Lovin’ You [Part 3 of 3]

Tittle : Lovin’ You [Part 3 of 3]

Genre : Roman

Cast : Park Jungso a.ka Leeteuk

           Nam Gyuri

 

”Minji bilang dia ingin bertemu denganmu lagi,” ujar Jungso tiba-tiba. Gyuri dan Jungso sedang berada di sebuah kafe untuk makanan siang. Yikyung tidak ikut karna dia membawa bekal.

 

”mwo? Aku tidak mau jadi barbie lagi!” tolak Gyuri langsung.

 

”bukan seperti itu. Minji ingin melihat wujud aslimu.”

 

”wujud asli? Memangnya aku setan?”

 

”aku tidak bilang kalau kau setan. Kau yang menafsirkannya sendiri.”

 

”aaiya, aku mengalah saja denganmu,” ucap Gyuri sebal. Jungso tertawa lebar menatap wajah sebal Gyuri. Gyuri sedikit tersentak saat melihat tawa Jungso.

 

”wae?” tanya Jungso membuyarkan lamunan Gyuri.

 

”ani… hanya saja. Ehm.. kau mirip seseorang,” ujar Gyuri ragu. Jungso menatapnya penuh minat.

”seseorang? nuguya?” tanya Jungso. Gyuri mengetuk-ngetuk jarinya pada meja lalu memperhatikan cincin di jarinya.

 

”kau mirip dengan teman masa kecilku. Yang memberi cincin ini,” ujar Gyuri masih memandang cincin di jari manisnya. Sisi bibir Jungso tertarik.

 

”jeongmal?”

 

”ne. Mata, hidung, dan wajah kalian hampir mirip. Tapi temanku itu memiliki pipi yang tembam, tidak cekung sepertimu.”

 

”itukan sewaktu kecil dia banyak makan. Saat dewasa, bisa saja dia seperti aku. Badan profosional dan wajah tampan,” ujar Jungso sambil tertawa. Gyuri menatap wajah Jungso jengkel.

 

”kau itu kekurusan, bukan profosional. Dasar kelewat narsis!” seru Gyuri lalu ikut tertawa.

 

”hmm… Gyuri-ya,” panggil Jungso tiba-tiba.

 

”ne?” balas Gyuri santai.

 

”hari ini… kau pulang jam berapa?”

 

Tubuh Gyuri langsung menegang. Jungso terlihat salah tingkah. Gyuri baru akan membuka mulutnya sebelum Jungso mencela.

 

”perpustakaan tutup jam lima kan? Pasti kau akan menyuruhku berpikir sendiri jam berapa kau pulang. Iya, kan? Haha…”

 

Gyuri langsung terdiam memandang Jungso yang tertawa terpaksa lalu menghelah nafas.

 

”aku pulang jam empat,” ujar Gyuri tanpa memperdulikan Jungso yang masih tertawa. Tapi seketika Jungso menghentikan tawanya dan memastikan apa yang dia dengar.

 

”kau bilang apa tadi?”

 

”aku bilang, hari ini aku pulang jam empat. Masih tidak dengar juga??”

 

Jungso agak sedikit kaget. Tapi lama-kelamaan wajah Jungso yang semula berkerut, berubah jadi cerah. Dia menahan senyumnya dan menganguk.

 

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

 

Gyuri melangkah keluar gedung perpustakaan. Baru satu langkah dia meminjakkan kakinya dijalan raya. Tiba-tiba sebuah motor sport berhenti didepannya. Gyuri mendongakkan wajahnya lalu menatap pengemudi motor itu.

 

”hai,” sapa Jungso.

 

”hai.” Gyuri balik sapa.

 

”kau sudah pulang?” tanya Jungso, Gyuri pun menganguk pelan.

 

”kalau begitu cepat naik,” ujarnya sembari menunjuk jok penumpangnya.

 

”apa maksudmu dengan kata ‘naik’?” tanya Gyuri sok polos. Padahal dia sudah mengerti maksud Jungso.

 

”kau sudah pulang kan? Kalau begitu cepat naik. Aku tidak suka berlama-lama.”

 

”tapikan aku pulang naik bis.”

