Pelangi itu Indah…[penggalan 1]

Sisi 1

Awal tahun ajaran baru, hari yang baru pula bagi Nadine di sekolahnya. Tepat seminggu lalu Nadine pindah rumah bersama neneknya. Di sebuah perumahan yang tak terlalu mewah tapi sangat rindang. Nadine hanya hidup berdua bersama neneknya, kedua orang tuanya telah meninggal akibat kecelakaan. Nadine tak memiliki saudara kandung, keluarga dekatnya telah hidup sendiri-sendiri dan mereka kurang dekat dengan Nadine, alhasil Nadine hidup bersama neneknya.

Kira-kira 2 tahun lalu Nadine baru tahu juga bahwa dirinya bukan anak kandung kedua orang tuanya yang telah meninggal. Ia tahu dari neneknya yang diberi amanah dari bundanya untuk menyampaikan kepada Nadine pada saat yang tepat. Ternyata kenyataan berkata lain Nadine menemukan sebuah foto bayi kembar di laci ruang perpustakaan rumahnya.

“Nenek tahu foto siapa ini?” tanya Nadine.

“Ini….” ada sebuah perasaan bingung tapi saat itu nenek tak mungkin mengatakan yang sejujurnya.

“Nenek tahu sesuatu, bukan?”

“Maafkan nenek Nadine kalau nanti akan menyakiti hatimu… foto itu adalah foto saat kau bayi.”

“Lalu yang satunya?”

“Saudaramu Nadine, seorang bayi laki-laki yang….

“Maksud nenek aku punya saudara laki-laki? Lalu sekarang dimana dia? Nadine ingin bertemu, akhirnya Nadine punya saudara juga.” Nadine mearasa bersyukur.

“Tapi Nadine, nenek tidak tahu saudaramu ada dimana. Dia menghilang.”

Dan mengalirlah cerita yang sesungguhnya dari lisan nenek. Nadine baru tahu kalau dirinya bukan anak kandung dan tenyata dia adalah anak panti asuhan yang diadopsi. Tentang saudara kembar laki-lakinya ternyata terpisah karena bundanya hanya mau mengambil seorang anak perempuan. Dan saat Nadine menanyakan tentang kabar saudara laki-lakinya, ternyata sudah tak ada lagi di panti asuhan. Setelah lulus SMP, saudaranya langsung keluar dari panti asuhan.

Nadine sudah lelah untuk mencari tahu dimana saudara laki-lakinya. Itu hanya menghabiskan waktunya yang terbuang percuma dan neneknya memberinya nasihat untuk menghentikan pencariannya. Dan menyuruhnya untuk konsentrasi belajar.

“Nek, aku berangkat dulu,” kata Nadine saat dia tidak menemukan neneknya dimana pun juga.

“Nadine…. Jangan berangkat dulu. Tunggu nenek,” teriak nenek kepada Nadine.

Akhirnya Nadine menunggu di depan teras rumah, dia memainkan rok abu-abunya yang yang baru. Tak lama kemudian nenek keluar dari rumah dengan tempat nasi yang mungil.

“Ini untuk makan siang,” kata nenek.

Nadine tersenyum melihat apa yang dilakukan neneknya, “Tidak usah nenek, aku masih bisa makan di kantin sekolah,” kata Nadine.

Raut muka nenek tiba-tiba berubah, Nadine merasa tak enak. Ia takut neneknya sakit hati. Akhirnya Nadine mengambil tempat bekal nasi dari tangan neneknya.

“Makasih nek, sepertinya aku sudah terlambat. Ini hari pertamaku aku tidak mau memberi kesan buruk kepada sekolah baruku. Aku berangkat. Assalamu’alaikum,” kata Nadine, ia langsung mencium tangan neneknya dan langsung pergi.

“Waaalaikum salam.”

Dari kejauhan neneknya tersenyum bangga, ia bangga mempunyai cucu yang berbakti. Rasa kehilangan anak dan menantunya masih sering terasa, ia tak tahan melihat Nadine murung sendiri, melamun memikirkan kedua orang tuanya belum lagi masalah saudara laki-lakinya yang belum menuai hasil.

