Hate u Love u

 

Tittle   : Hate U, Love U

Cast     : Kwon Jiyong, Cho Ah Young, Cho Kyuhyun, Lee Hyeri.

Genre  : ???

 

Ah Young’s PoV

“Ah Young-ya! Banguuuuuun!!!!” Kyuhyun, kakakku berteriak.

“5 menit…” pintaku tetap dengan mata terpejam.

“dari setengah jam yang lalu kau terus mengatakan itu! Ayo bangun! Atau kau mau oppa-mu mengambil satu ember air?” ancam Kyuhyun.

“aaargh… Arrasso arrasso!” teriakku malas.

“sekarang kau cepat mandi dan sarapan. Oppa akan menunggumu di bawah,” kata Kyuhyun seraya berjalan keluar kamarku. Setelah Kyuhyun keluar aku kembali tidur.

‘”YAH! CHO AH YOUNG! JANGAN COBA-COBA MENIPUKU!” teriak Kyuhyun dari bawah.

“aish! Orang itu matanya ada berapa sih? Jangan-jangan dia pasang CCTV lagi di kamarku.” Aku menggerutu. Dengan malas aku berjalan ke kamar mandi dan menikmati pancuran air dingin yang membuatku merasa segar. Aku mengenakan seragamku dan memakan sarapanku di bawah bersama Kyuhyun.

“oppa, aku berangkat dulu yah. Annyeong.”

“oke, hati-hati ya,” jawab Kyuhyun. Aku mencium pipi Kyuhyun dan berjalan ke sekolah.

Dalam perjalanan ke sekolah ada yang memanggil namaku.

“annyeong Ah Young-ah!” sapa Jiyong, makhluk paling menjengkelkan di abad 21.

“apa maumu Kwon Jiyong?” tanyaku datar.

“ya! Aku kan hanya menyapamu! Dan jangan panggil aku dengan nama itu! Namaku itu GD!” Aku terus berjalan dan menghiraukannya. Tampaknya aku belum mengenalkan siapa Kwon Jiyong a.k.a GD itu. Dia adalah rivalku. Dari kami kecil, dia selalu mengalahkan aku dalam segala hal. Itulah yang membuat aku membencinya.

“Ah Young-ah, ayo berlomba, siapa yang paling cepat sampai di sekolah dia adalah yang paling hebat,” tawarnya. Satu-satunya hal yang tidak bisa aku tolak adalah ketika ada seseorang yang menantangku. Aku mendapat sifat kompetitif seperti ini mungkin dari Kyuhyun yang adalah seorang gamer sejati.

“baiklah. Pada hitungan ketiga. Han…Dul…Set!” Kami berdua pun mulai berlari menuju sekolah. Walaupun aku seorang wanita, tapi lariku sangat cepat. Ayolah, sedikit lagi aku memenangkan perlombaan ini. Tinggal sediiikii……. WHAT?! Dia mengalahkanku?! Lagi?! Aku tidak percaya.

“HAHAHA! Lihat! Terbukti kan siapa yang terbaik,” lagi-lagi dia menertawaiku.

“argh!” Aku menggerem kesal dan pergi meninggalkannya.

“sudah kuduga. Aku tidak akan menang melawan dia,” aku menghela nafas berat dan berjalan menuju kelasku. Di kelas aku melihat Jiyong melihatku dan tersenyum penuh kemenangan seakan berkata I’m the winner and you’re the loser. Aku membuang mukaku dan duduk di kursiku. Guru datang dan sekelas memberinya salam.

“selamat pagi Ms.Han.”

“selamat pagi juga anak-anak. Sekarang sebelum memulai pelajaran, ada yang ingin saya umumkan. Selamat kepada Jiyong, dia terpilih menjadi wakil sekolah ini untuk olimpiade fisika antar SMA di Seoul. Ah Young-ah, jangan kecewa, walaupun kamu tidak terpilih. Mungkin lain kali kamu akan terpilih,” kata Ms.Han. Aku hanya memaksa tersenyum. Murid-murid lain bertepuk tangan dan memberi ucapan selamat pada Jiyong.