 

”aish…”

 

Masih dalam posisi duduk di motornya, Jungso menarik tangan Gyuri paksa. Laki-laki itu menepuk jok penumpangnya.

 

”naiklah!”

 

Gyuri mendengus pelan, tapi saat Jungso mengalihkan pandangannya Gyuri langsung tersenyum senang.

 

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

 

”besok kau ada acara?” tanya Jungso tiba-tiba. Mereka sudah berada di depan kost-an Gyuri.

 

”besok? Tidak ada,” jawab Gyuri santai.

 

”ya sudah, besok aku jemput jam sepuluh disini.”

 

”hah? Memangnya mau kemana?” tanya Gyuri kaget. Jungso tersenyum lalu turun dari motornya. Laki-laki itu berdiri di depan Gyuri, tangannya terangkat dan mengacak-acak rambut Gyuri lembut.

 

”kita ke taman bermain,” ujar Jungso masih mengaca-acak rambut Gyuri. Gyuri langsung salah tingkah, wajahnya memerah.

 

”kau mau?” tanya Jungso lagi. Gyuri cepat tersadar dan menganguk.

 

Jungso kembali tersenyum. Dia mendekatkan wajahnya ke wajah Gyuri lalu mengecup dahi wanita itu. Gyuri kembali tersentak. Wajahnya benar-benar seperti udang rebus sekarang.

 

”aku pulang dulu. Dan jangan lupa besok jam sepuluh,” ujar Jungso sembari menaiki motornya dan langsung melongos begitu saja.

 

Gyuri masih terdiam. Tidak percaya apa yang dilakukan Jungso tadi. Tapi setelah beberapa detik dia mulai berteriak.

 

”kyaaa umma~…apa yang dilakukan Jungso tadi. Hoaaa, wajahku jadi panas begini. Aku malu sekali!!”

 

Gyuri melangkah masuk ke kost-annya. Dia langsung berbaring di tempat tidur. Pikirannya terus melantur saat Jungso mencium dahinya.

 

”ahh…!! Aku bisa gila. Rasanya aneh sekali. Menyenangkan??? Kenapa aku tidak langsung menghajarnya tadi? Arrgg!!”

 

Gyuri melirik jaket Jungso yang sampai sekarang belum dikembalikannya. Wanita itu meraih jaket itu, dia bisa mencium aroma tubuh laki-laki itu di jaketnya. Entah kenapa wajah Gyuri kembali memerah.

 

”Jungso orang yang baik,” guman Gyuri. Dia tersenyum seperti orang gila. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada cincin dijari manisnya. Seketika jaket Jungso yang berada ditangannya terlepas.

 

”aish… apa yang aku pikirkan! Astaga. Maafkan aku Gyu, aku tidak akan mengkhianatimu. Aku terus menunggumu”

 

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

 

Jam sepuluh pagi. Gyuri sudah berdiri didepan pagar kost-annya menunggu Jungso.

 

”awas saja kalau dia sampai mengerjaiku,” guman Gyuri.

 

Brum…brum..

 

Gyuri mendengar rauangan motor yang khas. Dia menoleh kesumber suara lalu berdecak pelan saat motor itu berhenti di depannya.

 

Jungso menaikkan kaca helmnya lalu tersenyum.

 

”hai,” sapanya singkat. Gyuri membuang mukanya.

 

”wae?”

 

”wae?? Hanya itu yang bisa keluar dari mulutmu?” oceh Gyuri tak jelas. Jungso mengerjapkan matanya tak mengerti.

 

”kau tidak usah sok innocent. Kau menciumku sembarangan kemarin. Dasar kurang ajar!”

 

Gyuri mencubit lengan Jungso kuat. Jungso meringis, tapi tidak lama kemudian laki-laki itu tertawa.

 

”kenapa kau baru marah sekarang? Bukannya semalam kau bisa memarahiku langsung. Atau kau langsung konslet setelah aku cium ya,” goda Jungso. Gyuri langsung cemberut dan memukuli lengan Jungso.

 

”diam kau! Sudah aku tidak jadi ikut saja.”

