A Short Journey [Kimbum feat Soeun]

Tittle : A Short Journey

Cast : Kimbum

Kim So Eun

Support cast: Kim Jang Eun

Genre : Romantic

Wajah itu, wajah yang sangat kusukai. Setiap lekukan wajahnya tampak begitu indah. Matanya yang sipit dan besar begitu tampak menawan. Hidungnya yang mancung itu benar-benar menambah kesempurnaan wajahnya. Apalagi bibir tipisnya yang berwarna merah bagai mawar sungguh membuat dirinya sangat-sangat cantik.

Mataku tak pernah berhenti menangkap sosok itu. Kulihat dia sedang fokus membaca buku yang ada di tangannya. Aku suka ekspresi itu. Ekspresi saat dia sedang  serius memandang sesuatu. Kutepuk pundaknya pelan, dia menoleh ke arahku dan terseyum. Senyum  yang sederhana, tapi berhasil membuat jantung ku serasa melompat.

“sedang membaca buku?” tanyaku, lalu ikut duduk di kursi panjang yang sedang didudukinya.

“umm.” dia menganggukkan kepalanya sambil memandang wajah ku dan bukunya secara bergantian.

“kau masih punya waktu kan. Ayo kita pergi sebentar.”

So Eun melirik jam tangannya sekilas. “baiklah, ayo kita pergi.” Kami berdua bangkit dari bangku panjang lalu berjalan pergi.

0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0

Aku membawa So Eun  ke tanah lapang yang biasa digunakan anak-anak untuk bermain. Tanah lapang itu kini diutupi oleh tumpukan dedaunan yang berwarna kuning,orange,dan juga coklat. Kurebahkan tubuh ku di atas tumpukan-tumpukan dedaunan itu.

“kemarilah.” kulambaikan tanganku untuk So Eun,tapi dia tampak bingung. Aku tersenyum tipis. Kugapai jari-jari tangannya, menariknya dengan lembut hingga tubuhnya terjatuh. Tepat di atas tubuhku. So Eun tampak sangat kikuk. Dia berusaha bangkit namun tanganku melingkar di pinggangnya.

“sebentar saja,” aku berbisik padanya. Dia menundukkan wajahnya, aku rasa dia menyembunyikan wajahnya yang saat ini sedang merona merah karena malu.

“Kimbum-ssi aku…aku malu. Bagaimana kalau ada yang lihat,” So Eun melirik wajah ku sekilas dan kembali menundukkan wajahnya.

“tidak apa-apa. Sebentar saja,” kini tangan ku beralih ke kepalanya, membenamkan kepalanya di dadaku dan So Eun menuruti. Dapat aku rasakan sekarang, detak jantung kami betemu, seirama sangat indah. So Eun hanya diam, tidak mengatakan sepatah katapun, wajahnya masih terbenam di dada bidangku.

Setelah agak lama, aku melonggarkan pelukanku. So Eun pun melepaskan diri dan ikut berbaring di atas tumpukan dedaunan di sampingku. Dia mendongakkan kepalanya memandang langit lalu perlahan memejamkan matanya. Perlahan kugapai jari-jari tangannya dan menggenggamnya erat.

Aku ingat pertama kali aku mengenalnya, saat tahun pertama memasuki Universitas. Saat itu pula aku menyukainya, benar-benar menyukainya hingga aku tidak pernah berhenti mencari tahu segala tentangnya. Apa yang disukainya dan apa yang tidak disukainya.

So Eun, sangat suka membaca buku ilmu pengetahuan. Dia juga sangat suka musim gugur. Dia suka cappucino panas,bronies coklat,dan dia juga sangat senang mendengar musik klasik. So Eun tidak suka matahari pagi, tidak bisa makan daging dan tidak suka keributan.

Hingga hari ini, rasa itu masih tetap sama. Aku masih menyukai sosoknya yang pendiam namun cerdas itu. Meskipun sampai sekarang aku masih belum bisa memiliki hatinya. Aku juga ingat saat aku menyatakan perasaanku padanya, itu lebih dari satu tahun yang lalu. Saat tahun kedua kami di Universitas. ‘entahlah.. aku…aku merasa belum bisa, aku merasa belum pantas untuk itu’ itulah kata yang dikeluarkan So Eun saat aku menyatakan perasaanku padanya. Kata-kata yang sangat berbeda dengan gadis lain yang pernah menerima pernyataan cintaku. Dan kata-kata itu yang membuat aku semakin mencintainya meskipun sebenarnya aku tak tau apa maksud perkataan tersebut.

“musim gugur tahun ini semakin indah,” ucapan So Eun membuyarkan lamunanku tentang masa lalu yang baru saja berputar di otakku. “apalagi di Paris, pasti di sana jauh lebih indah,” lanjut So Eun lagi.

