[Oneshot] All For You

cover

*abaikan karakter anime…jika bisa bayangkan tokoh sebenarnya di cerita ini mungkin akan lebih baik lagi. Maaf soalnya bingung mau buat posternya hee…

sebenarnya ini bukan cerita langsung habis. Tapi pengen tahu apakah ada yang minat dengan cerita ini….

Seoul, 6 Juni 2012

Sebuah taksi berhenti tepat di depan sebuah gedung dan seorang laki-laki dengan buru-buru keluar dari dalam taksi. Laki-laki itu segera membayar tarif taksi dan menyuruh sopir itu untuk menyimpan kembaliannya karena sudah membantunya sampai di kantor sebelum jam keterlambatannya. Sopir itu berterima kasih dan memberikan berkatnya untuk kesuksesan laki-laki muda tersebut.

“Terima kasih pak. Semoga hari ini anda mendapat banyak penumpang.”

Tin tin

Baru saja Myungsoo ingin memasuki gedung dihadapannya. Langkahnya terhenti saat mendengar klakson yang tidak asing baginya. Ia berbalik dan ia melihat wajah yang ia kenali. Seorang perempuan turun dari mobil sedan hitam dan berjalan mendekati Myungsoo.

“Kau datang? Jangan bilang kalau rapat siang ini kau.. juga…”

“Jangan kaget seperti itu. Aku datang kesini karena mereka yang membutuhkan tanda tanganku.”

“Ciih… kau berusaha terlihat seperti orang penting dan berkuasa.”

“Itulah aku.”

“Yaa.. yaa… kau memang banyak berubah.”

“Kau suka?”

Myungsoo mengangguk lalu kemudian berjalan mendahului Ha Young. Tanpa mempedulikan muka Ha Young yang memerah, Myungsoo masuk ke gedung dan segera menaiki lift tempat ia bekerja.

“Terlambat lagi?” tanya seorang Sunbae di lift, melihat nafas Myungsoo yang tidak teratur.

Ne Sunbae.”

“Mobilmu masuk bengkel sepertinya.” Myungsoo hanya mengangguk menyesali keadaan dirinya yang selalu sial apabila berhubungan dengan mobil. “Kau perlu mengganti mobil itu dengan yang baru dan menurutku mudah, melihat gajimu sekarang setelah naik jabatan. Aku sudah menerima undangannya dan kurasa aku bisa meluangkan waktu untuk datang. Selamat untukmua Jaksa Kim. Banyak yang iri terhadap perjalanan cintamu.”

“Ah.. terima kasih Sunbae.”

“Kau bahagia sekarang?”

“Ya. Aku sangat bahagia Sunbae. Terima kasih karena sudah membantuku selama ini.”

“Yaahh… Kim Myungsoo ternyata kau sudah dewasa. Hidupmu Cuma sekali dan mulai saat ini kau yang memilih jalan hidupmu. Aku juga bangga padamu. Sekali lagi selamat. Aku duluan.”

Laki-laki baya itu keluar dari lift, Myungsoo membungkuk sebentar dan masih menunggu didalam sambil tersenyum. Ia yakin bahwa pilihan hidupnya ini telah benar dan ia tidak akan pernah menyesalinya.

Drdrrrrr drrdrrrr

Myungsoo mengambil ponselnya yang bergetar dari saku celananya dan seketika senyuman makin lebar. Ia merasa hari ini adalah hari terbaiknya.

“Selamat Jaksa Kim,” sapa seorang staf di kantornya.

“Selamat Jaksa Kim.”

“Umur panjang untuk Jaksa Kim.”

Myungsoo tersenyum kembali saat mendengar beberapa stafnya meneriakinya member selamat.

“Kalian sudah menyiapkan semua laporannya?”

3 orang laki-laki langsung berdiri dihadapan Myungsoo dan memberikan map kepadanya. “Semuanya sudah kami lakukan sesuai perintah anda. Jaksa Kim bisa langsung mengikuti rapatnya.”

“Aku akan mengikuti rapat dan sete;ah itu salah satu dari kalian akan ikut bersamaku ke pengadilan. Kasus minggu lalu sudah naik banding dan aku harus mengambil laporan klien.” 3 laki-laki tersebut mengangguk.

“Hoya, kau ikut aku nanti. Tunggu aku di tempat parkir satu jam lagi, kita pergi dengan mobilmu.”

