Donghae Birthday…my FF only for you Hae oppa ^^

Tittle   : [Donghae Birtday] We Love u…

Cast     : Lee Donghae, Lee Hyukjae, Im Yoona

Genre  : Comedy, ??

*saengil chukka Donghae oppa* mianhae…telaaaatt banget ng-post FF ini. padahal niatnya pas hari ultahnya Donghae oppa. Eh, gara-gara ada kegiatan kampus jadi tertunda laaamaaa sekali nih.. mian ya kalau ga tepat. Tapi karena ga mau ketinggalan, dan daripada nganggur FFnya makanya aku post aja ^^

Buat reader….yang FISHY bangeet! Aku mohon komentarnya dan kalau bisa like ya…kalau misalnya ada typo minta maapnya dan kalau geje…ya maklumin lah ^o^

Okke deh langsung baca aja ya…

Donghae PoV

15 Oktober 2011

Hatiku terasa hangat saat melangkah di atas pasir-pasir putih ini. Seperti melangkah dan memaknai semua jejak yang kubuat dalam rangkain hiduoku. Berjalan di atas pasir pantai tanpa alas kaki, entah kenapa membuatku merasa nyaman. Sangat nyaman…

Aku terus berjalan menyusuri bibir pantai, sesekali buih ombak menyentuh jemari kakiku. Hangat… Air laut selalu terasa hangat bagiku, sama sekali nggak terasa dingin. Aku menghirup nafas dalam-dalam, menahannya di relung paru-paruku, lalu menghembuskannya perlahan. Aku melihat sebuah batu karang yang besar, aku berjalan menuju batu karang itu. Mengambil posisi duduk senyaman mungkin, kuluruskan kedua kakiku, merilekskan otot-otot kaki yang setiap hari kupaksa untuk dance walaupun capek. Saat ini aku sudah berada di pantai, dan selama 13 tahun tinggal di pinggir pantai membuatku seperti mempunyai ikatan batin dengan pantai. Haha…

Hmmmm… Aku tersenyum memandang matahari yang sedang terbit dari ujung laut itu. Semburat sinar jingganya menghias ujung langit. Warnanya terpancar di laut, berkilauan, indah… angin pantai di pagi hari menerpa helai rambutku. Aku menikmatinya… Kutumpukan lenganku ke belakang, sambil tetap melihat burung-burung camar yang mulai beterbangan, menghias langit.

Suasana pantai benar-benar damai. Tenang, hangat… Seperti senyuman Appa. Pantai… Mengingatkanku dengan Mokpo, Umma, Saengku yang cantik, dan tentu saja… Appa yang kini sudah bahagia di surga sana. Appa… Kurasakan mataku memanas, setitik air mata menetes di pipi.

Dulu sewaktu kecil, aku bermimpi untuk menjadi seorang atlet. Hanya atletlah yang kuinginkan saat itu. Tapi, kata-katanya telah mengubah hidupku. Menjadikan ku seorang Donghae Super Junior.

Aku mengukir nama appa di atas pasir. Sejenak kemudian ombak berdebur menghapus nama appa yang ku ukir.

“appa walaupun kini kau berada di surga, tapi kau selalu ada di hatiku.. aku mencintaimu appa…” kataku lirih.

“kalau kau mempercayai bahwa appa akan selalu di hatimu, kau akan merasa appa benar-benar ada di sampingmu, Hae…” sebuah suara mengagetkanku. Aku menoleh ke samping, kulihat Lee HyukJae tersenyum di sampingku.

“Hyukjae hyung??”

Dia kembali tersenyum, “Ya! Jangan kau panggil aku hyung! Kita hanya beda 6 bulan kan!”

“ne Hyukjae-ah. Gomawo…” aku membalas senyumnya.

0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0

Donghae dan Eunhyuk side story….

“Hae… turun dong..,” rayu Eunhyuk.

“aniyo, kau saja yang naik kesini!”

“kenapa kau suka sekali naik pohon, sih?!” keluh Eunhyuk sebal. Ia takut ketinggian—trauma karena pernah kecelakaan, jatuh dari pohon hingga kakinya patah.