Aku menyunggingkan senyum  mendengarnya. Oh ya, satu lagi. So Eun sangat ingin pergi ke Paris , dia bilang dia ingin menikmati musim gugur di sana.

“umm…” gumamku padanya.

“Kimbum-ssi aku rasa aku harus pergi sekarang.” So Eun melepaskan genggaman tanganku dan bangkit.

“sayang sekali, padahal aku ingin berlama-lama dengan mu,” aku ikut berdiri. “baiklah kalau begitu. Ayo aku antar.” Kami meninggalkan tanah lapang tersebut.

0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0

Aku menghentikan mobilku tepat di depan sebuah restoran Prancis. Inilah tempat yang harus So Eun datangi setiap sepulang kuliah. Dia bekerja paruh waktu di sini, untuk membiayai hidupnya dan juga adiknya yang berumur sebelas tahun. So Eun dan adik perempuannya adalah yatim piatu. Kedua orang tua mereka meninggal karena sebuah kecelakaan pesawat. Inilah yang mengharuskan So Eun untuk bekerja keras, menggantikan posisi orang tuanya.

“So Eun….” aku menangkap lengannya saat dia ingin membuka pintu mobil.

“eumm?”

“besok… ahh besok aku akan menjemputmu. Kita berkencan, ok?”

“ummm… tapi….”

“besok hari minggu jadi kau tidak bekerja kan.” Tanganku masih memeluk lengannya. Kulihat So Eun yang tampak sedang mempertimbangkan sesuatu.

“baiklah,” So Eun menganggukkan kepalanya, serta senyum yang mengembang di pipinya. Begitu juga denganku, aku tersenyum bahagia bukan main.

0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0

Aku menunggu So Eun di dalam apartemennya. Jantungku benar-benar tidak bisa dikontrol, berdegup begitu hebat. Ini memang bukan kencan pertamaku, karena dulu aku sering berkencan dengan para gadis. Tapi hari ini rasanya sangat beda, mungkin karena gadis yang akan kukencani adalah So Eun, gadis yang sangat istimewa bagiku.

“oppa, kalian mau berkencan?” Jang Eun, adik perempuan So Eun duduk di sofa yang sama denganku sambil memeluk bonekanya.

“kau tahu itu?”

“aku hanya menebak saja, semalam eonnie sibuk sekali memilih pakaian dan sepatu. Dan sekarang aku melihat oppa menunggu diluar. Jadi aku rasa tebakanku benar kan?” Jang Eun menekuk wajahnya, menunggu jawaban dariku.

“anak pintar,” aku mengacak-acak rambutnya. “bolehkan oppa berkencan dengan eonnie-mu?”

“tentu saja boleh. Jaga eonnieku dengan baik. Arasso ?” Jang Eun berlagak seperti orang dewasa.

“arasso Jang Eun yang cantik,” kucubit pelan kedua pipinya yang chuby itu. Dia hanya tertawa kecil mendapat perlakuanku.

“Kimbum-ssi mianhae kau pasti menunggu lama.” So Eun muncul di hadapan kami. Sangat cantik, gaun putih selutut yang sederhana tampak sangat indah di tubuhnya, ditambah sepatu balet yang senada dengan gaunnya semakin membuatnya sangat anggun.

“Tidak. Kau sudah siap?” aku berdiri dari duduk ku.

“umm.” So Eun menganggukkan kepalanya. “Jang Eun, tidak apa-apakan eonnie tinggal hari ini?” So Eun mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan Jang Eun.

“tidak apa-apa. Eonnie bersenang-senanglah”

“Jang Eun, oppa pinjam eonnie-mu sebentar ya,” aku ikut mensejajarkan tinggi tubuhku dengan Jang Eun.

“lama juga tak apa, oppa.” Jawaban Jang Eun membuat aku dan So Eun salah tingkah.

“cepat pergi.” Jang Eun mengantar kami keluar apartementnya.

0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0

Seperti biasa, kencan hari ini diawali dengan pergi ke bioskop untuk menonton film. Aku melakukan ini berdasarkan pengalaman kencan ku. Karena aku sangat berbakat dalam hal berkencan saat duduk di bangku SMA dulu. Setelah menyelesaikan menonton film kami pergi ke taman hiburan, para gadis akan merasa senang jika berada di taman hiburan bersama pasangan kencannya.  Kami mencoba beberapa permainan di sana. Dan sukses, So Eun begitu tampak gembira. Menjelang matahari tenggelam aku membawa So Eun ke sungai Han.

Kami menikmati indahnya pemandangan matahari terbenam di sana. Dan untuk yang terakhir aku membawanya ke taman kota. Tampak beberapa pohon menjatuhkan daun-daunnya. Aku membimbing So Eun untuk duduk di bangku panjang tepat di bawah pohon besar yang tengah menjatuhkan helai-helai daunnya.

