[EunSiHae] Happy Together -1-

Tittle: HAPPY TOGETHER

Genre: Friendship, Romance, Comedy

 Main Cast: Lee Donghae, Lee Hyuk Jae, Choi Siwon

Support Cast: All member Super Junior

 

Donghae PoV

BRRAAAKK…. Baru kali ini aku menutup pintu dengan suara keras seperti itu. Pasti orang rumah kaget mendengarnya. Tapi biarlah, saat ini aku sedang marah. Sangat marah tentunya. Kemarahanku ini tidak seperti anjing buas yang sedang kelaparan. Aku lebih suka mengurung diri di kamar dan memberantakan kamarku sendiri.

Seperti yang kulakukan sekarang, setengah kamarku sudah berubah drastic, ini seperti kehancuan. Buku-buku novel dan pelajaran berserakan. Kasur yang selalu kujaga rapi sekarang tidak berbentuk lagi. Semua baju yang di lemari aku keluarkan semuanya.

“DASAR MONYET SIALAN!!!!!” teriakku untuk ke seribu kalinya. Karena aku mengatakan itu dari 5 jam yang lalu.

“Donghae…”, eomma memberikan peringatan pertamanya. Sepertinya eomma tahu kalau anaknya ini sedang marah besar.

Aku benar-benar tak bisa mengerti temen ah bukan ikan teri <anchovy> ini. Sudah beberapa kali ini kami hidup bersama bahkan sejak kecil. Tapi tetap saja aku tak tahu jalan pikirannya dan apa yang ia pikirkan. Aku mengingatnya lagi, 5 jam yang lalu dia memarahiku dengan alasan yang tidak bisa kuterima. Si monyet sialan bernama HYUK JAE itu sudah menyalahkan ku atas semua yang terjadi padanya.

“SINTING!”

“Donghae, kalau kau teriak lagi eomma akan masuk kamarmu.”

Oke! Aku tidak akan teriak lagi eomma. Sebaiknya aku menggerutu saja.

Baiklah, selama ini aku selalu mengalah untuknya. Aku pasti akan mengikuti semua yang ia mau. Bahkan satu kelas dengannya selama 10 tahun ini. aku menurutinya tanpa minta imbalan apapun padanya. Lalu sekarang apa yang ia lakukan padaku? Menyalahkan semua masalah padaku? Memangnya dia manusia sempurna yang tak punya salah! Hingga melimahkan semuanya padaku. Kalau memang salah sendiri, kenapa aku yang disalahkan? Dasar anak kecil!

Setelah satu jam aku bergerutu dan memaki Hyuk Jae, perasaanku makin ringan. Puas sekali rasannya. Dan sekarang aku mulai bisa mengontrol diri. Aku langsung mandi dan mulai membereskan kamarku untuk kesekian kalinya. Rasanya pikiran berat tadi mulai kulupakan. Ahh…ini lebih baik daripada aku teriak-teriak seperti orang gila ^^ setelah merasa semua beres, aku langsung menuju dapur. Perlu diketahui…setiap setelah aku marah-marah ga jelas LOL…aku pasti langsung makan. Dan eomma tahu itu.

“kau bertengkar lagi?”

Aku mengangguk dan terus makan, ramyun kesukaanku. Padahal ada menu lain yang menurut kebanyakan orang sangat enak tapi—menurutku ramyun lebih enak. Hehehe…

“satu tahun lagi kalian akan kuliah tapi kelakuan masih kayak anak kecil.”

eomma salah, yang anak kecil itu si Hyuk.”

“kalian itu sama saja, tidak ada bedanya. Tapi kalau dipikir-pikir Hyuk Jae itu memang seperti anak kecil. Kau masih dibawahnya Donghae.”

Aku mengangguk-angguk setuju. Eomma memang sayang anak ^^

“kalau sudah selesai, langsung cuci semuanya dan tidur.” Eomma pergi meninggalkanku. Seperti biasa sebelum masuk ke kamarnya, eomma akan memberikan penghormatan pada foto appa yang terletak diantara kamarku dan eomma. Appa baru meninggal setahun lalu dan aku belum juga terbiasa. Kadang aku masih saja menanyakan keberadaan appa pada eomma setiap pagi. Rasanya aku belum rela appa meninggalkan kami berdua di dunia ini.