 

Gyuri membalik tubuhnya hendak masuk kedalam kost-annya. Jungso  buru-buru turun dari motornya dan mencegah tangan Gyuri.

 

”kau ini. Kau sudah siap-siap, dan aku sudah susah payah menjemputmu. Masak tidak jadi pergi,” sungut Jungso. Dia menarik tangan Gyuri sampai kedepan motornya.

 

”naiklah. Kalau semakin siang, taman bermain akan semakin ramai” ujarnya lalu menaiki motornya duluan. Gyuri hanya diam.

 

”apa lagi?” tanya Jungso kesal.

 

”kenapa kau pakai motor,” ujar Gyuri sambil menunjuk kesal motor Jungso.

 

”memangnya mau pakai apa lagi?”

 

”kau kan punya mobil!”

 

”aish… memangnya kenapa kalau pakai motor?”

 

”hari inikan panas, Jungso-sshi.”

 

”sudahlah cepat naik. Kau kan bisa berlindung di punggungku,” ucap Jungso akhirnya. Gyuri mendengus pelan lalu menaiki motor Jungso.

 

”lagi pula, dengan motor kita jauh lebih mesra kan?” ujar Jungso yang langsung membuat Gyuri kaget.

Gyuri memukul punggung Jungso kesal.

 

”apa maksudmu mesra?!”

 

”aigoo kau ini. Aku kan hanya bercanda. Ya sudah, cepat pegangan. Nanti jatuh.”

 

Gyuri mendesah pelan lalu melingkarkan lengannya di pinggang Jungso. Setelah itu Jungso langsung memacu motornya dengan kecepatan sedang. Karna dia trauma akibat Gyuri. Semalam pinggangnya habis dicubiti Gyuri karna mengendarai motor terlalu cepat.

 

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

 

”kau mau main apa?” tanya Jungso. Mereka sudah sampai di taman bermain dan sudah membeli tiket.

 

”hmm… main apa ya. Aku sudah lama tidak kesini,” ujar Gyuri sambil melihat wahana-wahana disekitarnya.

 

”bagaimana kalau itu,” Jungso menunjuk sebuah kincir yang diputar-putar. Gyuri bergidik melihatnya.

 

”kau… yakin?” tanya Gyuri tak pasti.

 

”kenapa memangnya?”

 

”ti-tidak apa-apa.”

 

”yasudah, kita naik!”

 

Jungso langsung menyeret tangan Gyuri menuju antrian wahana itu. Gyuri hanya bisa mengumpat dalam hati.

 

Beberapa menit kemudian…

 

”hueeek, rasanya aku mau muntah,” ujar Gyuri setelah turun dari wahana itu. Gyuri yang sedikit limbung langsung dipegangi oleh Jungso.

 

”mianhae… kita naik yang lebih tenang saja sekarang,” ujar Jungso masih memegangi Gyuri. Gyuri hanya menganguk sebisanya.

 

Jungso menggenggam tangan Gyuri dan berjalan menuju wahana lain.

 

”bagaimana kalau naik perahu bebek saja? Angin sejuk bisa memulihkan mual-mualmu,” tawar Jungso sambil menunjuk kolam yang penuh dengan perahu bebek.

 

Gyuri yang masih sempoyongan hanya mengangguk-angguk saja. Mereka berjalan menuju kolam. Setelah memilih perahunya, Gyuri dan Jungso langsung menaiki perahunya.

 

”hati-hati,” guman Jungso saat membantu Gyuri menaiki perahu.

 

Mereka sudah di dalam perahu. Gyuri mulai asyik menggayuh pedal perahu bebeknya.

 

”Jungso-sshi! Lebih cepat kayuhnya!” perintah Gyuri. Jungso hanya menurut-nurut saja.

 

”kenapa kau lambat sekali? Dasar lemah!” oceh Gyuri lagi. Jungso menatap Gyuri jengkel lalu dengan tangan jahilnya. Jungso menyipratkan air kolam ke wajah Gyuri.

 

”yaaaa, Jungso-sshi!!! Aku jadi basah!!”

 

”haha…soalnya kau cerewet sekali sih!”

 

”ya tapikan tidak usah menyiramku!”