“jika saja bisa, aku ingin musim gugur berlangsung sepanjang tahun,”  So Eun mengedarkan pandangannya ke sekeliling taman yang dipenuhi oleh tumpukan dedaunan.

“aku juga,” ungkapku. So Eun menyunggingkan senyum mendengar ungkapanku. Aku ikut mengedarkan pandanganku ke sekeliling taman ini. Ada beberapa pasangan yang terlihat sangat mesra. Bahkan ada yang terlihat sedang berciuman. Aku tertawa geli melihat pemandangan itu.

“dingin?” tanyaku sambil memandang wajah lugunya.

“tidak juga,” So Eun tertawa kecil, sepatunya menyentuh dedaunan yang berserakan di bawah kursi kayu ini. Kulepas Jas ku dan memakaikannya untuk So Eun.

“tidak perlu seperti ini. Kau akan kedinginan nanti,” So Eun memandangi  jas yang sudah tepasang di bahunya.

“aku tidak kedinginan sedikitpun,” ucapku yang kemudian dibalas senyum oleh So Eun.

“Kimbum-ssi. Gomawoyo.”

“So Eun…” aku memanggil namanya pelan.

“umm?”

“kau senang hari ini?”

“sangat senang. Gomawoyo,” lagi-lagi So Eun melontarkan senyum yang membuat aku semakin menyukainya.

Sepi… tidak satupun dari kami yang mencoba untuk berbicara. Kulihat So Eun, dia sedang menerawang langit malam yang luas yang kini sedang dipenuhi oleh kumpulan bintang terang. Kusentuh jari-jari tangan So Eun lalu menggenggamnya.

“sampai kapan aku akan mencintai seseorang yang bukan milikku ini,” aku bergumam, yang kuyakin So Eun juga mendengarnya. Kini dia menatapku, aku juga ikut menatap wajahnya.

“So Eun, apa sampai saat ini kau masih belum bisa memberikan ruang untukku di hatimu ?” aku mengeratkan genggaman tangan kami. Kulihat So Eun, dia menunjukkan wajahnya.

“aku…aku… rasanya tidak pantas bersamamu, Kimbum-ssi,” ungkapnya pelan dengan masih menundukkan wajahnya ke bawah. Aku menghela nafas panjang mendengarnya. Aku tau So Eun akan mengatakan hal itu padaku. Dia merasa tidak pantas bersamaku, karena perbedaan status sosial ini.

“Uri Eomma, Appa. Mereka menyukai mu. Kau lupa itu?” aku berusaha mengingatkan So Eun bahwa kedua orang tuaku sama sekali tidak pernah membanding-bandingkan status sosial di antara kami. Bahkan mereka sangat menyukai So Eun.

“apa lagi yang harus aku lakukan untuk membuatmu percaya. Aku…aku benar-benar mencintaimu,” lanjutku lagi.

“apa yang harus aku katakan sekarang,” So Eun kembali menatap wajahku sambil tertawa kecil.

“apa aku benar-benar terlihat lucu?” aku menggaruk-garuk kepalaku bagian belakang.

“tidak,” jawab So Eun.

“lalu?” tanyaku lagi.

Aku berharap ada jawaban dari So Eun tapi ternyata dia hanya diam. Aku kembali menggenggam jari-jarinya. So Eun tersenyum menatapku, dia mendekatkan tubuhnya pada tubuhku. Dia memelukku, melingkarkan tangannya pada tubuhku.

“maaf telah membuatmu menunggu lama, dan… aku juga minta maaf satu tahun yang lalu aku menolakmu tanpa adanya alasan yang jelas. Aku … aku hanya butuh waktu yang panjang untuk memikirkan semua ini. Dan.. dan kurasa hari ini semuanya sudah cukup. Cukup bagiku satu tahun untuk membuatku mempertimbangkan semua ini.” Aku terdiam mendengar semua kata yang keluar dari bibirnya.

“So Eun…” aku melepaskan pelukan So Eun. “apakah ini artinya….”

“benar. Aku terlalu bodoh selama ini, aku berusaha membohongi diriku tentang perasaan ini, tapi nyatanya aku tidak pernah bisa.” So Eun Kembali memelukku. Kali ini lebih erat dari sebelumnya.

“Gomapta.” Aku balas memeluknya.

0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0

“tidurlah dengan nyenyak, sampaikan salamku dan juga ucapan terimakasihku pada Jang Eun karena telah meminjamkan eonnienya padaku hari ini,” aku mengusap pipi So Eun.

“kau juga harus tidur dengan nyenyak. Akan kusampaikan kata-katamu ada Jang Eun nanti”, So Eun menyentuh jari-jari tanganku dengan halus. Kudekatkan tubuhku padanya, sepertinya So Eun mengerti dengan bahasa tubuhku. So Eun memejamkan matanya, kusentuhkan hidungku pada hidungnya. Terasa sangat lembut sekali. Kusentuhkan bibirku pada kelopak matanya, terasa sangat lembut dibibirku.