Di halte Nadine sedang menunggu bis, sebelumnya Nadine pernah survei kapan bis datang. Jadi, Nadine santai-santai saja menunggu di halte, selain dia banyak juga orang-orang yang menunggu. Jam masih menunjukkan pukul enam lebih lima belas menit, Nadine bernafas lega.

“Semoga sekolahnya nyaman.”

 Sisi 2

Ratih mengeluarkan mobilnya dari garasi rumah dengan malas-malsan hampir saja dia menabrak pot bunga yang bejajar di samping jalanan menuju rumahnya. Ratih menekan klakson mobil dengan keras, alhasil bunyi klakson itu nyaring berbunyi dan membuat para pembantu rumahnya keluar dari dalam rumah.

“Ada apa Non?” kata salah seorang pembantu, namanya Anang.

“Nang, cuciin ni mobil, mau gue pake ke sekolah. Cepetan ya ga pake lama.”

“Wah Non udah siangan gini susah.”

“Lo bilang apa? Susah? Gue ga mau ada alasan laen! Sekarang cuci thu mobil. Gue mau mandi dulu,” kata Ratih dengan wajah super serem.

Akhirnya Anang ga punya alasan lagi untuk menghindar, kalau nonanya sudah marah sangat susah untuk menolaknya, bisa gawat nanti kalau dia dikeluarkan hanya gara-gara membuat majikannya marah. Dengan segala keterpaksaan Anang melakukan perintah Ratih. Sedangkan pembantu yang lain kembali ke pekerjaannya masing-masing.

“Dasar nona jutek!” rutuk Anang sambil menyiapkan selang air dan busa. Dan ia mulai mencuci mobil.

Ratih, seorang perempuan yang memiliki tipikal yang banyak orang kurang suka bahkan para pembantu di rumahnya banyak yang tidak suka sikapnya. Ratih adalah seorang anak bungsu dari 4 bersaudara. Memiliki 3 orang kakak yang kini telah sukses dengan impian mereka masing-masing. Kakak pertama, yang telah menikah sekarang hidup mandiri di Malang. Kakak kedua, baru saja menikah dengan teman kuliahnya. Ketiga, sedang menyelesaikan kuliahnya di Undip fakultas Hukum dan sekarang hidup di rumah sederhana bersama teman-temannya.

Alhasil, Ratih hidup sendiri bersama kedua orang tuanya. Ayahnya, seorang pembisnis namun Ayahnya bukan termasuk orang yang sibuk sepanjang waktu, karena perusahaannya telah dialihkan ke tangan anak pertamanya. Jadi, Ayahnya hanya mengontrol saja. Mamanya, seorang wanita rumah tangga yang lebih memilih mengurus rumah dan membuka salah satu usaha bunga yang kini telah melesat sampai mengeksport ke luar negeri.

Ratih termasuk anak yang paling disayang tapi karena rasa sayang yang berlebihan orang tuanya tidak menyadari bahwa anak perempuannya lama-lama berubah.

Kadang apa yang Ratih mau selalu saja dituruti padahak itu belum tentu baik untuknya.

“Ratih….turun nak, saatnya sarapan…” kata Mamanya yang sedari tadi memanggil anaknya satu ini.

“Bi, tolong jemput Ratih, takut anak itu belum selesai. Ini hari pertama dia sekolah, takutnya telat,” ujar Mama Ratih kepada pembantunya.

“Baik nyonya,” kata Bi Nari dan langsung pergi ke kamar Ratih.

Ternyata butuh waktu lama sampai akhirnya Ratih keluar dari kamar dengan dandanan yang rapi.

“Sepertinya Mama ga usah khawatir soal sekolahmu. Mama lihat kau sudah siap untuk masuk sekolah.”

“Yaiyalah Ma, kan aku sekolah bareng sama teman-teman SMP lagi. Ada Dilla, Alip dan Inggar. Makanya aku semangat banget berangkat sekolahnya,” kata Ratih sambil mengambil nasi goreng kesukaannya.

“Syukurlah kalau memang seperti itu.”

“Tapi Ratih harus ingat untuk saat ini Ayah belum bisa mengijinkan kamu memakai mobil ke sekolah,” kata Ayah tiba-tiba dan itu langsung merusak mood Ratih.

“Tapi Yah….”

“Ayah ingin melihat keseriusanmu dalam belajar, kalau memang kau bisa membuktikannya Ayah akan mengijinkanmu memakai mobil ke sekolah. Dan untuk saat ini Anang yang akan mengantarmu,” kata Ayah.