“Oke. Mobilmu masuk bengkel lagi?”

“Begitulah.”

“Jaksa Kim! Aku akan membuat surat ijinmu.”

“Terima kasih Sunjong.”

“Sama-sama.”

“Baiklah. Aku pergi ke ruang rapat dan aku berterima kasih kepada kalian semua.”

Myungsoo masuk ke ruangannya , meletakkan tas kerja dan jas panjangnya. Ia mengamati sekilas laporan yang diberikan kepadanya tadi lalu setelah merasa siap ia keluar dari ruangannnya. Ia melihat Hoya menunggu didepan pintu.

“Kau akan menemuinya? hari ini?” tanya Hoya.

Myungsoo mengangguk. “Aku sudah memberitahunya, jangan khawatir kami tidak akan bertengkar.”

“Kau bisa meminta bantuanku. Kau tahu itu?”

“Iya, aku tahu. Aku rapat dulu. Tolong bantu aku mengurus kantor.”

Hoya mengangguk lalu kembali ke meja kerjanya.

=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=

“Kau tidak mau memberitahuku?” tanya Ha Young. Myungsoo tetap diam, ia memang tidak punya niatan untuk memberitahu Ha Young.

“Jaksa Kim!” kesabaran Ha Young sudah tidak lebih lama lagi seperti dulu.

“Aku tidak akan memberitahumu jadi jangan ikuti aku lagi. Ok?”

Ha Young cemberut, ia benci dengan sikap Myungsoo yang seperti ini. Apakah ia benar-benar masih  seperti orang asing bagi laki-laki ini? pikir Ha Young. Akhirnya Ha Young diam saja dan berjalan didepan Myungsoo dan menuju tempat ia memakirkan mobil.

Myungsoo menghela nafas berat. Ia tidak ingin bertengkar di hari bahagia ini, apalagi membuat Ha Young menjadi benci kepadanya. Cukup sudah ia membuat luka bagi perempuan itu. Akhirnya ia tak punya pilihan lain selain mengejar Ha Young. Myungsoo datang dan menahan pintu mobil itu sebelum Ha Young berhasil masuk ke mobilnya.

“Dimana sopirmu?”

“Pergi. Aku ingin belanja jadi aku menyuruhnya pulang ke rumah. Ada hal yang mengganggu dipikiranmu Jaksa Kim?” tanya Ha Young jutek. Ia sudah sebal melihat muka Myungsoo seperti sekarang, rasanya ia tidak tega juga bersikap marah seperti anak kecil hanya gara-gara tidak diberitahu tempat Myungsoo akan pergi malam ini.

“Maaf,” ujar Myungsoo tulus.

“Aku tahu. Aku tidak apa-apa. Pergilah.”

“Jemput aku nanti malam.”

“Heh?”

“Aku akan memberitahumu alamatnya dan ketika aku menyuruhmu datang pastikan kau memang datang menjemputku.”

“Mengapa aku harus melakukannya?”

Myungsoo melirik mobil Ha Young dibagian belakang. “Alasannya ada di jok belakang mobilmu. Kau pasti sudah membukanya bukan? Aku senang barang kirimannya datang tepat waktu.”

Muka Ha Young langsung merah padam saat mendengar kata-kata tersebut. Bukan hal yang mudah baginya untuk mempercayai apa yang ada di belakang jok belakangnya, tadi pagi ia baru saja menerimanya dari kurir paket. Dan ia sangat terkejut dengan apa yang ada didalamnya. Sebuah hadiah yang manis dan cantik, Ha Young menyukainya, sangat menyukainya.

“Pastikan juga kau mengirimkan alamatnya padaku.”

“Pasti.”

Myungsoo melepas pagangannya pada pintu dan membiarkan Ha Young masuk ke mobilnya. “Jangan mengebut di jalan. Aku tidak ingin melihat kabarmu dirawat di rumah sakit lagi.”

“Siapa yang mengantarmu? Mobilmu di bengkel bukan?”tanya Ha Young.

“Hoya.”

“Baguslah. Aku bisa mempercayakan dirimu padanya. Selamat bersenang-senang. Sampaikan salamku padanya.”