“aku pulang,” aku menggenggam tangannya sebentar, lalu meninggalkannya untuk pulang.

0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0

Tidak terasa ini sudah bulan kedua aku resmi menjadi pacarnya So Eun. Semuanya baik-baik saja, meskipun akhir-akhir ini kami jarang bertemu karena jadwal kuliah yang padat dan juga So Eun sibuk bekerja.

“bagaimana kabarmu akhir-akhir ini?” kami berjalan di antara pepohonan yang tumbuh besar di tepi jalanan kota Seoul.

“sibuk sekali,” So Eun tertawa kecil. Dia menggandeng lenganku, dengan kepala yang disandarkan pada bahuku.

“walaupun sibuk harus makan tepat waktu dan tidur yang cukup”

“Kimbum-ssi walaupun aku sibuk, tapi aku tetap makan tepat waktu dan tidur yang cukup.” So Eun mendongakkan kepalanya untuk melirikku yang memang lebih tinggi  darinya. Meskipun kami sudah berpacaran dua bulan lamanya, tapi aku belum pernah mendengar So Eun memanggilku dengan panggilan yang mesra, seperti ‘chagia’ ataupun ‘oppa’. Sebenarnya aku benar-benar ingin So Eun memanggilku dengan sebutan oppa. Tapi sudahlah, aku tak mempermasalahkan itu. Aku tau So Eun bukan gadis yang mudah untuk melakukan hal-hal seperti itu, dia menggandeng aku seperti ini saja aku sudah merasa terpukau, karena sebelumnya dia tidak pernah menggandeng aku duluan seperti sekarang ini kalau bukan aku dulu yang memulai.

“ini,” So Eun memberikan segelas cappucino panas padaku, kami duduk dibangku taman yang ada di pinggiran jalan.

“gomawo.”

“bukan apa-apa,” ucap So Eun.

“bagaimana kabar Jang Eun?” tanyaku sambil meneguk cairan cappucino panas yang diberikan So Eun.

“kabarnya baik. dia semakin tumbuh menjadi gadis cantik,” So Eun tertawa kecil sambil meniup gelas cappucino yang mengeluarkan kepulan asap putih.

“dia cantik, sama sepertimu,” aku melirik wajah So Eun yang kini sedang tersenyum. So Eun menyandarkan kepalanya pada bahuku.

“terkadang aku merasa sangat bersalah pada Jang Eun, aku tidak bisa sepenuhnya merawat dia. Aku juga tidak bisa sepenuhnya menuruti kemauannya.” So Eun meletakkan gelas cappucino di atas bangku tempat kami duduk. Aku membelai rambut coklat gelap miliknya.

“apa yang orang tuaku katakan jika melihat aku yang seperti ini. Mungkin mereka sangat kecewa karena aku tidak bisa menggantikan posisi mereka dengan baik.” So Eun merapatkan tubuhnya padaku, tangannya memeluk lengan tanganku.

“kau sudah begitu baik,” So Eun tertawa kecil mendengar ucapanku barusan.

“tahu darimana?”

“Jang Eun juga bilang begitu, kau itu adalah eonnie yang sangat hebat.”

“semoga itu benar.” So Eun mengambil gelas cappucinonya dan menyeduhnya sedikit.

“Kimbum-ssi,” panggilnya tanpa melihat wajahku sama sekali.

“ne?”

“bisa aku minta tolong padamu?”

“tentu saja. Apa itu?” jawabku penuh keyakinan.

“bisakah kau menjaga Jang Eun saat aku tidak ada?” So Eun menegakkan badannya menghadapku.

“tentu saja. Tapi, kenapa berkata seperti itu?” aku menyentuh kepala So Eun, menyandarkannya di bahuku kembali.

“aku selalu tidak punya waktu untuk memperhatikannya, aku takut dia akan hidup tanpa ada perhatian dari seorangpun. Kau bisa kan membantuku untuk yang satu ini, Kimbum-ssi?”

“umm.. aku akan. Jang Eun itu juga dongsaengku”

“gomapta,”  So Eun mencium pipiku.

0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0

Seperti yang dipinta oleh So Eun, aku sering mengunjungi Jang Eun saat So Eun sedang bekerja.  Aku biasanya mengajarinya pelajaran sekolahnya, atau mengajaknya jalan-jalan. Dia benar-benar seperti adikku sendiri.

So Eun pulang ke apartementnya saat aku sedang mengajari Jang Eun mengerjakan pekerjaan sekolahnya. So Eun tampak sangat tidak sehat, mungkin karena dia terlalu lelah dengan tugas-tugas kuliah ditambah lagi dia harus bekerja paruh waktu.