“Ayah ga asyik!” hampir saja Ratih merusak sarapan pagi ini untung saja dia masih bisa mengendalikan emosinya. Bisa gawat nantinya.

“Baik Yah,” sambung Ratih.

Dari ruang tamu, Anang mendengar obrolan majikannya dengan nonanya. Dan apesnya dia harus mendengar bahwa ia dipekerjakan untuk jadi sopir nona juteknya. Nasib sial buat Anang.

Sisi 3

Apa yang terpikirkan dari diri seorang Nadine saat mengetahui sekolahnya memang beda dari sekolahnya dulu. Banyak orang yang menurut Nadine ‘baru’, maksudnya sikap mereka kepada orang seperti dia dan pada yang lainnya. Nadine merasa mereka sangat friendly, mudah baginya untuk langsung dekat dengan mereka dari mulai yang cewek sampai yang cowok. Bahkan untuk hari pertamanya ia sudah dekat dengan seorang cewek. Iren namanya. Anak yang manis dan sangat suka tersenyum.

“Tidak pulang?” tanya Iren saat melihat Nadine duduk di sebuah bangku di kantin.

“Sebentar lagi sepertinya,” jawab Nadine.

“Bagaimana kalau kita pulang bersama? Bukankah arah pulang kita sama,” tawar Iren ke Nadine, ada nada harap di mulut Iren.

“Sepertinya bukan untuk saat ini. Maaf Iren,” kata Nadine tidak enakan.

“Oh… ga papa kok. Masih banyak kesempatan lain,” kata Iren tersenyum ke Nadine dengan manis.

“Sorry kalau aku seperti ini tapi memang aku ingin sendirian dulu,” kata Nadine menambahkan.

“Kalau begitu aku pulang saja dulu takutnya ibuku menungguku pulang,” kata Iren dan setelah mengucapkan salam pisah, Iren pergi meninggalkan Nadine.

Setelah kepergian Iren, Nadine juga meninggalkan bangku kantin. Setelah percakapannya di telepon dengan nenek soal minta ijin pulang terlambat, Nadine jadi ingin mengelilingi sekolah barunya. Sebagai murid baru, Nadine merasakan pernah mengunjungi sekolah ini sebelumnya. De javu.

Nadine berjalan mengitari sekolah, kadang ia masih menemukan murid lainnya yang masih di sekolah. Tak lupa Nadine sapa. Terus saja dia berjalan dan memasuki ruangan-ruangan kelas dan lainnya yang untung saja belum dikunci oleh petugas sekolahnya.

Akhirnya Nadine berhenti di sebuah ruangan yang bertuliskan ‘ruang musik’. Setahu dia di sekolah ini tidak ada ekskul kesenian tentang musik, yang ada juga hanya olahraga dan desain. Karena saking penasarannya, Nadine masuk ke ruangan tersebut yang ternyata sama sekali berbeda dari perkiraannya.

“Ternyata ruangan ini sangat bersih dan rapi, pasti selalu dibersihkan. Kalau begitu kenapa tidak dipakai saja,” kata Nadine.

Saat kedua matanya menyapu ruangan tersebut, bola matanya terhenti pada sebuah pemandangan yang membuat Nadine kaget. Ia melihat seseorang sedang tidur di sebuah bangku panjang. Dengan hati-hati Nadine mendekati tempat orang tersebut.

Nadine hanya geleng-geleng kepala saat mengetahui ternyata seorang laki-laki yang tidur disana. Wajahnya tertutup buku yang terbuka, hampir saja Nadine punya niatan membangunkan laki-laki tersebut namun…

“Neng! Kok ada disini? Pulang atuh…” kata seorang petugas sekolah sambil membawa segepok kunci.

Nadine langsung keluar dan menghampiri petugas sekolah tersebut.

“Eh bapak. Iya nih mau pulang pak. Tadi habis keliling dulu,” kata Nadine tenang.

“Oh… kalau begitu ditunda dulu aja Neng. Bapak mau ngunci ini ruangan, ga papa kan?” tanya sang bapak.

“Ga papa kok pak. Saya juga harus segera pulang sudah sore. Permisi pak,” kata Nadine sambil berlalu.

