Lovin’ You [Part 2 of 3]

Tittle : Lovin’ You [Part 2 of 3]

Genre : Roman

Cast : Park Jungso a.ka Leeteuk

           Nam Gyuri

 

Cerita sebelumnya…..

Jungso, Gyuri, dan Yikyung sudah sampai di sebuah cafe tak jauh dari perpustakaan. Gyuri duduk di kursi paling ujung dekat jendela. Jungso menyusul dengan duduk didepannya. Sedangkan Yikyung dengan santainya langsung duduk disamping Jungso tapi tangannya segera ditarik Gyuri untuk duduk disebelahnya.

……………………………

”terima kasih Jungso-sshi sudah mau mengantar kami kesini” ucap Gyuri dan Yikyung. Jungso menganguk lalu matanya beralih ke Gyuri.

 

”apa?” tanya Gyuri ketus.

 

”kau pulang jam berapa hari ini?” tanya Jungso yang sukses membuat Gyuri dan Yikyung terkejut.

 

”apa urusanmu menanyakan itu?” ujar Gyuri berusaha tenang.

 

”hmm… hanya bertanya,” balas Jungso.

 

”perpustakaan tutup jam 5 sore. Bisa kau pikirkan sendiri jam berapa aku pulang,” ujar Gyuri yang langsung melengos dari hadapan Jungso.

 

”hei, Gyuri-ya tunggu aku!” teriak Yikyung. Yikyung membungkuk sebentar pada Jungso dan menyusul Gyuri.

 

”hei Gyuri. Kenapa kau langsung pergi? Dasar tidak tahu sopan santun,” oceh Yikyung. Gyuri duduk di kursi pada meja informasi perpustakaan dengan malas.

 

”eehm… Gyuri, sepertinya Jungso itu menyukaimu deh,” celetuk Yikyung. Jantung Gyuri langsung serasa copot mendengar kata-kata itu.

 

”hah… bodoh, aku baru bertemu dengannya kemarin. Mana mungkin dia menyukaiku,” ujar Gyuri sambil mengetuk-ngetuk telunjuk pada meja.

 

”aku serius. Kau memang baru mengenalnya kemarin, tapi sepertinya dia sudah mengenalmu cukup lama. Ingat saat dia meminta kuning telurmu? Aku saja tidak tahu kau tidak suka kuning telur.”

 

”bisa saja dia punya indera keenam,” sahut Gyuri enteng.

 

”aish… jangan berpikir ke hal mistis dulu. Berpikirlah kearah lain. Hmm..  mungkin selama ini dia adalah stalker-mu. Haha….”

 

”aish… itu tambah tak masuk akal! Apa gunanya dia jadi stalker-ku,” seru Gyuri sebal.

 

”Gyuri, tidak usah mengelak. Aku tebak saja, sore nanti dia pasti datang kesini untuk menjemputmu. Apa guna dia menanyakan jam berapa kau pulang selain melakukan itu. Iya, kan?”

 

”iya terserah kau saja. Sekarang pergi dari sini sebelum Tuan Lee menegur kita!”

 

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

 

Pulang dari pekerjaannya Gyuri dan Yikyung langsung menuju halte bis. Yikyung masih mengoceh tentang Jungso.

 

”lebih baik kau tunggu saja dia. Nanti dia akan menjemputmu,” goda Yikyung, Gyuri menjitak kepala Yikyung dengan kuat.

 

”berhenti membicarakan dia!”

 

”bis jurusanku sudah datang. Selamat berkencan Gyuri-ya!!” teriak Yikyung sebelum dia masuk bis. Gyuri hampir melemparkan tasnya ke kepala Yikyung kalau pintu bis tidak langsung tertutup.

 

”aish… apa maksudnya selamat berkencan? Dasar Yikyung sialan!”

 

Gyuri membuka flip handphone-nya dan memainkannya sebentar. Menunggu adalah hal yang membosankan.

 

Setelah beberapa menit, bis jurusannya datang. Gyuri langsung melangkah masuk. Sejenak dia berhenti melangkah mengingat kata-kata Yikyung.

 

‘Aku tebak saja, sore nanti dia pasti datang kesini untuk menjemputmu’

 

”hah… kau salah Yikyung-ah. Aku tetap pulang naik bis dan tidak ada yang menjemputku,” guman Gyuri.