TING! Aku meraih ponselku. Ada sebuah pesan.

Siwon>> perlukah kita merayakan keberhasilan kita?

Donghae>> kau cari mati?

Siwon>> hanya usulan, selamat untuk keberhasilanmu ^^

Donghae>> terima kasih. Aku sangat beruntung. Aku bertengkar dengan Hyuk

Siwon>> sepertinya aku juga akan bernasib sepertimu

Donghae>> sepertinya begitu. Hati-hatilah

Huft…Siwon adalah temanku di sekolah. Kami—aku dan Hyuk berteman dengan Siwon saat ia pindah ke sekolah kami saat SMA. Dan sebuah keberuntungan buatku karena bisa berteman dengannya. Siwon sangat terkenal di sekolah, dan menjadi sahabat baginya sesuatu hal yang istimewa bagiku.

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Siwon PoV

Kembali aku melihat rangkaian pesan antara aku dan Donghae di layar iPhone. Sepertinya yang dikatakan Donghae akan terjadi paling lambat besok, karena ia tahu sifat sahabatnya satu ini sangat susah diajak bicara dengan kepala dingin. Hyuk Jae. Ia mengenalnya tak lama seperti Donghae, aku merasa baru saja mengenalnya dan menjadi sahabatnya. Hyuk Jae memang sangat manja apalagi kalau dekat dengan Donghae, bahkan saat Donghae menawarkan pertemanan denganku, Hyuk terlihat tidak suka. Aku tahu alasannya dari Donghae, Hyuk takut jika nantinya Donghae lebih perhatian terhadapku. Tapi itulah yang kurasakan, kadang Donghae lebih memilihku daripada Hyuk yang merepotkannya.

Walaupun begitu aku tahu hubungan Donghae dan Hyuk itu lebih kuat dari pada sekedar sahabat ataupun teman. Mereka seperti saudara, apalagi kedua-duanya tidak punya saudara laki-laki lainnya. Dan …2 tahun bersama mereka benar-benar prestasi yang mengagumkan. Aku sempat tak ercaya bahwa aku menyukai kondisi ini selama 2 tahun. Aku kira semuanya akan sama seperti kejdian-kejadian sebelumnya.Mengingat bahwa aku tak terlalu pandai dalam bergaul.

Memang aku harus berterima kasih pada Hyuk, ia membantuku untuk mengenal lebih jauh kehidupan ini. Selama ini aku hanya tahu dari pengasuhku sekaligus guruku. Pak Jang. Ia adalah guru terbaik yang aku miliki. Karenanya lah aku juga berhasil mendapat prestasi yang selalu memuaskan.

Baiklah, aku mengaku salah. Dan aku merasa bersalah pada Hyuk tentunya. Karena aku tak bisa menepati janjiku. Dan mungkin akulah tersangka utamanya. Walaupun Donghae juga disalahkan tapi Donghae sudah berusaha menolong Hyuk sedangkan aku….yah aku hanya bisa berjanji dan sialnya aku tak menepatinya.

“tuan muda, nyonya menelepon.” Pak Jang memberikanku sebuah iPad.

“terima kasih Pak Jang. Bisa tolong buatkan coklat panas,” pintaku.

“baik tuan muda,” setelah Pak Jang keluar dari kamarku yang terkesan seperti dua buah apartemen disatukan. Dan membuatku kadang tak nyaman. Ah..aku benar-benar rindu kamar Donghae yang kecil, rapid an nyaman. Aku menerima panggilan dari eomma yang sekarang sedang melakukan bisnis di Amerika.

“bagaimana kabarmu sayang?”

“baik nyonya Choi. Bagaimana denganmu?”

“tentu saja semuanya lancar, terima kasih sudah berdoa untuk eomma disini.”

appa belum pulang dari kantor, mungkin sebentar lagi,” aku mengatakan hal yang seharusnya tak usah kuberitahu karena eomma pasti sudah tahu kebiasaan appa yang workaholic.

“selamat ya, kau berhasil jadi juara pertama lagi. Kau memang anak yang membanggakan Siwon. Apa yang kau inginkan sayang? Sebagai kado atas keberhasilanmu. Dan bagaimana dengan sekolah?”