“kau pulang,” aku menyambutnya yang baru saja tiba.

“umm.. sudah lama di sini?”

“tidak juga. Kau sudah makan?”

“sudah.” So Eun berlalu dari hadapan kami, jalannya sempoyongan dan hampir saja jatuh. Kulihat dia sedang memegangi kepalanya.

“kau sakit ?” tanyaku penuh dengan rasa khawatir.

“tidak, hanya lelah sedikit. Kau pulanglah sekarang.” Setelah memastikan dia tidur aku segera pulang.

0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0

Entah sudah yang keberapa kali aku menanyakan pada So Eun apakah dia sakit, tapi dia bilang dia tidak apa-apa dan hanya sedikit lelah. Belakangan ini kondisi So Eun terlihat sangat tidak baik, wajahnya pucat, aku bahkan tidak pernah lagi melihat bibirnya yang berwarna merah bagai mawar itu melainkan bibir pucat yang mengering. Tubuhnya juga semakin mengurus, aku pikir dia itu terlalu memaksakan diri. Aku sering menyuruhnya untuk tidak bekerja lagi, tapi dia tetap memaksa untuk tetap bekerja.

“Yoboseyo,” sapaku pada orang yang meneleponku sekarang.

“oppa…..” aku mendengar suara Jang Eun diseberang sana.

“Jang Eun?”

“oppa… uri eonnie…”

“wae gure?”

“datanglah ke sini. Palli…” mendengar itu aku langsung mendatangi apartement mereka.

0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0

“apa yang sedang terjadi?” tanyaku pada Jang Eun setibanya aku di apartement mereka. Jang Eun tampak sangat gugup, gadis kecil itu menarik tanganku ke kamar mandi. Aku melihat sesosok gadis terbaring lemah tak sadarkan diri dilantai kamar mandi itu. Sosok itu tak lain adalah So Eun.

Aku membopongnya memasuki mobilku. Kukemudikan mobilku menuju rumah sakit. Aku benar-benar khawatir dengan keadaannya. Begitu juga dengan Jang Eun, gadis kecil itu tak henti-hentinya mencoba membangunkan So Eun. Airmatanya tak dapat lagi dibendung, mendengar tangisan Jang Eun hatiku juga ikut merasa teriris.

Aku melangkahkan kakiku dengan gontai ke kamar rawat So Eun. Di sana aku melihat gadis yang sangat kucintai terbaring lemah dengan berbagai  peralatan medis di tubuhnya. Di samping ranjangnya ada Jang Eun yang tak henti-hentinya  meremas-remas tangannya.

“Jang Eun,” panggilku. Aku ikut duduk di sampingnya.

“apa Eonnie akan sembuh?” tanyanya dengan polos. Aku hanya bisa mengangguk. Tidak tau apa yang harus kukatakan pada gadis kecil ini. Hatiku perih, benar-benar sangat perih saat mengingat kata-kata yang keluar dari mulut Dokter Han.

‘ini sangat parah. Paru-parunya mengalami kerusakan sehingga menyebabkan sulit untuk menyaring udara.’   ‘apa bisa disembuhkan?’ tanyaku dengan was-was.    ‘menurut hasil pemeriksaan kami ini sangat mustahil untuk disembuhkan. Maaf tapi sepertinya umurnya hanya tinggal menghitung hari saja. Hanya satu yang bisa kita lakukan, yaitu berdoa dan bersabar’.

Aku tidak tau, apa aku pantas memprotes hal ini kepada Tuhan. Tapi ini sungguh sangat keterlaluan. Sudah cukup So Eun hidup hanya berdua dengan adiknya, tanpa orang tua. Dan sekarang ini So Eun berada di ambang kematian. Apa salahnya hingga dia harus berada di garis kehidupan yang sangat sulit seperti ini.

“oppa… uljima,” jari-jari kecil Jang Eun menyentuh pipiku yang basah karena air mata. Aku benar-benar tidak bisa membendung tangisku. Kupeluk Jang Eun erat, apa yang harus kulakukan sekarang, dan bagaimana dengan nasib Jang Eun jika So Eun benar-benar harus pergi !

0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0

Aku masih memandangi wajahnya yang tampak semakin kurus. Kini tubuhnya benar-benar berbeda, seluruh tubuhnya pucat pasi. Bibirnya semakin mengering dan sesekali aku melihat kulit bibirnya itu mengelupas.  Sudah hampir satu minggu So Eun terbaring di ranjang putih ini tanpa pernah menggerakkan satupun bagian tubuhnya.

Memandang wajahnya semakin membuatku ingin menangis kencang. Aku tidak sanggup, benar-benar tidak sanggup. Gadisku terkulai kaku, bahkan bernafaspun dia tak sepenuhnya mampu. Aku membelai lembut wajah pucatnya.