 

Dia memasuki bis dan mengambil satu-satunya tempat duduk yang kosong. Ini sudah jam pulang kerja, bis pasti sangat ramai.

 

Gyuri duduk dengan tenang dikursinya sebelum sebuah suara mengagetkannya.

 

”Gyuri-ya?” ujar orang disebelahnya. Gyuri menoleh cepat kesebelahnya. Laki-laki itu membuka hoodie nya. Dan Gyuri dapat melihat jelas wajah laki-laki itu. Gyuri menghelah nafas dan langsung membuang mukanya.

 

”hei, kau kenapa?” tanya orang itu.

”kau yang kenapa? Apa yang kau lakukan disini Jungso-sshi?!” ujar Gyuri jengkel. Jungso tertawa melihat tampang Gyuri.

 

”ini bis milik pemerintah, dan mereka menyediakan bis ini untuk masyarakatnya. Siapa saja boleh ada disini asal dia membayar ongkos perjalanannya” balas Jungso sambil menghentikan tawanya.

 

”cih~ kau kan punya motor, kenapa naik bis?”

 

”motorku sedang dibengkel.”

 

Gyuri mendengus lalu memilih diam dalam perjalanannya.

 

Gyuri sudah sampai di halte terdekat dari kost-annya. Dia langsung  turun tanpa berpamitan dengan Jungso.

 

”apa gunanya berpamitan denganya??” pikir Gyuri.

 

Gyuri berjalan menuju kost-annya. Beberapa menit berjalan, Gyuri merasa ada yang mengikutinya. Dia mempercepat langkahnya. Tapi semakin cepat dia melangkah, semakin terdengar hentakkan sepatu orang itu.

 

Gyuri yang sudah kelelahan dengan jengkel menoleh kebelakang. Dan dia menemukan orang yang sama.

 

”yaaaa, kau mengikutiku?!” teriak Gyuri. Jungso dengan nafas terengah-engah berjalan mendekati Gyuri.

 

”aku hanya memastikan kalau kau baik-baik saja,” ujar Jungso santai tapi membuat Gyuri menegang.

 

”memangnya aku anak kecil perlu dijaga?”

 

”kau memang bukan anak kecil. Tapi kau orang yang labil”

 

Gyuri menendang kaki Jungso dengan kuat dan langsung berjalan mendahuluinya. Laki-laki itu meringis pelan lalu mengikuti langkah Gyuri.

 

”baiklah, apa mau mu mengikutiku Park Jungso-sshi? Kau mau aku teriaki pencopet dan kau dihajar habis-habisan oleh warga sini?” ujar Gyuri tajam. Jungso berkacak pinggang sambil memiringkan kepalanya.

 

”jangan berpikir negatif dulu padaku…”

 

”lantas katakan alasan kenapa kau mengikutiku?!” teriak Gyuri.

 

”baik-baik, tapi kau jangan marah,” ujar Jungso akhirnya. Gyuri mengerut dahinya.

 

”cepat katakan! Baik atau tidak aku akan terus berteriak padamu,” seru Gyuri. Jungso menghelah nafas panjang.

 

”hmm… hari minggu ini keponakkanku ulang tahun. Dia bilang padaku kalau dia ingin bertemu barbie. Jadi… kau bersedia tidak jadi barbie untuknya?”

 

”mwo? Jadi kau pikir aku badut ultah apa?!”

 

”tidak, bukan maksudku menjadimu badut ultah. Tapi… err.. bagaimana ya? Kau… cocok jadi barbie.” ucap Jungso sambil menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Wajah Gyuri sedikit memerah.

 

”dimana-mana yang namanya barbie kan cantik. Berarti aku juga cantik. Atau jangan-jangan, dia hanya merayuku saja agar aku mau jadi badut ultah keponakkannya? Grrrr!!!” pikir Gyuri.

 

”aku tidak mau!” tolak Gyuri mentah-mentah.

 

”please Gyuri-ya. Keponakkan ku itu baru berumur 5 tahun. Saat ulang tahunnya nanti, orang tuanya tidak bisa datang karna banyak pekerjaan di perusahaan mereka. Yang merayakan ulang tahunnya hanya aku dan dia. Aku takut dia akan menangis nanti,” mohon Jungso.