“Hati-hati di jalan.” Myungsoo mengantar kepergian Ha Young dan sesaat dirinya merasa beruntung mempunyai sahabat yang begitu perhatian padanya, selain Sungyeol dan Hoya. Bahkan ia merasa apa yang ia lakukan untuk perempuan itu belum bisa membayar kebaikan dan kesabaran Ha Young.

Myungsoo berlalu dan berjalan menuju arah lain dan mendapati Hoya tengah duduk menungguinya di kap mobil.

“Kukira kau tidak jadi pergi bersamaku, hampir saja aku menyerah. Barusan aku melihat mobil Ha Young keluar, apakah kalian baik-baik saja?” tanya Hoya, sesaat wajahnya sangat panik. Myungsoo hanya diam dan langsung masuk ke mobil.

“Kau belum menjawabnya?”

“Aku atasanmu tapi hanya kau yang memakai banmal. Selama ini aku tidak protes tapi lama-lama aku tidak menyukai sifat cerewetmu itu Howon.”

“Aku mengkhawatirkanmu Jaksa Kim dan jangan panggil aku Howon, cukup Hoya. Dan…bisakah kau menjawab pertanyaanku?”

“Kami baik-baik saja. Aku berjanji padamu bahwa aku akan berubah. Mari kita berangkat!”

Hoya menggeleng tidak tahu kapan ia pernah mendengar janji seperti itu. Tapi ia sadar bahwa selama ini dia sudah terlanjur percaya dengan semua perkataan Myungsoo. Dan ia tidak pernah menyesali sudah membuat keputusan untuk kembali berada di samping teman lamanya ini.  Ia menikmati kebersamaan ini walaupun ia masih merasa kebahagian Myungsoo belum sempurna. Sungyeol, sedang apa kau disana?

=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=

Hoya memutar kendali mobil kearah yang dipilih Myungsoo dan ia harus menerim aperjalanan panjang menuju Insandong. Sebenarnya ia ingin menolak dan hanya mengantarkan Myungsoo sampai di terminal tapi melihat wajah teman baiknya sedikit pucat apa boleh buat, Hoya menerima menjadi sopir antar kota. Belum lagi Myungsoo lagi-lagi membahas topik atasan-bawahan, yang membuat Hoya jengah. Kalau sudah membahas itu, Hoya akan pilih diam dan menuruti semua kemauan atasannya ini. Seingat Hoya ia baru dua kali memergoki Myungsoo melakukan hal ini, dulu. Saat itu ia penasaran dan belum tahu arti kerja keras Myungsoo setiap bulan Mei dan Juni. Saat itu Myungsoo akan kerja part-time dan mengumpulkan uang sebanyak mungkin untuk mereservasi sebuah meja di restoran terkenal di Insandong. Belum lagi uanganya untuk membeli hadiah dan juga bunga Freesia yang sulit dicari. Hoya yang bodoh dan polos baru mengerti semua kelakuan Myungsoo akhir-akhir ini dan ia sadar bahwa temannya ini memang cukup gila.

“Kita sudah sampai,” ujar Hoya. Ia melirik ke jok sampingnya, Myungsoo masih tertidur dengan pulas.

Hoya menggoyangkan badan Myungsoo. “Hei.. bangun! Dia sudah menunggumu di dalam. Cepat bangun dan rapikan penampilanmu.”

“Ahhh.. aku merasa sangat lelah, untung saja aku sudah berpesan ke Ha Young untuk menjemputku.”

“Apa?! Ha Young!”

Myungsoo mengangguk. Ia mengecek penampilannnya dengan malas di kaca spion.

“Kau gila?! Menyuruh perempuan malam-malam begini ke Insadong. Kau pikir Seoul-Insandong mempunyai jarak yang dekat. Biar aku saja yang menjemputmu, beri tahu Ha Young kau membatalkan permintaanmu,” kata Hoya penjang lebar.

“Jangan marah begitu, kau tenang saja. Ha Young juga ingin sendiri menjemputku dan aku sudah memberitahunya sejak tadi siang. Sekarang dia sedang tidur di hotel dekat sini dan nanti aku juga yang membawa mobilnya. Kau jangan terlalu baik hati kepadanya.”

Myungsoo mengambil buket bunga dan juga sekotak kue tart yang berada di jok belakang.

“Sampaikan salamku padanya.”

“Tentu.”

“Hati-hati di jalan. Terima kasih untuk hari ini.”