Di kepalaku seakan diputar sebuah film hitam putih, dari saat pertama aku  bertemu dengan So Eun.  

“senang berkenalan denganmu” So Eun mengulurkan tangannya padaku. “apa alasanmu ingin menjadi seorang dokter?” tanya So Eun saat itu, yang kubalas dengan gelengan kepala “aku tidak tau pasti, tapi aku rasa menjadi seorang dokter itu akan sangat bahagia karena bisa membantu banyak orang”.

 

“aku…menyukaimu” ucapku datar, So Eun menatapku tak percaya. “Kimbum-ssi. Maksudmu?” dengan lugunya So Eun bertanya padaku sambil mengerutkan keningnya. “aku benar-benar menyukaimu sejak saat pertama kita bertemu. Aku harap kau juga punya perasaan yang sama padaku” aku menyunggingkan senyum mengatakannya pada So Eun yang tampak bingung sekaligus tak mengerti. So Eun terdiam sesaat, “entahlah.. aku…aku merasa belum bisa, aku merasa belum pantas untuk itu” So Eun menundukkan kepalanya.“tak apa. Aku rasa perlu waktu untuk semua itu” aku menepuk pundaknya pelan.

 

“maaf telah membuatmu menunggu lama, dan… aku juga minta maaf satu tahun yang lalu aku menolakmu tanpa adanya alasan yang jelas. Aku … aku hanya butuh waktu yang panjang untuk memikirkan semua ini. Dan.. dan kurasa hari ini semuanya sudah cukup. Cukup bagiku satu tahun untuk membuatku mempertimbangkan semua ini.” Aku terdiam mendengar semua kata yang keluar dari bibirnya. “So Eun…” aku melepaskan pelukan So Eun. “apakah ini artinya….”   “benar. Aku terlalu bodoh selama ini, aku berusaha membohongi diriku tentang perasaan ini, tapi nyatanya aku tidak pernah bisa.” So Eun Kembali memelukku. Kali ini lebih erat dari sebelumnya.  “Gomapta.” Aku balas memeluknya.

 

“bisa aku minta tolong padamu?” tanya So Eun saat itu. “tentu saja. Apa itu” jawabku penuh keyakinan. “bisakah kau menjaga MiSo Eun saat aku tidak ada?” So Eun menegakkan badannya menghadapku. “tentu saja. Tapi, kenapa berkata seperti itu?” aku menyentuh kepala So Eun, menyandarkannya di bahuku kembali. “aku selalu tidak punya waktu untuk memperhatikannya, aku takut dia akan hidup tanpa ada perhatian dari seorangpun. Kau bisa kan membantuku untuk yang satu ini, Kimbum-ssi?” suaranya memelan. “umm.. aku akan. MiSo Eun itu juga Dongsaengku”. “gomapta”  So Eun mencium pipiku.

Ingatan-ingatan itu terus berputar dikepala ku dan berhenti di saat aku menyadari sosok itu sedang terbaring lemah sekarang.

“So Eun tidak bisakah kau bangun. Kau tega sekali membuat aku dan juga Jang Eun menangis seperti ini. Cepatlah bangun, aku merindukanmu begitu juga dengan Jang Eun dia tidak bisa tidur saat mengingatmu yang sekarang ini” aku terus mencium tangan So Eun yang kini terasa sangat dingin dan kaku.

“aku akan menjagamu, menjaga Jang Eun. Jadi cepat bangun sekarang juga,” air mataku membasahi tangan So Eun.

Aku benar-benar merasa hancur sekarang, kedua kakiku bertumpu dilantai. Aku menangis sejadi-jadinya. Mungkin jika orang-orang melihatku mereka akan menertawakanku karena menangis. Mungkin mereka akan memandangku lemah. Tapi itu benar, aku menangis karena aku  benar-benar tidak ingin kehilangan sosok yang kusayangi, aku lemah memang lemah aku tak sanggup jika harus kehilangannya, kehilangan senyumnya, kehilangan cintanya untuk selamanya.

0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0

Aku menginjakkan kakiku ke tanah ini lagi. Memandang gundukan tanah yang kini telah menjadi rumahmu selama tiga tahun ini. Sebuah senyum miris menghias wajahku. Aku tidak dapat melihat wajamu lagi, tidak dapat lagi mendengar suara lembutmu. Tapi aku masih punya kenangan indah bersamamu yang dapat menghiburku saat aku merindukanmu.  Apa kau bisa melihat ku sekarang ? apa kau bisa mendengar isi hatiku sekarang ?? aku ingin kau tetap melihatku, mendengar isi hatiku.

“oppa….” gadis itu memanggilku dengan hati-hati.

“umm?” aku menoleh kearahnya. Ia tersenyum manis sekali, membuat hatiku damai saat memandangnya. Ia menunjukkan arlojinya padaku. Aku tersenyum kecil melihat tingkahnya.

