[oneshot] Be Mine

Tittle                : Be Mine Part 1

Main Cast        : Nam Woohyun (Infinite), Son Naeun (A-Pink)

Genre              : Romance

Rating             : 15+

Naeun membuka matanya saat mendengar suara tepuk tangan meriah yang membahana di aula sekolahnya. Kini ia merasa bahwa usahanya membuahkan hasil juga, ternyata ia bisa melakukan konser perdananya tanpa membuat kesalahan apapun. Ia bersyukur bahwa malam ini tidak ada yang kesalahan dan kekacauan. Naeun memberikan salam terakhirnya dan berterima kasih kepada semua orang yang sudah memberikan dukungan untuknya.

“kepada mahasiswi Son Naeun, dipersilahkan untuk kembali ke tempatnya.”

Naeun mengangguk lalu berjalan meninggalkan panggung aula dan dibelakang panggung ia sudah tahu akan ada kejutan lain. “Naeun~ah….!!!”

Naeun tersenyum melihat kedua sahabatnya menunggu dengan setia di belakang panggung, tanpa berpikir lagi Naeun langsung memeluk kedua sahabatnya. “gomawo…kalian sudah mau mendukungku.”

“tadi benar-benar penampilan yang hebat Naeun-ah. Kau benar-benar sudah berusaha keras.”

“hmm.. ini gara-gara kalian juga yang memberiku semangat.”

“tentu saja kita harus saling memberi semangat, sebentar lagi akan ada pengumuman. Dan kau harus jadi juaranya.”

“bisakah?”

“aku dan Eunji yakin sekali kau akan menang.”

Naeun menatap kedua sahabatnya, keduanya mengangguk dan saling menggenggamkan tangan berharap semua perkataan tadi akan menjadi kenyataan. “penampilan kalian juga bagus, aku sempat iri dengan Eunji. Permaianan pianomu membuatku iri betul dan Bomi… “

“ahh.. ahh.. arrseo arrseo. Aku memang cantik seperti angsa. Kau ingin bilang begitu kan.”

Naeun mengangguk semangat. “aku juga ingin bisa balet…” rengek Naeun.

Eunji memukul kepala Naeun, “kau pikir belajar balet mudah. Sudah cukup kau punya suara angelic seperti tadi. Jangan bicara lagi, Bomi pasti akan membunuhmu.”

“hihiii… kajja. Kita menunggu pengumumannya di kursi saja,” Naeun menggandeng kedua sahabatnya.

kajja!” Bomi menyambut gandengan tangan Naeun dan Eunji dengan semangat. “setelah ini kita harus berpesta…!” teriak Bomi.

NE…!!”

2 jam kemudian…

“cheers….” Naeun, Bomi dan Eunji saling bersulang untuk keberhasilan mereka salam acara konser jurusan Seni dan Musik Universitas Kyunghee. Akhirnya mereka bisa lolos ujian tengah tahun dan bisa melanjutkan tingkat berikutnya lalu… tentu saja mereka akan menghabiskan waktu tidak lama di kampus. Hanya tinggal 1 tahun lagi sebelum kelulusan.

“untuk Son Naeun, chukae…! Selamat sudah menjadi pemenang pertunjukkan terfavorit..!” ujar Bomi dan Eunji.

gomawo..yo~….Bomi dan Eunji, kalian memang sahabat terbaikku. Kuharap 1 tahun kedepan dan seterusnya kita akan tetap menjadi sahabat.”

“cheers…”

Hahahaha….. Naeun begitu bahagianya sampai ia tidak tahu harus bagaimana lagi mengekspresikannya. Dulu ia minder apakah bisa ia menjadi penyanyi berbakat dan professional dan berkesempatan mengikuti konser. Setelah pertunjukkan ini ia berharap bakat menyanyi padanya bisa mmebuatnya sukses nantinya.

“jadi, kita akan pergi kemana?” tanya Eunji.

“kurasa kita perlu shopphing, karoke membuatku pusing dan juga bir ini. terlalu murahan.”

“dasar! Shopphing dan shopping, di kepalamu cuma hanya ada itu ya!”

“lalu mau kemana? Kurasa kita semua juga tidak mau makan terlalu banyak, sama-sama sedang dalam kegiatan diet bukan?” ujar Bomi. Eunji mengangguk membenarkan pernyataan sahabatnya ini.

Bomi dan Eunji melirik kearah Naeun yang malah sibuk bernyanyi sendirian, seperti menikmati konsernya tadi.  Mereka berdua tertawa melihat tingkah Naeun yang jauh dari umurnya, ia terlihat masih seperti anak SMA ahhh bukan anak SMP. Terlalu polos.

“Naeun~ah….! Kita keluar sekarang, kau mau ikut ke Myeongdong?”

“ikuuut…”

=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=

“kau tahu tempat ini Bomi?”

“tentu saja, aku punya banyak kenalan di beberapa toko. Kalian tenang saja, jika menawar denganku pasti akan mendapatkan harga yang paling pas.”