Akhirnya bapak tersebut masuk ke ruangan dan membangunkan laki-laki yang tadi masih tidur. Dengan agak sedikit kasar, bapak itu membangunkan pemuda itu. Dan tak lama kemudian, pemuda tersebut bangun dari tidurnya. Dia terlihat kaget saat menyadari petugas sekolah sudah di depannya.

“Kau lagi, kalau mau tidur di rumah aja yaa,” sindir bapak tersebut.

Pemuda tersebut tak peduli apa kata bapak petugas yang ia tahu tidur nyenyaknya sudah diganggu dan ia sangat tidak menyukainya. Pemuda itu langsung bangkit dari tempatnya dan berjalan malas-malasan keluar ruangan.

“Huh!….hoammm,” dengan santai pemuda tadi merenggangkan badannya dari kekakuan setelah tidur. Nyaman sekali, pikirnya.

“Sepertinya gue harus cepet-cepet cari tempat baru buat tidur,” katanya sambil berjalan pergi meninggalkan lantai 2.

Pemuda tadi bernama Agha,murid lanjutan dari SMP Andromeda yang kini melanjutkan di SMA Andromeda. Ia masih berstatus sebagai seorang pelajar yang blagu. Suka nyantai makanya motto hidupnya. Take it slowly….(yang ngerasa jangan marah). Hobinya dengerin mp4 dimanapun dan kapanpun, suka banget hal-hal yang berbau BOLA. Dari mulai begadang nonton siaran bolanya sampai main di lapangan. Tapi untuk yang lain dia ok juga kok. Voli, basket,futsal.

Agha sangat suka tidur di pagi dan siang hari. Makanya ibunya pernah mengatakan, “Sebenernya kamu thu manusia atau kelelawar. Tidur waktu pagi tapi bangun waktu malem”. Nah, ibunya aja sampai ngomong seperti itu, berarti bukan suatu kebohongan.

Agha memiliki semua yang manusia inginkan. Dari mulai keluarga yang lengkap, dia adalah anak pertama dari 3 bersaudara. Dia masih memiliki 2 orang adik yang semuanya cowok kecuali anak sebekum terakhir cewek sendiri. Ayah dan ibu, kebahagiaan, kebutuhan yang selalu tercukupi dan kasih sayang. Sayangnya ini cowok kagak ada rasa syukurnya, ia malah santai-santai saja jalanin hidup. Ok! Dalam kamusnya ga ada kata bolos sekolah atau ninggalin sekolah. Sekolah tetep prioritas pertamanya karena dia pengen banget kuliah di Jerman.

Terdengar suara ringtone hp dari saku celana Agha.

“Halo, kenapa Bu?” tanya Agha yang sekarang sudah menenteng tas menuju tempat parkir motornya.

“Gha, tolong jemput Alif di tempat lesnya sekarang juga. Kamu mau pulang ke rumah kan?”, tanya Ibunya memastikan.

“Harus sekarang?”

“Mau kapan lagi. Harus dijemput! Ibu ga mau tahu, kamu pulang harus bareng sama Alif. Ngerti Agha?”

“Iya ngerti,” kata Agha agak gondok juga disuruh jemput adik cowoknya satu ini. Adiknya, Alif les pelajaran padahal masih kelas 5 Sd. Sama blagunya kayak dia tapi lebih aliman lah. Lebih sholeh.

“Busyet dah… baru aja bangun tidur udah disuruh jemput aja udah kayak sopir nih,” runtuk Agha.

Sampai akhirnya Agha menstater motornya dan melaju meninggalkan tempat parkir. Dan dari kejauhan sepasang mata indah mengekor melihat kearah Agha sejak tadi.

“Sepertinya cowok yang tadi tidur deh,” kata Nadine lirih.

 

         Sisi 4

Ratih merutuki nasibnya dalam mobil. Setelah pulang sekolah tadi dia dan teman-temannya langsung tancap gas pergi ke mall. Dengan segala bujuk rayu akhirnya Anang, sopir barunya mau mengantarkan mereka semua. Sayang seribu sayang saat dirinya dan teman-temannya masuk ke sebuah toko, Ratih bertemu dengan Mamanya sendiri dan langsung mendapatkan perintah untuk segera pulang. Dengan segala keterpaksaan Ratih menuruti kata Mamanya dan memilih jalan pulang untuk amannya.

