Because I’m Stupid 2

Tittle   : Because I’m Stupid 2

Cast    : Kim Jungwoon a.ka Yesung

              Park Sunyoung T-ara

Support cast: Jiyeon, Eunjung, Jihae, Boram, Leeteuk, Heechul, Minho

Genre  : Romantic

 
Sunyoung PoV

 

“tinggal satu rumah dengan Yesung???” pekik Eunjung didepanku.

Aku langsung menambal mulut cerewetnya dengan roti milik Jiyeon.

“shut up! Suaramu keras sekali, Eunjung!” kataku emosi.

“ah, mianhae~ nyam nyam.. aku terlalu shock… nyam,” jawab Eunjung sambil memakan roti itu.

“yah, trus bagaimana keadaanmu disana? Kau tidak diceramahinya kan?” tanya Jiyeon.

“belum. Dia baik di depan ayahku. Tapi, mulai ganas disaat kami hanya berduaan,” jawabku malas.

“wah! Kalian bisa berduaan juga? Itu romantis,” komen Eunjung senyum-senyum membayangkan adegan romantis bayangannya.

“……” aku hanya trsenyum kecil. Mereka benar. Ini bisa jadi pengalaman tak terlupakan. Satu rumah dengan Yesung, kupikir itu adalah takdir baik untukku.

Pulang Sekolah…

 

“kami pulang ya, Sunyoung-ah~!” teriak Eunjung dan Jiyeon barengan.

Aku hanya mengangguk malas di depan gerbang sekolah. Aku tidak pulang. Ya! Karena aku ingin pulang bersama Yesung. Makanya aku menunggunya.

“dimana dia… jam segini, kelas Yesung pasti sudah selesai,” gumamku.

TEP… TEP…

 

Mulai berdatangan anak-anak dari kelas internasional. Wajah-wajah yang tidak kukenal. Ah! Aku menemukanmu, Yesung!

“Ye….sung?” aku terdiam ditempat. Dia bergandengan dengan seorang wanita. Itu Boram.

Yesung melihatku dan jalan mendekatiku.

“wae?” tanyanya judes.

“sepertinya dia mau memberimu surat lagi oppa. Haha!” ejek Boram.

Aku menggeleng. “tidak, aku hanya ingin mengajakmu pulang bersama,” jawabku pelan dan menundukkan kepala.

Yesung menatapku datar dan melepaskan pegangan Boram.

“aku pulang dengannya,” kata Yesung singkat dan menarikku berjalan.

“YA! Yesung Oppa!!!!” kudengar Boram berteriak tapi Yesung terus menarikku ke mobilnya. Aigo~ mimpi apa aku semalam?

Yesung menarikku masuk dan dia duduk di tempat mengemudi. Lalu kami pulang bersama. Aku curiga, apa mungkin dia mulai menyukaiku?? Semoga saja.

0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0

Sepanjang perjalanan ke rumah, aku dan Yesung hanya diam. Sesekali aku melirik Yesung, tapi dia sama sekali tidak tersenyum atau menegurku. Wajahnya serius sekali. Aigoooo~ aku semakin cinta padamu, Kim Jongwoon.

“turun,” kata Yesung saat kami sampai di depan rumah.

Aku mengangguk dan turun dari mobil.

“gomawo,” kataku saat Yesung berada di depanku.

Yesung hanya tersenyum evil dan wajahnya kembali ganas.

“jangan mengira aku menyukaimu, Sunyoung-sshi,” kata Yesung tegas.

“aku memanfaatkanmu karena aku bosan dengan Boram itu. Dia membuatku muak berjalan bergandengan dengannya. Dia pikir aku pacarnya? Menyebalkan sekali!” gumam Yesung bicara sendiri.

“turuti saja apa kataku jika kau masih ingin kuanggap manusia,” kata Yesung dingin dan berjalan masuk kerumah.

Aku menatapnya kesal.

 

“enak saja. Memanfaatkan!??” gumamku menekan kata ‘manfaatkan’.

 

“aku dengar itu, Sunyoung-sshi,” tegur Yesung yg masih didepan pintu rumah.

Aku hanya nyengir dan mengikutinya masuk.