“kalau dari atas sini, kau bisa melihat sampai jauuuuh… menyenangkan sekali, Eunhyuk. Naiklah!”

“sejauh apa?”

“jauuuuh… sekali. Lihat! Laut!”

“kau ini temanku, bukan, sih?” bentak Eunhyuk mulai menangis. Sontak Donghae langsung turun dari dahan yang ia hinggapi.

“tentu saja! Kenapa menangis?”

“habis kau tak mau turun dari sana, aku kan kesepian kalau sendirian!”

“Hyukie cengeng..,” ejek Donghae.

“aku…takut….Hae…pergi,” kata Eunhyuk terbata disela tangisnya.

“a..aku.. tidak mau pergi kemana-mana, kok!”

Eunhyuk cepat-cepat menghapus airmata yang membasahi pipinya.“Sungguh? Kau tidak mau pergi? Kau janji?”

Donghae menggeleng kuat, menautkan jari kelingkingnya dengan Eunhyuk.“tidak akan.”

“kenapa kau berpikir jika aku akan pergi Hyuk?”

“a..ku… melihat kau akan pergi…,” jawab Eunhyuk ragu. “…dalam mimpiku…”

Donghae tersenyum sambil mengusap kepala Hyukjae pelan. Ia tahu sahabat satunya ini memang sahabat yang akan selalu ada untuknya. Tuhan memang sudah menyiapkan sahabat yang hebat untuknya. Walaupun waktu itu ia masih kecil, tapi ia tahu janjinya untuk tak pergi akan ia tepati. Apapun yang terjadi, ia tak akan meninggalkan Hyukjae.

0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0

“kenapa aku suka pantai? Hm, kenapa ya?” Eunhyuk menggantungkan kalimatnya sedangkan Donghae terus mendesaknya.

“ayolah, Hyukkie. Katakan apa alasannya?” Eunhyuk menatap sahabat dari kecilnya dengan jahil.

“belikan aku susu stroberry di kantin dulu,” pinta Eunhyuk.

Hembusan angin memainkan rambut kedua laki-laki tersebut. Sekarang sudah pulang sekolah dan mereka berdua suka sekali menghabiskan waktu dengan mengobrol di balkon sekolah. Pemandangan matahari terbenam di tempat ini sangat indah.

Donghae melonggarkan ikatan dasinya lalu memasang earphone. “terserah kau sajalah. Kalau tidak mau memberitahuku, ya sudah.”

Donghae lalu mengotak-atik lagu-lagu di Hpnya. “kamu mendengarkan lagu apa, Hae?” tanya Eunhyuk.

Donghae menggeleng pelan. “ada saja.”

“oke, oke. Akan kuberitahu alasannya,” kata Eunhyuk, menyerah. Donghae langsung tersenyum penuh kemenangan. Eunhyuk lalu mengambil secarik foto dari dalam tasnya. Foto dengan latar belakang pantai, kesukaannya. Pantai itu sangat indah, dilatari matahari terbenam.

“pantai mana itu?” tanya Donghae, penasaran.

“Mokpo, kota kelahiranmu, kan. Minggu lalu aku pergi ke sana,” ujar Eunhyuk sambil menuliskan sesuatu di balik foto itu. Mukanya terlihat serius.

“ini.” Eunhyuk menyerahkan foto itu ke Donghae.

“hah? Buat apa foto ini?” Tiba-tiba Eunhyuk mencopot salah satu earphone yang masih bertengger di telinga Donghae lalu memasangkannya di telinganya.

“kau mendengarkan lagu apa sih?” ia berpikir sebentar.

“hmmm, A Whole New World. Tak kusangka kau penikmat kartun juga Hae?!” kata Eunhyuk sambil memeletkan lidah. Donghae menatapnya sebal. Sahabatnya yang satu ini memang suka sekali menganggu kenyamanan nya. Huff, menyebalkan.

