[Crush] Chapter 01

Ji Ho

Saat aku berjalan menyusuri koridor menuju kantin, aku bisa mendengar dengan jelas gadis-gadis yang berjalan di belakangku entah mereka memang menuju ke kantin atau hanya mengikutiku. Dan tentu saja suara cekikian dan perbincangan saling berbisik itu bisa kudengar  dengan jelas.

cr1

Koridor sekolah via http://www.discoverdesign.org

            Not again.

Kapan ini semua akan berhenti? Apakah mereka tidak punya kegiatan lain?

Tidak lama sebelum aku masuk ke kantin terdengar suara flash kamera dibelakang dan dengan segera kuberbalik. Gadis-gadis ini memang tidak bisa sehari saja berhenti menjadi penguntitnya, mereka berusaha menyembunyikan ponsel mereka tetapi tetap saja aku tahu pelakunya adalah gadis-gadis membosankan ini. Aku tidak tahu apa yang mereka lihat dari diriku, aku hanya ingin menjadi mahasiswa normal tidak lebih. Apakah mereka sangat menyukai dan begitu peduli dengan tubuhku? Tinggi badanku? Wajahku?

Gadis-gadis di belakangku yang terkena tangkap sedang membidikkan kamera di depanku langsung membeku. Aku memandang mereka tajam. Tidak perlu kata-kata bentakan hari ini, aku terlalu capek untuk melakukan itu semua. Dan tidak lama gadis-gadis itu kembali cekikan dan berlari meninggalkanku.

Betapa membosankannya.

Aku berjalan menuju pengambilan menu makan siang di salah satu outlet, yang menjualkan berbagai menu makanan berat dan biasanya aku hanya memilih porsi paling sedikit. Kurasa roti dan salad sudah cukup. Nafsu makanku selalu hilang setelah dibuntuti gadis-gadis menyebalkan itu.

Aku duduk di salah satu meja kosong dengan makan siang yang sudah kuambil sebelumnya dan beberapa menit kemudian sahabat-sahabatku mulai berdatangan. In Ha, Dong Hee dan Woo Hyuk, mereka duduk menyapaku dan menemaniku di meja ini.

“Apa yang terjadi hari ini?” tanya Woo Hyuk sambil menatapku dengan penuh semangat. Mereka semua adalah sahabat-sahabatku, kami berada di kelas yang sama sejak berkenalan di hari pertama kuliah kemudian menjadi sahabat sampai sekarang.

“Aku pikir aku akan segera mati,” ujarku dan mulai makan.

“Lagi?” sekarang In Ha yang mengatakan dengan mulut penuh dengan makanannya. Annoying.

“Ya tapi kali ini aku serius. Aku tidak bisa hidup dalam kehidupan pribadiku lagi,” kataku. Dong Hee duduk disampingku seperti biasa dengan gayanya yang penuh kharisma seperti seorang konglomerat yang membuatku ingin memukul kepalanya. Ia seperti orang setengah tidur, jika sedang diam, dengan pemikiran brilian yang dimilikinya dan tidak pernah kulihatnya dia makan siang di kantin. Seolah-olah memang tidak sesuai seleranya harus makan siang di kantin.

“Hei bangun!” Woo Hyuk memukul Dong Hee dengan tasnya. Dong Hee terlalu kaget, ia hendak berteriak ke sahabatnya yang kurang ajar itu tetapi tatapan mata dari orang lain disekitar mereka membuatnya diam. Ia duduk dan kembali mendengarkan pembicaraan kami.

“Ini adalah masalah bagiku karena terlahir sebagai orang tampan dan kaya,” ujarku sambil menujuk In Ha dengan garpu. Dia mendongkak dari tempat makannya.

“Apa yang sedang kita bicarakan? Siapa yang tampan dan kaya?” tanyanya.

Aku memutar bola mataku dan berbalik menatap Woo Hyuk dan Dong Hee yang sedang menahan erangan kesakitan di kepalanya bekas dipukul tadi.

“Aku setuju,” kata Woo Hyuk. “Hari ini sudah dua gadis yang menyatakan perasaan suka padaku tapi Ji Ho kau bisa lihat sendiri, aku masih bisa hidup.” Dia tersenyum atau lebih tepatnya mencoba senyuman menggodanya kearah meja belakang yang kukira banyak gadis dan bisa kupastikan gadis-gadis itu melambai ke arahnya.

“Aku mendapatkan makan siang gratis dari kantin,” ujar Woo Hyuk, sementara ia masih mengunyah. “Orang-orang mengantri untuk mendapatkan makan siang ini. Tapi aku selalu beruntung. Bagiku bukan masalah jika aku tampan dan kaya.”

“Dan Master Piano ini tidak peduli jika gadis-gadis mengelilinginya saat latihan piano. Apalagi jika sudah dipuji betapa kerennya dia saat memakai semua pakaian brand miliknya,” ujar Woo Hyuk dan diiringi senyuman Dong Hee.