Sunyoung PoV END

 

0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0

Malam hari…

“Sunyoung! Yesung! Jungjin! Ayo makan..” panggil Jihae yg masih menyiapkan beberapa makan malam.

Satu-persatu mahkluk yang dipanggil itu bermunculan membuat Jihae, sang Ibu tersenyum.
“kalian sudah lapar, ya?”

“nah, makan ini…” kata Jihae pada Yesung.

“kau juga Jungjin… makan ini!” pinta Jihae.

“dan Sunyoung, gadis yang manis ini…” belum sempat Jihae berkata banyak, Yesung sudah keselek. Membuat Jihae emosi dan Jungjin hanya tertawa.

‘cih~ menyebalkan!’ batin Sunyoung jengkel.

“ahjumma, dimana Heechul ahjusshi dan appa?” tanya Sunyoung yang masih melahap beberapa makanan.

“oh.. mreka ada bisnis. Biasa, mereka itu bekerja sama dalam bisnis sejak lulus SMA. Begitu selanjutnya dan terus begitu sampai sekarang. Kau tahu pasti, ayahmu sering pulang larut kan? Kau harus mengerti ayahmu,” jelas Jihae tersenyum.

Sunyoung tersenyum kecut dan meminum air putihnya. Ditatapnya Yesung yang sedang makan tapi Yesung malah memberikan tatapan ‘berhenti-menatapku-atau-kau-akan-mati’, membuat Sunyoung panik dan memakan habis makan malamnya. Jihae yang melihat itu malah senyum-senyum licik dan merencanakan sesuatu.

 

“Jungjin! Ayo kita menyusul Leeteuk ahjusshi dan Aappa!” pekik Jihae.

“andwae~ aku bosan ke kantor itu lagi,” balas Jungjin.

Jihae tidak kehabisan akal dan berkata lagi…
“bagaimana kalau kita ke rumah Sulli?” tawar sang ibu tidak mau kalah.

Jungjin tersenyum sumrigah dan berdiri mengambil jaketnya.

“khajja! Khajja!” ajak Jungjin langsung.

Jihae tersenyum dan mengambil jaket juga kunci mobilnya. Ditatapnya sekilas Sunyoung dan Yesung yang bingung dengan nasib mereka.

“kalian jaga rumah. Arasseo?” perintah Jihae mantap dan mengajak Jungjin pergi.

Yesung berbalik menatap Sunyoung dan menatapnya datar. Sunyoung hanya menunduk dan mengangkat piring-piring kotor  ke wastafel.

0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0

Percakapan Sunyoung-Eunjung-Jieun di telpon…

Sunyoung : “Omo! Ottohke? Kami hanya berdua dirumah,”

Eunjung: “Itu kesempatan emas, Sunyoung-ah!”

Jiyeon : “Datangi Yesung dan lakukanlah yang biasa Sungmin lakukan padaku!”

Eunjung: “hey, Jiyeon~ apa kau gila? Masa kau menyuruh Sunyoung melakukan ‘itu’ pada Yesung? ”

Jiyeon : “why not? Aku saja bisa, kenapa Sunyoung tidak?”

Sunyoung : “Aishhh! Kalian berdua sama saja! Tidak ada yg memberikan ide bagus! Aku ingin Yesung terpikat padaku malam ini. Babo chingudeul”

Eunjung: “ah, iya~ ottohke?”

Jiyeon : “… ottohke? Ottohke?”

Sunyoung: “Sudahlah! Nanti aku telpon lagi kalo aku perlu. Huh~ annyeong…”

                                                     …TUT… TUT… TUT…

 

Sunyoung PoV

 

Kurebahkan badanku diatas kasur pink itu selesai menutup handphone flip-ku. Huh~ menyebalkan. Disaat sekarang muncul kesempatan menarik, otak Eunjung dan Jiyeon sama sekali tidak bekerja. Aku kan butuh pendekatan yang tepat untuk Yesung sekarang. Ah~ payah.

TEUK!

Lampunya mati!

“Aigoooooooooo~!!!!!!!!!!!!!” pekikku panik.