“aku belum pernah mendengar Bomi suka sepatu imitasi?”

“shuut! Naeun! Kau jangan bicara keras-keras nanti kita diusir.”

Neun mengangguk, ia melihat-lihat isi toko sepatu tersebut. Banyak sekali model-model terbaru yang memang sempat Naeun lihat di internet dan majalah. Harganya pun jatuh banget, tidak mahal seperti yang dipamerkan di acara peragaan. Naeun tahu banyak soal mode karena memang ibunya bekerja di bidang modeling, jadi baginya barang-barang di toko ini luar biasa sama persisi bagusnya dan berkualitasnya seperti di toko mahal.

“kau mau itu Naeun? Ambil saja yang kau mau, aku yang akan membelikannya,” ujar Bomi. Eunji menyikut tangan Bomi sengaja, memberi sinyal untuk diam saja.

“kau kira dia bakal beli sepatu disini?”

“waeyo? Kau pikir Naeun tidak bisa membelinya, dia itu tidak sekolot yang kau pikirkan Eunji. Para perempuan yang melihat surga sepatu seperti sekarang ini pasti akan langsung membelinya tanpa berpikir dua kali. Lihat ekspresimu waktu masuk juga mengatakannya.”

“aisshhh… tapi kan.. Naeun beda. Ibunya itu modeling, pasti sangat anti dengan barang imitasi. Jadi begitu juga… ”

“Naeun~ah!” teriak Bomi tanpa mendengarkan penjelasana Eunji yang lebih panjang lagi.

“kau mau ikut kami ke gudang, disana selain ada sepatu ada juga tas yang bisa dipilih. Mau ikut?”

“tidak, aku menunggu disini saja. Kalian pilih saja duluan, aku juga ingin memberitahu kabar gembira pada ayah.” Naeun duduk dikursi. “aku menunggu disini,” ujar Naeun.

“baiklah, kalau ada apa-apa tinggal sms kita saja.”

“hmmm…”

Bomi dan Eunji langsung pergi mengikuti pemilik toko itu, seorang perempuan dengan dandanan aneh dan lebih mirip harajuku. Sejenak Naeun melihatnya dengan aneh tapi lama kelamaan mulai sadar bahwa mode itu terserah pada orang yang memilihnya. Untuk apa dia mengomentari toh, tidak jelek ini.

“ah..! kirim e-mail ke appa!” Naeun membuka messager nya dan mulai mengetik email ke ayahnya. Saat ini ayahnya sedang mengadakan perjalanan tugas keluar negeri, katanya perusahaan sedang dilanda kasus penipuan dan ayahnya harus segera mengurusnya sebelum terjadi kerugiaan. Naeun yang sama sekali belum pernah ditinggal sendirian selama ini merasa sedih saat tahu ayahnya harus ke Amerika selama seminggu. Ayahnya juga tidak bisa melihat penampilan menyanyinya di kampus, sungguh menyedihkan.

Tanpa disadari Naeun, ada dua orang laki-laki memasuki toko tersebut. Mereka seperti mencari sesuatu, dan saat melihat Naeun yang duduk sambil bermain ponsel, kedua laki-laki tersebut tersenyum penuh arti.

“nona, apakah tokonya buka?”

“ahh ne,” jawab Naeun tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.

“barang baru ada dimana? Saya sedang mencari kado untuk pacar, nona bisa membantu kami?” tanya laki-laki yang lebih pendek dari satunya.

“pergi saja ke gudang, aku sedang sibuk. Disana lebih banyak barang untuk dipilih,” jawab Naeun kembali tanpa tahu bahwa keadaan sedang tidak baik baginya.

Laki-laki satunya memberi sinyal kepada laki-laki pendek untuk pergi ke tempat yang sudah diberitahu perempuan itu. Gudang. Laki-laki pendek itu mengangguk dan langsung angkat kaki meninggalkan toko tersebut.

“nona Cha Minsook, anda ditangkap karena terlibat pengiriman barang illegal selama 3 bulan.”

“….”

“nona Cha Minsook… Cha Minsook!”

Naeun menoleh kesumber suara tersebut, dan mendapati laki-laki tinggi tengah menatapnya dengan sangat marah. Tatapan yang mengartikan bahwa laki-laki itu bisa membunuhnya sekarang juga. Tapi Naeun tidak menanggapinya, ia malah kembali serius pada layar ponselnya.

“huft…” laki-laki itu menghela nafas, tidak percaya dengan apa yang ia lihat barusan. Perempuan itu berani sekali tidak mengindahkan omongannya. Ia bukan orang sabar dan tanpa bisa menunggu lagi. Laki-laki itu tidak punya pilihan lain, segera ia menarik lengan perempuan tersebut dengan kasar.

“YA…!”

“kau tidak dengar daritadi aku memanggil namamu!”

“aku bukan Cha Minsook. Lepaskan! Lepas!”