Please God… Nggak mungkin kali ini dia juga yang menang. Aku menatapnya penuh dendam. Tega sekali dia? Dia kan tau kalau perlombaan ini penting sekali untukku. Ini adalah impianku sejak kecil. Aku mencoba sebaik mungkin untuk tidak menangis. Aku sama sekali tidak bisa berkonsentrasi pada pelajaran hari itu. Ketika bel istirahat berbunyi, aku hanya diam di kelas dan membaca bukuku. Terlalu malas untuk pergi ke kantin.

“ini. Ambilah,’ ujar Jiyong menyodorkanku separuh dari sandwichnya.

“tidak usah,” aku mengalihkan pandanganku darinya. Aku masih sangat kesal dengannya.

“bagaimana kalau kita berlomba siapa yang makannya paling cepat?” ajaknya. Aku langsung meninggalkannya tanpa berkata sepatah-katapun.

Aku duduk di bangku taman dan mendengarkan ipod-ku mencoba menenangkan diri.

“aish! Hari ini aku begitu sial!” gerutuku.

“lebih baik aku pulang saja. Kyuhyun oppa pasti sudah pergi ke kampus.” Hari itu aku memutuskan untuk membolos dari pelajaran selanjutnya. Sesampainya di rumah ternyata Kyuhyun oppa belum pergi. Matilah aku.

“dongsaeng-ah, kenapa jam segini kau sudah pulang? Kau sakit?” tanya Kyuhyun khawatir.

“a-anio oppa,” jawabku sambil menundukan kepalaku.

“jangan bilang kalau kau membolos,” Kyuhyun melipat tangannya di dada. Aku hanya bisa mengangguk.

“ada masalah apa? Kau kan tidak akan pernah membolos kecuali ada masalah.” Aku kembali mengangguk. Kyuhyun memang sangat mengenalku, yaiyalah aku kan adik perempuan satu-satunya yang ia punya.

“apa ini karena Jiyong?” tebak Kyuhyun.

“dari mana oppa tahu?” tanyaku kaget.

Aku curiga dia memiliki kemampuan membaca pikirang orang. Baiklah, hal seperti itu hanya ada di film-film tapi siapa tau. Oppa-ku satu ini punya keahlian membaca pikiran orang, apalagi sekarang ini Kyuhyun oppa terlihat makin aneh.

“aku ini kan oppa-mu Ah Young. Coba kamu ceritakan apa yang terjadi.” Aku pun menceritakan semua yang terjadi.

“jadi begitu. Hanya gara-gara kamu tidak dipilih menjadi wakil dalam olimpiade fisika kamu marah pada Jiyong? Ayolah Ah Young-ah, apakah kau tidak berpikir kalau tindakanmu ini terlalu kekanak-kanakan? Masa hanya karena dia yang dipilih dan kau tidak lalu kau jadi ngambek.”

What? Oppa-ku sendiri juga membelanya?!

“oppa sama sekali tidak membantu! Pokoknya aku membenci Kwon Jiyong! Selamanya aku akan membencinya!” Aku berteriak sambil berlari ke kamarku.

“HATI-HATI! NANTI KAMU MALAH JATUH CINTA SAMA DIA! BEDA ANTARA BENCI DAN CINTA ITU TIPIS!” Kyuhyun berteriak dari bawah.

Keesokan harinya aku pergi ke sekolah seperti biasanya. Ketika sampai di depan kelasku aku mendengar Hyeri, teman sekelasku sedang berbicara dengan Jiyong.

“oppa, a-aku m-menyukaimu. Jadilah pacarku!” kata Hyeri setengah berteriak sambil menundukkan kepalanya. Aku nggak salah dengar kan?! Hyeri mengutarakan cintanya kepada Jiyong?! Tunggu, apa peduliku? Dia mau jadian sama siapa juga kan bukan urusanku.

“iya, aku mau,” jawab Jiyong.

“ANDWAE!!!”Aku berteriak dan otomatis menarik perhatian mereka.

“kamu kenapa Ah Young?” tanya Jiyong.

Betul sekali! Kamu kenapa CHO AH YOUNG?!

“H-hyeri, pikirkan baik-baik untuk menjadi pacarnya. S-sayang kan cewek secantik kamu jadi pacar cowok brengsek seperti dia,”  ucapku gugup.