Aku duduk diatas kasurku dan memeluk bantal guling. Aku baru dua hari di rumah ini, mana mungkin aku tahu dimana senter darurat dan sebagainya. Aku kan takut gelap. Omo~ bagaimana ini? Aku takut.

“kau akan terus tidur disitu atau menemaniku membeli lilin?” tanya sebuah suara yang tidak asing.

“Yesung~ itu kau?” tanyaku bingung. Ruangan ini kenapa gelap sekali.

“ne. Yesung imnida. Kau ingin tinggal atau…” belum selesai Yesung menyelesaikannya, aku sudah memegang tangannya walau bingung dimana wajahnya sekarang.

“ne! ne! aku ikut! Aku takut sekali…” jawabku nyaris tak terdengar, saking takutnya.

“kalau begitu pegang tanganku yang erat,” Yesung benar-benar mempererat pegangannya.

Dia menuntunku berjalan keluar dari kamarku. Aku merasa tenang bersamanya. Aku tersenyum tanda kebahagiaan, tapi Yesung tidak mungkin melihatnya. Kkk~ dan satu hal saat ini pasti Yesung tersenyum licik melihatku ketakutan seperti ini.

“kita sudah diluar, lepaskan tanganmu!” kata Yesung sinis saat kami diluar rumah.

Aku melepaskan pegangan tangan kami dan manyun sebentar. Ternyata, diluar rumah tidak terlalu gelap. Bintang-bintang dilangit terang juga.

“kau ingin menemaniku atau hanya menonton bintang-bintang itu?” tanya Yesung lagi.

“ah, iya! Mianhae!” jawabku cepat dan mengikutinya berjalan keluar.

0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0

“berapa?”

“1000 won.”

“…..”

“gomawo.”

Aku menatap Yesung sepanjang perjalanan. Aku benar-benar curiga…sepertinya dia menyukaiku haha~
Mulai dari tragedi pulang sekolah itu, dan sekarang mengajakku ke toko yang tidak terlalu jauh juga. Dia ini gengsian atau apa, ya? Hahaa~ aku jadi malu membayangkannya.

Sampai di rumah, Yesung duduk di ruang tamu dan menyalakan satu lilin di atas meja. Aku ikut duduk di sampingnya. Aku tidak peduli dia marah atau apa. Aku benar-benar takut gelap. Kulihat Yesung hanya duduk-duduk sambil memainkan handphone-nya.

“Yesungnie…” panggilku pelan.

“eung?” jawabnya tanpa beralih dari layar hp-nya.

“eng… kenapa kau baik sekali padaku hari ini? Kau sakit, atau kenapa? Sifatmu aneh sekarang. Jangan-jangan kau mulai menyukaiku, ya?” godaku sambil tertawa kecil.

Yesung menatapku kesal dan mendengus kecil.

“kenapa kau centil sekali? Aku tidak pernah punya perasaan apapun padamu. Jangan GR.” balasnya datar. Tanpa senyum dan marah.

Aku kembali duduk diam disampingnya.

“mianhae. Siapa tau… kau mulai menyukaiku, tapi kau gengsi,” sambungku lagi.

“aku tidak pernah suka padamu!” balas Yesung menjitakku.

“ya! Itu sakit!” balasku berusaha mencubitnya. Tapi Yesung sangat peka dan menangkisku cepat. Karena kurang keseimbangan, aku jatuh karena dorongannya dan terjatuh di sofa itu dengan posisi tidur, sedangkan Yesung berada diatasku. Menopang badannya dengan tangan kirinya, sedangkan yang kanan masih memegang handphonenya.
Aku menelan ludahku lagi. Kenapa dia sangat tampan dari dekat?

“kau…” Yesung menatapku datar.

“…..” aku hanya mengangkat alisku menunggu kata selanjutnya.

“… membuatku emosi…” sambung Yesung menyipitkan matanya.

“lalu? Kenapa?” tanyaku berusaha tegas. Walaupun sebenarnya jantung ku berdetak lebih cepat, aku berusaha mengontrolnya. Memandang wajah Yesung dari dekat membutku tak bias menatap matanya.

“biasanya, kalau aku emosi~ orang itu tidak akan selamat!” kata Yesung lagi sedikit berteriak.

