[Cerpen] 25.800 jam

3 tahun akhirnya berlalu dan disinilah aku berada di Bandara Seokarno-Hatta, suasananya masih sama tidak banyak berubah. Semuanya terasa sama seperti saat aku meninggalkan Indonesia dan harus merelakan kebebasanku pergi ke New York. Hari ini akhirnya aku kembali.

“Alya! Hei!” aku mendongak berusaha mencari asal suara yang memanggilku. Baru saja aku keluar dari gerbang kedatangan dan memang kepulanganku ke Jakarta tidak sesuai rencana sehingga aku tidak mengharapkan bahwa keluargaku akan menungguku. Atau menerima pelukan dan tangisan dari Ibuku. Aku berlari kearah dua orang sahabatku. Aku tidak bisa menutupi rasa kangen yang membuncah hingga kami bertiga terlihat begitu heboh. Kuperhatikan kedua sahabatku dan menyadari perubahan mereka, walaupun seharusnya aku tidak perlu terlalu kaget karena setiap minggu aku selalu berskype dengan mereka. Asti telah menjadi seorang istri seorang wartawan dan sekarang tengah mengadung anak pertamanya yang sudah 5 bulan.

“Alya, kau benar-benar tidak berubah. Apa yang kau lakukan disana sebenarnya?” tanya Dista, ia langsung memelukku dengan erat. Dista salah satu sahabatku yang paling banyak berkomentar tentang apapun yang menurut penglihatannya perlu dibicarakan. Ia terus berbicara mengenai semua yang tidak berubah dari diriku sedangkan aku menikmatinya seperti obat kangen.

“Oh Oh.. kalian tidak lupa kan apa yang aku inginkan ketika pulang ke Jakarta?”

Dista membetulkan pakaianku yang berantakan setelah ia peluk begitu lama. “Kau bisa langsung kesana untuk memastikannya.”

“Terima kasih. Kalian sungguh sahabat paling baik.”

Lagi-lagi aku memeluk mereka berdua, tentunya harus berhati-hati kepada Asti. Melihat perutnya yang besar membuatku merasa bersalah telah memintanya datang menjemputku di bandara.

Aku tidak akan pernah menyesal sudah meninggalkan Indonesia dan belajar di New York selama 3 tahun. Semuanya terasa berat saat aku meninggalkan kota kelahiranku tetapi kali ini bisa merasakan angin yang sama, bangunan yang sama telah menjadi nostalgia sendiri bagiku. Jakarta tidak banyak berubah, namun tetap saja aku suka dengan keramaian dan kemacetan ini. Tidak ada kota seperti Jakarta yang sesak karena asap polusi.

“Orang tuamu tahu kau akan pulang sekarang?”

No. Mereka tidak tahu apa-apa dan aku memang sengaja membuat kejutan.”

Dista menghembuskan nafas, “Great! Aku yakin orang tuamu pasti sangat terkejut dengan apa yang dilakukan anak perempuan satu-satunya setelah pulang dari NY.”

Aku hanya tersenyum saja tanpa menimpali apa yang dikatakan Dista. Bagiku perkataan mereka ada benarnya tentang Ibu, tetapi tidak cukup membuatku untuk takut lalu menyerah. Aku bukan Alya yang dulu. Aku sudah memiliki tekad untuk hidup mandiri dan tidak ada satu orang pun yang bisa mencegahku. Termasuk ibu.

=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=

            Aku terlahir dari keluarga berada, latar belakang keluargaku biasa saja tetapi Ibuku adalah orang yang hanya mau bersosialisasi dengan keluarga ternama dan berada. Menjadi putri satu-satunya di keluargaku adalah hal yang tidak bisa aku terima walaupun banyak hal yang kusesali setiap Ibuku menekanku dengan beberapa persepsi bahwa aku juga harus membuat  hubungan sosial seperti yang dilakukan Ibu. Hidup penuh aturan membuatku berpikir bahwa itu semua dilakukan atas dasar rasa kasih sayang seperti Ibu yang tidak ingin putrinya terancam bahaya. Berjalannya waktu membuatku menyadari bahwa aturan itu begitu mengekangku sehingga aku banyak melakukan hal-hal gila yang seringkali membuat Ibu stres. Alhasil, ketika semester akhir kuliahku, diam-diam aku pindah jurusan gizi dan pangan. Sebab itulah yang membuat Ibu murka dan langsung mengirimku ke luar negeri untuk belajar dengan penuh tangisan.