“hah! Kau mau berpura-pura sekarang? Terlambat nona cantik. Ikut!”

“YA! LEPAS! Aku bukan Cha Minsook! Dengarkan dulu, aku bukan!”

Laki-laki itu tidak mau dengar, ia langsung menyeret paksa perempuan itu untuk segera keluar dari toko. Naeun tetap berusaha untuk kabur tapi kekuatannya tidak cukup untuk melepaskan genggaman laki-laki tersebut. Ini terlalu kuat dan .. sakit.

“kita mau kemana?!”

“tempat yang sepantasnya! Masuk!”

“tidak!”

“masuk!” teriak laki-laki tersebut, ia melotot kearah Naeun tanpa memberikan sepatah kata lagi. Naeun tidak punya pilihan lain, dengan kesal ia masuk ke mobil polisi.

=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=

Kantor Polisi Distrik Gangnam

Naeun duduk dengan kesal, daritadi pandangannya tidak lepas memandang laki-laki yang baru ia ketahui adalah seorang polisi. Menurutnya laki-laki ini bukanlah polisi, kata-katanya kasar dan suka membentak, Naeun benci itu. Belum lagi lengannya yang ditarik tadi masih terasa sakit. Seumur hidup baru kali ini, Naeun disangka penjahat. Apakah wajah cantik dan imutnya ini tidak bisa meng-cover itu semua? Hughhh…

“jangan terus melihat kesini, duduk dengan tenang. Tidak lama lagi kau akan aku wawancarai,” ujar laki-laki itu yang kini sedang mengintrogasi pelaku lainnya.

“kubilang aku bukan penjahat, ajusshi salah menangkap orang!”

“diam!”

“aku akan memberitahu ayah dan tunggu saja, nanti akan ada pengacara yang menuntut ajusshi,” teriak Naeun. Ia langsung menekan tombol panggilan ke nomer ibunya, ia berharap wanita itu tidak sedang sibuk sekarang.

Tut..tut…tut…

Naeun mencoba terus namun sudah kelima kalinya, nada sambung ponselnya tidak diangkat. Apakah ibunya benar-benar tidak peduli padanya? dan lebih mementingkan pekerjaannya. Naeun mengirim sms ke sopir rumah dan juga Eun Ji, namun seperti yang terjadi. Tidak ada satupun yang membalas sms nya.

BURGGHH..

“YA! KAU BILANG APA! KAU PIKIR KAU SEDANG DI TAMAN SIRKUS?! KATAKAN YANG BENAR!!!”

Naeun melirik takut, baru saja polisi itu memukul meja dan membentak penjahat yang didepannya. Sangat menakutkan, apakah dia juga akan diperlakukan seperti itu? Naeun berpikir keras, ia terlalu takut untuk membayangkannya jika ia diperlakukan seperti itu. Ahh.. mengapa kebahagiannya harus dirusak oleh polisi ini!!! hardik Naeun.

“kirim dia ke sel,” perintah polisi itu, tak lama seorang laki-laki membawa borgol dan mengantarkan penjahat tadi keluar ruangan. Sekarang polisi itu menatap Naeun, menyuruhnya untuk duduk. Naeun menggeleng keras.

“kau…”

“aku bukan penjahat, ajusshi harus percaya!”

ajusshi?! Kau pikir aku keluargamu?!”

“…tapi aku bukan penjahat. Sebagai polisi kau benar-benar salah menangkap. Percaya padaku!”

“kenapa aku harus percaya padamu?! Huh?!”

Naeun merengut dan menundukan kepalanya. Polisi itu geleng-geleng kepala, ia tidak bisa sabar lebih lama lagi. Ia beranjak dari bangku dan menghampiri Naeun yang masih duduk.

“berdiri!”

Naeun menggeleng kembali.

Polisi itu menarik lengan Naeun dengan kasar dan dengan spontan Naeun melepaskan tangannya dan memandang polisi itu dengan tajam. “aku bukan penjahat,” ujar Naeun penuh penekanan.

Polisi tadi tidak mau dengar dan mulai menarik lagi lengan Naeun dengan kasar. Dan itu benar-benar kuat sampai Naeun harus memberontak, namun sekalinya ia memberontak sama sekali tidak mempan. Polisi itu menarik Naeun dan mendudukan gadis itu dengan paksa, dan ….. PRAKK …

Naeun kaget melihat ponselnya jatuh dan rusak, sekarang layar ponselnya retak dan tidak menyala.

“jahat…” desis Naeun. Polisi itu mematung, melihat Naeun yang mengambil ponselnya dan kemudian menatapnya dengan tatapan dingin.

“aku… aku akan menanyakan beberapa pertanyaan padamu Cha Minsook.”

“mwo? Cha Minsook? Huh….”

“waeyo?”