Omo~ kenapa aku tidak merasa takut sama sekali. Siapa kau, Yesung!!!??
TEUK!

Lampu menyala lagi. Yesung menatap sekitar dan kembali berdiri lalu mematikan lilin kecil itu.

“tidurlah. Kau pasti capek karena sudah menemaniku ke toko tadi,” kata Yesung saat berjalan memasuki kamarnya.

Aku membungkuk kecil dan menatapnya miris. Kupikir dia akan menciumku, ternyata hanya segitu?

“mengecewakan…” gumamku berjalan menuju kamar.

“mwo?” tanya Yesung yang masih belum masuk dikamarnya. Aish~ kenapa setiap aku mengatakan hal jelek tentangnya dia selalu dengar.

“annia~ hehe~” jawabku berusaha tersenyum.

Yesung mendekatiku dan menahan tanganku yang hendak membuka pintu kamarku.

“kau mengharapkan sesuatu terjadi malam ini, iya kan?” tanya Yesung seakan-seakan paranormal kelas kakap.

“a…andwaeya! Enak saja!” jawabku asal.

Yesung tersenyum evil dan mengacak-ngacak rambutku menjadi berantakan.

“aku bukan laki-laki brengsek yang tega mengotori seorang gadis yang bukan istriku. Jadi, kau tenang saja. Aku tidak akan melakukan ‘itu’ padamu,” kata Yesung bijak.

Aku menepis tangannya dan mataku serasa sembab. Kenapa lagi aku ini?

“hey, kenapa kau malah menangis?” tanya Yesung heran. Tidak hanya kau, Aku juga heran..

“….. aku tidak berharap kau melakukan itu. Tapi, aku berharap kau bisa menghargaiku sebagai yeoja yg mencintaimu. Jadi.. aku hanya ingin kau melihatku ada,” jawabku menahan air mataku.

“…….” Yesung tersenyum dan mendekat padaku. Dia menundukkan kepalanya dan mencium dahiku pelan. Aku rasa aku akan mati sekarang.

“terima kasih sudah menyukaiku, Sunyoung-sshi. Selamat malam,” kata Yesung datar, tersenyum kecil dan berjalan menuju kamarnya. Aku menyentuh pipiku yang sepertinya memerah sekarang. Senyuman kecil menghiasi wajahku. Aku tidak sabar menjalani hari esok denganmu, Kim Jongwoon.

0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0


In The Morning…

Yesung PoV


Aku membuka mataku walau badan ini masih lemas sekali. Kugapai handphone Samsung lollipopku yg berada tepat didepan wajahku. Ternyata ada satu sms masuk.

 

From : Beloved Mother
Yesungnie, maaf Ibu dan Jungjin meninggalkanmu dan Sunyoung dirumah. Untuk 3 hari kedepan, Ibu dan Jungjin ada keperluan di Incheon bersama Leeteuk ahjusshi dan ayahmu. Kau tenang saja, biaya sehari-hari untk 3 hari kedepan, sudah Ibu transfer di rekeningmu^^ Mianhae. Jaga dirimu dan jaga Sunyoung~

 

Aigoooo~ apa-apaan ini? Eomma juga tidak akan pulang selama 3 hari. Bersama appa dan Leeteuk ahjusshi  juga? Haruskah aku berduaan lagi dengan gadis bodoh itu? Again?

Tunggu! Hari ini hari apa…? Ah, jinjja… kepalaku pusing…
Semalam aku tidak bisa tidur nyenyak memikirkan kejadian semalam. Apa aku salah menolak Sunyoung? Aku memang tidak punya perasaan apapun padanya. Dan itu tidak bisa dipaksakan. Aku tidak peduli dengannya.

TOK! TOK!

“aish~ nugu?” tnyaku keras.

“….. Yesung-sshi~” ternyata suara itu lagi …

“waeyo?” tanyaku berjalan menuju pintu. Kulihat dia berdiri di depan pintu dan memakai handuk biru yg menutupi bagian dada, perut, hingga paha. Apa-apaan dia?

“kau kenapa?” tanyaku panik. Jangan-jangan dia mau macam-macam padaku. Omo!!