“Sejak kapan mengganti kosentrasimu menjadi perawat?”

Lagi-lagi aku harus berpikir cara paling ampuh untuk membujuk ibuku.

“Ibu sudah tahu. Jadi aku tidak perlu memberitahu Ibu lagi bukan?”

“Anak satu ini… Kapan kau jadi wanita dewasa. Umurmu sudah 25 tetapi masih saja bermain dengan hidupmu. Kau merelakan bakatmu di musik dan tanpa memberitahu Ibu kau sekarang hanya jadi lulusan perawat.”

Aku memeluk lengan Ibuku dan memanjakan diri. Tentunya aku pulang ke Jakarta tidak dengan tangan kosong, aku sudah ada persiapan. “Ibu sudah janji bahwa akan membiarkanku berbuat seperti yang aku inginkan setelah kuliah 3 tahun di NY.”

“Alya.. ini bukan soal janji Ibu.”

“Aku hidup 3 tahun di NY dan berharap saat pulang Ibu akan menepati janji.”

Aku melirik dan menyadari bahwa Ibu kehabisan kata-kata. “Ayolah Ibu… aku tidak akan melakukan kesalahan ataupun kejadian buruk lagi. Aku tahu semua yang kulakukan harus dipertanggungjawabkan.”

“Mengapa kau harus jadi sukarelawan Alya? Kau bisa mendapat rekomendasian dari teman-teman Ayahmu jika kau mau menjadi perawat di rumah sakit besar.”

“Ibu… aku ingin jadi perawat tetapi aku perlu adaptasi dan salah satu pilihannya menjadi sukarelawan. Aku juga ingin membantu orang lain, bukankah Ibu akan bangga melihatku tumbuh menjadi anak baik.”

“Kau banyak berdalih. Dimana kau akan menjadi sukarelawan?” tanya Ibuku dan kini aku langsung memeluknya dengan erat.

“Ibu merestui kan? Aku akan bekerja keras. Aku janji,” ujarku sungguh sangat senang bisa melakukan hal yang telah dua tahun lima bulan aku impikan.

“Dimana kau akan bekerja?” tanya Ibu lagi.

Aku terdiam sebelum menjawab pertanyaan Ibu. “Di panti asuhan.” Kembali setelah mendengar jawabanku Ibu memijat keningnya, sepertinya sudah mencapai tingkat stres.

“Ibu akan datang bersamamu besok dan melihat bagaimana hari pertamamu sebagai sukarelawan.”

“Ibu… Aku bisa datang sendiri. Aku punya mobil, aku masih ingat jalan-jalan di Jakarta. Jangan khawatir Ibu…”

Aku terus menerus menatap mata Ibu dan seperti memberikan harapan kepadanya bahwa anaknya ini sudah berubah dan akan bersungguh-sungguh untuk bekerja. Ibu menatapku, mencubit ujung hidungku lalu menepuk dua pipiku dan tersenyum. Ibu meninggalkan kamarku tanpa bertanya ataupun mengeluh apapun. Aku berseru dan bersorak merayakan kebebasanku sebagai wanita umur 25 tahun, aku bisa melakukan semuanya sesuai keinginanku. Akhirnya aku bisa keluar dari semua aturan-aturan Ibuku.

=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=

            Semuanya akan baik-baik saja dan semuanya akan berjalan sesuai rencana yang telah aku buat. Hari ini adalah hari pertamaku menjadi sukarelawan tetapi jangan anggap diriku sudah berubah seratus persen. Sebenarnya aku bukan sukarelwan di panti asuhan tetapi di rumah sakit. Aku sengaja merahasiakan semua ini dari Ibu karena tidak ingin semua rencana yang berantakan hanya karena Ibu menilai rendahnya perasaanku.