“ucapkan selamat tinggal dulu pada eonnie-mu,” perintahku.

“eonnie, sudah tiga tahun kau meninggalkan kami. Kami merindukanmu, sangat merindukanmu. Kau pasti bertanya-tanya apa kabarku. Jangan khawatir Kimbum Oppa menepati janjinya. Dia menjagaku dengan sangat baik. Eonnie, hari ini kami akan berangkat ke Paris, tempat yang sangat ingin eonnie kunjungi. Sayang sekali kita tidak bisa pergi bersama. eonnie, aku dan Kimbum Oppa akan menetap di sana. Kau tenang saja, kami akan baik-baik saja di sana. Sampai jumpa eonnie,” Jang Eun menundukkan kepalanya didepan makam So Eun.

“So Eun, kami pergi. Sampai jumpa,” aku tersenyum, senyum yang mungkin akan menjadi senyuman terakhir untuk tempat peristirahatannya.

“kajja,” aku menarik tangan gadis kecil yang berumur empat belas tahun itu.

0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0

  ENAM TAHUN KEMUDIAN

“Dapat surat cinta lagi?” tanyaku pada gadis cantik yang sedang membaca secarik kertas.

“umm begitulah,” jawabnya santai. “ingin membacanya?” Ia menyodorkan kertas itu padaku.

“tidak tertarik,” tolakku dengan cepat.

“benar ini sangat tidak menarik.” Ia meremas kertas tersebut lalu melemparnya ke tong sampah didekatnya. Gadis cantik yang memiliki rambut coklat gelap itu berjalan mendekatiku.

“kajja,” Ia menggandeng tanganku dengan mesra. Membawaku ke sebuah taman kota yang sedang dipenuhi dedaunan yang kebanyakan berwarna orange. Ia merebahkan dirinya di atas tumpukan dedaunan tersebut.

“oppa, ayo..” Ia melambaikan tangannya untukku. Aku mengikutinya, berbaring di atas tumpukan dedaunan.

“aigoo indah sekali.” Matanya menerawang sekelilingnya yang dipenuhi oleh dedaunan.

“musim gugur terbaik, memang di Paris tempatnya,” matanya masih menerawang sekelilingnya.

“kenapa menolak mereka?” tanyaku sambil melirik wajahnya.

“oppa mau tau?” selidiknya.

“umm” anggukku.

“untuk  apa aku menerima cinta mereka. Aku kan sudah punya namjachingu,”  gadis itu mendekatkan tubuhnya padaku lalu menaikkan tubuhnya ke atas tubuhku.

“benarkah itu jawabannya?” tanyaku penuh selidik. Kubelai rambut coklat gelapnya yang panjang.

“tidak percaya?” gadis itu semakin  mendekatkan wajahnya pada wajahku.

“sepertinya tidak,” jawabku lagi. “kau punya bukti agar aku dapat mempercayainya?” tantangku.

“ingin kutunjukkan?” tawarnya, aku mengangguk. “ini” ia menempelkan bibirnya pada bibirku, memainkannya dengan lembut yang kemudian kubalas dengan menciumnya lebih dalam lagi, tangannya memegang kedua pipiku. Tanganku juga ikut melingkar di lehernya. Bibir kami saling menyatu cukup lama.

“anak nakal. Ck.ck….” decakku saat kami selesai berciuman.

“tapi itu kan bukti,” ia mengerucutkan bibirnya dihadapan wajahku, membuatku tertawa kecil.

“oppa…” panggilnya pelan.

“hmm?”

“apa eonnie pernah melakukan yang seperti tadi padamu?” tanyanya dengan tampang lugu.

“di pernah berada di atas tubuhku persis seperti kau sekarang ini. Tapi…” aku menggantungkan kata-kata ku.

“tapi apa ?” ia kelihatan peasaran.

“jujur, dia belum pernah menyentuh bibirku sekalipun,” aku berbisik.

“mwo ?? aigoo bagaimana ini. Eonnie kumohon maafkanlah dongsaengmu ini.” Ia menggigit-gigit bibir bawahnya.

“kenapa kau minta maaf?”

“tentu saja harus minta maaf. Eonnie saja belum pernah menciummu, masa aku dongsaengnya sudah berani menciummu.”

“PABO!” aku mengacak-acak rambutnya.

“yaaa oppa. Aku bukan lagi Jang Eun kecil. Sekarang aku sudah dewasa sudah dua puluh tahun.” Jang Eun membentuk angka dua dengan jarinya.

“aku tau. Aku tau,” aku melingkarkan tanganku kelehernya. Membenamkan kepalanya di dada bidangku. Ini mengingatkan aku pada So Eun.