“Yesung-ah, aku boleh mandi di kamar mandimu? Kamar mandi di kamarku kehabisan air, dan kamar mandi umum juga begitu…” pintanya sambil sesekali menutup bagian atas dadanya yg terbuka. Jujur, sebagai pria aku juga terpesona dengan badannya. Ah, fokus pada pendirian! Aku membenci gadis ini!

“masuklah..” kataku malas.

“gomawooooo…” jawabnya panjang sambil berlari-lari kecil meninggalkanku di depan pintu. Aku hanya terkekeh, ternyata dia polos juga. Padahal, semalam sempat menggodaku.

Aku melirik sebentar, dia memasuki kamar mandiku dan menutup pintunya rapat. Lalu terdengar suara air, pikiranku mulai kotor. Aish.. andwaeya! Dia itu gadis yang paling kubenci, aku tidak boleh berpikiran macam-macam.

Kuputuskan merebahkan badanku dikasur putih ini. Kupejamkan mataku dan berusaha menghilangkan semua pikiran kotorku. Aku berusaha mengingat pelajaran agama-ku berulang-ulang *???*. Tapi, kenapa batinku berkata aku harus melakukannya? Andwae! Aku bukan laki-laki seperti itu.

“Yesung-sshi…” dia menegur lagi.

“wae?” tanyaku yang masih menutup mata dengan kepala menghadap langit-langit kamar.

“bisakah kau mengambil bra dan underwear-ku?” pertnyaan macam apa itu? Kesabaranku habis. Kudatangi dia yang msih mematung di depan kamar mandiku. Kutatap dia dengan tatapan kematian. Dia terlihat takut dan masih menutupi badannya dengan handuk biru itu.

“ya! Kau boleh menyukaiku, tapi jika kau berusaha menggodaku hingga sejauh ini, kau salah besar! Aku benar-benar tidak suka cewek bodoh dan centil sepertimu! Kau murahan, Sunyoung-ah~!” teriakku keras.

Mata Sunyoung terlihat penuh air mata. Aku bisa lihat itu. Walaupun wajahnya masih basah dia berusaha tegar lalu menutup pintu kamar mandi itu.

“nde! Aku akan keluar,” sedetik saja, dia sudah berjalan keluar dari kamar mandiku. Aku menatapnya kesal.

“aisshhh!” desahku emosi. Kenapa dia selalu membuatku merasa bersalah?

0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0

Sunyoung PoV


Lagi-lagi aku menangis. Entah ini sudah keberapa kali aku menangis karena perkataan kasarnya. Dan Entah kenapa juga, aku tetap tegar dan masih mencintainya. Apa ini benar-benar cinta atau aku hanya terjangkit virus tampannya?

 

“hiksss… hiksss…” aku menangis senggukan didalam kamar. Aku tidak peduli kasurku basah karena badanku yg memang belum kering. Aku ingin terus-terusan menangis. Aku tidak menyangka dia sangat jahat dan menyinggungku murahan seperti itu. Aku benar-benar butuh bantuannya tadi. Aku tidak bermaksud menjadi wanita murahan atau apa. Omooooo~ aku benar-benar benci diriku sendiri!

“Sunyoung-ah,” tegur Yesung diluar kamarku. Aku bisa mendengar itu. Sangat jelas.

“wae…waeyo?” tanyaku berusaha kuat.

“boleh aku masuk?” tanyanya pelan.

“ne, sebentar~” sekejap saja aku sudah memakai kaos putihku yang agak longgar juga celana pendek yang mudah kudapat.

Kubuka pintu dan benar saja. Yesung menunggu diluar. Dan wajah itu? Wajah penyesalan? Kau tidak salah Oppa… sepertinya aku mulai membelanya lagi …dasar Sunyoung aneh.

“mianhae. Aku tidak bermaksud membuatmu…” Yesung menunggu kata yang pas keluar dari mulutnya.

“annia~ aku tahu. Ini salahku. Bukan salahmu. Joesonghamnida,” jawabku pelan dan berusaha tersenyum.

Yesung menggigit bibir bawahnya sendiri, berusaha menahan sesuatu yang ia pendam, lalu ia berjalan cepat langsung memelukku erat. Eh? Kenapa dia? Yesung-ah, neo waegurae?