“kamu cemburu yah?” tanya Jiyong.

“pppffft…. aku? Cemburu? Please deh,” aku memutar mataku.

“ayo chagiya! Kita pergi. Jangan dengarkan dia,” ucap Jiyong menggandeng tangan Hyeri pergi dari kelas. Chagiya? Mwo???

Sudah 3 minggu sejak Jiyong dan Hyeri menjadi pasangan. Selama itu pula Jiyong tidak pernah menggangguku lagi. Mengapa aku merasa ada yang hilang dari diriku? Tiba-tiba terdengar ketukan di pintuku.

“Ah Young-ah, boleh oppa masuk?” tanya Kyuhyun oppa.

“masuk saja oppa,” jawabku menyuruhnya masuk. Kyuhyun masuk dan duduk di ujung tempat tidurku.

“ada apa oppa?” tanyaku.

“dongsaeng-ah, akhir-akhir ini aku melihatmu tidak bersemangat. Waeyo?” Kyuhyun membelai rambutku.

“gwaenchana oppa, aku hanya kecapekan saja. Sekarang jadwal di sekolah makin padat,” aku berbohong.

“kau tidak bisa membohongiku Ah Young,” katanya.

“aku… opppa…sebenarnya aku juga tidak tau apa yang terjadi denganku. Sejak Jiyong berpacaran dengan Hyeri aku merasa… Sepi… Setiap aku melihat mereka berdua, perasaanku selalu marah, kesal, sedih. Aku bingung oppa…” Aku mulai menceritakan isi hatiku yang sebenarnya kepada Kyuhyun sambil menangis.

Kyuhyun memelukku. “dongsaeng-ah aku yakin kau mencintainya,” kata-kata Kyuhyun tiba-tiba saja menyadarkanku. Aku mencintai Kwon Jiyong.

“jangan coba-coba menyangkalnya. Jika kau benar-benar kehilangan orang yang kau cintai akan lebih menyakitkan.” Kyuhyun menghapus air mataku dengan kedua ibu jarinya.

“gomawo oppa,” aku tersenyum.

“ne, cheomaneyo. Memang oppa adalah laki-laki tapi siapa bilang kakak laki-laki tidak bisa diajak curhat.” Kyuhyun membanggakan dirinya dan aku hanya bisa tersenyum. Ternyata selain perhatian dengan PSP nya oppa juga bisa perhatian dengan adiknya ini. aku sungguh bangga mempunyai oppa seperti Cho Kyuhyun.

Keesokan harinya adalah hari perlombaan. Aku memutuskan untuk datang ke tempat perlombaan untuk memberikan semangat kepada Jiyong. Sesampainya di gedung perlombaan aku mencari-cari Jiyong.

“kira-kira dia di mana yah?” aku terus berjalan sambil mencari-cari sosok Jiyong diantara para peserta perlombaan yang banyak jumlahnya.

Tiba-tiba aku mendengar percakapan antara Hyeri dengan seorang gadis yang sepertinya adalah lawan Jiyong. “dongsaeng-ah, kau tahu kan apa yang harus kau lakukan? Campur obat ini ke dalam minuman Jiyong lalu pastikan dia meminumnya. Dengan begitu dia akan merasa pusing dan di diskualifikasi karena tidak bisa mengikuti lomba ini,” kata gadis itu sambil memberikan botol kecil ke tangan Hyeri.

Ketika aku hendak pergi, handphone-ku tiba-tiba berdering. Sial!

“siapa di sana?!” tanya gadis itu. Aku hendak pergi tapi terlambat. Gadis itu telah menarikku dan segera membawaku ke sebuah gudang.

“Kau akan tinggal di sini sampai perlombaan berakhir!” Dia dan Hyeri pergi meninggalkanku. Mereka mengikatku dan menutup mulutku dengan sapu tangan. Aku tidak percaya Hyeri melakukan hal ini padaku dan Jiyong.