Naeun sudah tidak bisa bersabar, ini benar-benar sudah membuatnya kesal. Cha Minsook. Polisi didepannya ini terlalu bodoh sepertinya atau terlalu pintar sampai tidak bertanya padanya siapa dirinya sebenarnya.

hyung! Aku membawa Cha Minsook!” laki-laki pendek itu membawa seorang perempuan dengan dandanan harajuku. Polisi tadi langsung berdiri dan menatap gadis muda yang sedari tadi ia sangka penjahat yang ia cari. Ternyata…

“jadi kau….

“Son Naeun, anda tidak menanyakan identitas sebelumnya?”

PLAAK… Naeun menatap polisi didepannya denga marah luar biasa.

“Naeun~ah…. Kau tidak apa-apa? Ada yang terluka?” tiba-tiba Bomi masuk ke ruangan tersebut bersama Eunji juga.

“Naeun..mianhae aku tidak menjawab sms mu. Polisi itu tidak memberikan ponsel pada kami, dia tidak percaya pada ucapanku kalau kau bukan penjahatnya.” Eunji menunjuk laki-laki pendek.

mianhae Naeun~ah gara-gara aku…

kajja.. kita pulang. Aku lelah,” ujar Naeun memutus perkataan Bomi.

agasshi…”

BRAAKK… saat itu juga Naeun memukul laki-laki itu (lagi) dengan tas miliknya dan tanpa berkata lagi, ia meninggalkan kantor polisi itu. Diikuti Eunji dan Bomi yang sebelumnya berterima kasih, tidak tahu untuk apa, yang pasti mereka berterima kasih karena tidak sampai harus memberikan keterangan lagi.

=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=

Laki-laki itu menghadap atasannya setelah diberitahu bahwa ada kasus yang harus ia urus. Nam Woohyun, polisi yang bertugas sebagai kepala penyelidikan kantor polisi distrik Gangnam, berjalan dengan tegapnya. Ia tidak seperti polisi kebanyakan yang berpakaian seragam rapi dengan topi dan dasi. Pekerjaannya memang berat dan terkesan berbahaya, untuk menjaganya ia tidak perlu memakai pakaian resmi saat bertugas, cukup pakaian kasual dan rapi sehingga ia bisa santai menjalankan tugas tanpa diketahui seorang polisi. Pagi ini ia mendapat kabar bahwa kasus yang sudah lama ditutup dibuka kembali karena ada pelapor yang ingin memberi kesaksian dan tentu saja hanya Woohyun yang boleh menuntaskan tugas tersebut. Selain dipandang sebagai polisi berbakat, ia juga cepat mengambil tindakan dan keputusan makanya kepala kepolisian memilih Woohyun.

“kepala penyelidikan Nam Woohyun datang menghadap.”

“ini berkas kasusnya, sepertinya tidak perlu waktu lama untuk membaca ulang, bukan?”

ne. Saya sudah membaca laporannya dan selama penyelidikan saya juga ikut berpartipasi.”

“bagus. Sekarang ini Son Nam Hee sedang melakukan perjalanan bisnis dan sore ini juga dia akan kembali ke Seoul. Kurasa sekarang ini cukup untukmu bersiap-siap, jangan sampai terlambat dan jaga keselamatan saksi.”

“baik pak! Saya akan melaksanakan semaksimal mungkin.”

“pergilah.”

Woohyun memberi hormat dan meninggalkan ruangan atasannya, sambil berjalan ia melihat beberapa laporan lainnya dan foto-foto mengenai kasus suap yang melibatkan pembunuhan dengan motif kecelakaan lalu lintas. Dan untuk saat ini yang terpenting adalah saksi, karena orang itu adalah kunci utama kasus ini.

hyung, ada pekerjaan baru kah?”

“ooh.. baru saja mendapatkan data. Kau siapkan orang dan bawa ini untuk dibaca. Aku akan pulang ke rumah sebentar ganti pakaian dan makan. Kau bisa lakukan semuanya?”

“beres, hyung pulang dulu saja. Sudah dua hari ini hyung tidak bersih-bersih diri bukan.”

“hmm.. kupercayakan padamu. Jam 11 kita bertemu di kantor.”

“siap!”

11.00 KST

Woohyun menyetir mobil dinasnya dengan pelan, berhubung perjalanan mereka jauh dan lama maka ia memilih untuk pelan saja, demi menjaga kondisi kesehatannya juga. Waktu yang mereka punya juga masih banyak tersisa.

“laporan apa saja yang kau dapat?”

Laki-laki pendek yang menjadi partner Woohyun semenjak Woohyun ditunjuk sebagai kepala penyelidikan, laki-laki pendek itu membalikan map, mencari lembaran kertas yang akan ia laporkan.

“kasus ini ditutup dua bulan lalu karena alasan kecelakaan, bukan pembunuhan. Banyak saksi yang mengatakan bahwa yang terjadi hanyalah kecelakaan dan tidak ada bukti yang menguatkan bahwa itu adalah kejahatan pembunuhan tersengaja. Rekaman video yang dulu berada di kepolisian mendadak hilang, keterangan mungkin ada hacker yang mengacaukan system computer kepolisian. Lalu beberapa saksi yang akan ikut di pengadilan mengatakan hal yang berbeda saat memberikan laporan di kantor polisi.”