“mianhae! Jongmal Mianhae! You’re good girl! Kau gadis yang baik. Aku tahu itu. Kau pantas mendapatkan namja yang baik dan ceria, yang sama sepertimu. Tolong jangan putus asa seperti itu karenaku. Mianhae…” Yesung terus-terusan meminta maaf padaku. Apa sekarang dia tahu rasa ‘bersalah’ itu seperti apa? Aku pikir dia tidak punya perasaan.

“gwenchana,” kataku dengan suara serak. Jangan-jangan aku menangis lagi. Babo.

Yesung melepas pelukannya dan menatapku penuh harapan. Dia tersenyum kecil dan memegang erat kedua bahuku.

“fighting!” gumamnya tersenyum semakin lebar. Aku ingin tersenyum sekarang.

“semoga kau mendapatkan namja yang benar-benar peduli padamu. Sekali lagi, Mianhae.” Yesung membungkuk dan mulai hari itu dia lumayan baik padaku. Walau kadang, sifatnya berubah menjadi judes. Tapi itulah Yesung yang kusuka. Yesung yang dingin dan peduli padaku.

0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0

“omo? 3 hari?” pekikku heran saat tahu kalo Jihae ahjumma, Kangin Ahjusshi, Appa, dan Jungjin tidak ada dirumah selama 3 hari.

“mereka sepertinya ingin membunuh kita,” kata Yesung judes.

Aku terkekeh kecil.

“Yesung-ah, ayo kita ke toko buku! Aku ingin mencari beberapa buku untuk ujian semester. Supaya aku bisa lulus dan masuk di Universitas yang sama denganmu!” jelasku dengan riang.

“jangan mimpi terlalu tinggi. Kau itu bodoh, mana mungkin masuk di universitas yang sama denganku,” balas Yesung dan melet.

“menyebalkan,” jengkelku manyun.

Yesung tiba-tiba pamit sebentar karena dia ada belajar kelompok. Huh! dasar orang pintar. Tiada hari tanpa belajar.

Daripada aku dirumah sendiri, aku ke mall saja bersama Eunjung dan Jiyeon!
0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0

Kami pergi ke mall menggunakan mobil Eunjung. Ternyata, untuk anak SMA, dia lincah juga mengendarai mobil ini.

“jadi, bagaimana pendekatan antara kau dan Yesung?” tanya Eunjung mengawali pembicaraan.

“aku dan dia semakin akrab. Walaupun dia belum mengatakan perasaannya padaku. Hasshh…aku bingung dengannya,” jelasku masih memainkan hp-ku.

“kau harus lebih menunjukkan rasa perhatianmu, Sunyoungnie,” kata Jiyeon menatapku pasrah.

“sudah! Sudah kulakukan dan hasilnya nihil. Dia berpikiran aku gadis centil dan murahan,” jawabku mulai tertunduk dan melepaskan headset ditelingaku.

“ya sudah~ kalo dia memang berpikiran begitu, kita ubah penampilanmu! Kita buat Yesung terpesona hingga tergila-gila padamu. Bagaimana?” tanya Eunjung semangat.

“Eunjung bener, ayo kita beli baju yang banyak, lalu kita dandani wajahmu yang polos itu,” tambah Jiyeon tidak mau kalah.

Aku tidak yakin ide ini pasti berhasil. Tapi aku tetap tersenyum dan memeluk mereka berdua.

“kamsahamnida! Aku tidak akan melupakan jasa kalian!”

0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o00o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0

Yesung belum pulang.

“haaa..” aku mndesah berat dan menyandarkan badanku di sofa.

Kutatap jam dinding dirumah. Aku sendirian. Yesung pulanglah…

KREK~
Kudengar suara pintu dibuka…

“Yesungnie~!” pekikku senang. Dia hanya menatapku datar lalu masuk tanpa mengucapkan salam. Mulai deh cuek nya.

“kau sudah makan?”

“ne…”

“kau ingin kupijit? Bukankah kau lelah???”

“tidak perlu…”

“wae?”

“……”

Ayolah Yesung. Aku sudah berusaha baik padamu. Kau masih saja judes.