“belum aku pikirkan eomma tapi yang pasti terima kasih karena eomma sudah mau menuruti permintaan egoisku.”

“demi anak eomma satu-satunya pasti akan kuberi yang terbaik. Sepertinya disana sudah malam, langsung tidur jangan menonton film terlalu banyak. Mengerti? Oh ya, salamkan kepada Donghae dan Jae ya. Eomma kangen mereka.” Kulihat Eomma tertawa setelah mengatakan itu. Ahh..lagi-lagi memanggil Hyuk Jae dengan Jae, seperti orang barat saja.

“siap nyonya Choi.” Setelah memberikan nasihat yang sama, eomma memutuskan hubungan komunikasinya.

Aku mengeluarkan sebuah pigura foto dari laci meja belajarku. Foto kami bertiga—ada Donghae  dan Hyuk disana, berpose dengan pose anehnya. Selalu saja saat melihat foto ini membuatku senyum sendiri. Foto ini diambil saat liburan mendadak di Daegu. Saat itu Hyuk memberikan usul untuk melakukan liburan 2 hari di Daegu. Tentu saja menggunakan villa keluargaku dan eomma yang sangat menyukai Hyuk langsung menyetujuinya. Saat itu aku benar-benar iri. Aku sangat menyukai perjalanannya, mungkin akan menjadi salah satu tempat favoritku.

Banyak sekali kejadian-kejadian yang membuatku merasa ‘hidup’. Saat itu aku merasa benar-benar dianggap sahabat. Donghae dan Hyuk selalu menomor satukan ku dalam segala hal bahkan mereka banyak mengalah. Ah…aku rindu tertawa bersama mereka.

“tuan muda…ini coklat panasnya.”

“ah, terima kasih Pak Jang.”

“apa terjadi sesuatu antara tuan muda dengan tuan Donghae dan tuan Hyuk Jae?”

Aku menatap Pak Jang kaget, bagaimana bisa laki-laki baya ini bisa tahu apa yang tengah terjadi padaku?

“tuan muda akan melihat foto itu jika sedang ada masalah,” jelas Pak Jang sambil menunjuk foto yang tengah aku pegang. Aku mengangguk mengerti. Pak Jang memang pengamat sejati, hal seperti ini pun ia tahu. Pak Jang memang yang terbaik.

“Pak Jang benar tapi aku yakin ini tidak akan lama,”ujarku dengan nada berat.

“tentu saja, mereka sahabat tuan muda. Pasti ini hanya kesalah pahaman yang sepele.”

“aku pikir juga seperti itu Pak Jang.”

“baiklah, saya permisi dulu. Selamat malam tuan muda.”

“selamat malam Pak Jang.”

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

SMA Hwagok

Hyuk Jae PoV

“kalian bertengkar?” tanya Ryewook yang sekarang ini duduk di sampingku. Aku memang sengaja tukar tempar duduk dengan  Sungmin karena hari ini aku malas sekali duduk dengan Donghae. Padahal aku tahu hubungan Donghae dan Sungmin sangat parah. Sejak dulu Donghae tak suka dengan Sungmin, bukan karena orangnya tapi lebih tepat dengan pernak pernik Sungmin yang berwarna pink. Itu membuatnya merasa risih.

“anak kecil diam!” bisikku pada Ryewook.

“kalau kalian bertengkar, ini akan menyulitkan bagiku dan Sungmin. Apakah gara-gara pembagian kelas. Kau marah Hyuk?”

“kubilang diam, kau ingin mati anak kecil?!” bisikku lagi. Inilah yang aku tak suka dari Ryewook. Anak kecil ini suka punya keingin tahuan yang tinggi. Dia akan terus bertanya jika belum mendapatkan jawaban yang memuaskan. Memang tak jauh beda dengan Donghae tapi tetap saja, Ryewook lebih parah.

“kalau aku mati Yesung Hyung akan balas dendam membunuhmu!” ucap Ryewook lalu meninggalkanku begitu saja. Sepertinya dia sudah tak tahan denganku. Aku pun memebereskan buku, pelajaran hari ini tak sampai malam jadi sore ini aku akan langsung pulang dan menikmati  video koleksiku yang terbaru. ^^

“hei Hyuk, pulang ke rumah langsung mandi. Kau bau sekali aku sampai tak tahan!”teriak Ryewook saat berada di ambang pintu kelas.