 

Gyuri membalas cipratan oleh Jungso. Dan terjadilah perang air di antara Jungso dan Gyuri.

 

”untung perahunya tadi tidak terbalik. Kalau sampai begitu, bisa basah kuyup kita!” ujar Gyuri saat mereka mencari wahana yang lain.

 

04.30 PM

 

”ini sudah sangat sore,” ujar Gyuri saat mereka baru turun dari wahana rolles coaster.

 

”iya, kita makan dulu. Nanti baru pulang, bagaimana?”

 

Gyuri menganguk. Mereka mulai berjalan keluar gerbang taman bermain. Jungso menuntun Gyuri ke parkiran motornya.

 

”pakai jaketku. Sore ini mulai banyak angin,” ujar Jungso sambil memasangkan jaketnya ke bahu Gyuri.

 

”oh ya, jaketmu waktu itu masih ada padaku. Setelah sampai rumah nanti ku kembalikan.”

 

Jungso menganguk lalu menaiki motornya di susul oleh Gyuri. Gyuri langsung melingkarkan lengannya di pinggang Jungso dan menyandarkan wajahnya dipunggung laki-laki di depannya tanpa risih seperti dulu.

 

”kau lelah Gyuri-ya?” tanya Jungso saat dalam perjalanan. Jungso merasakan Gyuri menganguk.

 

”setelah makan, aku akan mengantar mu pulang,” ujar Jungso lalu sedikit mempercepat laju motornya.

 

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

 

”Gyuri-ya, kita sudah sampai di kost-anmu,” panggil Jungso karena Gyuri tak kunjung turun dari motornya. Tangan wanita itu terus melingkar di pinggang Jungso.

 

”Gyuri-ya?” panggil Jungso lagi. Jungso sedikit menepuk lengan Gyuri di pinggangnya. Gyuri mulai menggeliat.

 

”kau tertidur?” tanya Jungso.

 

”hoaam, mianhae Jungso-sshi. Angin malam membuatku benar-benar mengantuk.”

 

”untung kau tidak jatuh di jalan tadi!”

 

”iya, maaf-maaf”

 

Gyuri turun dari motor Jungso dengan sedikit sempoyongan. Jungso ikut turun dan memegangi tangan Gyuri agar tidak jatuh

 

”terima kasih kau sudah mengajak ku ke taman bermain Jungso-sshi. Aku terhibur,” ujar Gyuri sambil membungkuk.

 

Jungso menganguk lalu mengusapkan telapak tangannya di puncak kepala Gyuri.

 

”ne, aku juga senang kau mau menemaniku hari ini. terima kasig Gyuri-ya,” ujar Jungso. Laki-laki itu mencondongkan tubuhnya lalu mengecup pipi Gyuri.

 

Jungso menjauhkan tubuhnya mencoba melihat reaksi Gyuri. Tapi Gyuri hanya diam.

 

”kenapa kau tidak marah?” tanya Jungso heran. ”Atau jangan-jangan kau senang kalau aku menciummu?” lanjutnya lagi dengan nada mengejek.

 

Gyuri mendengus pelan. ”aku sedang malas. Marah-marahnya di tunda besok saja di perpustakaan.”

 

”aku tidak akan ke perpustakaan besok.”

 

”ya sudah, besoknya lagi.”

 

”besoknya lagi aku juga tidak ke perpustakaan.”

 

”ya sudah, aku tunggu sampai kau datang ke perpustakaan,” ujar Gyuri dengan nada malas. Matanya tinggal 5 watt lagi.

 

”aku tidak akan ke perpustakaan lagi, Gyuri-ya…” balas Jungso.

 

”wae?”

 

”karna besok aku akan pindah New York.”

 

Gyuri melebarkan matanya yang hampir terpejam mendengar perkataan Jungso.

 

”MWOO??!!” teriaknya tanpa sadar.

 

”aku akan pindah,” ulang Jungso lagi. Gyuri menatapnya tidak percaya.

 

”kenapa kau baru bilang sekarang?” tanya Gyuri sambil mengerucut bibirnya.

 

”aku tidak sempat mengatakannya. Karena itu hari ini aku baru mengatakannya padamu.”