Donghae memandang foto pemberian Eunhyuk. Mokpo, rasanya sudah sekali aku tidak ke sana. Sejak mengambil jurusan yang sama dengan Eunhyuk, mereka berdua memutuskan untuk pergi ke Seoul untuk belajar lebih dalam tentang music dan dance. Wusss, hembusan angin menerbangkan foto itu. Donghae buru-buru melepas earphone lalu mulai mengejarnya. ‘Tuhan, jangan biarkan foto itu hilang. Aku mohon,’ batin Donghae cemas.

Hupp, Donghae menangkap foto itu sebelum foto itu sempat terbang lebih jauh lagi. Ada tulisan di balik foto itu.

“kamu bertanya kenapa aku suka pantai, kan? Kamulah jawabannya, Hae. Aku pertama kali bertemu denganmu di pantai, kamu ingat? Saat itu kamu tertawa bahagia. Aku merasa pemandangan itu sangat indah. Setiap kali aku ke pantai, aku selalu teringat padamu. Dan itu membuatku bahagia. Terimakasih karena selama ini sudah mau bersahabat denganku, Lee Donghae!” teriak Eun-hyuk di belakangku. Aku mengerjapkan mata.

Tulisan di balik foto itu berbunyi‘Jawabannya sederhana. Itu semua karenamu.’ Aku lalu tersenyum.

“aku juga bahagia bisa bersahabat denganmu, Lee Hyukjae!” teriakku balik.

0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0

“sekarang tinggal kita berdua Donghae-ya…” goda Eunhyuk. Donghae keliatan sangat panik mendapati dirinya bersama Eunhyuk si omes alias otak mesum itu.

‘Lebih baik bersama Kyuhyun si evil namja dibandingkan bersama monyet mesum satu ini… Bisa gila aku…’ pikir Donghae.

“kau!… Jangan macam-macam ya…” ancam Donghae sambil menunjuk Hyuk. Yang ditunjuk malah terkikik, merasa lebih tergoda untuk meledek Donghae.

“hmmmm… Seleramu boleh juga.” kata Eunhyuk.

“ya! Aku mohon padamu jangan bilang siapa-siapa dulu tentang Yoona. Hanya kau dan Kyuhyun yang tahu…” mohon Donghae.

Ia tak mau perasaan sukanya terhadap Yoona menjadi bahan gunjingan bahkan gosip di antara member lainnya. Ia belum siap menerima petuah dari leader—Teukie hyung. Dan masalah perasaannya terhadap Yoona juga belum ada perkembangan. Ia hanya tahu cinta nya sekarang adalah cinta yang bertepuk sebelah tangan. Namun, ia akan berusaha. Fighting Donghae!

“kau mau bayar aku berapa, hah?” tantang Eunhyuk.

“bagaimana kalau aku bawakan pisang satu tundun?”

“mwo??!! Ya!! Kau pikir aku monyet, hah??!!” protes Eunhyuk sambil melotot.

“ahahahaha… Mianhae, Hyukkie.. Habis wajahmu selalu mengingatkanku pada monyet tetanggaku. Makanya aku tawarkan kau pisang satu tundun. Kkkkk….”

“masa sih, kau selalu mengingatku…” Hyuk mempunyai ide untuk membalas dendam pada si ikan. Dia mendekatkan mukanya pada Donghae.

“ya~… Jika kau memanggilku monyet lagi, lihat saja akibatnya…” bisik Eunhyuk sambil menyeringai. Donghae melebarkan matanya.

“kau ini sedang apa??!! Jebal… Hajima…” balas Donghae setengah memohon.

“hahahahaha…” Eunhyuk benar-benar puas.

“kau ini menyebalkan sekali… Jangan menggodaku terus.”

“kau harusnya melihat wajahmu sendiri tadi.. Huahahahha… Lucu sekali, Donghae-ya…” Eunhyuk tertawa sambil memukul pelan dada Donghae.