“YA!” satu teriakan dan itu membuatnya langsung lari. Aku melirik dan menemukan Donghae dan Siwon yang masa bodoh denganku. Mereka malah asyik mengobrol sendiri. Ah sudahlah!

Dasar Wookie, apanya yang bau. Rasa-rasanya tubuhku tidak bau. Aku bergerak-gerak menciumi badanku. Benarkan? Tidak bau. Mungkin hidunganya terlalu dekat dengan mulut. Makanya bau! Hahahaha. Aku tertawa, karena gerutuanku dalam hati. Diperjalanan aku dance mengikuti alunan lagu yang sedang kudengar dari iPodku dengan handfree. Ya, inilah hobiku. Mungkin orang berpikir aneh. Tetapi, yang penting tidak mengganggu mereka, berarti hobiku tidak negatifkan??

Aku tak jadi langsung pulang. Aku memutuskan untuk menunggunya di gerbang. Kalau dilihat-lihat aku seperti menunggu pacar ulang sekolah. Kuharap Siwon belum dijemput oleh sopirnya. Hari ini aku harus marah apadannya. LOL

Tak lama kemudian aku melihat sosok yang sangat kukenal, orang itu berjalan terus sambil bersenandung. Kebiasaan Donghae jika ia pulang sekolah. Aku langsung pasang wajah cuek dan dance lagi mengikuti alunan lagu. Dan begitu juga dengan Donghae. Dia berlalu begitu saja, melewatiku tanpa mengucapkan apapun. Cih..!gayanya sudah berani rupanya. Aku tahu, dia pasti masih marah tapi aku tak menyangka ia akan marah begitu lama.

“dia melihatnya…dia melihatnya..aku berhasil…”, ujar Donghae dalam hati. Sebenarnya Donghae sangat susah untuk bertengkar dengan Hyuk lebih dari sehari. Ini pertama kalinya ia bersika cuek.

Aku kembali pada tujuanku semula, menunggu Siwon datang.

“KYAAA…kyaaa…Siwon-sshi memang perfect ya.”

“dia memang namja terkeren di sekolah kita.”

“kapan  aku bisa jadi yeoja chingunya..wah…pasti bahagia sekali…”

Aku mengeraskan volume iPodku, dan teriakan-teriakan gombal itu mulai tak terdengar. HAH! Aku mulai muak kalau kondisinya sudah seperti ini. Aku akui Siwon lebih tampan dariku, lebih pintar dariku tapi bisakah perempuan-perempuan genit ini bersikap biasa saja. Memangnya belum pernah bertemu dengan namja seperti Siwon? Dasar! Perempuan genit! Aku jadi teringat noona ku kalau situasi nya seperti ini.

“Siwon!”

Akhirnya dia datang juga. Aku menengok kearah gerbang sekolah dan ternyata belum ada mobil jemputan untuk Siwon. Aku langsung menyuruh Siwon mengikutiku ke belakang sekolah. Kurasa itu tempat yang sepi,dan pas untuk bicara dengan leluasa.

“kau tidak meneati janjimu Siwon!” aku menatap Siwon bengis ingin rasanya aku menghajarnya tapi bagaimana mungkin Siwon sendiri saja sudah sabuk hitam. Siwon pun gantian menatapku. Ah..aku paling benci situasi saling –tatap menatap seperti ini, membuatku merasa kecil dihadapan Siwon saja. Apalagi dengan ostur tubuhku yang kerempeng ini, orang yang melihat pasti yang marah bukan aku tapi Siwon.

“aku minta maaf,” ujar Siwon. Aku sedikit kaget melihat caranya minta maaf. Baru saja dia membungkukkan badan padaku.

“maaf, memangnya maaf bisa mengubah semuanya!”

“tidak.”

“lalu untuk apa kau minta maaf?”

“karena aku tahu aku yang paling salah dalam kasus ini. Aku sudah tidak tepati janji, juga merusak sila pertama dari undang-undang persahabatan kita. Aku minta maaf,” ujar Siwon dan kali ini lebih tegas. Aku sendiri mulai mencerna perkataan Siwon barusan. Ah…ini susah sekali mencerna apa yang barusan Siwon katakana. Lupakah dia kalau aku paling tidak suka bahasa yang umum.