 

”oohh, jadi jalan-jalan hari ini adalah jalan-jalan perpisahan?”

 

”bisa dibilang begitu.”

 

Gyuri hanya bisa menunduk lesu. Jungso tersenyum geli lalu dengan satu tangannya, laki-laki itu menyentuh pipi Gyuri.

 

”sudah jangan sedih. Kita kan masih bisa telponan atau mengirim e-mail kan?” goda Jungso. Gyuri tambah cemberut.

 

”telpon ke luar negeri mahal!” ujar Gyuri sambil membuang mukanya.

 

Jungso kembali tersenyum geli. Namun sedetik kemudian Jungso menarik tangan Gyuri dan membawa Gyuri masuk kedalam pelukkannya.

 

”kau marah denganku?” tanya Jungso.

 

”untuk apa marah denganmu!” balas Gyuri ketus. Jungso tertawa kecil lalu mengeratkan pelukkanya. Gyuri tidak menolak sedikit pun.

 

”sebenarnya, aku boleh saja tetap tinggal di Korea. Asalkan….”

 

”asalkan apa?”

 

”asalkan aku membawa calon istriku ke hadapan orang tuaku.”

 

Gyuri melepaskan pelukkan Jungso lalu menatap laki-laki didepannya ragu.

 

”ca-calon istri?” ulang Gyuri. Jungso menganguk.

 

”apa kau sudah menemukannya?” tanya Gyuri hati-hati. Jungso lagi-lagi menganguk.

 

”tapi, aku tidak berani mengatakannya pada dia.”

 

Gyuri terdiam. Dia sedikit penasaran siapa yang Jungso bilang calon istrinya. Tapi dia terlalu malas untuk bertanya, dia sudah terlanjut badmoon mendengar Jungso mengatakan menemukan calon istri.

 

”aaiya, aku masuk dulu Jungso-sshi,” ujar Gyuri sembari membalik tubuhnya.

 

Gyuri menghelah nafas panjang lalu mengulur tangannya untuk membuka pintu pagar kost-annya. Namun tiba-tiba tangannya tecegat. Gyuri menoleh ke samping lalu menatap Jungso disebelahnya.

 

”wae?” tanya Gyuri.

 

”aku ingin mengatakannya sekarang.”

 

”mengatakan apa?”

 

”bahwa kau adalah calon istriku.”

 

”MWO?!” teriak Gyuri kaget. Jantungnya terasa jatuh ketanah.

 

”candaanmu benar-benar tidak lucu Jungso-sshi!” sungut Gyuri mencoba menenangkan dirinya.

 

”apa aku terlihat sedang bercanda sekarang?” balas Jungso dingin. Gyuri langsung terdiam.

 

”aku sudah mencoba mendekatimu selama beberapa hari ini. Dan aku rasa, kau juga memiliki perasaan yang sama denganku.”

 

”mwo? Percaya diri sekali kau!”

 

”aku sudah melihatnya selama beberapa hari ini, Gyuri-ya”

 

”kau gila. Cari saja calon istrimu yang lain!”

 

Gyuri membalik tubuhnya tapi lagi-lagi ditahan oleh Jungso.

 

”kenapa? Apa aku kurang baik denganmu?” ujar Jungso sedikit memaksa.

 

”kau sangat baik padaku, Jungso. Tapi maaf, aku sudah punya calon suami ku sendiri.”

 

”siapa?” tanya Jungso dengan nada bicara sedikit meninggi.

 

”kau tidak akan tahu kalau aku menceritakannya!”

 

”aku tidak peduli. Siapa dia? Aku akan menemuinya agar dia merelakanmu jadi milikku!” paksa Jungso. Gyuri menghelah nafas.

 

”baik, dia teman masa kecil ku. Namanya Teukie, kalau kau bisa temui dia dan bawa dia ke hadapanku. Katakan padanya bahwa kau ingin memiliki ku!” teriak Gyuri penuh emosi. Jungso sejenak terdiam. Kaget dan lega secara bersama menjalar ke tubuhnya.