 

Gyuri sedikit prihatin. Bukan karna Jungso yang memelas, tapi karna nasib keponakkan Jungso yang sangat malang itu. Masih kecil sudah sering diabaikan orang tua. Itu sebabnya terjadi banyak kasus pergaulan bebas. Orang tuanya saja tidak peduli dengan anaknya.

 

”baiklah, tapi tidak ada orang lain yang melihatku jadi barbie selain kau dan keponakkanmu itu,” ujar Gyuri akhirnya. Senyum Jungso langsung mengembang mendengarnya.

 

”gomawo Gyuri-ya. Nanti hari minggu aku akan menjemputmu jam 1 siang. Sekali lagi terima kasih.”

 

”ne. Tapi tunggu dulu,” cegah Gyuri. Jungso menatapnya heran.

 

”wae?”

 

”berhenti memanggil ku ‘Gyuri-ya’, kita belum genap seminggu berkenalan kau sudah berani memanggilku seperti itu!”

 

”tidak apa-apa kan? Biar lebih kedengaran akrab.”

 

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

 

Jungso PoV

 

YES!!!!

Akhirnya rencana yang sudah kupikirkan jauh hari berhasil juga. Terimakasih untuk keponakan ku tersayang ….. aku benar-benar merasa sangat senang. Apalagi saat aku melihat wajah Gyuri yang merah padam saat aku mengatakan ia cantik seperti Barbie…

Kalian jangan salah sangka…dan jangan mengecapku sebagai namja gombal!

Aku benar-banar tulus mengatakan dengan sepenuh hati dan tulus. Nam Gyuri memang cantik seperti Barbie.

 

Aku sedikit kecewa, saat Gyuri melarangku memanggilnya ‘Gyuri-ya’. Ia bilang mereka baru bertemu semingguan ini. ah….andai saja kau tak se-babo itu Gyuri. Pastinya kau akan sangat senang saat aku memanggilmu dengan sapaan seperti itu. Maafkan aku, jika aku mengatakanmu babo, tapi itulah kenyataannya.

 

Mungkin ini baru permulaan. Aku yakin suatu saat nanti, kau akan mengingatku Gyuri…..

 

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

 

”kenapa kau mengajak ku kesini, Jungso-sshi?” geram Gyuri saat Jungso mengajaknya ke salon. Jungso berdecak pelan.

 

”barbie itu harus diriasi. Mana ada Barbie berwajah menyeramkan seperti mu,” celetuk Jungso. Gyuri baru mengangkat tangannya untuk menjitak kepala Jungso sebelum seorang perempuan <– dalam tanda kutip datang menghampiri mereka.

 

”tuan muda Park Jungso, anda sudah datang. Mari duduk dulu,” tawar nya. Gyuri menyeringit.

 

”tuan muda? Wow…” kekeh Gyuri dalam hatinya.

 

Jungso menarik tangan Gyuri duduk di sofa yang ada didalam salon itu.

 

Salon itu terlihat sangat sepi. Dan juga tampilan salonnya, sepertinya ini salon elit. Gyuri berdecak kagum untuk Jungso.

 

”jadi gadis ini yang anda ceritakan Tuan muda? Cantik juga,” ujar ‘perempuan’ itu. Jungso menganguk pelan sambil menahan senyumnya.

 

”kau ceritakan apa dengannya?” tanya Gyuri sambil menyikut lengan Jungso.

 

”bukan apa-apa, aku hanya bercerita tentang kau yang jadi barbie,” ujar Jungso santai. Gyuri menganguk tanda mengerti.

 

”yasudah, mari anda saya riasi nona manis,” ujarnya dan langsung membuat Gyuri bergidik.

 

Setelah 1 jam diriasi, akhirnya perjuangan Gyuri selesai juga. Gyuri menatap dirinya di cermin. Dibalut gaun pink rose, rambut ikal lalu disatukan seperempatnya kebelakang, dan sebuah mahkota berukuran kecil bertengger di kepalanya.

 

”aku seperti mau ikut festival kostum saja,” guman Gyuri sambil terkekeh pelan.