SET.

Yesung berbalik melihatku. Dia mendekatiku. Semakin dekat… aigo! Kau sudah tahu apa yng kuinginkan Yesung!!!!

“ini buku untuk ujian semester. Pelajari dan pahami!” jelas Yesung sambil memberikanku plastik putih berisi buku-buku persiapan UAN. Aigooo~ ternyata dia perhatian. aku yakin dia memang suka padaku!

“ah, Yesung…” belum sempat aku berterima kasih, dia sudah masuk ke kamarnya.

Aku memeluk buku itu dan tersenyum-tersenyum sendiri. Memandang pintu kamar Yesung dan bergumam gajelas, “…go…ma…wo…”

0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0

Author PoV

Esok Hari Di Sekolah…

“wah!!! serius belajar nih!”pekik Eunjung menepuk pundak Sunyoung yang tengah belajar di taman sekolah.

“ah, ne,” jwab Sunyoung tersenyum dan menutup bukunya.

“tumben kau belajar. Biasanya kau menemani Minho maen basket di lapangan,” tanya Jiyeon heran.

“annia… aku sedang serius belajar. Supaya bisa satu kampus Yesung,” jelas Sunyoung tersenyum-senyum sndiri.

“yeeee… dasar kau Sunyong. Cinta mati ya sama Yesung-sshi,” ejek Eunjung.

Sunyoung kembali senyum-senyum sndiri.

“Sunyoungnie, kau sudah melakukan apa yang kami suruh?” tanya Jiyeon mendekati Sunyoung.

Sunyoung menggeleng. Kembali melihat-lihat buku yang didepan matanya.

“dia tidak akan melakukan itu dengan sembarangan wanita. Ya..a kalau kami menikah mungkin bisa. Pokoknya dia tidak mau dengan wanita yang tidak ia cintai… huft,” desah Sunyoung.

“KALAU BEGITU, KALIAN MENIKAH SAJA !” pekik Eunjung dan Jiyeon barengan, membuat Sunyoung menatap mereka dengan tatapan ‘kalian-gila-atau-kemasukan-apa-sih?’.

 

“andwaeee! Itu tidak mungkin !” balas Sunyoung menggelengkan kepalanya.

“yaa… kenapa tidak? Ibu Yesung sangat suka padamu, dan sepertinya benar-benar menginginkanmu menjadi menantunya, kalau dicoba pasti bias,” seru Jiyeon tersenyum licik.

“…aku bingung. Sebenarnya aku ingin sekali menikah dengan Yesung. Tapi…itu seperti mimpi untukku.”
…….

“chagiyaaaaaa~~~” pekik Sunyoung memeluk Yesung.

“waegurae, chagiyaaaaaaa~~~” balas Yesung manja, memonyongkan mulutnya.

“yadong yuk~” ajak Sunyoung mencium leher Yesung.

“aku juga mau, chagiii~~ sampai pagi, yuk~” balas Yesung trsenyum sumrigah sambil membuka boxernya, membuat Sunyoung terpesona dan bernafsu.

“ayo! Ayo!” ajak Sunyoung menarik Yesung dan mereka pun ke kamar. Tak lama setelah itu, desahan-desahan aneh muncul.

……

 

“andwae!!!! Najis kalau Yesung sampai kayak bayanganku tadi. Aigoooo~ Andwaeeee..!” gumam Sunyoung stelah membayangkan sikap Yesung jika berubah drastis.

“wae? Sunyoung-ah, kau berpikiran negatif lagi???” tanya Eunjung geleng-geleng.

Sunyoung hanya mengangguk dan sedikit jijik dengan khayalannya barusan.

“kami berharap kalian itu jodoh. Kami dukung 100% !” kata Eunjung lagi menepuk bahu Sunyoung.

“hwaiting, Park Sunyoung!” pekik mereka bertiga lalu kembali kekelas.

0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0

Yesung duduk dikursi biasa ia duduk. Dan seperti biasa, semuaperempuan kelas 1,2, maupun 3 senantiasa memandangi Yesung yang sedang makan di kantin. Yesung yang bersikap cuek dan dingin kembali membuat gadis-gadis di tempat itu mati—terpesona.