“Untuk orang yang mencintai fashion memang seharusnya lebih mementingkan gaya berpakaiannya bukan. Aku akan sangat bangga jika kau menambahkan stylish di belakang nama panggilanku,” tambah Dong Hee dan kemudian berpikir sejenak. “Tapi kurasa aku belum setara dengan Ji Ho.”

Dong Hee mulai menelitiku dan cara ia melihatku membuatku risih. Ia mencoba berbuat hal aneh, kurasa cara berpakaianku biasa-biasa saja. Pelayan di rumah sudah menatana dan memilihkannya, aku tinggal pakai jadi seharusnya Dong Hee belajar dengan pelayanku saja jika ingin lebih stylish daripadaku.

“Aku tidak ingin masuk kuliah lagi, aku sudah terlalu capek menerima kuliah pagi tadi. Biarkan aku pulang siang ini,” potong Woo Hyuk. Dong Hee tersenyum lalu berkata.

“Aku tahu kapasitas otakmu tidak sama denganku. Tapi setidaknya kau perlu belajar sekaligus menambah pengetahuanmu tentang sains. Apa tidak apa-apa kau lulusnya terlambat sendiri?”

“Diam kau Master Piano! Jika kau mau menambahkan genius di namaku kau akan membutuhkan waktu sangat lama dan jangan mengharapkanku untuk patuh padamu,” ujar Woo Hyuk. Telinganya memang paling sensitif dengan kata-kata berbau pintar, genius atau lainnya.

ec849ceab095eca480-3

Dong Hee

Dari luar, mereka berdua memang terlihat saling membenci dan sering bertengkar tetapi Woo Hyuk dan Dong Hee sudah berteman baik sejak mereka TK. Mereka hanya menyukai berbicara seperti itu dan sebenarnya mereka benar-benar saling memuji satu sama lain, tentu saja dengan cara mereka sendiri. Dan aku mulai mencoba untuk terbiasa.

Aku geleng-geleng kepala melihat pertengkaran keduanya yang biasa kulihat tetapi tetap membuatku bingung sendiri dan aku mulai kembali menikmati makan siangku. Saat aku melihat makananku setengahnya mulai habis dan bukan aku yang memakannya. Aku menatap In Ha, orang yang selalu berwajah tanpa dosa dan hanya satu-satunya orang yang mungkin akan melakukan hal seperti itu. By the way, tidak ada orang yang berani mencuri sesuatu dari orang yang paling populer di kampus. Dan aku baru saja mengamati apa yang dilakukan Woo Hyuk dan Dong Hee. Sehingga hanya In Ha orang yang memiliki kemungkinan tersebut.

Aku mulai menunduk dan menatapnya. Dia mendongakkan kepalanya sedikit dan melihatku sekilas, dan langsung meneruskan makannya. Atau makananku.

“In Ha, mengapa makananmu terlihat begitu mirip punyaku. Dan mengapa makananku tiba-tiba menghilang setengah. Makanan siapa yang sedang kau makan huh?” tanyaku.

Woo Hyuk dan Dong Hee menatap kami berdua lalu tertawa. Dan kali ini aku sudah tahu jika pelakunya adalah In Ha.

“Aku minta maaf Ji Ho. Aku sangat lapar,” ujarnya dengan nada tak bersalah yang selalu ia katakan padaku sebelumnya.

“Tidak masalah. Kau juga bisa minum susu milikku juga kalau kau mau,” aku menyerahkan susu stroberi kotak ke dekat In Ha sambil tertawa. Tiba-tiba aku merasa semua orang menatapku kembali dan terdengar suara cekikan. Betapa menjengkelkannya.

Back to serious,” ucapku dan membuat tanda agar  teman-temanku mulai mendekat sehingga kami bisa berdiskusi tanpa ada orang lain yang mendengar.

“Aku benar-benar ingin menyingkirkan gadis-gadis itu dari sekitarku. Aku menyukai kepopuleranku di kampus tapi ini sudah melebihi batas kesabaranku. Aku tidak bisa pergi ke toilet tanpa seseorang mengikutiku dan aku mulai paranoid gara-gara gadis gila tersebut,” ujarku. “Memiliki wajah tampan, kaya dan juga kharisma membuatku bangga tapi sekarang seperti beban,” tambahku sambil menghela nafas setelah mengatakan semua yang membuatku tidak bisa menikmati waktu di kampus seperti mahasiswa biasa.

Woo Hyuk tertawa.

“Tapi kau tidak bisa membuang begitu saja statusmu.”

“Ini bukan pekara yang mudah dan sederhana.”