 

”bagus juga,” ujar sebuah suara. Gyuri menoleh kesebelahnya. Gyuri langsung terkejut melihat tampilan Jungso.

 

”ke-kenapa kau berpakaian seperti itu?” tanya Gyuri ngeri karna Jungso sekarang berpakai bak pangeran yang mau nikah *hehehee*

 

”kalau ada barbie, pasti ada pangerannya kan?”

 

Gyuri bergidik menatap Jungso disebelahnya.

 

”apa maksudmu pasti ada pangerannya?” tanya Gyuri masih dengan tatapan ngeri.

 

”kau pernah nonton barbie tidak sih?!” oceh Jungso.

 

”ja-jadi kita akan menjadi putri dan pangeran. Begitu?” tanya Gyuri was-was. Jungso menganguk pelan.

 

”sudahlah tidak usah khawatir. Keponakkanku tidak akan menyuruh kita untuk berciuman kok”

 

”apa?!”

 

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

 

”ingat kau berikan kado ini padanya. Bilang saja ini darimu. Oke?” ujar Jungso sambil memberikan sebuah bingkisan pada Gyuri. Gyuri hanya angguk-angguk saja.

 

”ohya, bersikaplah sedikit anggun. Ingat kau barbie sekarang,” kekeh Jungso. Gyuri menatapnya kesal.

 

Mereka melangkah masuk ke dalam rumah besar didepan mereka. Jungso langsung mengajak Gyuri kekamar keponakkannya itu. Mereka masuk kedalam kamar bernuansa pink dengan wallpaper barbie yang membuat mata Gyuri silau.

 

”sepertinya dia tidur. Kau bangunkan dia, tapi hati-hati. Aku akan membawa kue nya kesini,” bisik Jungso ditelinga Gyuri. Gyuri bergidik dan menjauhkan telinganya dari Jungso.

 

”wae?” tanya Jungso. Gyuri langsung menggeleng cepat.

 

Jungso langsung keluar dari kamar pink itu. Gyuri masih setengah sadar akibat tadi. Wanita itu memperhatikan kamar keponakkan Jungso itu. Ada sebuah tulisan dari foam ‘Shin Minji’. Sepertinya nama keponakkan nya Jungso itu. Gyuri kembali melihat-lihat kamar Minji, kamar itu didomisnasi dengan pink + barbie + Jungso.

 

”kenapa banyak sekali foto anak ini bersama Jungso???”

 

Gyuri melirik ke kasur. Disitu terbaring gadis kecil yang sedang tertidur. Gyuri tersenyum melihat wajah gadis kecil itu.

 

Gyuri mendekat ke kasur lalu mengelus kepala Minji pelan. Jujur saja Gyuri sangat menyukai anak kecil, apalagi yang imut-imut seperti Minji ini.

 

Gyuri melihat Minji sedikit bergerak lalu tidak lama kemudian wajah gadis kecil itu terbuka. Gyuri berusaha memasang senyum terbaiknya.

 

”annyeong putri Minji….” ujar Gyuri masih dengan senyumnya. Minji langsung merubah posisi tidurnya jadi duduk.

 

”kau barbie?” tanyanya polos. Gyuri tertawa kecil lalu menganguk.

 

”waaa, barbie sungguhan!” teriaknya lalu secara tiba-tiba memeluk Gyuri. Gyuri sedikit kaget tapi akhirnya membalas pelukkannya.

 

”saengil chukhahamnida saengil chukhahamnida… saranghaneun uri Minji… saengil chukhahamnida..” suara Jungso terdengar dari luar kamar Minji. Gyuri menarik tangan Minji untuk keluar kamar. Gadis kecil itu langsung berteriak histeris saat melihat Jungso dengan tampilan ala pangeran Willian nya membawa cake berbentuk barbie.

 

”oppa!!” teriak Minji. Anak itu langsung menghambur memeluk oppanya sampai-sampai kue yang dipegang Jungso hamipr jatuh. Tapi Gyuri cepat mengambil alih kue nya.

 

”oppa lihat ada barbie! Dia datang ke ulang tahunku oppa!” ujar Minji masih dengan polosnya. Jungso tersenyum lalu mengelus kepala Minji pelan.

