[Seri] Clandestine

karena menangis bukan caraku menerjemahkan kesedihan

Arga.

Laki-laki yang baru saja menginjak umur 17 tahun saat dimana ia sudah mulai matang menjadi seorang remaja. Setiap orang akan merasa bahagia dengan ulang tahunnya yang kemungkinan masih banyak orang yang memberikan selamat dan keluarga yang merayakan bersama. Kondisi seperti biasanya tidak terjadi pada Arga, ia tidak bahagia. Kalau pun ia bahagia, ia merasa bukan anak yang baik. Tidak ada pesta, ucapan selamat dan keluarga yang merayakan. 2 minggu sebelum ulang tahunnya, Arga harus merasakan kesedihan luar biasa, ditinggal oleh orang yang paling ia sayangi dan cintai di muka bumi ini yaitu ibunya. Lily, nama semuah bunga yang cantik dan seperti itulah ibunya di kenangannya. Penyakit kanker otak membuat ibunya tidak bisa bertahan lama di muka bumi ini, menunaikan tugas seorang ibu sampai selesai dan melihat anak laki-laki satu-satunya tumbuh menjadi pria dewasa. Tidak ada yang tersisa dari hidup Arga. Ia hanya sendirian sekarang. Tidak ada saudara, sanak keluarga dan sosok ayah. Sejak kecil ia tahu bahwa hanya ibu yang ia punya, sosok laki-laki bernama ayah tidak pernah ada di dalam sejarah kehidupannya. Keluarga Arga memang tidak sempurna, bahkan sampai sekarang pun saat umurnya 17 tahun ia tidak tahu siapa ayah kandungnya. Lily menjadi single-mother, membesarkan Arga seorang diri. Saat ualng tahunnya, Arga tidak berkata apapun, ia tidak meminta apapun, karena hadiah yang paling ia inginkan sekali pun mungkin tidak ada yang bisa memberikan, mustahil menghidupkan ibunya yang sudah meninggal. Maka dari itu Arga mengurung di kamar ibunya yang masih rapi, belum tersentuh dan dibersihkan. Ia belum bisa membuang semua barang-barang milik ibunya, meskipun orang bilang hanya akan menyimpan bukan membuang. Arga belum bisa melakukannya, menyimpan barang ibunyadi suatu tempat yang akan membuat Arga melupakan sosok ibunya di rumahnya sendiri.

Setelah mengurung diri di kamar Lily selama hari ulang tahunnya, Arga tidak lagi menjadi laki-laki yang masih meruntuki kepergiaan ibunya yang cepat. Ia tidak ingin terlalu lama bersedih karena ia tahu ibunya tidak menginginkan hal tersebut. Maka dari itu, Arga memutuskan untuk menjadi laki-laki yang kuat. Ia akan tunjukkan kepada ibunya bahwa ia masih bisa tumbuh menjadi pria dewasa kebanggaan ibunya. Arga menggunakan waktunya di kamar ibunya memikirkan masa depannya, ia harus merubah langkah yang sudah ia impikan saat masih ada Lily di kehidupannya. Realitanya bahwa ia akan hidup sendirian.

“Syukurlah Arga kau keluar juga dari kamar. Kau ingin makan apa? Akan aku buatkan makanan kesukaanmu atau kau ingin makan di luar saja. Kau tidak sakit kan?”

Arga memang tidak mempunyai keluarga lagi, selain dirinya sendiri sekarang namun masih ada orang yang sangat dekat dengannya. Vinda. Manajer ibunya selama 8 tahun, dimana selalu menjadi teman seperjuang ibu saat masih menjadi seniman lukisan bayaran yang serabutan. Sekarang karya-karya ibunya sudah dapat dilihat di gerai pribadi ibunya yang merupakan hasil kerja keras ibunya selama ini. Dan dengan keringat ibunya lah Arga tahu ia masih bisa hidup sampai sekarang tanpa kekurangan apapun. Vinda adalah wanita yang luar biasa, loyalitasnya kepada Lily tidak pernah bisa dibohongi. Ia merupakan wanita pertama yang mampu membuat Lily percaya tentang mimpinya sebagai pelukis yang terkenal, sahabat yang selalu mendengarkannya dan keluarga baru baginya. Vinda pula yang menjadi saksi Arga menjadi anak laki-laki 17 tahun, ia mengetahui kisah pahit manis nya kehidupan Arga dan Lily selama ini.

Vinda belum mendapatkan jawaban apapun dari Arga setelah anak laki-laki ini membuatnya khawatir bukan main. Setelah kematian Lily tidak ada yang berubah dari Arga bahwa anak ini tidak meneteskan air mata di hadapan publik. Ia menampilkan sosok anak yang paling tabah di dunia ini, Vinda sampai tidak mempecayai sampai melihat Arga mengurung diri di kamar Lily seharian. Arga memeluk Vinda.

“Aku akan ikut kemanapun kau akan pindah,” ujar Vinda.

“Kau tidak keberatan tinggal bersamaku dan Dean?”

Arga melepaskan pelukannya dan menatap Vinda. “Aku ingin kita makan di luar bersama. Ada banyak hal yang ingin aku sampaikan kepada kalian,” Arga mengatakannya dengan tegas. Vinda dan Dean mengangguk setuju.

“Aku juga ingin menyampaikan hal penting yang ibumu titipkan kepadaku. Ini tentang ayahmu.”

“Oke.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s