Untuk mempertahankan status menjadi orang populer di kampus, kami harus  tersenyum sepanjang waktu. Dan jika kami tidak tersenyum maka kami harus terlihat keren. Dong Hee lebih sepertiku menggunkan kedua cara tersebut, sedangkan Woo Hyuk selama ini hanya menggunakan senyum menawan yang digunakannya sebagai senjata menggoda gadis-gadis di kampus. In Ha termasuk yang berbeda dan dia lebih acuh dan tidak peduli bagaimana penampilannya, dia selalu tampak tampan tidak peduli apa yang sedang ia lakukan. Begitulah yang selama ini aku lihat saat bersama-sama dengan mereka.

Selain itu, aku sendiri dikenal sebagai orang lucu dan mudah bergaul dengan siapapun, bisa membuat berbagai macam ekspresi tanpa mengurangi ketampananku. Seperti itulah alasan yang kudengar dari beberapa gadis yang sempat aku introgasi. Hanya aku saja yang selalu menceritakan lelucon dan lebih ke hal menyimpang dari etika tapi rasa humor yang kupunya entah mengapa selalu berhasil membuat orang tertawa. Padahal di keluargaku tidak ada satupun yang memiliki sifat seperti itu. Dan seperti yang dikatakan Woo Hyuk, aku tidak mungkin membuang status itu hanya untuk mencari kehidupan damai.

“Jadi apakah kalian punya ide?” tanyaku. Dan yang mengejutkan kami saat In Ha berhenti makan dan mulai berkata.

“Jika kau punya pacar Ji Ho. Aku pikir tidak akan banyak lagi gadis-gadis yang akan mengejarmu. Tetapi tenang saja kau masih akan populer di kampus.”

“Hei, kepala yang selalu dipenuhi makanan sekarang berubah pintar juga,” ujar Woo Hyuk, itulah panggilan In Ha yang sangat menyukai makanan dengan isi kepalanya yang tidak lebih banyak hanya ada macam makanan. Begitu juga dengan Woo Hyuk yang selalu menjadi hakim di antara kami karena kebijaksanaan yang kadang tiba-tiba muncul saat keadaan genting. Dan bahkan orang-orang memannggilnya dengan “Yang Mulia” ketika berbicara dengannya.

Aku menatap Dong Hee, yang mengatakan ide tersebut.

“Menurutku ide dari In Ha bagus juga. Maksudku, kau bisa melihat bahwa In Ha mempunyai Young Rang yang tidak terlalu populer di kampus kita dan In Ha memiliki penggemar paling sedikit diantara kita.”

Aku melihat sekeliling. Dimana aku bisa mendapatkan pacar? Tidak ada satu pun gadis yang kusukai. Maksudku, banyak yang menyukaiku, aku bisa memilih gadis dari sana, tapi aku tidak ingin mempunyai pasangan yang tergila-gila dan selalu cekikan jika kami bersama nanti.

“Dan menurut kalian dimana aku bisa mendapatkan gadis yang akan menjadi pacarku?” tanyaku.

“Pilih salah satu,” ujar Dong Hee dan ia mulai melihat keluar jendela. Dimana banyak mahasiswi berada di luar yang tengah sibuk dengan kegiatannya.

“Banyak gadis yang akan senang jika melakukannya denganmu, menjadi seorang pacar dari mahasiswa populer. Tapi melihat karaktermu, aku yakin kau tidak ingin gadis yang gila mencuri fotomu kapanpun dan selalu tertawa cekikan di belakangmu,” lanjutnya.

Mungkinkah Dong Hee bisa membaca pikiranku? Laki-laki ini selalu terlihat mengerikan jika sedang serius.

“Kurasa kau perlu menyediakan uang untuk menyewa seorang gadis untuk menjadi pacarmu. Kurasa gadis yang tidak mengejarmu, yang punya alasan untuk melakukannya dengan dibayar.”

Aku berpikir tentang kata-kata Dong Hee. Jadi aku harus mencari gadis yang tidak mengejarku dan membayarnya untuk menjadi pacarku. Aku mulai menyukai ide  tersebut.

“Lalu… apakah ada gadis yang masuk akal yang membutuhkan uang saat ini?” tanyaku pada ketiga sahabatku. Mereka menatap In Ha yang masih makan.

“Aku akan coba tanya Young Rang,” ujar In Ha menyerah juga.

“Jangan!” seru Dong Hee. “Aku tidak terlalu percaya dengan pacarmu In Ha. Aku takut rencana ini akan berakhir sia-sia saja.”

“Lalu kau ingin Ji Ho yang mencarinya sendiri? Hah! Seperti kau tidak tahu laki-laki ini saja.” Aku mengangguk kepala karena merasa benar dengan Woo Hyuk, aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan jika disuruh mencari sendiri.

Dong Hee tersenyum dingin seperti mengejekku. “Aku akan cari.”

Akhirnya. Masalahku semakin ringan dan kurasa aku akan segera menemukan gadis ini.

=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s