“saksi?”

“selama ini saksi adalah para pegawai perusahaan Everly …ckckck, aku merasa ada yang aneh hyung.”

“apa?”

“saksi yang akan kita jemput ini adalah orang yang memiliki saham terbanyak ketiga di Everly. Dan ia mempunyai cabang perusahaan pangan di Seoul, perusahaan yang akhir-akhir ini sedang bangkrut. Aku merasa kita memang perlu menjaga keselamatan orang ini karena mungkin…

“ya! kenapa tidak bilang daritadi!”

Laki-laki itu meminta maaf. Woohyun menginjak pedal gas mobil dengan keras, ia ceroboh tidak memastikan dulu jadwal penerbangan pesawat dari Amerika. “tanyakan tentang kedatangan pesawat yag ditumpangi Son Nam Hee.”

“ne hyung,” jawab laki-laki itu dan langsung menyambungkan panggilan ke pihak investigasi pusat. “…tapi hyung bukankah Son Nam Hee akan landing jam 4 sore?”

“kau kira orang itu tidak pintar, kurasa saat ini ia sedang menjaga dirinya sendiri. Son Nam Hee memutuskan menjadi saksi dan bahkan terang-terangan melapor ke kepolisian pasti ada alasan dibalik itu semua. Perusahaannya sedang mengalami kebngkrytan dan ia harus menyelamatkannya. Kurasa aku tahu sedikit alasannya…dan mana mungkin penjahat yang sebenarnya duduk diam saja melihat kejahatannya akan terbongkar sebentar lagi.”

“ooh.. kurasa hyung benar.”

Woohyun melajukan mobilnya sekencang mungkin, jangan sampai kesempatan ini hilang begitu saja. Namun, ditengah jalan ponsel Woohyun berdering. Panggilan dari kepala polisi, atasannya.

“polisi Nam Woohyun, segera menuju ke rumah sakit terdekat di Incheon sekarang juga!”

“hah! Maksudnya?!”

“Son Nam Hee mengalami kecelakaan mobil dan sekarang berada di rumah sakit.”

Woohyun memutuskan sambungan telepon dan langsung banting setir menuju ke rumah sakit Incheon saat itu juga.

=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=

Naeun tidak percaya dengan apa yang ia lihat, didepannya ia melihat pintu ruang operasi. Didalam sana ayahnya yang selalu ia tunggu kepulangannya sedang menjalani operasi. Naeun menunduk terus berdoa supaya operasinya berjalan lancar dan ketakutannya tidak bisa disembunyikan lagi. Hanya ayahnya yang mencintainya dan tanpa ayahnya Naeun tidak tahu apakah bisa melewati sisa hidupnya. Eunji dan Bomi terlihat melangkah mendekati Naeun, mungkin mereka tidak bisa mengejar Naeun.

eomma…” Naeun mendekati ibunya yang berdiri disalah satu sisi dinding. Wajahnya sama paniknya dengan dirinya, yang beda ibunya masih tetap cantik dengan balutan mantel berbulu yang mahal harganya. Sedangkan dia pucat pasi.

appa tidak apa-apa kan?” tanya Naeun.

“…..”

Eunji menyuruh Naeun untuk duduk, sahabatnya ini tidak tega melihat Naeun yang gemetaran ketakutan. Tapi, Naeun seperti tidak tahu maksud baik Eunji, ia tetap saja berdiri dan malah terus menanyakan hal yang sama pada ibunya.

eomma…!!!” teriak Naeun akhirnya.

“suruh siapa memanggilku eomma, sudah kukatakan jangan memanggilku dengan panggilan baik dan kasihan seperti itu. Sekarang kau duduk dan tunggu dokter keluar dari ruang operasi. Tanyakan kondisi ayahmu padanya!”

Naeun kaget mendengar pernyataan ibunya, bukan satu kali ini ia mendengar bahwa ibunya tidak suka dipanggil “eomma” tapi saat keadaan kritis seperti ini ibunya…. Eunji menarik tubuh Naeun agar berpindah tapi Naeun tetap tidak mau bergerak. Ia malah menatap ibunya yang kini mengalihkan pandangan dari anaknya.

“..appa sedang operasi dan eomma tidak merasakan hal yang sama denganku? Kenapa eomma diam saja dan tenang seperti ini?!”

“apa?”

“aku tahu eomma tidak pernah suka denganku, sejak pertama kali juga eomma tidak pernah ingin menjadi eomma. Tapi aku selalu berharap hubungan 5 tahun ini akan mengubah hati eomma, nyatanya…semua sama saja. Apa eomma juga sudah tidak mencintai appa?!”

