganya, memegang erat lengan Jessica dan juga membekap mulutnya. Jaejoong bertahan semampunya, beberapa kali ia bertemu mata dengan Jessica. Hingga akhirnya Jaejoong tidak sanggup lagi melawan.

Tertatih, Jaejoong bangkit berdiri dan berjalan menuju motornya. Ia harus mengejar mobil yang menculik Jessica sekalipun mereka telah pergi dari sepuluh menit lalu. Tapi belum sampai ia menyalakan mesin motornya, sebuah mobil dengan kecepatan tinggi melaju ke arahnya. Jaejoong terpental dan terseret bersama motornya ke dalam gang sempit yang berada tak jauh dari apartemennya. Jaejoong memuntahkan darah begitu motor sportnya mendarat tepat di atas dadanya.

Dengan pandangan kabur, Jaejoong bisa menangkap sosok lelaki yang keluar dari mobil itu. Sosok yang membuat Jaejoong menduga siapa yang menculik Jessica. Lelaki itu menginjak telapak tangan Jaejoong dan tertawa licik.

“gelandangan. Ini akibatnya jika kau berani menyentuh tunanganku.”

Jaejoong menahan teriakannya. Ia tidak mau terlihat lemah di hadapan lelaki bernama Yusin itu.

“bastard. Kau pikir aku lupa pada kejadian malam itu? Cih.”

Yusin menendang kepala Jaejoong dengan keras. Pergi meninggalkan Jaejoong dengan langkah angkuh.

Jaejoong dengan susah payah berusaha meraih handphonenya yang juga terlempar dari saku jaketnya.

“Yun..ho..uhuk..uhuk.. Yunho..”

End Flashback

===================================================

Plak!

“anak macam apa kau ini?!”

Jessica memegangi pipinya yang perih akibat tamparan ayahnya. Pertanyaan yang menggerumul di pikirannya kini terjawab. Orang-orang yang membawa paksa dirinya dan juga memukuli Jaejoong adalah suruhan dari ayahnya. Ibu Yusin melabrak ayahnya setelah melihatnya bersama Jaejoong di lampu lalu lintas. Beliau marah saat mendengar cerita dari ibu Yusin, dan semakin marah saat Ibu Jessica juga menceritakan tentang siapa Jaejoong.

“aku membesarkanmu agar kau berbakti kepada kami. Kepada orang tuamu. Kami hanya memintamu menikah dengan Yusin dan menyelamatkan perusahaan keluarga kita. Apa itu terlalu susah untukmu?!”

Plak!

Ayah Jessica menampar Jessica sekali lagi. Meninggalkan jejak tangan yang lebih jelas dari sebelumnya. Jessica menggigit bibir bawahnya untuk meredam tangisannya.

“apa kelebihnya anak pelacur itu? Dasar anak tidak tahu diuntung,” kata Ayah Jessica sebelum pergi meninggalkan ruang tamu.

Ibu Jessica, yang sedari tadi hanya diam memperhatikan suaminya ‘menasehati’ Jessica, akhirnya bersuara. Ibu Jessica mendongakkan wajah Jessica, memaksa putrinya menatapnya.

“aku sudah memperingatkanmu, Jessica. Tapi kau sendiri yang menggali tanah kubur untuk kekasih bodohmu itu. Yusin..kau tidak berpikir kalau ia akan diam saja setelah mendengar berita ini?”

Jessica menangkis tangan ibunya dan menatap dengan penuh kebencian. Sementara ibunya balas tersenyum licik.

====================================================

Silaunya sinar matahari yang masuk melalui celah jendela kamar, membuat Jaejoong terbangun. Ia meraih handphone di meja samping tempat tidur. Sekedar memeriksa waktu dari layar handphonenya. 08:00 am. Ia kemudian berniat untuk mandi karena seluruh tubuhnya terasa lengket. Namun karena keadaannya yang masih terluka, membuatnya kesulitan beranjak dari tempat tidurnya.

“bahkan untuk pindah ke kursi roda bodoh ini aku kesulitan. Aiish..”

Jaejoong akhirnya kembali bermalas-malasan di tempat tidurnya. Tidak ada kegiatan membuatnya kembali teringat pada Jessica.

“bagaimana keadaannya sekarang?”

Baru dipikirkan, panggilan masuk dari Jessica muncul di layar handphone Jaejoong. Jaejoong lantas buru-buru mengangkatnya.

“Jessica-ya..”

“Jaejoong, dengarkan aku baik-baik. Aku ingin hubungan kita berakhir. Jangan hubungi aku lagi. Anggap kita tidak pernah bertemu.”

Jaejoong tersentak. “apa maksudmu? Apa yang terjadi?”

“aku akan menikah dengan Yusin minggu depan. Jadi mulai sekarang berhentilah menemuiku.”

“Jessica..kita bisa membicarakan hal ini. Kita harus bertemu, kita..”

“dengarkan aku Jaejoong. Aku memintamu..tidak..aku mohon kepadamu, tinggalkan aku. Aku akan menikah dengan Yusin. Untuk..untuk menyelamatkan perusahaan ayahku. Jadi tolong jangan persulit keadaanku.”

“Jessica..

“terima kasih untuk semuanya.

Tut tut tut

“Jessica? Jessica??”

Jaejoong mengecek layar handphonenya. Sambungan telepon dari Jessica telah putus.

Prang!

Jaejoong melempar handphonenya hingga pecah berserakan di lantai kamarnya yang dingin.

===================to be continue===================

One thought on “Why Did I Fall in Love with You [Part3]

  1. jadi ngeringis sendiri baca scene-scene jaejoongnya di pukulin. apalagi pas kelempar ke gang sempit. auw~

    ih jahat T.T
    ahjumma dan ahjussi ku masa pisah sih? sedih.. sedih..
    baru aja seneng karna kupul lg tapi tau-taunya udah pisah lg. hiks~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s