Setelah lima menit berlalu, aku baru sadar apa yang Siwon katakana. Sila pertama dari undang-undang persahabatan adalah tak boleh jadi orang terkenal di kalangan murid perempuan. Menurutku itulah kesalahan terbesar Siwon.

“lupakan! Aku tak bisa menyalahkanmu, ini sudah nasib. Kau lebih beruntung dari kami berdua. Lalu meneruskan yang tadi, aku tak terima!”

“waeyo? Apakah pembagian kelas sangat membuatmu kesal?”

“tentu saja.”

“aku masih terima kalau  tidak satu kelas denganmu. Tapi aku juga tidak satu kelas dengan Donghae! Ini yang membuatku tambah marah!”

“jadi ini semua hanya gara-gara Donghae tidak satu kelas denganmu Hyuk? Kukira ini karena aku tak menepati janjiku untuk turun ranking.”

“kau tahu Siwon. Aku dan Donghae sudah 10 tahun ini hidup bersama dan kami selalu satu kelas dan satu bangku. Dan sekarang karena ujian sialan itu, aku harus beda kelas dengan Donghae. Selama ini aku belum terbiasa jika tidak ada Donghae di sampingku.” Akhirnya aku menumpahkan galauku pada Siwon. Memalukan! Tapi Siwon sudah jadi sahabatku 2 tahun ini jadi aku merasa ini tak memalukan. Aku merasakan ada yang menggenang di  mataku. Apakah sebentar lagi aku akan menangis…andwe..aku tak boleh menangis di depan Siwon. Aku tak boleh menunjukka sisi cengeng ku padanya. Ini akan membuatku terlihat seperti anak kecil.

Tiba-tiba saja Siwon mendekat ke arahku dan langsung memelukku.

“bogoshippo Donghae…” aku jadi merindukan pelukan Donghae L

Siwon melepaskan pelukannya dan memandangku yang aku yakin sekarang mataku sudah memerah menahan tangisanku.

“dasar monyet!”

“MWO?”

“apa kau tak tahu alasan Donghae berlajar lebih keras sekarang ini. apa Donghae belum memberi tahumu.”

“maksudnya?”

“Donghae ingin mengabulkan permintaan appa nya. Sewaktu appa nya masih hidup beliau berpesan kepada Donghae untuk jadi murid yang berprestasi. Dan baru kali ini Donghae bisa mengabulkan pesan appa nya. Kau benar-benar tak tahu soal itu Hyuk?” tanya Siwon dengan nada serius. Aku benar-benar tak ingat Donghae pernah berkata seperti itu padanya. Apa dia yang lupa. Ah…molla…

“begitukah?”

Siwon mengangguk, “kau harus minta maaf pada Donghae. Pasti saat ini Donghae tidak nyaman karena dimusuhi olehmu Hyuk.”

Aku diam. Aku salah. Ya! Aku terlalu egois pada Donghae. aku baru menyadarinya sekarang. Selama 10 tahun ini Donhae selalu mengalah padaku, sedangkan aku bisa dihitung kapan aku mengalah untuknya. Ahh…Donghae..my fishy…mianhae…

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Author PoV

“harusnya aku tahu kau melupakannya Hyuk Jae. Bagaimana bisa aku juga ikut-ikutan marah padamu,” ujar Donghae.

Tanpa diketahui dua temannya, ternyata dari tadi Donghae menguping pembicaraan Hyuk dan Siwon. Donghae bersembunyi  di sebuah pohon. Ia mendengarkan semuanya dengan jelas. Dan saat Hyuk tak bicara lagi, Donghae tahu bahwa temannya satu ini menderita amnesia akut. Donghae masih ingat kapan ia memberi tahu Hyuk tentang pesan appa nya saat masih hidup. Seminggu yang lalu.

“aku juga berpikir, bisakah aku bertahan tanpa dirimu Lee Hyuk Jae. Ini sangat berat.”

Donghae memasang headphone nya kembali dan melangkah meninggalkan sekolah melalui gerbang belakang sekolah.

TBC

Gimana?? Geje kah?

Hehehe….. mohon komentarnya….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s