 

Kaget karena orang yang dimaksud Gyuri adalah dirinya sendiri, lega karena Gyuri masih memilihnya.

 

”kenapa kau diam Jungso-sshi? Kau tidak sanggup kan? Sudahlah, lebih baik cari calon istrimu yang lain saja.”

 

Gyuri masuk begitu saja ke dalam kost-annya. Sedangkan Jungso masih terdiam. Tiba-tiba sebuah pemikiran aneh muncul di otaknya.

 

”tenang saja Gyuri-ya, aku akan membawakan Teukie-mu itu ke hadapanmu!” ujar Jungso mantap

 

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Jungso PoV

 

Sungguh hari yang melelahkan. Tidak hanya fisik tapi juga hati. Hari ini aku mengajak Gyuri ke taman bermain. Wahhh….sangat menyenangkan sekali menghabiskan waktu bersama Gyuri kembali. Setelah puluhan tahun tak merasakannya. Senang bisa melihat wajah Gyuri yang senang dan juga marah. Itu membuatku ingin tertawa saja.

Gyuri…andai kau tahu bahwa aku adalah Teukie mu….

Maukah kau selalu ada di sampingku.

Aku ingat kembali ke masa laluku

 

ini cincin untukmu,” ujar seorang anak laki-laki. Gadis kecil di depannya menatapnya takjub.

 

untuk ku?! Jeongmal??” kata gadis kecil itu hampir berteriak.

 

Dialah cinta pertamaku. Nam Gyuri.

 

iya. Kita akan menikah saat dewasa nanti. Jadi tunggu aku ya, Gyuri-ya

 

uhm…”

 

Walaupun saat itu kau hanya mengangguk sambil tersenyum aku yakin kau menepati janjimu untuk menungguku. Senang sekali, kalau itu memang terwujud.

 

Malam ini pun aku sedih juga, aku baru menyadari bahwa tanggal dimana aku harus balik ke New York sudah tinggal menunggu hari. Lusa aku harus menyiapkan passport dan visa ku. Aku lupa bahwa waktu yang aku miliki untuk menyadarkanmu makin sedikit. Aaahhh…. Gyuri mengapa kau begitu babo! Bagaimana bisa kau tak mengenaliku? Apakah gara-gara nama yang tak sama??? Ayolah, apakah nama begitu penting!!!!

 

Aku benar-benar stress setengah mati. Apalagi setelah aku menunjukan rasa sayang dan cintaku padamu. kau belum juga menyadarinya.

 

Akhirnya! Aku mengatakan bahwa aku akan pergi ke New York. Aku tahu saat itu kau tak mau aku  pergi, begitu juga padaku. Tapi mengapa kau tak ada niatan untuk mencegahku??? Gyuri…apakah kau se-babo itu???

 

Baiklah, ke-babo-an mu aku maafkan, karena kau sudah mebuatku yakin akan keputusanku.

Gyuri-ya…aku akan mendatangkan Teukie kehadapanmu, dank au tak boleh menolakku lagi

Saranghae Gyuri-ya…^^

 

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

 

Gyuri menyusun buku-buku di rak perpustakaan dengan hati jengkel. Pikirannya masih melayang ke kejadian semalam. Saat Jungso melamarnya.

 

”lamaran gila!” umpat Gyuri.

 

Gyuri terus menyusun buku-buku di tangannya sampai semuanya habis. Gyuri kembali ke meja informasi lalu duduk menopang dagunya.

 

”rasanya sedikit menyesal menolak lamaran Jungso. Karena ya… Jungso memang sangat baiknya terhadapku,” pikir Gyuri.

 

Gyuri melirik cincin di jari manis kirinya. Lalu menghelah nafas.

 

”tapi mengingat wajah Teukie kecilku, aku jadi tidak tega. Pokoknya aku akan selalu menunggumu Teukie!!” teriak Gyuri dalam hatinya.

 

Pintu besar perpustakaan terbuka, Gyuri reflek menoleh. Tubuhnya langsung menegang melihat orang yang membuka pintu itu.

 

”dia bilang akan pindah ke New York? Ck, goetjimal,” guman Gyuri.