 

”oppa kan sudah janji pada Minji akan mengundang barbie saat ulang tahun mu. Kau senang?” tanya Jungso. Minji menganguk cepat dan kembali memeluk Jungso. Jungso membalas pelukkannya lalu mengecup dahi Minji.

 

”hei, tiup dulu lilinnya. Sudah mencair banyak sekali nih,” panggil Gyuri. Jungso melepaskan pelukkannya lalu menarik tangan kecil Minji ke meja makan.

 

”Minji ucapkan permintaan Minji lalu tiup lilinya. Arraseo?” ajar Jungso. Minji menganguk lalu menuruti perintah Jungso.

 

”aku mau barbie dan Jungso-oppa menikah dan mereka akan selalu menemaniku tiap hari.”

 

Jungso dan Gyuri kaget setengah mati mendengar perkataan Minji. Bahkan mereka tak bertepuk tangan saat lilin nya sudah ditiup oleh Minji.

 

”a-apa yang anak ini bicarakan?!!” teriak Gyuri dalam hatinya.

 

”aduh, Minji kelewat polos. Maksudku kan ucapkan permintaannya didalam hati, bukan dilafalkan. Mana permintaanya seperti itu lagi,” Jungso ikut merutuk dalam hatinya.

 

”yeeeey, yeeeey, yeeey…” teriak Minji. Hanya Minji yang berteriak. Jungso dan Gyuri masih terdiam.

 

”oppa, kado untuk Minji mana?” tuntun Minji. Jungso mengerjapkan matanya berkali-kali lalu menatap Minji yang tersenyum didepannya.

 

”ahh… i-iya, oppa sampai lupa kado untuk Minji,” ujar Jungso kikuk. Jungso mengambil bingkisan di sebalahnya dan memberikannya pada Minji.

 

”huaaah… besar sekali!” teriak Minji. Minji menoleh pada Gyuri menuntut sesuatu.

 

”ahya, onnie eh maksudnya barbie juga membawa kado untuk Minji,” ujar Gyuri dengan senyum paksa.

 

”waaaa, kadonya besar-besar! Gomawo oppa, gomawo barbie.”

 

Minji memeluk Jungso dan Gyuri sekaligus. Dan itu memaksa Jungso dan Gyuri untuk berdekatan. Gyuri hanya bisa membuang mukanya dari Jungso. Dia terlalu malu untuk menatap laki-laki itu.

 

Mereka sekarang tengah memakan kue ulang tahun. Gyuri hanya memandangi kue itu karna dia tidak suka makanan manis.

 

”habiskan kue nya. Nanti Minji marah,” ujar Jungso sedikit berbisik. Gyuri menghelah nafas lalu memaksakan kue itu masuk kemulutnya.

 

”barbie, barbie,” panggil Minji. Yora menoleh kearah Minji. Menatap wajah polos disebelahnya yang belepotan krim kue.

 

”wae, sayang?” tanya Gyuri sambil mengambil tisu dan membersihkan wajah Minji.

 

”di TV, barbie sangat pintar menari dan bernyanyi. Aku ingin melihatnya barbie.”

 

Gyuri langsung terdiam mencerna perkataan Minji.

 

”aduh, anak ini benar-benar. Masak dia menyuruhku menari-nari sambil bernyanyi seperti di film barbie di TV,” rutuk Gyuri dalam hatinya.

 

”maaf ya Minji, barbie sedang tidak bisa melakukannya,” ujar Gyuri halus. Raut wajah Minji langsung kecewa.

 

”tapikan aku mau melihatnya,” Minji mulai merengek-rengek. Gyuri bersumpah tidak akan pernah menjadi barbie lagi.

 

Tiba-tiba tangan Gyuri tertarik. Jungso menarik tangan Gyuri berdiri. Gyuri sedikit kaget dibuatnya.

 

”tenang saja Minji. Oppa dan barbie akan menari sambil bernyanyi seperti yang ada di TV.”

 

Gyuri langsung menatap Jungso syok. Baru dia akan protes sebelum Jungso mencelanya.

 

”jangan buat Minji kecewa, Gyuri..” ujarnya sembari menarik tangan Gyuri ketempat yang lebih luas.

