[Short Story] The Grooves

THE GROOVES

            Pada akhirnya ada yang berubah saat kita mencoba untuk menjaga rahasia, apalagi dari teman dekat kita. Kata-kata itu dulu dianggap remeh oleh Myungsoo tetapi saat ini kata-kata itu menjelma menjadi kenyataan. Bukankah setiap orang memiliki rahasia yang tdak ingin dibagi oleh siapapun. Namun, ternyata pernyataan perempuan itu tidak benar semua. Mana ada rahasia yang berakhir manis, kini gara-gara rahasia ini hidup Myungsoo berubah bahkan ia tidak tahu lagi dimana dan bagaimana keadaan teman dekatnya.

Myungsoo tidak butuh lama untuk beres diri, ia hanya mengeluarkan buku tulisnya dengan asal. Ia menutup buku memasukkan ke tas selempangnya. Bangkit dari bangku dan keluar kelas. Dia bukan orang pandai ataupun terkenal di sekolah ini. Mungkin masa seperti itu pernah ia rasakan jauh hari disaat dirinya masih bersama Sungyeol. Saat ini tak ada lagi murid yang menanyainya ataupun ingin tahu suasana hatinya. Ia bahkan merasa sekolah tidak lagi tujuan tempat yang menyenangkan seperti dulu. Kisah high school nya mungkin runyam saat ini tanpa Myungsoo pedulikan. Ia tidak butuh lagi kenangan.

Segera Myungsoo memakai earphone dan mengeluarkan buku lain dari dalam tas nya. Mengatur volume suara agar ia tetap bisa waspada jika ada bencana yang mungkin menimpanya. Buku itu adalah salah satu hadiah dari perempuan yang sangat ia cintai dan merupakan cinta pertamanya. Novel tragedi Hamlet. Bagi Myungsoo yang menyukai cerita apapun sangat senang namun kadang ketika ia menanyakan maksud hadiah ini ke perempuan itu, tak pernah ada jawaban yang memuaskan.

Ternyata berjalan sendirian sungguh menjemukan, tidak ada hiburan ataupun hal menarik baginya. Kalau pun Sungyeol ada sekarang di sampingnya tidak akan mengubah kondisi. Myungsoo akan tenggelam dengan bacaannya sedangkan Sungyeol tanpa peduli ada yang mendengar ataupun tidak akan terus bercerita tentang pertengkarannya dengan adik perempuannya yang seusia dengannya. Myungsoo tidak merasa terganggu malahan ia merasa tentram. Karena ada orang di sampingnya yang berjalan bersamanya.

“Apa yang menarik dari cerita tragedi? Ending yang tidak pernah bahagia.”

“Orang punya penilaian sendiri mengenai bahagia.”

“Apa bahagia menurutmu?”

Pertanyaan Sungyeol pertama yang sangat aku ingat karena jawaban yang aku sampaian kepadanya benar-benar menunjukkan diriku yang sebenarnya. Orang berhati keras. Ya, itulah diri Myungsoo sendiri. Bukan lagi seperti penilaian orang-orang terhadap dirinya, polos, pintar dan sedikit tampan daripada Sungyeol.

Bahagia.

            Myungsoo menutup novelnya dan berhenti di jalanan yang mulai menanjak. Ia menghela nafas, pikirannya mulai bercabang. Ingin fokus pada cerita tetapi pikirannya melayang ke Sungyeol dan perempuan itu. Myungsoo berdiri bersandar di sebuah pohon. Ia menutup matanya dan menikmati alunan musik ballad. Tidak laam kemudian suara mulai bercampur dengan beberapa suara lain. Segerombolan murid dari sekolahnya mulai melewati jalan satu-satunya menuju stasiun kereta dan terminal bus. Myungsoo menikmati perpaduan tersebut tanpa berkomentar. Hidupnya sungguh hampa jika ia selami sebulan ini.

Sebulan berlalu dengan cepat dan sayangnya kabar dari Sungyeol tidak ada yang sampai kepadanya. Masih saja anak laki-laki itu menghilang. Sejak kematian mengenaskan adik perempuan sebayanya dan juga kematian orang tua yang mendadak, Sungyeol menghilang. Tanpa meninggalkan jejak apapun kepadanya. Myungsoo ingin marah namun kemarahannya tidak akan memberikan efek apapun. Sungyeol tidak akan kembali. Dirinya hanya bisa menunggu. Meski begitu Myungsoo ingin memberitahukan hal penting kepada Sungyeol. Bahwa bukan hanya dia yang berhak marah, menangis dan depresi atas semua bencana yang beruntun merenggut nyawa anggota keluarga. Myungsoo merasakan hal yang lebih menyakitkan sampai air mata pun tidak bisa keluar dari matanya. Mungkin hatinya bertambah keras. Ia sedih tetapi ia menyadari bahwa ia bisa bersikap biasa saja.

Myungsoo keluar dari tempat persembunyiannya. Sengaja ia menjauh dari keramaian anak-anak sekolahnya. Mungkin memang tidak ingin melihat satu pun wajah yang mengasihinya ataupun memarahinya. Myungsoo tahu bahwa teman ah bukan lagi orang sekelasnya tidak menyukai dirinya sejak awal. Hanya karena ia berteman dengan Sungyeol, mulailah orang-orang sekelasnya mulai melihat dirinya dan mendekatinya.

Dunia memang kejam tetapi manusia lebih kejam lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s