“hai Yesung Oppa,” sapa seorang gadis popular di SMA itu dgn manisnya, yaitu Boram.

“……” Yesung hanya mendongkak menatap Boram yang asyik memainkan dasi Yesung.

“oppa….” desah Boram manja, membuat pria-pria mata keranjang asyik melihat pemandangan indah milik Boram.

“wae?” tanya Yesung cuek dan kembali memakan roti isinya. Tanpa peduli Boram sama sekali.

“oppa… Kita berdua kan dijodohkan oleh appa dan umma, kenapa kita tidak emulai untuk pendekatan?” kata Boram manja.

Yesung hanya mengangkat satu alisnya tanda tidak mengerti.
“…apa maksudmu?”

Boram mendekatkan bibirnya ke bibir Yesung. Yesung masih menatap Boram heran. Anak-anak di tempat itu, baik cewek maupun cowok, shock melihat pemandangan itu. Sedangkan Sunyoung yang baru datang langsung terkejut dengan adegan tak terduga itu.

“Yesung?” Sunyoung membelalakkan matanya tidak percaya.

“aigo! Kok bisa?” heran Eunjung mengelus-ngelus pundak Sunyoung.

“Sunyoung…yang sabar ya…” hibur Jiyeon merangkul Sunyoung.

Mata Sunyoung mulai mengeluarkan air mata. Sunyoung menghentakkan kakinya lalu pergi dari kerumunan orang itu. Yesung yang melirik sosok Sunyoung itu mendorong Boram dan mengejar Sunyoung.

“Sunyoung!!! Sunyoung!!!!” teriak Yesung mengejar Sunyoung.

0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0

Sunyoung terhenti saat sebuah mobil hampir menabraknya.

“hei! Jalan hati-hati dong!” teriak pengemudi mobil marah-marah pada Sunyoung.

“maaf! Maaf!” balas Sunyoung membungkuk minta maaf.

Yesung yang melihat Sunyoung berlari menyebrang ikut mengejar Sunyoung. Sampai akhirnya, Yesung mendapatkannya dan menahannya.

“lepaskan!” teriak Sunyoung menunduk dan meronta-ronta ingin pergi.

“Sunyoung! Dengarkan aku!” Yesung menatap Sunyoung dalam. Sunyoung mendongkak dan membiarkan air mata mengalir di pipi mulusnya.

“…aku tidak ada apa-apa dengan Boram!” sambung Yesung.

“lalu… ke-kenapa? Kita hanya teman, kan? A…apa hubungannya denganku? Kau bahkan tidak menganggapku apa-apa… iya kan?” telak Sunyoung dengan suara bergetar.

Yesung menunduk sebentar, menelan ludah, lalu kembali menatap Sunyoung yang bermata sembab.“hhh… Mianhae,” ujar Yesung pelan.

“apa?” tanya Sunyoung heran.

“mianhae, maafkan aku. Seharusnya aku sadar… kau ada disitu. Aku seharusnya menjauh dari Boram…” kata Yesung mencoba menjelaskan.

“…aku memang tidak pernah suka denganmu… tapi, aku tidak bisa melupakan wajahmu yang bodoh…” sambung Yesung mengusap-usap kepala Sunyoung dan tersenyum evil.

Sunyoung hanya bengong memandang Yesung yang tiba-tiba peduli padanya. Seperti bukan Yesung.

“oppa… aku menyukaimu… aku sangat menyu-“

“ssst!” Yesung meletakkan jari telunjuknya di bibir Sunyoung yang belum sempat berkata-kata.

“tidak perlu kau katakan lagi. Karena mulai sekarang, aku yang akan mengatakannya …” Yesung mendekat dan mencium bibir Sunyoung dengan lembut.

“…saranghae…” sambung Yesung dan tersenyum.

Sunyoung terdiam seribu juta bahasa. Dia tidak menyangka kisah cintanya yang awalnya suram berakhir indah.

“Yesung kalau aku ngomong itu lagi…”

“apa?”

“Aku sangat mencintamu!”

“kalau kau ngomong lagi, kucium kau lebih dasyat!”

“hehehe~”

 

FIN

RCL Please…………

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s