*Sementara itu di tempat perlombaan*

“Ah Young di mana ya? Apa dia tidak datang?” Jiyong melihat jam tangannya. Sebentar lagi perlombaan akan di mulai dan dirinya belum tenang kalau belum melihat Ah Young. Karena sebenarnya beberapa hari ini, ia jarang sekali menyapa dan bercakap-cakap dengan Ah Young. Para peserta sudah berkumpul di tempat perlombaan.

“o-oppa,” panggil Hyeri.

“ne? Ada apa chagiya?” tanya Jiyong.

“i-ini j-jus buah untuk o-oppa. Aku buat special,” kata Hyeri gugup. Gadis yang menyuruh Hyeri untuk memberikan minuman itu kepada Jiyong hanya tersenyum licik dari tempatnya yang tak jauh dengan Jiyong dan Hyeri.

“gomawo chagiya,” kata Jiyong hendak meminum jus itu tapi tepat sebelum Jiyong meminumnya, Hyeri mendorong botol itu sampai botol itu terjatuh.

“kenapa Hyeri-ah?” tanya Jiyong.

“m-maaf oppa! Aku bukanlah perempuan yang sebaik oppa kira. Aku menjadi pacarmu karena kakakku yang mengikuti lomba ini ingin aku untuk membuatmu didiskualifikasi dengan cara memberikan minuman yang telah dicampur obat itu. Mianhe. Jeongmahl mianhe!” sesal Hyeri sambil menangis tersedu-sedu.

“dan oppa, cepat temukan Ah Young. Dia di sekap di gudang,” tambah Hyeri. Jiyong langsung melesat menuju gudang sambil memanggil nama Ah Young.

“Ah Young-ah!!” teriak Jiyong. Aku membalas teriakannya agar dia tau aku di mana aku berada. Pintu pun dibuka paksa dan Jiyong segera membuka tali yang melilit di tanganku.

“Ah Young-ah, gwaenchana?!” Dia terlihat sangat khawatir. Aku mengangguk dan dia langsung memelukku.

“kau tahu aku begitu khawatir.” Dia masih tetap memelukku. Aku bisa mendengar detak jantungnya. Berdetak begitu kencang dan cepat. Begitu juga detak jantungku. Dia melepas pelukannya.

“bagaimana kau tahu aku ada di sini?” tanyaku penasaran.

“Hyeri menceritakan semuanya padaku,” jawabnya sambil tersenyum.

“omo! Ayo kau kan harus ikut lomba!” aku mengingatkan dia.

“betul juga! Ayo!” Jiyong menarik tanganku dan kita berlari ketempat perlombaan. Kita sampai tepat waktu.

Dua jam sudah berlalu dan sekarang tibalah saat pengumuman pemenang.

“perhatian semuanya, sekarang saatnya pengumuman pemenang Olympiade Fisika tingkat SMA se-kota Seoul,” kata salah seorang juri.

“yang mendapat medali perunggu adalah… Kim ryewook,” semua penonton bertepuk tangan dan Ryewook maju ke atas panggung. “yang mendapat medali perak adalah… Choi Jinri…” Ternyata dia adalah gadis jahat itu. Dia pun naik ke atas panggung dengan wajah kecewa. “dan yang mendapat medali emas adalah… Kwon Jiyong!” Aku langsung berdiri memberikan tepuk tangan paling meriah sampai-sampai orang-orang di sekitarku melihat ke arahku. Aku tersenyum kikuk dan kembali duduk.

Setelah berfoto, mendapat medali, dan sebagainya Jiyong segera menghampiri aku.

“selamat yah.” Aku menyalaminya.

“terimakasih,” Jiyong tersenyum.

“kau memang selalu memenangkan segalanya,” kataku cemberut.

“ada satu hal yang belum aku menangkan,” dia tersenyum manis.

“apa itu?” tanyaku.

“hatimu.” Dia langsung mencium bibirku dan aku membalas ciumannya tanpa berkata apapun.

“apakah ini tandanya aku memenangkan hatimu?” Jiyong tersenyum menggoda.

“seperti yang aku bilang, kau selalu memenangkan segalanya.” Aku mengedipkan sebelah mataku dan tersenyum.

FIN

>> kisah cinta Cho Kyuhyun….