PLAAAKK

Naeun memegang pipinya dan menatap ibunya dengan tatapan tajam. “anak kurang ajar! Kau sudah besar tapi tetap saja tidak dewasa. Lain kali jaga bicaramu!”

eomma juga!”

“apa?!”

“tante! Jangan!” tangan Bomi langsung menahan tamparan yang akan melayang ke pipi Naeun untuk kedua kalinya. Untung saja Bomi tahu kondisi. “tante… kita sedang di rumah sakit. Tolong jangan …”

Naeun eomma melepaskan diri dari tangan Bomi. Ia memberitahu Naeun supaya tidak mencari masalah dengannya. Wanita itu lalu berjalan menjauhi ruang operasi dan memilih untuk menunggu di lain tempat. Sepertinya bertemu muka dengan anak tirinya bukan hal yang bagus untuk kondisinya sekarang. Baru saja ia mendengar kabar suaminya kecelakaan, ia langsung membatalkan semua pemotretan tapi sekarang yang ia rasakan malah kemarahan. Dan satu hal yang ia masih penasaran, mengapa suaminya tiba di Seoul lebih awal, bukankah harusnya dia tiba sore..

hyung… apa kita harus menunggu juga?” tanya laki-laki pendek.

Woohyun menghela nafas sebentar, baru kali ini ia melihat seorang ibu menampar anaknya secara langsung. Apalagi ia tahu siapa gadis yang tertampar tadi. “kau menunggu disini, aku akan ke kantor mengambil beberapa berkas.”

ne hyung.”

“kalau operasi sudah selesai langsung beritahu dan jangan pergi jauh-jauh. Kita belum tahu apa lagi yang akan dilakukan orang yang sudah mencelakai saksi kita. Aku pergi.”

“hati-hati hyung.”

“oo..”

=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=

3 hari kemudian

Woohyun melempar berkas ke meja atasaanya dengan marah, “kasus ini harus diselesaikan pak. Kalau begini terus polisi seperti dipermainkan.”

“polisi Nam Woohyun, keselamatan saksi adalah tanggungjawab kita. Makanya, setelah keadaan reda kita akan mengawasinya dan tugasmu untuk membujuknya untuk menjadi saksi.”

“apa orang itu yang meminta?”

“istrinya dan juga pengacaranya baru saja kesini. Menyerahkan surat pembatalan ke pengadilan.”

“kenapa mendadak? Bukankah operasi juga berjalan lancar.”

“ada beberapa kasus lain yang perlu kau selesaikan jadi untuk kasus ini sementara menjadi tanggunjawabku. Kau kembali bekerja saja.”

“tapi pak… ini…

“kau tidak mau mendengar perintah atasanmu?”

“saya pastikan Son Nam Hee akan menghadap kesini dan dia akan menjadi saksi untuk kasus ini.”

“aku percaya padamu tapi saat ini jangan dekati Son Nam Hee. Mengerti?”

Woohyun tidak menjawab. Ia memberi hormat lalu pergi meninggalkan ruangan.

hyung..kasusnya?”

“hari ini istirahat, katakan pada yang lain untuk hadir di rapat besok. Kita akan membagi tugas lagi.”

“siap!”

“kau sudah berkerja keras,” ujar Woohyun menepuk pundak partnernya ini. “istirahatlah..”

Laki-laki pendek itu mengangguk.

Woohyun menyetir mobilnya, ia akan puang ke rumah saja daripada terus bekerja akan membuatnya kesal. Ia tidak suka jika pekerjaannya dirusak ditengah jalan seperti ini. Woohyun berpikir bahwa dirinya harus memastikan sendiri bahwa Son Nam Hee benar-benar tidak ingin menjadi saksi lagi, apalagi pria itu juga tidak ingin menjawab teleponnya, sebenarnya apa yang terjadi sebenarnya. Woohyun mengarahkan mobilnya ke jalan rumah sakit Seoul.

Jalanan malam memang selalu padat, apalagi ia melewati pusat kota. Banyak pejalan kaki yang membuat mobilnya harus terkena lampu merah. Saat melihat kepinggiran jalan, ia seperti melihat gadis yang mirip dengan …. Ah! Woohyun memukul kepalanya sendiri, menyadari kebodohannya.

“gadis itu pastinya anak Son Nam Hee, aahhh.. seperti aku tahu mengapa pria itu tidak mau menjawab teleponnya. Sepertinya putrinya sudah memberitahu kejahatannya,” Woohyun memukul setir mobil kesal. Apakah hanya karena masalah sepele seperti itu? woohyun menggeleng keras.

Woohyun melihat kembali ke pinggir jalan, gadis itu seperti sedang menunggu sesuatu. Mungkin jemputan sopir, tapi mengapa ditempat seperti ini. Woohyun melihat lampu  dan ternyata sudah hijau. Ia memutuskan untuk meminggirkan mobilnya tapi sebelum ia berhasil memakirkan mobilnya, ia melihat ada yang tidak beres. Dari kaca spion mobilnya ia melihat dengan jelas, gadis itu disekap oleh beberapa laki-laki yang memaksa gadis itu masuk ke mobil van. Alarm di kepala Woohyun langsung berbunyi dan segera ia melarikan mobilnya mengikuti mobil van, ia tidak boleh kehilangan jejak mobil tersebut.

