Indonesia setelah 66 Tahun Merdeka Semakin Jauh dari Cita-Cita Pendiri Bangsa

 Esai Pendidikan Pancasila

 “Selama masih ada ratap tangis di gubuk-gubuk, pekerjaan kita belum selesai. Berjuang terus  dengan menguncurkan sebanyak-banyaknya keringat”

Nama Mahasiswa : Lia Yuanisa

Selama masih ada ratap tangis di gubuk-gubuk, pekerjaan kita belum selesai. Berjuang terus  dengan menguncurkan sebanyak-banyaknya keringat… Potongan kalimat tersebut dikutip dari pidato Ir. Soekarno pada saat HUT Kemerdekaan Indonesia 1950. Setelah 5 tahun kemerdekaan Indonesia Soekarno memberikan pidatonya yang begitu memiliki kekuatan semangat yang membara, dimana secara tidak langsung kita para generasi muda penerus kepemimpinandi Indonesia harus tahu bahwasanya para pendiri bangsa ini dulunya memiliki cita-cita yang mulia dan pesan untuk terus berjuang walapun Indonesia sudah merdeka dari penjajah. 63 tahun telah berlalu, Indonesia memperingati pula kemerdekaannya namun sebenarnya apa yang dirayakan, kemerdekaan yang seperti apa yang baru saja kita peringati? Apakah 63 tahun ini Indonesia sudah berhasil memajukkan bangsa? Sepertinya tidak! Jika dipandang, banyak tokoh masyarakat ataupun mayarakat Indonesia sendiri berpendapat bahwa negara ini sudah terlalu jauh dari cita-cita para pendiri bangsa.

Menilai kondisi bangsa Indonesia saat ini makin jauh dari cita-cita pendiri bangsa yang termaktub dalam pembukaan UUD 1945. Lihat saja beberapa kasus yang bisa dibilang lucu seperti, banyak TKI yang dianiaya dan bahkan dihukum pancung di Arab Saudi, tapi Indonesia justru memberikan penghargaan di bidang Hak Azasi Manusia (HAM) kepada Raja Arab Saudi. Para petani Indonesia saat ini hidup dalam kondisi yang memprihatinkan karena harus berjuang melawan gelombang produk impor. Salah satu partai yaitu NasDem yang melihat kenyataan ini langsung bertindak, mereka mengadakan rapat yang 9 November 2011 (rapat pimpinan nasional) Rapimnas bertempat di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta. Menurut mereka, Partai NasDem siap membangun kembali bangsa dengan konsep ‘Restorasi Indonesia’ guna memberikan harapan baru kepada bangsa Indonesia dalam menyongsong masa depan yang lebih baik. Patrice Rio Capella— Ketua Umum Partai NasDem menyayangkan jika kehadiran partai politik hanya sekadar mengincar kekuasaan semata dan bukan untuk memperbaiki kondisi bangsa Indonesia. Lalu apakah mereka bisa merealisasikannya? Saya harap segera.

Saya sedikit mengutip dari Pasal 34 UUD 1945 ayat (1) yang menegaskan bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara. Pasal 34 ayat (1) tersebut yang selanjutnya diikuti dengan 3 ayat berikutnya, merupakan pasal yang mengatur kesejahteraan sosial. Pasal tersebut juga bermakna kewajiban negara yang dijalankan oleh pemerintah untuk melakukan usaha yang maksimal guna menyejahterahkan masyarakatnya. Pemerintah perlu juga merenungkan kembali apa yang harus dilakukan agar masyarakat miskin mendapatkan hak-haknya. Sejauh yang kita alami sejak lama, berbagai program pemberdayaan masyarakat miskin, telah dilakukan oleh pemerintah. Dalam kerangka mendapatkan keadilan di luar pengadilan, pemerintah telah lama memprogramkannya di bidang kesehatan dan pendidikan. Kedua hal itu merupakan modal bagi masyarakat miskin untuk memberdayakan dirinya sendiri. Oleh karenanya, dicanangkan program pembangunan puskesmas di setiap kelurahan dan program wajib belajar 9 tahun pada masa orde baru, namun seiring perjalanan waktu, angka kemiskinan terus meningkat. Apa yang salah ada progam tersebut? Pemerintah yang salah ataukah masyarakat sendiri yang tak mau mengikuti progam yang disusun tersebut? Mari kita koreksi diri masing-masing dan masyarakat Indonesia sekalian.