Melihat kebahagiaan dongsaeng-nya bersama pacarnya Kwon Jiyong. Kyuhyun merasa dia kembali mengingat bagaimana dulunya dulu dia merasakan kisah SMA, yang kini masih jelas teringat di benaknya. Kisah cinta yang mungkin tak jauh beda dengan dongsaeng-nya. Kalian mau mendengarnya…..

Baikalah aku akan memulainya…

Apa yang harus aku lakukan?? Aku benar benar bingung. Jantungku terus saja berdetak. Semakin berdetak. Tuhan…. Aku tidak bisa berkosentrasi. Keringat dinginku mulai bercucuran. Aku menoleh ke belakang. Ia masih serius mengerjakan test yang ada dihadapannya. Bagaimana aku ini. Aku tetap saja tidak bisa berkosentrasi. Pikiranku sekarang sudah mendua. Antara ujian ini dan.. Ya TUHAN…! Kuhentakan alat tulisku ke atas meja. Tanganku kukepal. Aduh.. Betapa bodohnya aku. Apa yang harus aku utamakan…

”waktu sekitar 15 menit lagi,” seorang pengawas memberi kami peringatan. Mengatakan bahwa test ini akan berakhir.

Suasana hatiku tetap saja tidak dapat dikendalikan. Waktu 15 menit itu akan berakhir. Buatlah keputusan yang terbaik untukmu Kyuhyun. Aku menggerutu dihati. Yang benar saja, aku tetap tidak bisa mengendalikan diriku sendiri. Keringatku bercucuran. Ya Tuhan, kertas test ku! masih suci tidak terkotori sedikitpun.

”cek semua nama, nomor peserta, dan cek kembali jawaban kalian. Waktu hanya tinggal 5 menit lagi.”

5 menit lagi. Baiklah. Aku telah putuskan! 5 menit itu telah berat pada salah satu sisi. Kalian juga dapat menilai apa yang jadi keputusanku.

”selesai. Letakkan kertas test kalian di atas meja. Hasil test akan diumumkan satu jam lagi. Semua sudah dapat keluar dari ruangan ini.”

Aku berdiri dan langsung keluar dari ruangan yang membuatku sesak ini. Aku berlalu keluar dari kelas ini dan menuju temapt yang sunyi. Aku ingin sendiri. Aku akan merenung, bertapa. Apakah keputusanku salah?

0o0o0o0o0o0o

Sudah 2 jam berlalu. Pengumuman itu tidak kunjung diberitakan.Parapeserta telah pucat, mondar-mandir. Dengan ekspresi yang berbeda-beda di luar. Ini adalah test kemampuan matematika para pelajar disekolah kami. Sering disebut olimpiade matematika. Kami sedang berlomba memenangkan olimpiade ini untuk membawa bendera sekolah kami ke Ibukota. Kami dijaring dari setiap kelas untuk mengikuti test ini. Dan aku ikut serta karena disponsori oleh wali kelasku.

Seorang panitia penyelenggara sedang membawa selembar kertas ke arah luar.Parapeserta berlari kearah panitia itu. Ternyata panitia itu hendak menempelkan pengumuman, siapakah gerangan yang akan di bawa ke Ibukota. Aku tidak perduli, namaku pasti tidak ada disana. Aku yakin sekali. Jelas-jelas kertasku masih putih bersih dan tidak ternoda.

WUAAAAAAAAAAAA………!!! mereka semua bersorak.

Aku tersenyum. Sepertinya aku mengerti mengapa mereka semua berteriak. Yang terpilih dan memenangkan test ini adalah seperti perkiraanku. Dan seperti perkiraan mereka.

Sooyoung. Siswi kelas 3E yang telah menjadi saingan terberatku di sekolah ini. Ya, di sekolah yang besar ini. Hanya dialah dan diriku yang selalu merebutkan peringkat atas. Aku dari kaum adam dan dia dari hawanya. Musuh bebuyutanku. Mungkin itulah tepatnya.

Semua orang sekarang sedang memberi ucapan selamat kepadanya. Guru-guru juga tidak ketinggalan memberikan ucapan selamat kepadanya. Aku hanya memandangnya dari kejauhan. Dia selalu memberi senyuman kepada siapa saja yang memberinya selamat. Aku tidak luput melihat gerak geriknya dari kejauhan.