“harusnya kau membantuku… Susah sekali mendekati Yoona…” wajah Donghae berubah sedih. Dia menunduk lalu melihat ke arah Yoona yang sedang menunggu pesanannya untuk diantarkan. Yoona kelihatan sedang mengobrol dengan Siwon. Dia sekarang tertawa lepas karena candaan Siwon. Membuatnya iri setengah mati.

“lihatlah… Aku berharap aku bisa menggantikan Siwon disana…” ucap Donghae sedih.

“kau sudah melakukan apa saja untuk mendapatkan perhatiannya?” tanya Eunhyuk penasaran.

“aku setiap hari datang ke sini, dan ke toko bunga tempatnya bekerja.” jawab Donghae.

“hanya itu?” tanya Eunhyuk.

“harus apa lagi?”

“kau tahu jika kau mengejarnya seperti itu, itu hanya akan membuatnya bosan.”

“lalu apa yang harus aku lakukan?”

“kau ini benar-benar polos.” Eunhyuk mengacak rambut Donghae.

“baiklah… Kali ini aku tidak menyangkalnya. Jadi, katakan padaku apa yang harus kulakukan untuk mendapatkan Yoona.”

“dengarkan baik-baik pada Love Expert, Lee Hyukjae ini.” Eunhyuk mengangkat tangannnya seperti pahlawan bertopeng saat berkata seperti itu.

“mwo?”

“begini Donghae-ya…” Eunhyuk merangkul Donghae dan berkata sambil berbisik.

“kau itu seharusnya jangan sering-sering menemuinya. Coba saja kau pergi dari hadapannya sesekali. Aku yakin dia pasti akan mencarimu.”

“tapi, aku tidak pernah tahan untuk tidak melihatnya,” jawab Donghae sambil berbisik ke telinga Hyuk. Sesekali Eunhyuk terkikik, karena dia merasa geli dengan nafas Donghae di telinganya. Dan mereka berdua tidak menyadari kalau mereka sudah jadi tontonan karena mereka berdua kelihatan seperti dua orang homo yang sedang pacaran.

“tahan dirimu untuk tidak menemuinya. Begini saja. Kau kesini dua hari sekali saja. Minta tolonglah pada waiter temannya untuk memata-matai dia. Kalau bisa malah kau yang lama saja sekalian jangan menemuinya.”

“aku bisa gila, Eunhyuk-ah…”

“itulah chemistry nya, boy!!” Eunhyuk meninju ringan lengan Donghae.

“jinjja? Akan kupikirkan. Tapi, untuk sekarang aku belum bisa. Aku masih ingin melihatnya…”

Saat Yoona mengantarkan makanan, posisi EunHae ini masih berangkulan.

Brakk!! Yoona menaruh nampannya sedikit keras. Dia melirik tajam ke arah Donghae. Donghae segera menyadari apa yang sedang ia lakukan bersama setan mesum satu itu, Eunhyuk.

“ya!! Apa yang kau lakukan??!!” jerit Donghae menjauhkan tubuhnya dari Eunhyuk.

“Yoona ssi…” Donghae terlihat panik. Dia langsung saja berdiri ingin memberikan penjelasan pada Yoona. Kebetulan Donghae duduk di pojok, jadi dia harus melewati Eunhyuk jika ingin keluar dari tempat duduknya. Tanpa dia sadari, tali sepatu yang dia pakai lepas dari ikatannya. Dan ketika dia akan melangkah dia menginjaknya. Akibatnya, Donghae kehilangan keseimbangan dan….

Chu~!

“………” Hening sebentar. Semua mata memandang ke arah mereka dengan mata melebar.

“ah~ Donghae-ya… Kenapa kau melakukan itu di depan umum?? Aku tahu kau itu sudah mau menciumku sejak tadi.” Eunhyuk memukul lembut Donghae seperti yeoja. Donghae memandang Yoona yang sedang terkaget-kaget.

“Yoona…Yoona-sshi…ani…ini bu…bukan…seperti yang kau pikirkan, aku tidak….”

“aigoo… Donghae-ya…” Eunhyuk itu lagi-lagi memanggilnya mesra. Dia meletakkan kedua tangannya di kedua pipinya.