Mengapa aku memilih rumah sakit, tentu saja bukan karena aku lulusan perawat dan ingin mengabdikan diri. Aku memilih rumah sakit ini karena sudah satu tahun ini aku diberitahu Dista dan Asti bahwa laki-laki cinta pertamaku menjadi dokter disini. Tiga tahun yang lalu, aku masih bisa menerima penolakan tetapi sekarang aku harus mengejarnya selagi laki-laki cinta pertamaku bukan milik siapapun. Dista dan Asti telah memastikan laki-laki ini tidak punya kekasih.

Cinta pertamaku adalah laki-laki yang memiliki kualitas bagus di mata semua perempuan, bahkan beberapa laki-laki iri terhadapnya. Aku bahkan tidak bisa mendapati kecatatan dari apa yang dia bicarakan dan apa yang dia lakukan, apapun yang dia lakukan begitu mengesankan. Aku mengenalnya sebagai mahasiswa kedoketran yang tengah menempuh semester akhir dan sedang coas di rumah sakit universitas kami. Ini namanya takdir karena bagaimana pun aku memikirkan pertemuan kami tidak ada alasan yang bisa menjelaskannya. Semuanya terjadi begitu saja dan lama kelamaan aku terbiasa sampai akhirnya aku mengaguminya. Dialah laki-laki yang pertama kalinya membentakku, membuatku kelaparan, menolak bantuan uang dariku dan menyebutku stalker. Nasihatnya yang keras selalu membuatku sadar bahwa di dunia ini status dan kekayaan bukanlah segalanya.

Laki-laki sempurna ini bernama Sena. Dia hanya hidup berdua dengan ayahnya yang telah pensiun di sebuah kamar kos. Demi tetap melanjutkan kuliahnya, dia bekerja sebagai sopir taksi setiap malam atau sekedar membantu asisten lab. Aku memang tidak pernah mengobrol banyak dengan Sena bahkan untuk bertemu saja aku harus mencari berbagai alasan sehingga bisa menemuinya di rumah sakit. Kalian pasti akan melakukan apapun saat kagum dengan orang lain kan, seperti mengumpulkan berita, bertanya kepada beberapa teman dekatnya atau mengikuti terus updatean dari media sosialnya. Seperti itulah yang aku lakukan 3 tahun lalu. Dan sebelum aku meninggalkan Indonesia dan bertolak ke New York, Sena berhutang kepadaku karena pernah merawat ayahnya yang pingsan. Dan janji itu akan kutagih sekarang. Dan tidak lupa memastikan bahwa dia benar-benar belum mempunyai kekasih.

“Terima kasih sudah mendaftar sebagai sukarelawan di rumah sakit ini.”

“Saya yang harusnya berterima kasih Pak.”

“Jarang ada lulusan luar negeri yang memilih menjadi sukarelawan disini.”

Aku tersenyum sambil menyalami bapak yang bertanggungjawab atas semua sukarelawan di rumah sakit ini. Aku menerima seragamku. Aku harus tampil cantik dan sehat, kuharap Sena masih mengenalku.

Menyukai Sena selama tiga tahun memang terlihat gila, apalagi selama tiga tahun ini aku tidak pernah tertarik dengan laki-laki manapun. Aku pernah mengatakan perasaan sukaku kepada Ibu tetapi tanggapannya memang luar biasa. Sejak pengakuan itu aku tidak boleh pergi kemanapun tanpa bodyguard yang sudah dibayar oeh Ibu. Saat itu aku tidak memberitahu nama Sena kepada Ibu. Aku tidak bisa membiarkan Ibu mengobrak-abrik semuanya, mencari tahu latar belakang Sena. Aku yang baru mengatakan sedang jatuh cinta saja langsung diomeli, bagaimana jika Ibu tahu tentang keluarga Sena dan perasaanku yang tidak mati setelah tiga tahun ini. Mungkin aku bisa langsung dinikahkan dengan salah satu pengusaha kaya raya.