Tiba tiba, dari sela sela disibukkan oleh ucapan selamat dari orang orang disekitarnya itu. Dia melihat ke arahku. Ups!! Kubalikkan badanku. Apa dia tahu, aku memperhatikannya? Ah… semoga saja tidak. Aku berpura pura membuka buku. Dan masih membalik badan.

”hei! Kyuhyun!”

Adayang memanggilku. Aku berbalik.

”oh.. selamat Soo.. akhirnya kau menang juga ya,” aku menyodorkan tanganku padanya.

Ia hanya memandangku. Tidak menyambut tanganku. Aku langsung mengangkat tanganku dan menggaruk garuk kepala. Jadi salah tingkah.

”apa yang kau lakukan?” tatapannya tajam, setajam silet.

”apa..???” apa yang dia maksudkan padaku. Aku masih tidak mengerti..

PLAAKKK!!! Tangannya mendarat di pipiku. Aku langsung memandang ke arahnya. Apa ini??!!

”bagus sekali kau Kyuhyun.. Aku membenci!!BENCI!! Bukan begini caranya!!” dia berteriak sekeras mungkin.

”maksudmu apa Soo? Aku… AKU KENAPA??!!” suaraku tidak lebih keras darinya. Aku merasa tidak melakukan apa pun untuknya.

”aku tahu! Kamu bisa memenangkan test inikan??!! Tapi kenapa kamu malah tidak mengerjakannya HAH????!!! Kamu mau mempermainkan aku?? Kamu anggap ini hal yang sepele?? Karena itu kamu tidak mau menang??” wajahnya memerah karena marahnya meledak.

HAH!! Dari mana dia tahu aku tidak mengerjakannya.

”da.. da..ri mana kau tahu aku tidak mengerjakannya Soo????” aku jadi gagap.

”jawaban yang sangat bodoh Kyuhyun…” wajah kebenciannya sangat jelas sekali.

”jadi memang benar kau tidak mengerjakannya? Karena tidak mungkin aku bisa memenangkan test ini, jika kau mengerjakan test yang sangat mudah untukmu itu”.

Soo.. bukan itu maksudku. Aku hanya bisa terdiam dengan makian ini.

”aku benci kau Kyuhyun!! Bukan seperti ini caranya!! Harusnya kau sportif dalam test ini!! Jika kau pun yang menang!! Itu lebih baik untukku!!”

Soo.. mulutku serasa kelu ingin membela diri. Laki laki pengecutkah diriku ini.

”AKU BENCI KAU KYUHYUN!!!!” Sooyoung berteriak sekeras mungkin di depanku. Bediri di depanku. Dan tertunduk. Terdengar suara isak tangisnya.

”Soo…” kataku padanya. Mengapa semua jadi seperti ini.

”aa..ku.. ben…ci… ka..ka..u.. Kyu…” suaranya tersendat sendat.. di iringi isakan tangisnya. Begitukah jahatnya diriku ini. Tapi bukan itu maksudku Soo.. jawab Kyuhyun bodoh. Jeritku dihati.

”Soo.. maafkan aku.. bukan itu maksudku. Aku memang tidak mengerjakannya. Itu karena….” suaraku terputus..

”ke..na..pa..? a.aa..ku me..mang be..nar ingin me.nang.. ta..ta..pi.. bu..kanseperti.. orang bo..doh..! se..perti..ini..” ia masih menunduk. Suaranya parau, karena berbicara sambil menangis.

”Bukan Soo..” aku harus jujur padanya.”Ini karena.. Karena aku mencintaimu..” akhirnya kata kata itu keluar juga..

Tersentak Sooyoung memandang ke arahku.MungkinIamendengar kata kata yang tidak pernah Ia sangka keluar dari mulut seorang Kyuhyun.

”ya.. aku mencintaimu. Entah mengapa, dirimu lebih penting dari test ini. Hanya itu yang ada di benakku.” aku memandang lekat ke arah Sooyoung.

Ia hanya menghela air matanya yang telah melembamkan matanya. Dan masih menatapku. Dengan wajah penuh tanya.