=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=

Woohyun keluar dari toko 24jam, ia membeli dua kaleng orange jus. Bukan tanpa alasan ia membelinya, Woohyun memandang gadis yang kini tengah duduk didepan jok mobilnya. Sedari tadi gadis itu tidak berbicara sedikitpun padanya. Ia masih ingat jelas kejadian barusan.

flashback

Woohyun mengikuti mobil van tersebut, mobil itu menjauh dari kawasan kota dan kemudian berhenti di sebuah gudang besar. Entah apa yang akan dilakukan orang-orang tersebut, yang pasti ada niat jahat. Woohyun mengambil jarak dan memakirkan mobilnya seaman mungkin. Woohyun memberitahu kantor investigasi untuk mengirimkan polisi ketempatnya berada dan juga memastikan siapa pemilik nomor plat mobil van itu.

Woohyun merasa orang-orang ini terlalu bodoh, tidak ada pengamanan apapun. Jadi mudah baginya untuk menyusup ke gudang tersebut, saat sudah menemukan tempat persembunyian yang bagus, Woohyun memonitor keadaan dan ia melihat gadis itu. Hatinya merasa sakit saat melihat salah satu laki-laki diantaranya menampar gadis itu dengan keras sampai berbekas merah, belum lagi gadis itu yang terus memberontak membuat laki-laki disekitarnya tersenyum penuh arti. Woohyun tidak bisa menunggu lagi, dan tanpa peringatan ia memanfaatkan kemampuannya bela dirinya melawan orang-orang jahat ini.

“cepat pergi darisini. Cari tempat aman untuk bersembunyi,” perintah Woohyun ke Naeun.

Naeun tidak mengangguk ataupun merespon perintah Woohyun, ia tetap saja berdiri di tempatnya. Kakinya kaku dan tak lama kemudian dia ambruk. Kakinya benar-benar lemas. Badannya gemetaran tidak karuan, ia merasa drinya hampir mati untung saja…. Naeun tidak mau menangis, gadis itu menahan supaya masih bisa sadar dimana ia sekarang.

Woohyun tidak berhenti melawan orang-orang tersebut, saat seperti ini ia pantang menggunakan pistol. Ia harus melumpuhkan orang-orang ini dan harus tetap menang sampai bantuan dari kepolisian datang dan meringkus semua penjahat ini. Woohyun melirik kearah Naeun dan ia hanya bisa menghela nafas pasrah melihat gadis itu jatuh terduduk. Duduk mematung dan tidak berniat untuk pergi seperti apa yang ia katakan tadi.

End of flashback

Tok…tok..tok..

Naeun sadar dari lamunanya. Ia melihat kearah jendela mobil, laki-laki yang sudah membantunya dari bahaya sekaligus laki-laki yang dulu sudah menangkapnya ke kantor polisi. Woohyun memberi kode untuk membuka kaca jendela, Naeun menekan tombol disampingnya.

“minum ini.. orange jus.”

“terima kasih.” Naeun menerima kaleng tersebut. Hangat.

Woohyun menatap Naeun dengan tatapan yang sulit untuk diartikan, antara kasihan dan juga sedih. Menunggu adanya reaksi dari Naeun, membuat Woohyun kesal.

“kau mahasiswa kan?”

Naeun menoleh kearah Woohyun kembali dan mengangguk.

“alamatmu? Aku akan mengantarmu pulang.”

Naeun diam dan berpikir lama. Woohyun menunggu tapi ….

“aku akan duduk didalam toko itu, kalau sudah tahu alamatnya tekan saja klakson mobil.”

Baru juga Woohyun berbalik untuk menuju ke toko lagi, “sebentar…”

Woohyun berbalik. “bisakah minum saja disini,” pinta Naeun.

Woohyun menatap Naeun bingung.

“sebentar saja,” ujar Naeun lagi.

Woohyun mengangguk. “oh…”

Miwuhago shipeunde
Nal ijeundeuthan nuhui dwitmoseupman jikineun geohtdo jichyuhbeoryeosseo ijen

Haruharu himeobshi saneun naega shireosseo
Ireon nae moseup bakkuryuhgo noryuhkhajiman andwae

Neoreul jiwooryeo aesseohdo bwasseo
Hajiman isseul soo oebneun iringeol jebal nae gyuhte isseojweo
Dallajin guhseun obbsseo honjaingeol
Ddo dareun sarangi ohl guhrago na miduhbwajjiman ijen
Sumswineun geol majuh himideulgo
Ireohke kuhjyuhman gajanha neoreul hyanghan nae geuriwoomi jogeumsshik
Jiweojiji anhneun chae nama isseo [Super Junior- Hate U Love U]