=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=

            “Bu, Ibu bisa menggunakan lift ini untuk menuju ruang pemeriksaan di lantai 3. Untuk mendaftarkan kartu sehatnya di bagian admistrasi, nanti disana ada perawat yang akan mengantar Ibu menemui dokernya.”

Wanita baya itu mengangguk setelah kuberi tahu petunjuknya. Ia tampak pucat dan kurasa akan lebih baik jika segera menemui dokter. Aku menuntunnya sampai ke lift dan untung saja ada dokter yang juga ingin naik lift. “Maaf dokter, bisa tolong antarkan Ibu ini sampai di lantai 3 bagian administrasi.”

Aku menyerahkan tangan Ibu tadi kepada dokter tersebut tepat sebelum lift tertutup.

“Al-ya…”

Aku sangat mengenal suara ini. Panggilan yang seharusnya terlalu cepat untuk aku dengar di hari pertamaku bekerja. Aku berbalik badan, senyuman lebar yang dari tadi pagi aku sunggingkan langsung hilang digantikan rasa kaget. Namun, melihat sosok ini ada dihadapanku sekarang, Sena yang tinggi wajahnya semakin tampan membuatku berusaha untuk senyum kembali. Sena menatapku seperti memeriksa wajahku, mungkin dia belum yakin jika aku adalah Alya yang pernah dikenalnya.

“Sena… ah bukan maksudku. Dokter Sena.” Aku berusaha terlihat biasa saja saat memanggil namanya padahal hatiku sudah berdetak tidak karuan saat bertemu mata dengan Sena.

“Apa kabar?” tanyaku.

“Kau Alya bukan?” tanya dengan nada tidak yakin.

“Ya. Ini aku Alya.”

“Bagaimana kabarmu selama ini?” tanyaku kembali yang masih belum bisa mengontrol emosi diri. Pikiranku tidak mau diajak berkerjasama, dadaku semakin bergemuruh, keringat dari tangan mulai bisa aku rasakan. Aku yakin jika diriku masih belum siap untuk bertemu Sena walaupun sejak subuh aku sudah menentramkan hatiku untuk menyambut pertemuan ini. Tetapi masih saja gejolak dan debaran hati ini tidak terjangkau lagi, alih-alih aku takut Sena bakal mendengar detak jantungku yang sepertinya begitu keras.

“Kau… bukannya…” kalimatnya tidak terselesaikan. Ia masih belum mempercayai kedatanganku disini ataupun mungkin ia tidak tahu bahwa ini sudah 3 tahun sejak pertemuan terakhir kami. Sena masih memandangku dan sekarang ia menelitiku dari bawah hingga atas. Sikapnya membuatku tidak bisa bergerak ataupun berkomentar.

=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=

            “Kau langsung menjadi sukarelawan setelah pulang dari New York?”

Bukan pertanyaan ini yang aku harapkan akan terlontar dari bibir Sena setelah kami berpisah selama 3 tahun. Setidaknya laki-laki ini menanyakan kabarku ataupun tentang apa yang kulakukan selama di New York. Aku tidak mau menjawab pertanyaan Sena tetapi yag kulakukan adalah sebaliknya.

“Aku melakukan pekerjaan ini bukan karena kepentingan itu. Aku sedang menyiapkan project yang mempunyai hubungan dengan rumah sakit dan ini adalah cara dimana aku bisa mendapatkan beberapa bahan untuk dikaji. Aku melakukan tugas sukarelawan untuk project.”

Aku mengatakan apa yang masih bisa kupikirkan untuk menjawab pertanyaan Sena, semoga tidak membuat laki-laki ini bertanya hal aneh lagi. Aku berusaha untuk tidak menatapnya, jujur aku tidak bisa menatap wajah yang selalu kurindukan ini, aku tidak bisa. Walaupun saat ini kami sedang duduk bersebelahan di bangku kayu luar rumah sakit.

Sena mencoba menatapku dan mencari terus dimana arah mataku menatap.

“Bukankah kau lulus dari jurusan musik? Project seperti apa yang kau kerjakan sampai menjadi sukarelawan di rumah sakit?”