Hidup saat ini dalam kesengsaraan yang tiada terputus-putus. Hanya revolusi yang dapat menyelesaikan krisis yang terjadi di Indonesia saat ini. Krisis yang dimaksud adalah tidak berjalannya pemerintahan yang normal dalam memberantas korupsi dan penegakan hukum. Semua itu hanya berputar di sekitar itu. Hal itu dikatakan Adityo Hanafi di Jakarta, Jumat (29/4) menanggapi pertanyaan penulis mengenai kondisi sosial masyarakat yang semakin tajam  disparitas antara sang kaya dan sang miskin. Ia melihat, saat ini rakyat bukan saja telah masuk kedalam kelas sudra, tapi malah sudah menjadi waisya dan bahkan paria didalam negeri yang didengungkan kaya raya ini.

Kita lihat sehari-hari, di televisi, radio, koran dan berbagai media lainnya kalau bencana yang namanya KORUPSI sudah mendarah daging di Indonesia seperti mendarah dagingnya sungkeman dengan orang tua dan budaya bikin ketupat saat lebaran. Bahkan seorang tokoh nasional pernah berargumen kalau korupsi di negeri ini sudah sedemikian sistemik , diajarkan turun temurun dari senior ke junior setiap generasi. Jadi mungkin bisa dibilang sampai kiamat nanti , tradisi mengajarkan korupsi ini akan terus ada bahkan mungkin suatu saat dilegalkan. Selain itu korupsi pun membawa dampak sangat parah bagi negeri ini. Dampak fisik dan mental-psikologis, namun yang paling parah adalah dampak mental-psikologis. Mental jutaan penduduk negeri ini adalah mental koruptor dengan level yang berbeda-beda, dan parahnya dengan senang hati dipraktekkan di segala lingkup kehidupan. Memang beberapa dari kita ada yang tidak demikian, namun perbandingannya amat parah, mungkin satu berbading seratus atau seribu. Dan dampaknya, negara kaya luar biasa subur yang dipandang sebagai pewaris Atlantis ini pun sekarat.

Bisa kita bayangkan dari gambaran tersebut, manusia sehebat apa yang bisa membalik keadaan negeri ini, menghapus tradisi korupsi  dari bumi Indonesia?? Yang jelas manusia itu harus bisa melawan nafsu alamiahnya sendiri, melawan para koruptor yang pastinya bakal bereaksi keras serta mengubah jalannya nasib negara besar ini. Menurut saya, untuk mengubah negara yang sedemikian mempunyai beragam kebudayaan haruslah ada sekelompok orang yang bisa diandalkan dan memiliki beberapa aspek berikut yaitu ilmu, iman, keahlian dalam menyelesaikan masalah, dan lain-lain. Dengan solidaritas tinggi mungkin saja negara ini bisa berdiri gagah seperti pada awal masa kemerdekaannya. Tapi satu yang perlu diingat adalah tergantung orang-orang yang mau mengubah negara yang makin tidak karuan ini. Soal waktu bisa diatasi kalau orang-orangnya mau berusaha tapi ada pula beberapa faktor penghambat timbulnya rasa nasionalisme yaitu kemajuan zaman, teknologi, life style dan keenggan ikut campur tangan dalam suatu masalah. Maka dari itu masih dengan pertanyaan yang sama, manusia sehebat apa yang bisa membalik keadaan negeri ini, menghapus tradisi korupsi  dari bumi Indonesia??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s