Sekarang Ratih berada dalam mobil. Menjejakan kakinya dengan kesal ke mobil. Mukanya ditekuk dan cemberut. Udah deh si Anang ga berani ganggu nonanya, takut kena amukan.

“Bang nyalain musik kenapa,” kata Ratih ketus.

Anang nurut aja.

“Sebel! Sebel!” teriak Ratih.

Mulai dah penyakit lama Ratih, kalau dah kesel sama orang susah buat ga hiperaktif. Seperti saat ini Ratih menjejakkan kakinya ke mobil tanpa tujuan yang jelas.

“Bang berhenti!” teriak Ratih tiba-tiba. Untung saja Anang termasuk sopir yang ahli jadinya perintah nonanya tadi tidak membuatnya kaget. Dengan mulus mobil itu berhenti tepat di depan café burger.

Langsung Ratih turun dari mobil dan menyerbu masuk ke café tersebut. Lima menit berlalu dan Ratih keluar dari café bersama bungkusan burger.

Ketika Ratih berjalan menuju mobilnya tiba-tiba ada seorang pemuda yang tak sengaja menabraknya, alhasil bungkusan burgernya jatuh. Ratih ingin sekali marah ke pemuda yang menabraknya, (udah tau lagi kesel ditabrak lagi) namun kata-kata Ratih yang sudah siap buat dikeluarin tiba-tiba bungkam seribu bahasa. Ratih malah terpukau dengan ketampanan pemuda tadi.

“Maaf,” katanya.

“Hmm, ga papa kok,” kata Ratih sambil mengambil bungkusannya yang jatuh.

“Bungkusannya tidak apa-apa kan? Atau perlu saya ganti?”

“Oh, ga usah,” kata Ratih.

“Kalau begitu saya duluan dulu,” katanya buru-buru.

Ratih cuma ngangguk-ngangguk ga jelas sambil ngeliatin bayangan pemuda tadi yang makin lama makin hilang.  Segera Ratih pergi menuju mobilnya, di dalam mobil Ratih mulai senyum-senyum sendiri ga jelas. Pikirannya menerawang ke pemuda tadi yang sempat menabraknya tak sengaja.

Dasar Ratih! Sekali ngeliat cowok kinclong aja langsung deh berubah suasana hatinya, dari mulai badmood sekarang ganti goodmood. Di depan, Anang cuma bisa geleng-geleng kepala memaklumi sikap nonanya itu.

Di lain tempat, pemuda tadi yang baru saja ngebuat Ratih jadi orang gila sementara (abis senyum sendiri ga jelas). Pemuda tadi memang berbeda dari orang kebanyakan, perawakannya yang tinggi dan wajah yang mendukung membuatnya jadi lirikan cewek-cewek. Namun jangan salah, cowok ini juga memiliki punya keunikan tersendiri.

Dafa, cowok tampan yang masih duduk di SMA kelas 1 ini mempunyai keunikan, dia setiap harinya bekerja sampingan menjadi loper majalah dan Koran (itu kalau pagi). Setelah pulang sekolah biasanya Dafa bekerja di sebuah restoran yang bisa dibilang lumayan besar dan rame yang menawarkan gaji besar dan tentunya mau menerima pegawai SMA. Biasanya susah nyari tempat kerja yang mau mempekerjakan anak sekolah. Untung saja dia memiliki banyak kenalan makanya dia masih bisa bertahan di restoran. Kira-kira sudah 4 bulan lamanya dia bekerja disana.

Dafa bukan termasuk cowok yang membuang waktunya untuk bermain atau nyantai. Dia lebih baik belajar dapet beasiswa dan bekerja mengumpulkan uang untuk biaya rumah sakit. Perlu diketahui, Dafa hanya memiliki seorang Ibu asuh yang sekarang sedang berada di rumah sakit. Ibunya mengidap penyakit asma akut yang harus segera dioperasi, untung saja ada orang dermawan yang mau menanggung biaya rawat inap Ibunya, hanya tinggal tunggu uang banyak darinya untuk operasi maka Ibunya akan kembali sehat.