“ya!! Diam kau Lee Hyukjae!!!” bentak Donghae.

Donghae menyelesaikan makannya dengan Eunhyuk dengan suasana panik. Dia berniat untuk menunggu Yoona pulang dari bekerja untuk menjelaskan bahwa dia bukan namja yang seperti Yoona lihat.

“uhuk uhuk….” Donghae sampai terbatuk karena dia makan dengan buru-buru.

“pelan-pelan saja makannya…” Eunhyuk dengan baiknya mengelus punggung Donghae.

“ya! Gara-gara kau hatiku jadi tak tenang, Yoona pasti mengira aku gay gara-gara kelakuanmu tadi.” protesnya.

“muahahahaha… Enak saja! Kau kan yang jatuh dan mencium pipiku.”

“itu kan tidak sengaja..”

“sudah tidak apa-apa. Kau jelaskan saja padanya.”

“tidak apa-apa kepalamu! Tidak usah disuruh sudah mau aku lakukan…”

“hahahaha… Pintar sekali dirimu, Donghae-ya…” kata Eunhyuk cuek.

“aku sudah selesai!! Kau harus membayar makan siang ini, monyet sialan!! Aku tidak mau tahu!! Ini semua gara-gara kau! Moodku jadi jelek. Jadi, kau harus membayar semua makananku!!” Donghae meninggalkan Eunhyuk yang masih bengong karena kata-katanya.

“ya!! Kau mau kemana??!!! Nanti dulu!!” Eunhyuk menghabiskan makanannya dengan cepat lalu menyusul Donghae yang sedang menuju kasir.

Dan itulah pengalaman terburuk Donghae saat ingin mendekati seorang gadis In Yoona. Cinta pertamanya.

0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0

“Hyuk? Hoi, Eunhyuk!”

“eh? Ada apa?” Eunhyuk mengerjap. Kaget.

“kau tidur?” Donghae mengernyit. “… dengan mata terbuka?!”

“heh?” Eunhyuk terlihat bingung. “entahlah, tapi tadi sepertinya aku bermimpi.”

“mimpi?”

“iya. Mimpiin kamu.”

Donghae menoyor kepala Eunhyuk dengan gemas. “gombal! Aku bukan cewek, tau!”

“serius! Aku mimpiin kamu. Waktu kita masih kecil dulu, waktu masih tinggal di rumah lama yang sekarang lahannya jadi taman kota itu, waktu kamu manjat pohon, waktu akhirnya aku bisa manjat pohon lagi, waktu kita pindah ke Seoul, waktu kita bertemu lagi di training SM, waktu kita dance bareng sorry sorry dan waktu kau jatuh cinta… Eh, eh. Ternyata kita bareng udah lama banget ya!”

“Hyuk, kamu nge-rap? Bagus, deh.”

Gantian Eunhyuk menoyor kepala Donghae, tapi berhasil ditangkis.

“hehe becanda. Iya. Udah lama banget, hampir  seumur hidup,” tawa Donghae.

“semoga persahabatan kita tidak berujung. Sampai mati, kalau perlu.”

Eunhyuk menatap gumpalan awan seputih kapas di langit, seperti sedang membuat permohonan.

“kau tahu kenapa kita bersahabat?”

Eunhyuk menatap Donghae, menunggu ia menyelesaikan kalimatnya.

“karena kita EunHae,” lanjut Donghae manis.

Eunhyuk suka sekali jika Donghae mengatakan kalau mereka adalah Eunhae. Eunhyuk lalu meneruskan bicaranya. “Eunhyuk lahir untuk Donghae dan Donghae lahir untuk Eunhyuk. Selamat hari lahir… Kau mau hadiah apa, nih? Aku bingung mau ngasih apa.”

Donghae mengerjap, mengingat ingat. Hari lahir? Ah, ia selalu lupa hari ulang tahunnya sendiri.

“apa aja, deh. Asal bukan tepung, telur dan air.”

Eunhyuk tertawa.

“ah, dan satu lagi. Jangan pakai satu ember air es.”

FIN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s