Woohyun meminum orange jusnya dengan cepat, untung saja ia memakai jaket yang tebal. Menunggu diluar seperti ini membuatnya kedinginan untung saja tidak lama kemudian ia mendengar suara sesenggukan. Antar kasihan dan lega, karena gadis ini akhirnya menangis juga, sebetulnya dalam kondisi seperti ini Woohyun akan baik-baik saja kalau orang yang ia tolong seperti gadis ini menangis, itu menandakan ketakutan pada kejadian itu bisa segera dilupakan tidak hanya disimpan dalam hati yang nantinya akan menjadi luka yang susah disembuhkan.

gwencana?” tanya Woohyun saat tidak mendengar suara sesenggukan lagi.

“kita pulang saja,” ujar Naeun dengan suara yang seraknya.

=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=

“kita pulang saja.”

Woohyun tidak mengalihkan pandangannya kearah gadis didepannya. Gadis itu duduk didepannya sambil menikmati makanan yang tersaji. Bahkan Woohyun belum menyentuh sama sekali makanan yang sudah ia pesan. Tiba-tiba Woohyun tertawa melihat muka gadis itu, sungguh lucu.

“kenapa tertawa? Tidak makan?” tanya Naeun.

Woohyun makin tidak bisa menahan ketawanya. “ya! kenapa tertawa?” tanya Naeun lagi, kesal.

Woohyun menunjuk kearah bibir Naeun yang berlepotan. Naeun diam ditempat, segera mengambil tisu dan langsung membersihkan bibirnya yang entah dimana yang berlepotan. Naeun menunduk, kembali melanjutkan makan. “ajushhi makan juga,” kata Naeun.

Woohyun langsung berhenti tertawa. “selamat makan…”

“ooo.. ajusshi…” panggil Naeun.

“hmm.. ada apa?” sahut Woohyun.

ajusshi…” panggil Naeun lagi.

waeyo? Tadi kau menyuruhku makan sekarang apa lagi?”

“tidak apa-apa?”

Woohyun bingung dengan pertanyaan Naeun.

“aku memanggil… ajusshi?”

“terserah kau.”

“oo…” Naeun tersenyum lalu melanjutkan makan. Woohyun mencuri pandang kearah Naeun dan ikut tersenyun juga.

Woohyun meletakkan sendok dan menatap Naeun.

“aku minta maaf untuk kejadian di kantor polisi dulu. Aku terlalu kasar dan sudah mengira kau penjahat.”

“tidak apa-apa.”

“tidak marah?” tanya Woohyun penasaran. Melihat Naeun yang tidak peduli dengan apa yang ia ucapkan barusan.

“lain kali ajusshi harus lebih hati-hati, jika mau menangkap orang sebaiknya lihat tanda pengenalnya dahulu. Untung saja aku bukan orang yang suka menuntut dan menyuruh orang untuk menangkap ajusshi. Ajusshi harus berterima kasih karena bisa selamat dari sel tahanan. Ajusshi belum tahu kan siapa aku ini,” ujar Naeun.

Woohyun menatap Naeun. “menuntut?”

“hahaha… itu tidak jadi kok.”

“jadi?”

“tentu saja aku memaafkan ajusshi. Aku juga berterima kasih sudah menyelamatkanku dari penculik tadi.”

“kau tidak mengenal orang-orang itu?”

Neun menggeleg. “ajusshi tahu?”

Woohyun menggeleng juga. “aku akan mencari tahu.”

“tentu saja ajusshi kan polisi.”

“sebaiknya lain kali jangan berkeliaran sendirian malam-malam seperti ini. Kau juga perempuan, jaga diri sendiri. Arraseo?”

“hmm…”

“bagus.”

gomawo ajusshi.”

“oo…”

Naeun tersenyum lagi. Ia benar-benar merasa senang, akibat pertemuan yang sial menjadi pertemuan yang membuatnya senang bukan main. Semoga kedepannya ia bisa merasakan hubungan yang lebih dekat lagi, entah mengapa Naeun merasa laki-laki didepannya adalah orang yang akan selalu melindunginya kelak.

ajusshi…”

“hmm.”

ajusshi sudah punya pacar kah? Muka tampan seperti pasti banyak penggemarnya, bagaimana dengan hubungan pribadi?”

Woohyun menatap Naeun, menatap dan terus.. menatap. Naeun jadi salah tingkah dipandangan selama itu. Ia menatap Woohyun tapi bola matanya memutar kearah mana-mana.

“teruskan makanmu.”

ne.”

“aku akan mengantarkanmu pulang, jadi jangan lama-lama makannya.”

Naeun mengangguk. Naeun meraba dadanya, kenapa jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat dari biasanya? Belum lagi ia merasa makin salah tingkah saat melanjutkan makan. Ada apa dengan dirinya?

=-=-=-=-=- End~ -=-=-=-=-=

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s