Aku tertawa menanggapi pertanyaan Sena, seharusnya aku mempersiapkan pertanyaan dari anak pintar seperti Sena sebelumnya. “Musik… bukankah musik bisa menjadi sarana pengobatan.”

Sena mengangguk lalu memandang kearahku lagi. “Apa kau mengganti konsentrasimu ke perawatan psikologi musik?”

“A..a..a… bukan itu yang terjadi tetapi hampir sama.”

Aku berdiri. Aku memutuskan untuk mengakhiri percakapan yang penuh kebohongan ini, aku tidak ingin lebih banyak mengucapakan kebohongan dengan Sena. Karen aku tahu, laki-laki ini tidak menyukai kebohongan.

“Sena, bukankah kau harus pergi untuk makan siang?”

“Iya, tentu saja ini adalah waktu istirahat,” ujar Sena dan mengikuti bediri dari bangku. “Bukankah ini juga waktumu untuk makan siang? Aku akan makan di kantin. Mengapa kita berdua tidak pergi kesana bersama?”

“Aku tidak bisa meninggalkan tempatku terlalu lama,” ujarku dan memang itulah kenyataannya. Aku harus berganti dengan sukarelawan lainnya jika ingin pergi untuk makan siang dan aku mendapatkan waktu makan siang setelah jam istirahat selesai.

Sena memeriksa waktu di jam tangannya. “Sena, kau bisa membelikanku makan malam untuk memperingati reuni kita,” ujarku. Inilah waktu yang tepat untuk menagih janji.

“Memperingati reuni kita?”

“Kau masih berhutang janji membelikanku makan malam.”

“Makan malam….” Sena terlihat bingung dan sepertinya ia berusaha mengingat janjinya sendiri. Aku tak bisa menahan senyumku melihat laki-laki ini kebingungan. Aku berharap bahwa Sena akan mengingat janji secepatnya. Karena mungkin hanya itulah kesempatanku untuk bertemu berdua dan membicarakan perasaanku kepadanya. Aku harus mengatakan betapa aku mencintainya selama 3 tahun ini sebelum aku menyesal.

Aku berjalan meninggalkan Sena tanpa menunggu kepastian dari laki-laki ini.

“Ini sudah 25.800 jam sejak kami terakhir bertemu dan aku sama sekali tidak bisa menatapnya selama 24 menit.”

Aku terus berjalan melewati pintu masuk rumah sakit dan kembali ke tempatku bekerja. “But, it’s okay.”

Sepanjang hari aku menyadari bahwa hatiku telah dipenuhi bahagia sampai tidak bisa berhenti tersenyum.

Malam hari aku terus memikirkan pertemuan pertamaku dengan Sena. Aku masih belum bisa berhenti tersenyum sendiri menyadari betapa indahnya momen tersebut. Aku tidak akan pernah menyesal sudah berpisah dengan Sena selama 3 tahun. Sena telah menjadi laki-laki dewasa, tinggi, tampan dan begitu gagah dengan jubah dokternya membuatku semakin mencintainya. Aku ingin menutup mataku, tiba-tiba terlintas hal yang begitu mengesalkan. Aku baru saja ingat bahwa aku belum menanyakan nomor ponselnya. Kalian perlu tahu selama 3 tahun ini aku tidak memliki nomor ponselnya.

=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

            Lia Yuanisa. Itulaha nama yang diberikan kedua orang tua saat saya dilahirkan dua puluh satu tahun yang lalu. Tepatnya Rabu 22 Juli 1992 di Magelang. Sekarang saya sedang menempuh S1-Akuntansi di salah satu perguruan tinggi swasta di Yogyakarta, Universitas Islam Indonesia. Saya mulai menyukai menulis cerita sejak SMP sehingga menulis bukan hanya sekedar hobi saja bagi saya. Karena masih banyak hobi lain seperti travelling, blog walking, naik gunung. Kalian bisa bercengkrama hal lain tentang Anime, Kpop dan Korean drama lewat Twitter @liazuan atau bisa kunjungi blog falcondhehacker.wordpress.com untuk membaca beberapa tulisanku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s