 

”kau gila Jungso-sshi? Saat di taman kanak-kanak saja teman-teman mengejekku karna tubuhku tidak selincah mereka. Dan sekarang kau menyuruhku menari sambil bernyanyi seperti barbie TV  itu?!”

 

”tenang saja. Kita tidak akan menari dan melompat-lompat seperti di TV itu. Hanya gerakkan biasa. Kita dansa buka menari.”

 

”tapi-tapi… aku tidak bisa,” rengek Gyuri. Jungso berdecak pelan lalu menarik lengan Gyuri. Laki-laki itu menaruh tangan Gyuri di bahunya sendiri.

 

”a-apa yang kau lakukan?” tanya Gyuri syok. Jungso menarik pinggang Gyuri lebih mendekat padanya. Lalu menempatkan tangannya di pinggang Gyuri.

 

”sudah kubilang kita dansa. Kau ikuti saja gerakkan kaki ku,” ujar Jungso santai. Gyuri menganguk pasrah.

 

Kaki Jungso mulai bergerak maju-mundur, kiri-kanan. Gyuri hanya mengikutinya saja. Saat Gyuri sedang serius memperhatikan kaki Jungso. Dia tidak sadar kalau Jungso mengeluarkan suaranya untuk bernyanyi.

 

Gyuri terlihat terkagum-kagum mendengar suara Jungso. Gyuri mengangkat wajahnya menatap Jungso yang sedang tersenyum menatapnya dan pandangan mereka bertemu.

 

Jungso dan Gyuri saling bertatapan lama. Saling menelusuri wajah di depan mereka satu sama lain. Entah kenapa tiba-tiba saja jantung Gyuri berdesir kuat.

 

Wajah Jungso yang dekat dengan wajahnya membuat Gyuri bisa melihat semuanya. Mata coklat itu, hidung mancung itu, dan bibir itu.

 

”Teukie ~~..” kata itu langsung melintas dalam pikiran Gyuri.

 

Tiba-tiba Jungso mendekatkan wajahnya ke wajah Gyuri. Gyuri menelan ludahnya sendiri. Ketika wajah mereka semakin dekat, Jungso memejamkan matanya. Gyuri sedikit terkaget. Tapi entah setan apa yang merasuki tubuhnya, Gyuri malah ikut memejamkan mata dan….

 

”yeeeyy!! Hebat!!” teriak Minji dan sontak membuat Jungso dan Gyuri membuka mata mereka. Posisi wajahnya mereka yang sangat berdekatan membuat mereka salah tingkah. Jungso dan Gyuri langsung menjauhkan posisi mereka yang berdempetan.

 

”aku mau nonton film barbie!!”

 

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

 

Jungso, Gyuri, dan Minji sedang di ruang tengah. Mereka menonton film barbie yang sudah diputar berulang-ulang kali di TV. Minji memaksa mereka untuk ikut menonton.

 

Ditambah lagi posisi Minji yang minta di pangku menambah beban keduanya. Jungso dan Gyuri duduk bersebelahan sedangkan Minji duduk di paha kanan Jungso dan di paha kiri Gyuri. Badan Minji yang berat membuat darah dipaha Jungso dan Gyuri tidak mengalir sempurna dan membuat mereka kesemutan.

 

”sebentar lagi pembuluh darah di pahaku akan pecah,” rutuk Gyuri. Jungso yang mendengar itu langsung menoleh.

 

”sabar saja. Kakiku juga sangat kesemutan,” ujar Jungso sedikit berbisik.

 

Beberapa menit menonton Minji mulai terlihat lelah. Dia bersandar di bahu Jungso dan Gyuri dan tidak lama kemudian Minji mulai tertidur.

 

Jungso yang mendengar dengkuran kecil dari Minji langsung menatap gadis kecil disamping. Jungso tersenyum lega melihat Minji yang tertidur.

 

”hah… Gyuri, Minji sudah tertidur. Kita bisa bebas…” kata-kata Jungso terhenti saat melihat Gyuri yang juga tertidur. Jungso tersenyum kecil lalu menggendong Minji ke kamarnya.

 

Jungso kembali lagi ke ruang tengah. Laki-laki itu duduk kembali disebelah Gyuri yang terlelap. Tangan kanan Jungso bergerak merengkuh bahu Gyuri, membuat wanita itu bersandar dengannya.