“No problem.” Hoya berlalu bersama mobilnya. Sedangkan Myungsoo kembali menatap restoran satu-satunya di Insadong yang mewah dan indah. Tempat dimana penuh dengan kenangan indah baginya. Di restoran ini kalian bisa menikmati pemandangan malam yang manakjubkan selain makanan yang dihidangkan mempunyai kekhasan sendiri.

Tak lama kemudian Myungsoo tersenyum saat melihat seorang perempuan tengah duduk sambil menatap pemandangan lampu malam diluar sana. Ia masih sama seperti 10 tahun yang lalu, tidak ada yang berubah. Myungsoo mendekati meja tersebut dan meletakkan kue tart yang dibawanya dengan pelan diatas meja.

“Lama menunggu Jiyeon.”

Perempuan itu menoleh dan lega saat melihat wajah Myungsoo. Ia menerima buket bunga Freesia.

Gomawo.”

“Kau masih menyukai bunga itu kan?” Jiyeon mengangguk.

“Jadi apakah kita memulai dari sekarang pesta ulang tahunnya?” tanya Myungsoo. Ia segera membuka kotak yang berisi kue cheese tart. Tak lupa juga meletakkan batangan lilin berangka tiga dan satu diatas krim.

“Aku merasa sangat tua, umurku akan bertambah lagi hari ini.”

Myungsoo hanya tersenyum. “Saengil chukka hamnida Park Jiyeon….”

Jiyeon tersenyum bahagia melihat kue tartnya, kini ia memejamkan mata sebentar membuat harapan dan doa lalu meniup lilin itu satu demi satu.

“Apa yang kau harapkan tahun ini. Mengingat semua harapanmu selalu tercapai.”

“Aku ingin melihat Kim Myungsoo bahagia.”

Myungsoo tertegun dengan perkataan Jiyeon barusan. Seharusnya ia tidak kaget dengan harapan tersebut karena setiap tahun saat ia bertanya maka jawaban itulah yang selalu muncul.

“Yang lain?” tanya Myungsoo.

“Rahasia.”

“Kau dapat salam dari Ha Young dan Hoya.”

Jiyeon mengangguk. “Besok kita semua akan bertemu bukan? Kau tidak lupa mengundang tuan dan nyonya Lee kan?” tanya Jiyeon memastikan.

Myungsoo mengangguk. “Aku sudah memberitahu mereka jauh hari.”

“Baguslah.”

Jiyeon mulai mengiris kue tart itu dan memberikan potongan pertama untuk Myungsoo.

“Aku sangat bahagia jika ada kau disini Myungsoo. Aku merasa menjadi orang yang paling bahagia, selalu memilikimu disampingku. Aku berpikir bahwa diriku sangat egois, tapi itulah yang kusuka karen aada Kim Myungsoo disamping Park Jiyeon. Terima kasih untuk pesta ulang tahun yang lebih awal satu hari dan hadiah yang tidak pernah kau lupakan. Kau selalu membuat hal kecil untuk membuatku senang.”

Myungsoo hanya diam, mendengar semua perkataan Jiyeon kepadanya. Baginya keberadaan Jiyeon disisinya juga sudah membuatnya bahagia walaupun ia tahu kebahagian sebenarnya yang ia inginkan bukanlah seperti ini. Ia menginginkan kehadiran seseorang lagi di tengah pesta ulang tahun ini, sehingga mereka bertiga bisa berkumpul dan tertawa bersama seperti dulu.

“….. rasanya aku ingin memutar waktu lalu hidup kembali ke masa lalu dan mengubahnya. Aku merasa menjadi orang bodoh jika mengingat kebaikan orang-orang disekitarku dan aku tidak melakukan apapun untuk mereka. Aku bersyukur kau masih ada disini, walaupun tidak berarti apa-apa tapi aku ingin sekali membalas semua yang telah kau lakukan selama ini Myungsoo.”

“Aku tidak pernah menyesali pertemuan kita bertiga. Kau, aku dan Sungyeol.”

Jiyeon memakan kuenya dan memakan sepotong kecil kuenya.

“Kau harus bahagia Myungsoo. Berjanjilah padaku.”

“Aku selalu berjanji padamu setiap tahun.”

Jiyeon menatap Myungsoo dengan lembut lalu perlahan-lahan mereka saling tersenyum satu sama lain.

=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s