”ya Sooyoung.. aku sudah lama menyukaimu. Dan aku adalah salah satu laki-laki pengecut Soo, itu yang harus kau tahu. Aku tidak pernah berencana untuk mengatakan ini semua. Dan mungkin inilah waktunya. Aku tahu, kamu sangat mengharapkan memenangkan test ini. Dan aku tahu kau bisa Soo. Ini semua karena kau bisa mengalahkan semua orang. Aku tidak melakukan apa pun pada mu. Ini murni karena usahamu,” aku menjelaskan panjang lebar.

Ia masih menatapku. Entah dengan perasaan bingung atau tidak percaya dengan ucapanku.

”saranghae Sooyoung..” aku memandangnya. Tidak ada respon sedikitpun.

”jawab Soo…” aku memelas padanya.

Dia hanya menatapku lekat. Dia tidak menangis seperti tadi. Tetapi wajahnya masih lembab karena tangisannya tadi.

“aku harus jawab apa?” hanya itu yang keluar dari mulut mungilnya.

“karena aku sudah terlanjur mengungkapkan perasaanku padamu. Maukah kau menjadi pacarku?” kata kata yang tidak kusangka dapat kuucapkan.

Sooyung hanya memalingkan wajahnya. Dan matanya bergerak kesana kemari. Mungkin masih menghitung rumus apa yang dapat memecahkan pertanyaan yang kuberikan.

Aku langsung memegang tangannya. Sooyoung mulai malu, entah risih karena tangannya kugenggam atau…. Entahlah.

”aku ingin kau jawab sekarang Soo.. bisa kan?” aku memandangnya lekat. Kejantananku akhirnya datang juga saat kubutuhkan.

”TE-RI-MA..! TE-RI-MA…! TE-RI-MA..! TE-RI-MA..!” aku tersentak mendengar sorakan para teman-temanku yang dari tadi ternyata memperhatikan kami. Tetapi aku dan Sooyoung tidak menyadari. Aku lupa, kami berada ditempat yang seramai ini.

”TE-RI-MA..! TE-RI-MA…! TE-RI-MA..! TE-RI-MA..!” sorak sorai teman-teman menguatkan tekadku. Kupandang lekat lekat Sooyoung. Bantu aku TUHAN..

Sooyoung melihat ke arahku dan memberiku jawaban.

”ada syaratnya…” Ia memberi senyuman padaku.

”a…a..apa syaratnya..?” aku gugup. Wajah bingungku menghiasi wajah tampanku ini.

”ajari aku ya untuk test nanti.. aku mau jadi pacarmu.” Ia masih memberiku senyuman.

Aku langsung memberinya sebuah anggukan dengan cepat. Untuk menjawab syarat yang Ia ajukan. Aku langsung memeluk Sooyoung.

”WUAAAAAAAAAAAA~~~” sorak semua penonton yang melihat adegan yang tak pernah mereka lihat di tv, yang kulakukan pada Sooyoung sekarang dan tentu saja aku yang tak tahu diri ini langsung mencium seingkat bibir Sooyoung.

0o0o0o0oo0o

“OPPA?!!!”

Ah Young berteriak tepat di telingaku membuatku ingin memukul kepalanya.

“ada apa?”

“kenapa oppa senyum-senyum sendiri?” tanya  dongsaengku.

“memangnya tidak boleh?”

“kalau oppa senyum-senyum seperti tadi nanti bisa saja dikira gila. Dan barusan Sooyoung unnie telepon dan memberitahuku untuk mengingatkan oppa kalau sore ini ada janji kencan di sungai Han ….”

“ahh…aku selalu saja melupakan jinjiku sendiri. Baiklah aku harus siap-siap.” Aku langsung meninggalkan Ah Young yang mungkin masih penasaran, kenapa tadi aku senyum-senyum sendiri. Aku berjalan ke kamarku masih saja senyum sendiri. Entah mengapa setiap memikirkan Sooyoung, aku merasa bahagia. Saranghae Sooyoung….

FIN FIN

*ayo….gimana nih reader ceritanya??? Maap ya kalau kayak teenlit gini…hehehe….

Jangan lupa ninggalin jejak kalian ya….RCL selalu. Ok?*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s