 

Jungso memperhatikan wajah Gyuri yang terlelap dengan saksama. Laki-laki itu mendekatkan wajahnya ke wajah Gyuri. Menyentuh pipi Gyuri dengan hidungnya, mengeseknya pelan. Lalu mengecup pipi wanita itu.

 

”Gyuri, kenapa kau tidak pernah menyadari bahwa aku ini Teukie-mu. Apa perlu aku yang mengatakannya?”

 

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

 

Gyuri membuka matanya lalu masih dengan setengah sadar melihat sekitarnya. Dia ada di kamarnya. Namun sedetik kemudian dia langsung mengubah posisi tidurnya jadi duduk lalu mengacak-acak rambut.

 

”hah… perasaan terakhir aku bangun, aku berada di rumah Jungso,” guman Gyuri. Dia kembali mengingat kejadian di rumah Jungso itu. Dan dengan cepat dia melihat sekujur tubuhnya sudah dibalut baju kaos dan celana biasa dan entah milik siapa.

 

”huahhh…!!! Siapa yang melakukan ini?!”

 

Gyuri berhambur keluar, teman-teman satu kost-nya langsung menatapnya heran.

 

”jam berapa aku pulang kesini?!” tanyanya agak berteriak.

 

”jam 4 sore, kenapa memangnya?” tanya salah satu dari mereka.

 

”siapa yang mengantarku pulang?” tanya Gyuri lagi.

 

”pacarmu” jawab mereka bersamaan. Gyuri menyeringit.

 

”siapa pacarku?!” teriak Gyuri kaget.

 

”siapa lagi kalau bukan laki-laki yang mengantarmu pulang waktu itu. Kau harus berterima kasih dengannya. Dia sudah susah payah menggendongmu yang tertidur seperti orang mati ke kamarmu”

 

”dia menggendongku ke kamar? A-apa saat aku pulang aku memakai pakai aneh seperti barbie?”

 

”kau ngigau? Saat kau pulang dan pacarmu itu menggendongmu kesini, hanya pakaian itu yang menempel ditubuhmu”

 

”a-apa? Jadi dia yang…. Arrrgg!!!!”

 

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

 

”awas saja. Kalau hari ini aku bertemu dengannya. Aku akan langsung kuhabisi nyawanya!!” geram Gyuri saat dia memasuki gedung perpustakaan.

 

Gyuri terus merutuk dalam hatinya. Bahkan pada saat seorang pelanggan perpustakaan akan meminjam buku, dia sering mengoceh tak jelas.

 

Pintu perpustakaan yang besar terbuka. Gyuri menoleh sebentar lalu kembali menekuni pekerjaannya. Namun sedetik kemudian dia baru menyadari siapa orang itu.

 

”Jungso!” teriak Gyuri. Mata seluruh pengunjung perpustakaan langsung tertuju pada Gyuri. Gyuri langsung cengengesan dan membungkuk berkali-kali.

 

”wae?” sebuah suara menghentikan aktifitasnya. Dia mendongak menatap Jungso dengan kesal.

 

”apa?” tanya Jungso tak mengerti.

 

Gyuri menarik tangan Jungso ke tempat yang lebih sepi, agar dia bisa membentak Jungso dengan sepuas hatinya.

 

”apa yang kau lakukan padaku kemarin?!!” teriak Gyuri tertahan.

 

”memangnya apa yang ku lakukan padamu kemarin?” Jungso balik bertanya. Gyuri mengerang kesal. Wanita itu langsung menendang kaki laki-laki di depannya tanpa aba-aba.

 

”awww… ssh.. apa yang kau lakukan, babo!!” ringis Jungso.

 

”kau! Kau melecehkanku kan kemarin? Huh? Ayo mengaku, dasar laki-laki kurang ajar!!” Gyuri memukul-mukul tubuh Jungso tanpa henti. Jungso yang jengah dengan pukulan Gyuri langsung menahan tangan wanita itu.

 

”apa maksudmu kalau aku melecehkanmu? Kau pikir aku ini laki-laki mesum apa?”

 

”kau memang laki-laki mesum! Kau berani-beraninya membuka bajuku! Dasar! Aku benci, aku benci!!” Gyuri meronta-ronta saat tangannya dipegang kuat oleh Jungso.