 

Gyuri pura-pura tidak melihat Jungso. Dia mengambil buku dan pura-pura menulis disana. Gyuri merasakan Jungso sudah ada di depannya. Gyuri masih pura-pura menulis.

 

Tiba-tiba tangan Gyuri ditarik. Gyuri mendongak kasar lalu berteriak.

 

”YAA! Kau mau bawa aku kemana?! Lepaskan aku!!” teriak Gyuri. Jungso tidak memperdulikannya dan tetap menarik Gyuri keluar gedung perpustakaan.

 

”kau mau bawakan aku kemana?! Ini masih jam kerja tau!!” jerit Gyuri lagi. Beberapa orang memperhatikan mereka heran.

 

”tutup saja mulutmu!”

 

”tapi aku masih ada jam kerja!!”

 

”kau mau bertemu si Teukie itu atau tidak?” tanya Jungso tanpa melirik Gyuri. Gyuri langsung terdiam dan tidak lama kemudian dia histeris.

 

”kau menemukan Teukie? Teman masa kecilku itu??” tanya Gyuri tak percaya. Jungso menganguk dan cepat mendorong Gyuri masuk ke dalam mobilnya.

 

Gyuri tetap memasang tampang tak percaya saat dalam perjalanan. Ia menatap Jungso selama perjalanan. Dan sampai akhirnya Jungso mengajak Gyuri turun dari mobilnya.

 

Mereka memasuki sebuah rumah. Di dalamnya gelap dan hanya ada cahaya matahari masuk dari celah-celah gorden.

 

”ini rumah siapa Jungso-sshi? Kenapa kita masuk-masuk saja?” tanya Gyuri khawatir. Jungso hanya diam dan mengajak Gyuri ke sebuah ruangan yang juga gelap.

 

”Jungso-sshi, jangan main-main denganku. Kita tidak akan bertemu Teukie kan?!”

 

”kita akan bertemu dengannya,” ujar Jungso santai.

 

Jungso menekan tombol lampu di dinding. Ruangan seketika terang. Ada sebuah kaca besar yang terpotong jadi lima bagian. Jungso menarik Gyuri ke depan kaca.

 

”mana Teukie?” tanya Gyuri tidak sabaran. Jungso berdiri di samping Gyuri sambil tersenyum lebar.

 

Laki-laki itu memegangi bahu Gyuri agar menatap lurus kedepan kaca.

 

”kau lihat siapa yang ada dalam kaca itu?” tanya Jungso masih dengan senyum lebar.

 

”kau dan aku. Ayolah Jungso-sshi, jangan main-main.”

 

”kau tidak lihat di kaca itu juga ada Teukie mu.”

 

”hanya ada kita berdua, Park Jungso gila!” ucap Gyuri mulai kesal. Jungso berdecak pelan lalu membawa Gyuri lebih dekat lagi ke kaca.

 

”kau tidak lihat? Teukie itu ada di sampingmu. Lihatlah.”

 

Jungso menunjuk dirinya sendiri yang berada dalam kaca. Gyuri mengerut dahinya tidak mengerti.

 

”aiish…. aku adalah Teukie mu, Gyuri!” ujar Jungso sambil memegangi bahu Gyuri menghadapnya. Gyuri mengerjapkan matanya berkali-kali lalu tertawa.

 

”Haha…bagus sekali kau Jungso-sshi. Kau ingin mencoba menipuku?”

 

Gyuri melepaskan bahunya dari tangan Jungso lalu berjalan keluar ruangan. Tapi Jungso mencegatnya.

 

”aku serius Gyuri. Aku Teukie mu itu. Aku teman masa kecilmu, aku yang memberikan cincin itu padamu, aku yang dulu berjanji akan menikahi mu saat kita dewasa.”

 

”lelucon macam apa ini? Aku tidak percaya!”

 

”apa aku harus mengatakan semua kebiasanmu dulu agar kau percaya? Aku tahu semuanya tentang dirimu, Gyuri-ya. Aku tahu kau tidak suka kuning telur, aku tahu kau suka makanan laut tapi kau benci tentakel gurita, aku tahu kau suka susu stroberi. Sewaktu kecil kau mempunyai boneka beruang yang sangat kotor karena tidak pernah kau cuci, aku tahu kau punya luka jahitan di pahamu karena tergores besi tua di samping rumahmu. Aku tahu kau sering mengambil uang kecil di dompet umma mu dulu untuk membeli permen!”