So Eun, kau lihatkan sekarang. Jang Eun sudah tumbuh jadi gadis dewasa yang cantik dan juga cerdas persis sepertimu. Aku bisa diandalkan bukan ?? So Eun, ada satu hal yang ingin kutanyakan padamu. Apakah … kau… masih mencintaiku seperti hari itu ??? entahlah, tapi kurasa jawabanmu adalah iya. Aku juga mencintaimu So Eun, sangat mencintaimu.

Meskipun sekarang aku adalah milik adikmu, Jang Eun tapi kau tetap menjadi yang nomor satu dalam hatiku.

Aku pernah mendengar seseorang berkata, jangan terlarut dalam kesedihan. Jangan terus-terusan menangisi orang yang telah tiada, karena orang itu pergi bukanlah untuk ditangisi. Jangan biarkan hatimu membusuk oleh kenangan-kenangan lama, cobalah buka hatimu, temukanlah cinta disekelilingmu. Cinta  memang seperti itu, datang tanpa diduga dan pergi juga tanpa diduga. Kau siap mencintai, maka kau juga harus siap untuk merasakan kesedihan.

Sembilan tahun setelah kepergianmu, hanya ada Jang Eun yang berada di sisiku. Memang sulit melupakanmu, juga cintamu. Tapi melihat Jang Eun yang semakin tahun semakin tumbuh dewasa dan persis sepertimu rasanya aku menemukanmu kembali. Membuat hariku seperti saat ada kau, walaupun tidak sepenuhnya seperti itu. Hidup itu perlu proses, itulah yang sering Jang Eun katakan padaku. Ia sangat mirip denganmu, wajahnya cantik sepertimu, otaknya juga cerdas sepertimu, dia juga suka musim gugur sepertimu, oleh karena itulah aku membawanya tinggal di kanada. Caranya berjalan, caranya memperhatikan sesuatu, caranya berbicara sungguh mirip dirimu. Hanya satu yang kurasa agak berbeda darimu, ya caranya tertawa. Saat ia tertawa ia terlihat sangat ceria, berbeda dengamu yang sedikit agak dingin. Mungkin karena Ia tidak memiliki banyak beban sepertimu.

Mulai hari ini, walaupun kau tidak hidup di dunia ini, tapi tentangmu tetap hidup ditengah-tengah kami. Kita bertiga akan tetap hidup bersama, dengan cinta yang sama. Biarkan aku memilikimu dan Jang Eun dihatiku untuk selamanya.

FIN

RCL please….. oke Reader???

16 thoughts on “A Short Journey [Kimbum feat Soeun]

  1. Aaaaa author ceritanya bikin mewek, sedih bangettt😥
    Jadi kimbum sama adiknya so eun ya? Agak ga rela sih tp gapapa deh yg penting kimbum tetep cinta sm so eun hehe.
    Keren thor ceritanyaaa! Ditunggu lho ff selanjutnya🙂

  2. annyeong…
    aduhhh sedih banget sih author ceritanya…..
    mata sya udah berair pengen nangis….
    tpi malu soalnya lgi kerja…hehehe
    tpi ceritanya menyentuh banget…like like like….

  3. Hah?rek0r ini..ada ff bumss0 yg blum dibaca,k0k bisa aQ ru nemu skrg!
    Aih payah bgt,hahaha..
    Ff nya sad t0tal,s0eun kmi gak ada lg…adeknya genit,tp yg ptg kim bum l0pe s0eun..haha harga mati th0r,
    Bwt lg bumss0 ya?

  4. huh, nangis lg nangis lg. Sad bgt crtanya..kok Sso meninggal sih. Agk gk rela sih bum ma adeknya Sso. Tp krn mukanya mirip kyk ank kembar, q setuju deh

  5. ahhhhh keren kak author bikin nangis ceritanya huaahh keren deh keren bangett kata2 terakhir bikin nangis kasian Soeun , jadi Kim Bum sama Adiknya Sso ya?? Ga rela sih tp gpp deh Hati Kim bum sepenuhnya milik Sso :’)

  6. Ough menyentuh banget
    sayang bnget so eun prgi sblum menikah dgn kimbum jdi’x kn berakhir sm adik’x 😦
    author fighting
    q tunggu ff bumsso slnjut’x🙂

  7. Ough menyentuh banget
    sayang bnget so eun prgi sblum menikah dgn kimbum jdi’x kn berakhir sm adik’x 😦
    author fighting
    q tunggu ff bumsso slnjut’x

  8. Sdihhh bggett crta n..
    Jiahh pntesan so eun gak mw nrima kimbum trnytaa ia pnya pnykittt..
    Jiahhh kog ooopa pcran sma adik n..
    Sidhh sih,tpii ya mw g mna lgiii..
    Krennnnnnn..

  9. Waduhhhhh thor kok mati lagi sihhhhhh…haduuuhhhhh ada yg hepi ending ga???pusiannnnggg!!!tapi tetep kerennnnn…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s