 

”aish… aku tidak membuka bajumu. Pikiran apa yang melandamu sehingga kau menuduhku seperti itu?”

 

”kau brengsek!” Gyuri masih meronta-ronta. Air matanya mulai keluar dari sudut matanya, membuat Jungso terkesiap.

 

”Gyuri-ya, tenanglah. Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan. Aku tidak mungkin melakukan hal zina seperti itu,” ujar Jungso mencoba menenangkan Gyuri. Gyuri mulai terisak-isak. Rontaan tubuhnya melemah.

 

”kau bohong. Lalu bagaimana bisa aku pulang kost-an ku sudah memakai baju kaos dan celana biasa. Dan aku tidak tahu sama sekali baju siapa itu,” isak Gyuri. Jungso menghelah nafas menyadari apa yang dibicarakan oleh Gyuri. Jungso mengangkat wajah Gyuri agar dia bisa menatapnya.

 

”dengarkan aku. Aku tidak pernah melakukan hal seperti itu padamu. Yang menggantikan pakaimu itu noona ku. Setelah beberapa saat kau tidur noona ku pulang. Dan dia melihatmu dengan pakaian barbie itu. Noonaku menyuruhku menggendongmu kekamarnya agar dia bisa mengganti bajumu dan membersihkan make-up,” jelas Jungso tanpa henti.

 

”aku tidak percaya,” balas Gyuri masih sesugukan. Jungso menggaruk kepalanya yang tidak gatal sampai rambutnya berantakan.

 

”apa perlu aku telpon noonaku dan menyuruhnya menjelaskan padamu?” tanya Jungso akhirnya. Gyuri hanya diam. Menundukkan kepalanya yang memerah sehabis menangis.

 

”kau percaya padaku?” tanya Jungso memastikan kediaman Gyuri. Gyuri hanya menunduk. Mereka sekarang seperti sepasang kekasih yang mencoba mempertahankan hubungan mereka.

 

”Gyuri…” panggil Jungso lagi. Gyuri mengangkat wajahnya lalu menatap Jungso. Tiba-tiba Jungso menarik tangan Gyuri mendekat padanya lalu mendorong punggung Gyuri agar wanita itu terjatuh didadanya.

 

Gyuri terkesiap, dia baru menyiapkan ancang-ancang untuk berteriak sebelum suara Jungso menyelanya.

 

”kau percaya padaku?” bisik Jungso tepat ditelinga Gyuri. Seketika wajah Gyuri memerah. Ini pertama kalinya seorang laki-laki memeluknya sepertinya ini lalu membisikkan sesuatu di telinganya.

 

”Gyuri-ya,” panggil Jungso lagi. Gyuri yang salah tingkah langsung menganguk-angguk saja. Gyuri dapat mendengar Jungso menghelah nafas panjang. Dan dia juga dapat merasakan pelukkan Jungso semakin erat.

 

”aku tidak mau kau berpandangan buruk padaku. Terima kasih sudah percaya padaku,” ujar Jungso pelan. Gyuri menelan ludahnya, jantungnya juga langsung berdetak kencang saat Jungso mengatakannya.

 

”mi-mianhae,” ucap Gyuri terbata-bata. Jungso menganguk lalu kembali mengeratkan pelukkannya. Gyuri hanya bisa pasrah akan hal itu. Dan jujur saja, Gyuri merasa nyaman dipeluk Jungso. Kehangatan dadanya membuat Gyuri berkali-kali menyurukkan wajahnya ke dada Jungso.

 

”ehem… ini perpustakaan bukan tempat pacaran!”

 

Tubuh Jungso dan Gyuri tersentak. Dengan cepat melepaskan pelukkan mereka dan menoleh kesumber suara. Wajah Gyuri langsung memerah saat melihat Yikyung berkacak pinggang tak jauh dari nya.

 

”hah… kalian ini. Untung aku yang melihat kalian berpelukkan. Kalau sampai Tuan Lee yang melihatnya, aku yakin kalian langsung tewas ditangannya. Haha….”

 

”Yikyung-ah, berhenti tertawa!! Dan siapa yang kau bilang pacaran?!”

 

++++++++++++TO BE CONTINUE++++++++++++++++++

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s