 

Gyuri langsung terdiam mendengar perkataan Jungso. Semuanya benar. Bahkan rahasianya sering mengambil uang di dompet ibunya Jungso juga tahu.

 

”da-dari mana kau tahu semuanya?” tanya Gyuri tak percaya.

 

”sudah aku bilang, aku ini Teukie”

 

Gyuri menggeleng pelan. ”nama kalian itu berbeda jauh!!” teriaknya emosi.

 

”Teukie adalah nama panggilanku dan Jungso memang nama asliku. Aku tahu kau memanggilku Teukie karena dulu semua teman sekolah kita memanggilku Teukie-ya, iyakan?”

 

Gyuri menganguk.

 

”kau memang terlalu polos Gyuri-ya…kau bahkan tak bertanya nama asliku siapa.”

 

Gyuri terdiam. Dia masih ragu dengan penjelasan Jungso. Dan ini memang murni kesalahannya waktu kecil, harusnya ia tahu banyak soal Teukie-nya dan Park Jungso.

 

”kau pernah bilang aku mirip dengan teman masa kecilmu kan? Apa kau tidak pernah berpikir bahwa aku ini Teukie?” tanya Jungso sambil mengangkat wajah Gyuri yang tertunduk agar bisa menatapnya. Gyuri dengan ragu menggeleng pelan.

 

”aku sudah berusaha menunjukkan padamu bahwa aku ini Teukie. Tapi kau tidak pernah sadar,” jelas Jungso lagi. Mata Gyuri mulai berkaca-kaca.

 

”kau yang bodoh!! Kenapa kau tidak bilang saja padaku?! Kau itu sudah berubah drastis. Dulu kau agak bulat dan dulu badanmu jauh lebih pendek dariku!!” teriak Gyuri kesal. Air matanya mulai mengalir.

 

”semua orang bisa berubah soal postur badan, Gyuri. Dan aku tidak memberi tahumu karena aku ingin kau menyadarinya sendiri,” ujar Jungso sambil menghapus air mata Gyuri.

 

”tapi kau malah menyiksaku. Aku mencarimu kemana-mana,” balas Gyuri dengan sesugukan.

 

”aku tahu, justru itu aku menemuimu sekarang. Percayalah padaku dan ikutlah aku menghadap orang tuaku,” ujar Jungso sungguh-sungguh. Gyuri masih menatap Jungso ragu.

 

”kita sudah berjanji akan menikah saat kita dewasa kan?” tanya Jungso lagi. Gyuri menganguk pelan.

 

”maka dari itu kita harus menepati janji kita, Gyuri.”

 

Gyuri mendongak menatap Jungso. Dia menghapus air matanya lalu melingkarkan lengannya di pinggang Jungso. Menumpahkan sisa air matanya ke baju Jungso.

 

Jungso yang awalnya terkejut beberapa detik kemudian membalas pelukkan Gyuri erat.

 

”jadi, kau ikut aku hari ini ke New York untuk menghadap orang tuaku?” tanya Jungso memastikan. Dia merasakan Gyuri menganguk pelan di dadanya.

 

Jungso pun tersenyum lalu mengecup puncak kepala Gyuri lembut.

 

”tapi kau harus minta izin dulu dengan orang tuaku,” ujar Gyuri sambil mengangkat wajahnya. Jungso tersenyum lalu melepaskan pelukkan mereka.

 

”baiklah, ayo kita ke rumah orang tuamu!”

 

Jungso langsung menarik tangan Gyuri. Mengajaknya  berlari menuju mobil yang terparkir di depan rumah itu. Masuk kedalam mobil dengan tergesa-gesa dan langsung menancap gas menuju rumah orang tua Gyuri.

 

…………….

Haengbokkae…..ini akibat cinta darimu Gyuri-ya.

Saranghae…ne baboya Nam Gyuri ^^

 

–FIN–

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s