Dafa memasuki restoran melalui jalan belakang, ia menyapa orang-orang dewasa yang sangat dekat dengannya. Dafa tahu dirinya hanyalah anak kecil di restoran ini jadi ia tak mau berbuat macam-macam. Dafa segera mengganti bajunya dengan seragam kerjanya, dan langsung on di tempatnya.

“Ada kerjaan?” tanya Dafa kepada seorang wanita yang menjadi penyaji makanan.

“Sepertinya ada, coba kau keluar. Mungkin saja ada kerjaan lain,” jawabnya.

“OK!”

“Eh Daf!” seru seorang laki-laki dari balik badan Dafa.

“Apa Kak?” tanya Dafa saat tahu orang itu adalah Kak Ardhi. Atasannya.

“Bagaimana rasanya  jadi murid SMA, hari ini hari pertamamu masuk sekolah kan?”

“Tau aja Kak. Ya… begitulah. Rasa yang susah diartiin. Seneng-seneng aja udah jadi anak abege githu. Hehehe…”

“Belajar yang bener, jangan kerja melulu. Kau juga perlu ijazah SMA buat ngelamar kerja. Mungkin aja bisa jadi orang kantoran beneran,” kata Kak Ardhi.

“Pastilah Kak.”

“Ya udah kerja sana.”

“Siip,” kata Dafa, meninggalkan Kak Ardhi.

Dafa memulai kerjanya di restoran dari mulai pulang sekolah sampai malam pukul delapan. Kadang kalau ga lagi rame biasanya Dafa menyempatkan diri buat belajar di dapur atau kalau lagi ga sibuk juga Dafa biasanya ngobrol dengan para koki sambil belajar memasak.

“Selamat siang. Ada yang bisa saya bantu,” begitulah sapaan Dafa kepada setiap pelanggan restoran. Memberikan pelayanan yang terbaik.

“Saya mau pesan menu special siang ini. 2 porsi,” kata seorang laki-laki.

“Ada lagi pak? Mungkin hidangan penutup special dari koki kami, baru saja menu ini ada. Bapak ingin mencobanya?” tawar Dafa.

“Bagaimana Azza?”

“Aku mau mencobanya,” kata Azza.

“Baiklah 2 porsi juga,” kata bapak tadi.

“Siap pak, pesanan akan segera datang,” kata Dafa.

Dafa langsung pergi menuju ruang dapur untuk menyerahkan menu pesanan. Dan melayani tamu lainnya yang baru saja datang.

Dari kejauhan sepasang mata memperhatikan gerak gerik Dafa. Ada sebuah ketertarikan dari dalam diri Dafa yang membuat sepasang mata tadi tak lepas mengekor memperhatikan Dafa, walaupun dari belakang.

“Ada apa denganmu Azza?” tanya Ayahnya.

“Ah! Apa Yah?” tanya Azza balik.

Ayahnya hanya  tersenyum melihat kelakuan anak perempuan tunggalnya.

“Daritadi Ayah perhatikan kamu melihat kearah pelayan cowok yang tadi ke meja kita, ada apa memangnya? Masak anak perempuan Ayah jatuh cinta sama pelayan sih?” kata Ayah Azza.

“Gak lah Yah,” kata Azza tegas.

“Masak aku jatuh cinta sama pelayan ga mungkinlah,” kata Azza membela diri.

Ayahnya hanya mengangguk saja, ia tak mau menghancurkan makan siang kali ini hanya karena masalah sepele. Biarlah anak perempuannya mau  jatuh cinta sama siapa saja, yang penting soal pernikahan harus ada persetujuan dari dirinya. Akhirnya, Ayah memilih topik soal sekolah yang baru saja Azza masuki.

“Ya… ga begitu membosankan. Apakah Ayah tidak punya kenalan sekolah lain? Azza rasa sekolah disana terlalu mewah, Azza lebih menyukai sekolah yang biasa aja. Kalau yang sekarang Azza merasa hanya bergaul dengan teman-teman yang dari status konglomerat,” kata Azza.

“Berarti Ayah sudah salah memasukanmu kesana,” kata Ayah sendu.

“Ayah ga salah kok, Azza akan bersekolah disana dulu. Kalaupun Azza tidak betah, bisakan Azza minta pindah?” kata Azza berharap.

“Tidak ada yang tidak buat putri ayah ini,” kata Ayah mengusap kepala Azza dengan lembut.

 -bersambung-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s